
Tio tiba tiba menghubungiku.
Kring kring " Kamu dimana Nina? ini sudah larut malam, katakan dimana kau sekarang?" kata Tio langsung.
Aku pun bergegas meninggalkan ayunan itu, tapi baru saja aku ingin mengajak tubuhku berbalik dan pergi. Pandanganku kembali lagi pada ayunan itu, kini di ayunan itu ada sosok bayangan putih kecil. Seperti gumpalan asap, tapi mempunyai kepala, tangan dan kaki sedang duduk di atas ayunan itu. Ku pejamkan mataku beberapa detik, dan saat aku buka sosok itupun sudah tidak ada lagi.
" Nina... Nina... kau masih mendengarkanku. Dimana kamu sekarang? jawab aku Nin!" suara Tio di ujung telfon.
" Aa...ku Akku..ada di sini." Suaraku terbata bata, dan mataku mencoba mencari cari petunjuk alamat di sekitarku saat ini.
" Coba katakan dengan jelas, dimana?" pinta Tio.
Tapi tiba tiba " Duuk." kakiku tersandung sesuatu, seperti bola. Dan benda itu menggelinding agak ke depan, banyak warna dalam benda itu. Dan mungkin itu adalah bola kecil milik anak anak yang ketinggalan saat bermain.
Ku dekati bola itu, dan saat hampirku sentuh... bola itu membentuk sesuatu, ada kepala, tangan dan kakinya. Bola itu akhirnya menyerupai bayi.
Klip, matanya berkedip dan bibirnya tersenyum padaku....
" Aaaaaaaaaa." Aku menjerit sekuat mungkin dan terus berlari menjauh dari tempat itu.
" Nina... ada apa? Nina katakan sesuatu." Suara Tio yang memanggil manggil pun ta ku hiraukan. Dalam pikiranku saat itu hanya ingin lari sejauh mungkin.
Siang dan malam bayi itu terus mengganggu ku, hingga aku tidak pernah bisa tidur nyenyak. Karena setiap kali aku memejamkan mata maka bayangan bayi yang tangannya copot dan kepala yang hampir putus, leher yang tercabik cabik itu selalu memenuhi isi kepalaku.
Saat sedang makan pun dia sering menghantuiku contoh saat aku sedang makan telur masak Bali. Pada awalnya biasa saja tapi ketika ingin memotong telor itu, tiba tiba telur itu berubah jadi bayi, yang berukuran sama dengan telur tadi seketika ku lempar piringku ke sembarang arah.
" Aaaaaaaa." Teriakku.
" Ada apa Nin?" tanya Tio yang kaget melihatku membuang piring.
" Di piringku ada bayi!"
" Mana mungkin Nin, itu hanya telur." Kata Tio, yang berjalan mengambil apa yang di lempar Nina tadi. Tio pun menunjukan telur yang jatuh itu tepat di depan Nina.
__ADS_1
" Jangan... bawa jauh telur itu." Kataku. Akhirnya Tio mengalah dan membawa telur bali itu ke dapur.
Aku yang masih ketakutan, pun langsung lari ke kamar. Ku duduk di sudut ranjang dengan melipat kedua kakiku ke dada dan ku tarik selimut menutupi tubuhku. Tio datang membawakan air minum untukku.
" Minumlah dulu agar kamu sedikit bisa tenang." Pinta Tio.
" Semua ini terjadi karena kamu trauma melihat bayi hasil aborsi. Pikiranmu lah yang yang membuat itu menjadi nyata. Aku mohon sama kamu lupakan semuanya ayo kita mulai dari awal lagi. Sekarang istirahatlah." Tio berusaha menenangkan diriku. Tapi aku merasa apa yang di ucapkan Tio tidak benar, tidak seperti itu. Bayi menyeramkan yang selalu datang mengganggu sungguh nyata. Bahkan dia berulang kali menyentuhku.
Saat di kolam renang, aku merasa perlu merilekskan tubuh dan pikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk berenang.
Bbyuur
Ku jatuhkan tubuhku di dalam kolam pemandian yang tak begitu besar. Ku nikmati saat itu, karena ta banyak pengunjung yang lain. Berulang ulang kali aku berputar sedikit memberiku kenyamanan. Saat aku diam menikmati dinginnya air, ada bau amis anyir... hidungku berusaha mencari bau itu. Tapi tidak ada, jantungku langsung berdetak kencang. Aku putuskan untuk segera menyudahi renang ku. Saat aku hendak naik, tiba tiba ada yang menyeret kaki masuk kembali ke dalam kolam.
