
Sudah hampir 1 tahun aku jalani hidup di balik jeruji. Tapi aku tidak pernah merasa kesepian. Meskipun mereka yang ada di sel tahanan, selalu menjauhiku. Mereka mengganggap ku gila...
Aku tidak menyalahkan mereka, karena itu semua di karenakan mereka tidak bisa melihat apa yang aku bisa lihat.
Contohnya seperti saat ini, melati. Ya iblis yang ingin aku jadi miliknya, namanya melati. Setiap saat dia selalu menemaniku, selama di sini aku tidak pernah kesepian sama sekali. Aku bisa meminta apapun pada melati, dan dalam sekejap dia akan mengabulkan. Contohnya aku ingin lihat Tv, dengan sekelip mata maka dinding yang ada di kamar sel ku, berubah jadi tv yang besar. Tv itu akan berubah Chanel sesuai kemauanku.
Oh, ya aku hampir lupa memberi tahu kalian bahwa kami sudah menikah. Waktu kami membuat perjanjian dulu, tak lama kemudian melati membawa 3 orang ketempat ku. Mereka datang dengan menembus dinding.
Kami di nikahkan dengan seseorang salah satu dari mereka. Yang dua menjadi saksi. Maka kami bebas melakukan apapun.
Dan saat hasrat laki lakiku ingin di salurkan, maka dengan senang hati melati akan melayaniku sampai puas, begitu juga saat melati ingin menyalurkan hasratnya maka dengan semangat aku akan melayaninya. Desahan demi desahan yang kami timbulkan sering membuat teman yang ada di sebelah kanan dan kiri selku, terganggu. Tapi aku dan melati tidak memperdulikan mereka, yang penting aku masih bisa merasakan nikmat dunia.
Lisa satu bulan sekali akan mengunjungiku. Setiap aku menemuinya maka melati pun ikut. Aku merasa seperti punya istri dua. Betapa beruntungnya aku. Memiliki dua wanita cantik, yang siap melayaniku.
__________
Di tempat lain.
Lisa sedang menemui polisi yang khusus menangani Andi.
"Selamat siang pak?" sapa Lisa pada pak Iwan.
__ADS_1
"Selamat siang juga nona Lisa, saya sudah sejak tadi menunggu anda. Silahkan duduk."
Lisa, langsung duduk di depan pak Iwan.
"Gimana keadaan suami saya pak? apa ada perkembangan?"tanya Lisa penuh khawatir
Raut wajah pak Iwan berubah.
"Begini non Lisa... keadaan saudara Andi semakin hari semakin buruk, semua teman sel nya mengeluh dengan suara dari sel Andi. Mereka sering mendengar Andi berbicara, layaknya dia punya lawan bicara. Setiap saat setiap waktu mereka mendengar, hingga kami memutuskan untuk memasang cctv di atas pintu sel saudara Andi. Dan silahkan anda lihat sendiri. Lisa memperhatikan layar tipis di meja Iwan. Lisa menutup mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tiga hari yang lalu kami lakukan tes kesehatan mental pada saudara Andi. Dan hasilnya anda bisa lihat sendiri." Pak Iwan membuka file hasil pemeriksaan Andi. Air mata Lisa akhirnya jatuh, saat membaca file tersebut. "Terus apa yang harus kita lakukan sekarang Pak?" tanya Lisa dengan bibir bergetar. "Begini nona Lisa, sebenarnya waktu selesai pemeriksaan ini, dokter yang memeriksa menyarankan agar saudara Andi segera di beri perawatan. Namun kami tidak bisa memutuskan sendiri, itulah sebabnya kami memanggil nona Lisa untuk segera datang kesini. Jadi semua keputusan ada di tangan anda." Lisa berusaha berfikir tentang keadaan mental Andi.
"Apakah dengan membawanya kesana akan memberi kesembuhan pada suami saya pak?"
"Lisa... sayang." Andi langsung memeluk Lisa yang berdiri di hadapannya. Lisa membalas pelukan Andi, dia semakin terisak saat merasakan tubuh Andi yang semakin kurus.
"Kita pergi dari sini ya." Ucap Lisa, Andi tersenyum mendengarnya.
Lisa sengaja meninggalkan mobilnya di kantor polisi. Lisa ikut mobil polisi, "Lisa kenapa kita tidak naik mobil sendiri? kenapa harus polisi yang mengantar kita?"
"Badan Papa semakin kurus, maka dari itu aku minta Pak polisi antar kita ke rumah sakit untuk periksa kesehatan,ya..." bohong Lisa.
__ADS_1
"Ok... kenapa tadi Ade tidak Ikut?"
"Ade ada di rumah ibu. Nanti kalau sudah di periksa, dan dokter mengatakan bahwa papa sehat, kita bisa langsung temui Ade." Ucapan Lisa di balas senyuman oleh Andi. Sepanjang perjalanan Lisa terus menggandeng tangan Andi, dalam diam air matanya terus membasahi pipi. "Bisa kah aku hidup tanpa mu. Kenapa takdir harus memisahkan kita? aku harap kamu segera sembuh. Dan kita bisa mulai lembaran baru." Tangis hati Lisa.
Selesai melakukan tes kesehatan, dan akhirnya dokter menemui kami. "Gimana dok?" tanya Lisa.
"Hasilnya masih tetap sama, saudara Andi harus segera di rawat. Jika tidak gangguan kejiwaannya semakin parah. Ini akan sangat membahayakan lingkungan dan saudara Andi sendiri." Kaki Lisa goyah, air matanya kembali jatuh.
Kini aku tinggal di rumah sakit jiwa, setelah keluar dari sel, sekarang malah ada di sini. Sering aku bertanya pada Lisa saat ia datang berkunjung. "Kenapa aku harus tinggal disini?" tapi Lisa hanya diam, hanya senyuman sebagai jawaban darinya.
Dan untuk kesekian kalinya aku bertanya lagi sama dia..
"Segeralah sembuh agar kita bisa berkumpul lagi. Lawanlah penyakit itu, sembuhkanlah dirimu... seperti kamu menyembuhkan klien klienmu."
Aku berusaha mencerna setiap kata yang di ucapkan Lisa. Aku tersenyum, "Berarti aku salah satu dari mereka. Pengidap gangguan jiwa...."
"Hahahahaha, sekarang aku di anggap gila...!!
TAMAT.
Salam Cinta buat kalian semua 😘🌹🌹
__ADS_1
Terima kasih 🙏 sudah Sudi mampir ke cerita ini.