
Aku baru tiba di kampung halaman, ya... di rumah orang tuaku. Lisa mempunyai cuti yang cukup panjang. Jadi aku mengusulkan untuk pulang kampung. Sudah hampir tiga tahun aku tidak pulang, yang terakhir kala Lisa hamil lima bulan.
Ada sinar kebahagiaan di mata Ibuku dan adikku. Di rumah yang sudah tak muda lagi itu aku di lahirkan dan dibesarkan, aku dua bersaudara. Aku mempunyai seorang adik perempuan yang kini sudah menikah dan mempunyai dua anak kembar. Rasa bahagia menyelimuti kami, canda tawa dari anak anak meramaikan suasana sore itu.
"Andi gimana kerja kamu? lancarkan?" tanya Ibuku yang sudah tidak muda lagi, sudah banyak rambut putih yang terlihat.
"Alhamdulillah... Bu, semuanya baik dan lancar."
"Itu berkat doa dari Ibu mas... di setiap selesai sholat Ibu selalu berdoa untuk anak anaknya." Sahut Dara.
"Terima kasih Bu, atas semua kasih sayangmu." Kuraih tangan Ibuku dan ku cium. Ibu hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.
"Sayang, bagaimana kalau setelah ini kita jalan jalan keliling kampung?" ajakku pada Lisa.
"Kelihatannya seru...boleh di coba." Ungkap Lisa dengan semangat.
------------
Kami keliling kampung cuma berdua, karena Ade tidak mau ia lebih memilih untuk bermain sama dua saudara kembarnya. Suasana di kampung lebih segar dan alami. Membuat aku dan Lisa tidak merasa kelelahan.,
"Dara!! hentikan!!" teriak seseorang di dalam sebuah rumah yang tak jauh dari tempat aku berdiri.
"Aaaaa..!!! biarkan dia mati. Dia pantas mati!" suara seorang wanita menggema.
Aku dan Lisa saling pandang, sepertinya apa yang apa yang ada di pikiran kami sama. Aku dan Lisa pun bergegas ke sumber suara yang kami dengar tadi.
Sepasang suami istri sedang berebut pisau yang banyak darahnya. Aku memegangi wanita itu, suaminya berusaha melepas pisau yang di genggam oleh Dara. Aku ambil obat penenang yang selalu aku bawa di saku celana.
" Mas tolong minumkan obat ini." Perintahku pada Wisnu.
Lisa mengambil air minum, Wisnu berusaha memasukkan obat ke mulut Dara. Sedangkan aku masih memegangi kedua tangannya. Hampir sepuluh menit obat itu baru bersaksi, Wisnu segera mengangkat Dara ke kamar.
" Aku minta maaf karena merepotkan kalian." Keluh Wisnu yang baru keluar dari kamar.
"Jangan sungkan, kitakan teman." Ucapku.
" Eemm... kalau boleh tau sebenarnya apa yang terjadi pada Dara?" Lisa bertanya pada Wisnu.
"Aku juga gak tau apa yang terjadi pada dia, setiap kali kami selesai berhubungan intim, dia akan membunuh setiap hewan yang dia lihat. Apapun hewan itu pasti ia penggal kepalanya. Sebelum dia selesai dengan keinginannya dia akan meronta ronta, menjadi sosok yang tidak aku kenal."
Aku mendengarkan cerita Wisnu, ada sesuatu yang ganjil disini.
"Setelah itu apa yang akan ia lakukan?"
"Ia akan tidur, dan ketika dia bangun sifatnya seperti biasa lagi. Berulang ulang kali aku mengajak dia ke psikolog, Dara tidak pernah mau dia bilang 'aku tidak gila, jadi aku tidak perlu pergi ke sana.' Aku terkadang merasa letih menghadapi sikapnya. Anehnya selama kami tidak berhubungan intim, selama itu pula dia akan baik baik saja. Melakukan aktivitas seperti biasa layaknya seorang istri."
"Kalau kamu tidak keberatan besok aku akan mengajak dia bicara, siapa tahu dia bisa menceritakan isi hatinya."
"Aku sangat berterima kasih jika kamu bisa bantu aku."
__ADS_1
"Baiklah sekarang kami pamit dulu."
"Silahkan, sekali lagi terima kasih."
Aku dan Lisa langsung pergi dari rumah itu. Dalam perjalanan pulang ke rumah Lisa lebih banyak diam, seperti raga dan jiwanya tak menyatu.
"Lisa... kamu kenapa? apa yang mengganjal di hatimu?"tanyaku menghentikan langkah Lisa.
"Aku kasian pada Dara, dia seperti punya dua sisi yang berbeda. Bukankah begitu?"
