
" Karena tali pocong itu sudah kami bakar, dan airnya kami minum." Jawab Pak Slamet lemas.
" Jadi kita harus gimana sekarang Pak?" tanyaku, yang terkejut dengan pengakuan Pak Slamet.
______________
" Lebih baik kita bicarakan ini besok saja. Kita temui Sukri juga." Pinta Pak Slamet.
Kami bertiga pun pamit undur diri dari rumah Pak Slamet.
Melewati jalan yang sama, tapi suasana seram itu sudah tak sama seperti yang tadi. Mungkin itu karena adzan subuh berkumandang. Aku dan suami pergi ke surau yang ada di depan rumah.
Sholat subuh berjamaah sudah selesai, tapi ustadz yang mengimami sholat tadi menghentikan langkah kaki kami.
" Tunggu sebentar mas Hadi." Pinta pak Ustadz.
" Iya Pak, ada apa?" tanya suamiku.
" Sepertinya ada yang sedang mengikuti kalian. Tak sengaja sejak tadi saya melihat sosok yang sedang mengikuti langkah kalian." Tutur Pak ustadz. Aku dan suamiku saling pandang, dalam pikiran kami 'Bagaimana ustadz ini tahu'.
Seperti dapat membaca pikiran kami, Pak ustadz pun mempersilahkan kami mampir ke rumahnya.
"Silahkan masuk dulu, jangan sungkan."
Kami di persilahkan masuk, dan ta lama istrinya datang membawa minuman.
" Maafkan saya yang mencampuri urusan kalian. Tapi saya sangat penasaran kenapa pocong itu mengikuti kalian." Kata pak ustadz tanpa basa basi.
Aku pun menceritakan semuanya. Dan Pak ustadz berjanji untuk membantu.
" Nanti malam usahakan kita berkumpul di tempat di mana pocong itu menampakkan diri."
" Baik Pak, kami nanti akan ke sana dengan Pak Slamet dan Pak Sukri sekalian."
Pada malam itu aku menitipkan Ami pada adikku karena aku nggak mau di ikut aku lagi dalam menyelesaikan misteri ini.
Tepat pukul dua belas malam kami sudah berkumpul. Tak lama ada angin besar yang menerjang kami, seperti pertanda kehadiran sosok pocong itu. Aku berpegangan erat pada suamiku.
Pocong itu muncul tepat di depan Pak Slamet dan Pak Sukri.
" Aaaaaaaa." Teriak mereka bersama yang terkejut, hingga Pak Slamet terkencang dalam celana. Sepertinya mereka ingin lari, tapi kaki mereka seperti berat untuk melangkah.
__ADS_1
" Kembalikan tali pocong ku!" suara menyeramkan dari pocong itu.
" Talinya sudah di bakar, maafkan kami." Ucap Pak Sukri dengan gemetar. Pocong itu seperti marah mendengar jawaban dari pak Sukri. Sorot matanya semakin tajam.
" Hai engkau... kembalilah pada alam mu di sini bukanlah tempatmu."
Hhhiiiihiiiihii
Tawa pocong itu, yang ke dengar sangat nyaring.
" Siapa kamu yang menyuruhku?"
" Aku hamba Allah."
" Aku akan pergi jika tali pocong ku di kembalikan."
" Jika begitu, jangan salahkan aku jika Ayat suci ini membinasakan mu."
Pak ustadz pun memulai membaca Ayat ayat suci Al Quran. Pocong itu seperti kepanasan, pocong itu menggeliat.
" Aaarrghhh panas... cukup HENTIKAN." Jerit pocong itu.
" HENTIKAN... aku akan pergi." Jerit pocong itu lagi.
Kami berempat mengucapkan terima kasih pada Pak ustadz yang membantu kami itu. Setelah itu kami pun kembali ke rumah masing masing.
Siska menghentikan ceritanya... ku beri dia segelas air minum.
" Pocong itu sudah hilang, terus sekarang masalahnya apa? tentunya sudah tidak ada gangguan lagi kan?" tanyaku pada Siska.
Siska menghela nafas panjang.
" Aku pikir juga begitu, tapi beberapa hari ini aku di hantui pocong itu lagi. Dan yang ia minta pun tetap sama. Aku berusaha mendatangi ustadz yang membantu waktu itu, tapi beliau sedang ada di luar kota. Aku bingung harus gimana lagi, aku capek jika harus setiap malam di hantui pocong itu terus. Tolong lah bantu saya Dok." Pinta Siska.
Setelah aku mendengarkan cerita Siska, dapat ku simpulkan bahwa sebenarnya pocong ini minta ganti. Aku pun memutuskan untuk pergi membantu Siska.
Pada malam hari tepat pukul 11 malam aku sampai di rumah Siska. Di rumah itu ada dua orang yang kelihatan sudah berumur lebih dari 50 tahun. Ah mungkin ini Pak Slamet dan Pak Sukri.
__ADS_1
Aku di persilahkan masuk, sudah ada beberapa syarat di atas meja yang ku minta tadi pagi pada Siska agar mempersiapkan.
Yaitu selembar kain kafan dengan panjang 5 meter. Dan beberapa alat yang lain.
Aku datang bersama dengan Agus dan Kyai.
Setelah semua siap, Pak Kyai pun memulai.
" Apa kalian masih ingat siapa nama arwah yang kalian ambil talinya itu?" tanya Pak Kyai, pada Pak Slamet dan Pak Sukri.
" Kalau gak salah namanya Herman Abdullah."
" Baiklah mari kita mulai, saya minta kalian ikut berdoa dan membaca ayat ayat suci yang kalian bisa. Agar semua bisa berjalan dengan baik." Pinta Pak Kyai.
Ritual pun di mulai,.... semua doa doa pun terdengar, lantunan ayat ayat suci indah di dengar hingga bisa menenangkan bagi siapa yang mendengarkan. Hampir satu jam ritual itu di lakukan, Alhamdulillah tidak ada gangguan apa pun hingga semua berjalan lancar sampai akhir.
" Alhamdulillah... sudah selesai. Nanti Pak Slamet dan Pak Sukri saya minta untuk mengubur kain kafan ini di dekat kuburan almarhum. Insya Allah semua akan kembali pada tempatnya." Tutur Pak kyai, dengan menyerahkan kain kafan itu ke Pak Slamet.
" Baik besok kami akan mengubur kain ini."
Aku, Agus dan Pak Kyai pun pamit undur diri. Kami berharap permasalahan yang dihadapi klien ku kali ini bisa selesai.
Di rumah Siska keesokan harinya.
Siska bersama suami dan anaknya sedang santai duduk di ruang keluarga.
" Pa angkat Ami, kasian dia sampai tertidur seperti ini." Pinta Siska.
" Iya Ma..."
Saat Siska sendiri di ruangan itu, tiba tiba di ta jauh dari tempat duduknya, dia melihat penampakan pocong. Siska terdiam karena terkejut, bukan karena penampakan yang menyeramkan. Tapi dengan kehadirannya.
Pocong itu kain nya kelihatan bersih, dan pocong itu tersenyum pada Siska. Dan ta lama pocong itu hilang.
" Ma... ada apa? kok ngelamun sih?"
" Eeehh Papa, bikin kaget aja..."
" Kenapa kok ngelamun?"
" Nggak ada apa apa."
" Biar aku yang tahu apa yang aku lihat tadi. Yang penting sekarang semua sudah kembali normal. Ya Allah lindungilah kami. Aamiin." Batin Siska.
__ADS_1
# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋💋