
Aku termenung di terminal, sudah hampir satu jam aku di sana. Tiba tiba pandangan ku menangkap sinar lampu bus yang datang, bus terakhir. Syukur yang aku panjatkan, akhirnya aku selamat. Dengan buru buru aku memasuki bus itu, ku lihat banyak penumpang yang sudah duduk rapi di tempatnya. Tapi ada yang aneh di sini, semua penumpang di bus itu berpakaian serba putih. Dan tidak hanya itu wajah mereka pun pucat pasi, seperti tidak ada darahnya. Seperti mayat...
Bus berjalan lambat... para penumpang sibuk pada urusan mereka masing masing. Seperti kakek yang ada di depanku ini, ia sibuk menyuapi cucunya... dan satu cucunya lagi minta minum. Dan seorang nenek memberikan minum pada anak laki laki yang kelihatan kedinginan.
Semakin lama mataku semakin berat, aku putuskan untuk tidur.
Sebuah guncangan kuat telah berhasil membuat ku terbangun dari alam mimpi ku.
Tapi anehnya lampu yang ada di bus mati. Aku berusaha mencari pegangan, aku berjalan meraba raba. Ada satu tangan yang ku dapat, tangan seorang wanita di samping ku. Ku pegang erat tangan wanita itu, tiba tiba tangan itu terpisah dari tubuhnya.
AAAArrrrhhhggg
Ku lihat wajah wanita itu, dia tidak merasa kesakitan dengan tangan yang terputus, wanita itu tengah nyenyak tidur. Dan dalam cahaya yang remang ku lihat mereka yang ada di bus itu tertidur semua.
Aku mendekati salah satu dari mereka, ku coba membangunkan, ku goncang kuat tubuh orang itu... dan astaga badan orang itu terpisah semua. Seperti patung tengkorak yang mendapat guncangan langsung runtuh seketika. Seperti itulah yang ku saksikan.
Guncangan bus semakin kuat, sehingga membuat aku terpelanting ke belakang. Aku berusaha bangun dan menggapai besi pinggiran namun aku tidak sampai akhirnya aku terjatuh ke jalan.. dan sebelum aku memejamkan mata, aku dapat melihat di bus belakang itu ada Ibu,ayah dan seluruh keluarga. Mereka menatapku, dan akhirnya aku tak sadarkan diri.
Ketika ku bangun aku sudah di rumah, ya aku sudah pulang." Tiara menyudahi ceritanya. Ku peluk tubuh Tiara, ku usap lembut kepalanya. Tanpa terasa air mataku meleleh...
"Tiara... sudah ya. Kamu telah lama sembunyi dari kenyataan. Stop ya... bukalah mata kamu, lihat aku di sini masih ada aku yang.." kataku memecah keheningan di kamar kami. Tapi belum sempat aku melanjutkan kataku, Tiara meletakkan jarinya di bibirku. Memintaku untuk berhenti bicara.
" Vin... kamu tau nggak? bau busuk yang ada di bus itu masih bisa ku cium sampai sekarang. Apa bau itu dari penumpang itu ya? apa mereka semua mayat ya Vin??"
" Tiara... Cukup!! berhentilah bermimpi Tiara...! berhentilah untuk menyiksa dirimu sendiri. Sudah hampir dua bulan seperti patung di pojok ruangan ini. Kau bahkan tidak bicara sama sekali dan juga tidak beranjak sama sekali. Stop Tiara... stop!!"
" Kau sudah gila ya Vin?" Tiara tersentak.
" Kau saki Tiara... sakit. Kau selalu hidup dengan imajinasi mu. Kau menghidupkan mereka yang sudah mati, saat kau merindukan mereka. Aku mohon stop Tiara... mereka sudah tiada, kasian jiwa mereka tidak akan bisa tenang melihatmu seperti ini. Ayolah kembali seperti Tiara beberapa bulan lalu.Aku mohon... jangan lagi kau memberi surat kepadaku dan meletakkan di atas meja, saat kau mau pergi ke dunia imajinasi mu. Stop aku sudah muak." Aku berusaha membujuk Tiara, yang kini mata Tiara sudah berkaca kaca.
__ADS_1
" Kamu gila Vin!!" bentak Tiara... terus pergi meninggalkanku, pintu kamar di banting kuat olehnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Seperti itulah ceritanya. Tiara yang selalu hidup dunia imajinasinya. Banyak kali ia merasa pergi ke setiap tempat. Jiwa dan raganya tidak pernah menyatu. Jiwanya pergi namun raganya masih tinggal di sudut kamar kami. Dan ketika jiwa dan raga itu menyatu.. hanya pertengkaran yang ada di antara kami. Karena aku terus berusaha menyadarkan dia." Vino menyudahi ceritanya...
Aku diam meresapi cerita Vino, ku tarik nafas panjang. Ada beberapa kasus kehilangan yang memang mengakibatkan seseorang itu tidak berani hidup dalam dunia nyata. Sebab itulah otak menciptakan dunia baru. Dunia alam bawa sadar mereka.
" Maaf Vin, saya akan menolong kamu. Tapi bisakah kamu bawa Tiara langsung datang ke sini? Karena itu ada jalan satu satunya untuk kita bisa menyadarkan dia." Tanyaku pada Vino.
" Sepertinya... susah. Karena akhir akhir ini dia sering pergi ke dunia nya, mengadakan pertemuan dengan keluarganya. Tapi saya akan usahakan suatu hari nanti dok. Terima kasih sudah mau mendengarkan cerita masalah saya. Sedikit lega rasanya."
" Cinta nya sungguh besar Gus pada Tiara." Ucapku.
" Iya bos bisa di lihat dengan jelas." saut Agus.
Agus kembali ke lantai bawah... sedangkan aku masih asyik duduk di ruang terapi. Ku pejamkan mataku mencari sebuah ketenangan... detik, menit dan aku terbangun mendengar sesuatu...
Ssrrreekk sssreekk
Suara aneh ku dengar dari balik pintu, ku coba mendekati... dan lampu langsung mati. Dari minimnya sinar yang kudapat dari jendela, aku dapat melihat jelas makhluk hitam itu. Ya sosok makhluk hitam yang sama dengan yang ku lihat di gudang mertuaku. Aku berusaha melawan rasa takut yang ada... ku coba dekati, semakin jelas wajahnya. Wajah yang di penuhi bulu panjang...,dan sorot mata merah menyala. Jujur jantung hampir copot melihatnya, tapi rasa penasaran di otakku lebih besar dari pada rasa takutku.
" Apa yang kau mau?" teriakku...
Hahahahhah
__ADS_1
Suara tawa dari makhluk itu menggema di ruangan...
" AKU MAU DARAH...!"
Air liur berwarna hijau makhluk itu menetes membasahi lantai. Langkahku mundur saat makhluk itu mendekatiku...
" Boss buka pintunya!!" teriak Agus dari luar. Agus yang di luar berusaha mendobrak pintu.
Aku terpojok tidak ada ruang lagi untukku berlari, makhluk hitam semakin dekat denganku. Air liurnya sudah mengenai bajuku...
Braakkkkk
Agus akhirnya bisa membuka pintu, dan saat yang bersamaan sosok makhluk itu lenyap tanpa jejak.
" Bos apa yang terjadi? kenapa bos berkeringat seperti ini? bos sadar..!" Agus berusaha memapahku keluar... kaki lemas. Kini aku berada di lantai bawah, Agus memberi aku segelas air minum.
" Kenapa bos?apa ada yang salah? kenapa bos mengunci pintu? Dan apa yang terjadi kenapa baju bos bisa basah seperti ini?" rentetan pertanyaan di ajukan Agus, namun aku tidak tau harus menjawabnya. Kuperiksa bajuku yang kena liur tadi, aku heran... noda liur tadi tidak ku temukan. Kemejaku bersih tanpa noda. Mustahil ya itu yang di pikiranku, bagaimana mungkin noda liur tadi banyak yang menetes di bajuku. Sekarang bersih tanpa noda.
" Bos, mungkin benar kata non Lisa. Lebih baik bos istirahat di rumah saja. Jangan kerja dulu, lebih baik saya antar bos pulang sekarang. Ayo bos." Ajak Agus.
Aku hanya diam mengikuti Agus, aku masih bingung... dengan apa yang baru terjadi padaku. Ini bukan halusinasi, tapi ini nyata.
#***Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋
Dan bila ada waktu mampir juga ke ceritaku
- Garis Hidup Arin
- Mengenal Rasa 🙏🙏🙏😘😘😘***
__ADS_1