
Seorang gadis muda yang memiliki paras ayu, berusia 17 tahun. Wajah yang sangat ayu seperti toko pewayangan Dewi Sinta. Bibirnya mungil, hidungnya mancung, kulit sawo matang tapi cerah alisnya nanggal sepisan. Sebuah kalimat pembuka terucap yang mengejutkan keluar dari bibirnya.
"Rumahku bisa menangis, bisa tertawa dan juga bisa jahat bahkan bisa membunuh." Ucap Alexa, ya itu nama gadis itu.
"Apakah aku sudah bisa mulai bercerita Pak Andi?" tanyanya. "Silahkan kamu mulai nona...." Aku mengangguk.
*****"
Untuk semua orang, rumah adalah tempat yang indah, tempat berlindung. Rumah adalah sangkar ternyaman, keindahan yang bisa di rancang sendiri bentuknya dan segala macam isinya. Tapi... bagiku itu tidak seperti itu, rumahku adalah tempat yang paling menyeramkan. Rumah yang penuh dengan racun dan tantangan sendiri, seperti neraka. Yang aku sendiri belum pernah melihat neraka, namun rasanya sangat menyeramkan.
Aku hidup bersama keluarga besarku di Surabaya kota. Sebuah rumah yang cukup mewah dengan memiliki taman yang sangat luas, dan juga berbagai macam perternakan. Semua suka berkunjung dan berkeliling di sekitar rumahku. Setiap ada orang yang berkunjung selalu berkata rumah kami Perfect, banyak orang yang ingin mengambil alih. Karena begitu nyaman dan pemandangan di sekitar yang indah. Tentu buat kami tidak seperti itu. Sangat bertolak belakang dengan kenyataan.
Kami mulai tinggal di sana 5 tahun yang lalu, setelah orang tuaku membelinya dari seorang pengusaha ternak **** asal Madura. Saat itu Ayahku sangat antusias membeli rumah mewah itu, karena pemiliknya memberi harga murah, sangat murah. Bahkan menurut yang kala itu masih berumur 12 tahun, harga yang di berikan harga yang tidak masuk akal.
Semenjak tinggal disana, aku merasa tidak nyaman, entah kenapa aku juga tidak tau. Seakan ada seseorang yang selalu mengawasi gerak gerikku, tapi aku merasa mereka lebih dari satu. Setiap kegiatan yang aku lakukan, aku selalu merasa ada yang mengikuti pergerakanku.
Pada awal September 2012 aku mengalami sebuah peristiwa yang aneh, ganjil di rumah itu. Waktu itu aku berada di kamar mandi, setelah aku selesai mandi aku melihat seorang wanita tiba tiba saja muncul di keramik kamar mandi. Tepat berada di sebalah di samping kaki kiriku. Hanya kepala lengkap dengan rambut yang berjuntai panjang dan aksesoris yang ia gunakan. Hanya kepala saja, tanpa badan dan anggota tubuh yang lainnya.
Mata kecil itu melirik ke arah ku, wajah seorang wanita muda, dengan bibirnya yang tebal. Pada awalnya aku pikir itu adalah keisengan dari kakak dan adikku. Namun ternyata itu bukan dari manipulasi. Semuanya nyata, sangat nyata. Karena sangat kaget aku segera pergi, dan memanggil semua orang di keluargaku. Setelah semua sudah berkumpul, aku menceritakan apa yang baru aku alami. Ketika kami datang kembali ke kamar mandi bersama, wajah itu sudah tidak ada, kucari setiap sisi kamar, namun tidak ada. Mereka akhirnya menganggap aku berbohong.
Beberapa hari kemudian, saat aku seorang diri berada di rumah besar itu. Aku menjumpai gambaran gambaran wajah di seluruh lantai rumah. Tepat berada di depan ku adalah wajah besar seorang laki laki dewasa. Dia berjenggot tebal, hidung yang besar. Aku takut melihatnya saat mata besarnya memandangku tajam. Ku ambil taplak meja dan ku tutupi wajah orang itu. Wajah itu tidak hilang, wajah itu selalu mengikuti langkah kakiku.
Sekarang bukan hanya wajah dua orang tadi yang kulihat tapi banyak wajah yang aku lihat mulai bermunculan di bagian lantai lainnya. Ada anak kecil yang tersenyum padaku, ada gadis remaja dengan wajah murungnya, ada bayi yang sedang menangis, dan juga wajah keriput kakek dan nenek. Sekujur tubuhku merinding seketika. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan ketakutan yang teramat besar. Rumah yang sangat aneh, saat itu yang bisa aku lakukan adalah lari keluar rumah.
Tapi tiba tiba pintu depan tertutup kuat, "Brraakk." Aku tersentak, aku berusaha membukanya namun tidak bisa. Keringat dingin terus keluar. Mataku mencari jalan, tapi mata ini juga tidak bisa menemukan jalan keluar. Hanya satu jalan keluar yang tersisa. Memecahkan dinding kaca.
"Hhhahahahha hihihihihi."
Suara tawa mereka tidak membuat nyaliku menciut. Kuambil kursi dan ku lemparkan sekuat tenaga ke arah dinding kaca tersebut.
PPYYYYAAARRRR
Kaca hancur, dan saat ku dekati kaca itu, mataku terbelalak tidak percaya. Secara cepat kaca itu kembali utuh. Seakan tidak pernah pecah, ku sentuh Ingin memastikan, namun benar adanya kaca itu kembali utuh. Bahkan dari kaca itu bisa ku lihat kursi yang aku gunakan buat melempar kaca, tergeletak di luar rumah. Aku mulai bingung, ku lihat wajah wajah itu menatap ku dengan penuh kemarahan. Aku lari ke lantai atas, ku injak injak wajah wajah yang aku lewati itu. Setelah sampai lantai atas aku menuju balkon, di sana tidak ada keramik sama sekali. Jadi aku tidak harus melihat wajah wajah yang menakutkan itu lagi. Aku menunggu keluargaku pulang di balkon itu, hingga aku tertidur di sana dengan di temani angin malam.
__ADS_1
Ternyata kejadian menyeramkan itu tidak akan datang lagi. Namun aku keliru, kejadian itu hampir setiap hari menghampiri dan menghantuiku. Tapi anehnya tidak ada yang bisa melihat penampakan itu selain diriku sendiri. Semua anggota keluarga di rumahku, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan juga beberapa asisten rumah tangga, mereka tidak ada yang mengaku pernah melihatnya. Dan saat aku menceritakan pada mereka, semua pada tidak percaya. Dan mereka bahkan menganggap aku sakit jiwa. Aku bingung sendiri.
"Kamu jangan mengada ngada. Mana mungkin keramik licin ini bisa membentuk wajah orang?" komentar Ayah, dengan tersenyum tak percaya.
"Sudah lah kamu jangan aneh aneh. Ini mungkin efek karena kamu sering nonton film film hantu," kata Ibu.
"Apa kamu gila? perlu ke dokter? nanti setelah ini agak nya kamu perlu di bawah ke rumah sakit jiwa." Ledek kakakku.
"Betul juga tu kata kakak. Harusnya kak Alexa di bawah ke porong." Tambah ledekkan dari adikku.
Aku hanya terdiam tidak percaya dengan respon yang di berikan oleh mereka. Aku hanya bisa menghela nafas dengan cercaan yang di mereka berikan. Aku memang tidak bisa membuktikan kebenaran apa pun tentang penglihatan ini. Tapi aku sangat yakin, bahwa semua ini adalah benar nyata, bukan sebuah halusinasi belaka. Setiap hari aku akan di hantui dengan raut wajah yang bermunculan silih berganti. Wajah anak anak, wajah bayi, wajah tua, muda dan lain sebagainya.
Beberapa bulan kemudian, banyak kejadian aneh dan mengerikan di rumah kami. Satu per satu mereka yang tidak percaya dengan penampakan yang sering aku ceritakan, mereka mengalami berbagai musibah dan sampai terjadi kecelakaan.
Ibuku yang waktu itu tengah hamil 5 bulan. Ketika sedang sibuk menyiapkan masakan di dapur, ibu tersandung sesuatu. Ibu mengatakan bahwa ia tersandung sesuatu berbentuk bulat seperti bola. Ibu terjatuh ke meja dan bagian perut ibu terkena ujung meja itu, posisi yang sangat fatal bagi ibu yang tengah hamil. Sebuah peristiwa yang terjadi seperti kilat di pagi hari itu menyebabkan ibu keguguran dan pendarahan hebat. Bayi yang ada di dalam kandungan ibu tidak bisa di selamatkan.
Ayah dan kakak pulang kerumah, meninggalkan Ibu dan adik di rumah sakit. Mereka mencari benda sialan yang menyandung kaki ibu, yang sempat ibu pikir adalah bola, setelah puas mencari namun mereka tidak menemukan. Ibu bersih keras bahwa benda itu seperti bola. Namun saat ku yakin dan tegaskan pada ibu bahwa itu adalah kepala manusia. Salah satu dari wajah yang sering menampakkan diri kepadaku.
Saat ku ungkapkan kebenaran yang aku yakini itu, semua anggota keluargaku diam tak bersuara, mereka cuma mamandangiku. Tapi aku tidak bisa mengartikan makna diam mereka. Entah diam karena kaget atau diam karena tidak mau mengomentari perkataan ku.
Aku mengatakan pada mereka itu adalah gangguan roh jahat yang ada di rumah kami. Saat aku keluar kamar aku melihat sosok makhluk halus yang keluar dari salah satu keramik. Wujudnya tak jauh beda dengan manusia, hanya saja transparan. Makhluk itu menuju ayah dan menyentuh dada ayah, saat itu juga ayah langsung kejang kejang.
Saat ku ceritakan itu pada keluargaku, lagi lagi tidak satu pun yang percaya sama aku. Dan bilang aku gila.
Kini adikku, Marsya. Setelah Ibu dan ayah, Marsya yang baru berumur 9 tahun saat setan itu mengganggu di kamar mandi. Saat kejadian terjadi ibu dan ayah sedang pergi, aku yang sedang makan dan kakakku masih tidur. Marsya yang kala itu mau mandi.
"Kakakkkkk." Teriak Marsya.
Aku dan kakak langsung berlari menuju kamar mandi. Ku dapati Marsya tengah terkapar di kamar mandi, wajahnya pucat pasi. Sama seperti aku, Marsya mengatakan melihat penampakan wajah wajah di lantai. Ia melihat wajah seseorang yang berjenggot yang memiliki bola mata besar yang menyeramkan.
Dengan berbagai peristiwa yang terjadi akhirnya ayah mengusulkan area, dapur, kamar mandi, dan ruang tamu di tutup total. Tapi kakak ku mengusulkan agar 3 ruangan itu di ratakan saja dengan tanah. Ayah pun menyetujui usul dari kakak. Lokasi ruang tamu, dapur, kamar mandi yang berjajar memudahkan kami untuk melakukannya. Beberapa pekerja bangunan pun meratakan 3 ruangan itu. Dan tidak lupa membongkar lantai keramik yang disana. Saat proses pembongkaran lagi lagi terjadi peristiwa aneh.
Kakak yang kala itu menilik kerja para pekerja bangunan.
__ADS_1
AAAARRRRHHHGGG
Tiba tiba terdengar suara teriakkan keras dari mulut kakak. Kami pun langsung lari ke tempat kakak. Saat kami datang, kami terkejut mendapati kakak terkapar dengan kaki yang berlumuran darah, seperti tergigit sesuatu. Ayah dan ibu mengira itu adalah gigitan hewan. Tapi menurutku itu bukan gigitan hewan. Ku lihat di kaki kakak dan ku amati, itu seperti gigitan manusia. Di samping gigitan taring utama di kedua sisi ada rentetan gigi gigi kecil.