"Kita tidak bisa menyimpulkan dulu, besok baru kita tau apa yang membuat Dara seperti itu." Ku gandeng tangan Lisa dan mengajak kedua kaki kami melangkah.
Keesokan harinya.
"Selamat datang Andi apa kabar? ini pasti Lisa istri kamu, iya kan? sungguh cantik." Sapa Ibu Wisnu.
Di kamar Wisnu.
Sepasang suami isteri ini baru saja melakukan hubungan intim, ya... Wisnu sengaja melakukan itu. Agar saat Andi datang, Dara bisa menceritakan semua yang dia pendam di dalam hatinya.
Dan hal yang mengerikan itu terjadi. Saat Wisnu menemui Andi dan Lisa di ruang tamu. Dara pergi ke belakang pekarangan rumah.
Hampir satu jam, Dara baru kembali dengan penampilan yang berantakan, di dalam sorotan matanya menyimpan sesuatu.
" Dara... sini. Ini ada temanku sewaktu sekolah. Dia datang bersama istrinya. Kemarilah." Pinta Wisnu yang menyadari Dara sudah kembali. Entah binatang apalagi sekarang yang ia bunuh. Dara pun mendekat. Sorot matanya tak lepas menatap ke arahku.
Aku meminta Wisnu untuk menyediakan sebuah ruangan khusus untuk kami.
"Kau tau apa yang aku rasakan...?" tanyanya lirih. Aku mengangguk pelan. Dan ku berikan ia minuman agar dia lebih rileks.
"Setiap kali suamiku pergi bertugas, ia akan meminta pamannya untuk menjagaku. Ia percayakan aku pada laki laki yang tak punya akhlak itu. Dua bulan lalu hal yang memalukan itu terjadi. Aku di perkosa oleh pamannya. Saat suamiku bertugas ke luar negeri.
Kedatangan laki laki berjenggot itu aku sudah merasa tidak nyaman. Ia sering memperhatikan lekuk tubuhku, seperti anjing yang tengah kehausan. Tapi dia lebih gila dari seekor anjing.
Waktu aku selesai mandi aku melilitkan handuk ke tubuhku, ku buka kamar mandi, dan ku lihat paman Roy sudah berdiri di depan pintu. Aku ajak kaki ku melangkah menjauh. Tapi tangan besarnya mencekram pundakku dan menarikku dengan kasar ke kamar. Semua orang pasti tau apa yang terjadi.
Paman Roy memperkosaku, aku berusaha melawan sekuat tenaga, memukul, menggigit, dan berteriak namun sia sia. Aku tak cukup kuat menandingi kekuatannya. Akhirnya ia mengambilnya dariku.
Lebih parahnya lagi kejadian itu tidak saja berhenti disitu. Setiap kali ada kesempatan ia akan datang dan melakukan nya lagi. Aku benar benar tersiksa, dengan kelakuan paman padaku. Ingin rasanya aku menceritakan pada suamiku, tapi aku takut dia akan lebih terluka. Cukup aku saja yang merasakan sakitnya.
Semakin lama... Roy menjadikan aku seperti bonekanya. Aku harus melakukan apa pun yang ia perintahkan. Mulai dari napsu bejatnya, dan semua keperluannya. Aku merasa diriku seperti *******. Penderitaan itu ku alami terus menerus dan akhirnya aku berada pada titik lelahku. Aku sudah tidak tahan lagi... aku benar benar lelah.
Hingga pada suatu hari aku menyimpan sebuah balok di bawah tempat tidur. Dan seperti yang ku kira, Roy datang memintaku untuk melayaninya. Dia minta di buatkan kopi, aku turuti dan kali ini aku masukkan obat tidur di dalamnya. Setelah itu Roy menyeret tubuhku ke kamar. Ia melampiaskan hasratnya, ku terima itu untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Roy kali ini melakukan hanya setengah saja, karena ia tak mampu melawan rasa ngantuk dari obat yang aku berikan tadi. Hingga akhirnya ia tertidur di atas tubuhku. Ku gulingkan ia ke samping, dan kesempatan itu ku gunakan untuk menghajarnya, menghabisinya."
" Ku pandangi mata Dara, pandangan dingin mengarahku... sangat mengerikan."
Dara melanjutkan ceritanya. "Ku keluarkan balok yang ku simpan tadi.
BBBRRUUUUK, ku tumbuk kepalanya sekuat tenaga, hidungnya mengeluarkan darah. Tidak ada perlawanan dari Roy. Kembali ku hantam kepalanya, beruntun. Roy pun berlumuran darah, begitu juga dengan tangan ku dan badanku.
Setelah ku pastikan dia sudah mati, ku ambil pisau daging di dapur. Aku sudah gelap mata, aku potong kepala Roy, ku tarik kepala itu dari badannya. Perlahan lahan ku nikmati pemisahan kepala Roy dari badan kotornya itu.
Ku tenteng kepala paman mengelilingi kampung. Sepanjang jalan darah segar dari kepala orang bejat itu menetes. Ceceran darah itu seperti jejak. Ku nikmati aroma anyir itu, ku hirup dalam dalam. Kuresapi kepuasan ketika darah itu kini tak lagi bisa berbuat apa apa. Sepanjang jalan banyak orang memperhatikanku. Mungkin dalam pikiran mereka aku ini gila, keji, tapi terserah apa kata mereka. Banyak ku lihat di antara mereka muntah dan ada juga yang ketakutan. Dan ada juga yang berbisik bisik.
" Jangan pernah membicarakan aku, apalagi jangan pernah mempermainkan kehormatanku dan harga diriku." Mataku berjalan menyusuri ke orang orang yang sedang membicarakan aku. Aku melemparkan kepala Roy ke tanah. "Ini adalah kepala orang yang sudah merenggut kehormatanku dan harga diriku." Para penduduk yang menyaksikan itu semua sangat terkejut setengah mati. Dan ada juga yang langsung pingsan. Terus ada juga penduduk yang langsung telfon ke pihak berwajib. Saat polisi datang aku tidak melakukan perlawanannya, bahkan dengan suka rela aku menyerahkan kedua tanganku untuk di borgol.
Dara menyudahi ceritanya.
Kalau Dara sudah menyerahkan diri kenapa dia ada di sini sekarang, seharusnya dia ada di penjara. Banyak pertanyaan di benakku.
Ku lihat Wisnu dan Lisa menyelidik ke arah Dara. Menyaksikan seorang pembunuh yang tak lain adalah orang yang mereka kenal.
"Kalian mau lihat penggalan kepala itu?" bisik Dara dengan serangi senyum ganjil.
Dengan senyuman, Dara membuka kotak yang sedari tadi ia tenteng dan tidak ia lepaskan. Dara mengambil plastik merah yang ada di kotak itu, ia membelalakkan matanya. Kemudian Dara memandangi kami sambil mengangkat sesuatu.
Jantung ku berdegup kencang, semakin kencang. Kepala seekor kelinci nyaris gepeng. Bibir Dara tersenyum puas, dia sangat senang. Entah apa yang dipikirkan Dara.
"Dialah si pemerkosa itu! napsuku untuk membinasakannya tak pernah padam sedikit pun."
Getaran jantungku belum berhenti berlari, tapi kini akhirnya aku tau kegilaan apa yang singgah di kepala Dara. Dia psikopat yang hidup di alam.
Ryo, paman yang ia sebut sebut sebagai pemerkosanya tidak lain adalah suaminya sendiri yang mempunyai nama Ryo Tengku Wisnu. Dan sekarang Wisnu sedang berdiri di luar menyaksikan dan mendengarkan kami dari balik kaca.
Wisnu mengeluh kepadaku bahwa Dara sering membunuh kucing, kelinci, dan hewan yang lainnya. Hal ini akan terjadi beberapa saat setelah mereka melakukan hubungan seksual.
Jadi ada kemungkinan Dara memiliki trauma masa kecil. Trauma yang ada kaitannya dengan pemerkosaan dan hewan. Sepertinya bayangan pemerkosa itu masih tersimpan rapi di ingatannya dan di benaknya sampai saat ini.
Psikopat banyak di sekitar kita. Sekilas sifat dan kelakuan mereka tidak terlihat seperti orang yang mempunyai kelainan. Mereka terlihat menarik, pintar, dan bertingkah seperti orang normal. Padahal di lihat lebih dalam, jiwa mereka sakit.
Psikopat cenderung melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang dan berpikiran negatif. Ia juga memiliki sifat pendendam. Sedikit saja kita berbuat kesalahan, maka seumur hidupnya ia akan mengingat dan suatu hari nanti pasti akan di ungkap kembali. Mereka umumnya tidak pernah merasa menyesal meski telah berbuat kesalahan besar. Meskipun sudah ketahuan belangnya, dia akan tetap seperti tak berdosa. Persis seperti raut wajah yang kulihat pada Dara.
# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya biar selalu tau update nya. 😘😘😘😘❤️❤️ jangan lupa tinggalkan jejak kalian biar aku feedback 🤗🤗
Dan juga silahkan mampir juga ke cerita ku
__ADS_1
- Garis Hidup Arin
- Mengenal Rasa