
Aaaarrghkkkk
Karena terlalu terkejut hingga membuat aku terpental kebelakang. Sosok itu menunjukkan kedua taringnya.
" PERGILAH DARI SINI." Perintah sosok itu, suaranya menggema di ruangan sempit itu. Dan tak lama Adzan Maghrib berkumandang. Entah apa yang terjadi tiba tiba kepalaku berkunang kunang dan semuanya menjadi buram.
Aku mulai membuka mata, dengan berat ku berusaha membukanya. Ruangan serba putih dan seseorang yang berada di sampingku.
" Di mana aku?"
" Anda sudah sadar?" jawab suster Rima. " Sudah satu minggu anda tidak sadarkan diri saya akan segera panggil dokter ke sini." Kata suster Rima.
" Tunggu suster!"
" Iya, ada apa?" suster yang hendak pergi itu berbalik menghampiri ku.
" Tadi suster bilang aku gak sadar selama seminggu? dan Lisa istriku kemana sekarang?"
" Istri??! selama anda di sini saya tidak tau istri anda tuan. Hanya laki laki yang bernama Agus yang setiap hari datang ke sini."
Kepala ku mendadak sakit, aku teringat saat di gudang tua itu. Pikiran ku kacau, bagaimana mungkin Lisa tidak datang menemaniku di sini? dan mertuaku??!.
" Maaf sus, siapa yang membawa aku ke sini?"
" Maaf saya tidak tahu." Jawab suster itu. "Dan jika anda masih penasaran, nanti anda bisa tanya langsung pada Pak Agus. Biasanya sebentar lagi akan datang. Saya permisi dulu." Pamit suster itu.
" Terima kasih sus."
Kenapa aku tidak ingat apa apa,??? sebenarnya apa ya yang terjadi? memori ku hanya sampai gudang itu. Ku Mohon seseorang datang untuk menjelaskan semuanya padaku.
Ceeklek
Pintu kamarku terbuka, dan ku berharap itu adalah Lisa, tapi musnah harapan ku.
" Selamat malam tuan... gimana perasaan anda hari ini?" tanya seorang dokter tampan yang langsung memeriksa keadaan ku.
" Aku baik Dok." Jawabku singkat. "Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku Dok?" tanya ku serius.
" Seminggu yang lalu ada seseorang yang membawa anda ke sini dengan tak sadarkan diri."
Aku terus bertanya pada dokter Hendra, semakin dokter itu menjawab dan menjelaskan, aku malah semakin bingung. Aku menyuruh dokter Hendra keluar, karena aku ingin sendiri. Aku mencari handphone tapi tak ketemu, dan aku menekan tombol hijau di atas tempat tidur. Tak lama kemudian suster Rima datang.
" Iya ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya suster itu sedikit panik.
" Sus... boleh aku pinjam handphone? aku mau hubungi istriku." Pintaku dengan sedikit memohon.
" Iya silahkan..ini." Suster Rima menyerahkan handphonenya ke aku. Aku pun langsung mendial nomer istriku. Ku coba sampai lima kali, tapi nihil. Handphonenya tidak aktif. Terus aku menelfon Agus, dan di angkat panggilan ku. Aku minta Agus segera datang ke rumah sakit. Setelah selesai menelfon, ku kembalikan pada suster Rima.
" Terima kasih sus..." Ucap ku.
" Iya sama sama. Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Rima keluar kamarku.
__ADS_1
Aku mencoba untuk tidur kembali... sebenarnya ingin rasanya aku segera pulang dan mencari tahu di mana Lisa dan Ade. Tapi tubuhku terasa lemas tidak ada tenaga.
Gelap... tidak ada sinar atau cahaya apa apa.
" Apa sedang mati lampu?" gumam ku. Aku mencoba menekan tombol bantuan. Tapi sudah sepuluh menit masih belum ada yang datang ke kamar.
Kreekk
Ku bunyi pintu terbuka pelan... Mataku mencoba untuk melihat siapa yang datang... tapi sulit mata ini menembus kegelapan.
Tiba tiba hawa di sekeliling terasa dingin, ku tarik selimut yang ada di kakiku.
Srreek
Ada sebuah tangan besar yang memegang tangan ku. Tangan nya terasa begitu dingin dan berat. Nafasku mulai tidak teratur... dan ....
Arrrggghh
Ada sepasang mata besar merah menyala menatapku. Bau anyir menyengat di hidung, dalam kegelapan itu aku berusaha melihatnya. Wajah yang penuh bulu dengan jari yang besar kini hanya sepuluh senti di depan wajahku. Ingin aku teriak minta tolong, tapi bibir ku keluh seperti terkunci. Wajah itu semakin mendekat dekat, ada liur yang menetes jijik ku rasakan. Aku terus berusaha membaca doa yang aku bisa, tapi semua hilang... tidak satupun yang ku ingat.
Sosok itu... mengendus endus tubuhku aku benar benar merasa jijik... jika aku punya kemampuan lebih ingin ku lempar sosok itu dari atas tubuhku. Seseorang ku mohon tolong aku.
Air liur semakin banyak yang jatuh di tubuhku... sial. Bahkan lampu sejak tadi tidak kunjung menyala. " Dasar rumah sakit sial bahkan genset saja mereka tak hidupkan. Awas saja kalau aku keluar dari sini aku akan laporkan."