"Aaarrrghhh..." aku pun terjatuh kedalam kolam, tapi seketika kolam itu berubah warna menjadi merah pekat. Merah darah bau amis pun sangat kuat. Aku berusaha untuk naik ke atas tapi kaki seperti tersangkut sesuatu. Namun aku tak bisa melihat karena merahnya air. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan kakiku, dan akhirnya aku bisa.
Aku langsung lari masuk ke dalam toilet, untuk membersihkan tubuhku yang penuh dengan darah. Tanpa menanggalkan baju aku mengguyur tubuhku dan ku ambil sabun cair itu sebanyak mungkin. Dan ku bilas lagi tubuhku, tapi bukannya bersih malah badanku semakin banyak darahnya. Ku lihat air yang keluar dari shower itu, dan bukannya air yang keluar malah darah segar. Aku membelalakkan mataku, tidak percaya dengan apa yang di depanku.
" Tolong tolong ..." aku terus berteriak berharap ada seseorang yang bisa menolongku.
Plukk plukk...
Ada tetesan mengenai pundak ku, ku raba dan ku ambil tetesan itu dengan jari telunjukku. Tetesan darah... aku semakin ketakutan. Dan ku beranikan untuk melihat ke atas ku.
" Aaaaaaaaaaaaa."
Bayi itu ada di atas ku sedang tersenyum kepadaku. Tubuhku gemetar dan lunglai jatuh ke lantai. Tidak ada jalan keluar lagi... akhirnya aku pasrah. Bayi itu mendekat dengan merayap di dinding. Aku terpaku melihat gerak dari bayi itu.
" Mama..."
" Apa salahku Ma?"
" Aku pun ingin hidup Ma."
__ADS_1
Tidak... aku benar benar sudah gila mana mungkin bayi itu bisa berbicara.
" PERGIII...!!!!! menjauh lah dariku aku mohon. Aku memang bersalah, tolong maafkan aku, aku pun tidak menginginkan ini terjadi. Maafkan mama, yang tidak bisa melindungi mu."
Bayi itu terus menghilang, bersamaan dengan itu aku pun tak sadarkan diri.
Keesokan harinya aku sadar, di sebuah kamar yang tidak ku ketahui kamar siapa itu. Aku bangun dan mendapati diriku yang sudah berganti baju, dan tubuhku pun sudah bersih dari darah. Saat kaki ingin ku ajak berdiri, tiba tiba pintu terbuka,
" Tio..."
" Kau sudah sadar, jangan banyak bergerak dulu. Lebih baik kau perbanyak istirahat saja."
" Bagaimana aku bisa disini? dan ini dimana? ini bukan lah kontrakan kita kan?"
" Ini di rumah temenku. Dia yang menemukan mu ta sadarkan diri di toilet pemandian. Terus dia tau kalau kamu ada pacarku akhirnya dia langsung mengabariku."
Aku teringat kejadian semalam, dan aku pun tidak menceritakan pada Tio. Aku pikir semua percuma, karena Tio akan menganggap aku bohong lagi.
\*\*\*\*
" Aku benar benar seperti orang gila. Kemana dan dimana pun bayi itu tetap menghantuiku dan membayangiku." Nina menyudahi ceritanya. Agus memberikan kotak tisu lagi pada Nina. Ketika sudah tenang.
" Apa kau yakin jika itu semua bukanlah hanya halusinasi saja?" tanyaku pada Nina.
" Tentu saja itu bukan halusinasi, sentuhannya ceceran darah itu, bau anyir yang menyengat, semuanya adalah nyata. Mengapa kau sama dengan Tio, yang menganggap ku hanya berkhayal. Dan tidak mempercayaiku. Untuk apa aku berbohong. Bahkan seandainya ini adalah sebuah kebohongan, aku tidak akan tersiksa seperti ini."
Aku mengangguk. Dunia lain dan halusinasi sangatlah tipis perbedaannya. Dan aku menyimpulkan bahwa Nina depresi tingkat tinggi, setelah ku tangkap dari pancaran sinar matanya.
Ku ambil obat L-tryptopham, obat ini akan berjalan cepat dari pencernaan menuju ke otak. Sehingga perlahan Nina pasti akan segera sembuh, Nina pun menerima obat itu dan pamit pulang.
## **Nantikan kisah yang lain, di Bab berikutnya. Jangan bosan ya.
## *Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋***
__ADS_1