Lampu menyala... dan sosok itu hilang, tapi bau anyir masih bisa ku cium. Mataku mencoba mencari keberadaan sosok itu, bagiku tidak mungkin sosok besar itu akan hilang begitu saja.
Ku raba pundak ku yang terasa basah. Tangan ku menjadi basah. Air liur makhluk tadi menempel di tanganku. Seketika aku membersihkan dengan kain seprei... badanku terasa panas dingin, aku merasa sosok itu masih ada di sini.
Cklek..
" Seperti yang kau lihat. Di mana Lisa, kenapa dia tidak menjenguk aku?"
Agus mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.
" Kenapa kau diam? aku sedang bertanya padamu." Tanya ku lagi.
" Maaf bos, aku sudah mencari dan mencoba untuk menghubungi nona Lisa. Tapi... aku tidak bisa menemukan nona. Maaf ... lebih baik bos sembuhkan diri dulu nanti kita cari nona sama sama." Kata Agus.
Aku sedikit kecewa dengan penjelasan Agus. Tapi kurasa ada benarnya juga kata Agus, aku harus sembuh dulu.
" Gus, di mana kamu temukan aku?" ku tatap mata Agus.
" Di klinik."
flashback
Hari itu aku berangkat kerja seperti biasa, dan sesampainya di klinik ketika aku ingin membuka kunci ... ternyata pintu sudah tidak terkunci. Aku heran, mana mungkin sepagi ini bos udah datang. Akhirnya aku putuskan langsung lari ke ruangan bos, dan aku temukan bos sudah tidak sadarkan diri. Aku langsung menghubungi nona Lisa, tapi nomernya tidak aktif. Ku putuskan untuk menelfon ambulans dan membawa bos ke rumah sakit. Setiap hari aku berusaha menghubungi nona Lisa tapi tetap tidak bisa di hubungi.
Flash on
" Bukannya di gudang mertuaku???" tanyaku.
__ADS_1
" Tidak bos, di klinik aku menemukanmu."
Aku semakin bingung, bagaimana mungkin aku ada di klinik? sedangkan terakhir ku ingat adalah gudang tua di rumah Lisa. Ini bukanlah khayalan, tapi ada seseorang yang ingin mempermainkan aku.
" Sebenarnya ada apa bos?"
" Kamu pergi tanya dokter kapan aku bisa pulang!" pintaku pad Agus. "Oh ya Gus.. apa selama aku di sini kamu tidak datang ke rumah ku?"
" Aku datang cuma dua kali bos, dan itu pun hari pertama dan hari ketiga selama bos di sini."
"Apa kamu tidak menemukan siapa pun?"
Agus hanya menggeleng.
Keesokan harinya... Dokter sudah mengijinkan aku pulang, tapi dengan syarat agar aku tidak bekerja dulu, dan tidak terlalu stres. Aku hanya bisa mengiyakan setiap kata dan saran yang dokter ucapkan.
Aku minta Agus untuk mengantar langsung pulang ke rumah mertuaku. Pada awalnya Agus heran, kenapa tidak langsung pulang ke rumah. Setelah mendengar alasan dariku ia pun mengantarkan aku.
Mobil ku memasuki rumah Lisa... Aku tersentak kaget melihat pemandangan di depan mataku.
Lisa, Ade dan tiga orang yang sudah ku temukan tewas, sekarang mereka sedang bersenda gurau... Aku seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Pada hari itu dengan jelas aku melihat Baby sister Ade dan kedua mertuaku meregang nyawa.
" Boss.. ayo kita turun." Kata Agus membuat aku kaget.
Aku membuka pintu mobil, dapat ku lihat Ade yang berlari mendekatiku.
" Papa..." teriak Ade. Kurentangkan kedua tangan.
Happp.
Ku tangkap tubuh kecil itu, ku hujani ciuman di wajahnya.
" Stop papa... geli." Teriakan kecil dari mulut Ade. Dan ku lepaskan dia setelah merasa lega. Aku bersyukur bahwa keluarga ku masih utuh dan tidak terjadi apa apa dengan mereka.
" Pa... kenapa baru pulang?" tanya Lisa... yang sedang memeluk ku erat. Aku hanya bisa membalas pelukan tanpa menjawab pertanyaannya.
" Iya .... kamu itu pergi ke mana saja? kasian istri mu mencari kamu setiap hari. Ade juga sangat merindukan kamu sampai dia tidak nafsu makan." Kata Ibu mertuaku.
Aku terdiam tidak tahu harus ngomong apa, mulut ku seakan terkunci rapat.
" Maaf non Lisa... pak bos delapan hari ini di rawat di rumah sakit." Ucap Agus.
Mertua dan Lisa menutup mulutnya... tidak percaya dengan yang mereka dengar.
" Terus kenapa kamu tidak menghubungi saya?" bentak Lisa pada Agus.
" Saya sudah datang ke rumah dan menghubungi nona berulang ulang kali tapi tidak bisa." Jawab Agus dengan menunduk, karena merasa bersalah.
" Beberapa hari yang lalu handphone ku hilang." Ucap Lisa.
Pikiranku kacau saat mengingat semua keanehan yang terjadi. Lisa menggandeng tanganku menuntun masuk ke rumah.
__ADS_1
" Apa yang terjadi saat itu buat aku bukanlah sebuah mimpi. Semua nya nyata, dan bisa ku sentuh dan sosok makhluk hitam itu, bener bener nyata." Batinku.
# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like jempolnya dan komen. Vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