Karena tidak mau banyak bersepekulasi akhirnya kami tidak menunggu waktu lama, kami langsung membawa kakak ke rumah sakit terdekat. Saat dokter keluar dari ruang pemeriksaan, dokter memfonis bahwa kakak terkena gigitan ular yang sangat berbisa. Suatu hal yang sangat mencengangkan bagi kami. Keadaan rumah kami memang tumbuh banyak sekali pepohonan, namun dapat di pastikan tidak ada ular di sana, apa lagi ular yang berbisa. Aku berusaha menyangkal, namun dokter masih bersih kukuh dengan hasil pemeriksaannya.
Sudah empat hari kakak di rawat, aku selalu mendoakan untuk kesembuhannya. Aku ingin akhir yang bahagia untuk keluarga kami nanti. Tubuh kakak mulai membiru, darahnya seperti tidak berjalan, membeku. Ular apakah yang sangat hebat bisanya seperti ini. Aku terus memanjatkan doa agar tidak terjadi apa apa dengan kakak.
Beruntung doaku di dengar, sore hari keadaan kakak mulai membaik, dan akhirnya dinyatakan sembuh. Tapi saat kami membawanya pulang, kondisi kakak drop keadaan berbalik 180° saat kami berada di rumah sakit. Kondisi kakak semakin menurun dan memburuk. Hingga akhirnya ajal menjemput, ya kakak meninggal dunia setelah mengalami kejang kejang akibat saluran darah dan beberapa organ vitalnya lumpuh.
Semua orang yang datang kerumah untuk melayat percaya bahwa kakak meninggal dunia karena bisa ular. Namun tidak dengan keyakinanku. Aku sangat yakin benar bahwa wajah wajah di lantai itulah yang membunuhnya. Mereka tidak suka dengan kakak, karena ingin membongkar rumah mereka. Sebab itulah mereka melenyapkan si pemberi ide pembongkaran 3 ruangan itu yaitu kakak.
Setelah proses pemakaman kakak selesai. Tiga hari kemudian, para pekerja bangunan melanjutkan kembali tugasnya. Dan saat mereka membongkar lantai keramik, mereka menemukan apa yang aku yakini selama ini. Ya mereka menemukan beberapa tulang belulang manusia yang terkubur di bawah lantai dapur, kamar mandi, dan ruang tamu rumah kami. Mereka segera mengangkat semua tulang itu, dan ayah langsung menghubungi pihak berwajib.
Keluargaku yang sudah sangat ketakutan setengah mati akhirnya memutuskan untuk menjual rumah itu. Kami pun akhirnya pergi ke Jakarta dan memulai hidup baru kami di sana.
Tapi ternyata tidak semudah itu. Sesuatu yang ada di otakku berbeda dengan yang lain. Beberapa kejadian yang menimpaku dan keluarga membuat aku trauma berada di dalam rumah. Rumah seperti penjara buatku, yang setiap saat bisa memakanku atau membunuhku terang terang. Aku tidak bisa hidup seperti orang pada umumnya. Tinggal didalam rumah. Ku putuskan untuk meninggalkan rumah, hidup di tempat keramaian, tanpa sebuah ruangan. Hidup di jalan, atau di hutan, dan bila aku ingin bertemu dengan keluarga ku, aku akan menemui mereka di luar rumah. Keluargaku mengatakan bahwa aku menderita 'ecophobia'. Apa pun itu aku selalu tidak nyaman berada di dalam ruangan tertutup. Seperti sekarang ini, di dalam ruangan ini. Rasanya sungguh menyiksa, sangat tidak nyaman.
*******
Mata Alexa, melirik ke setiap sudut ruangan. Dia benar benar terlihat ketakutan, sungguh jelas di matanya. Aku berusaha menenangkan dia dengan memberi sebotol minuman. Alexa menerimanya, ia mulai meminum. Setelah ku rasa dia sudah tenang, dan kini pandangannya menatap kearahku.
"Alexa.... Kamu sudah merasa tenang?" aku mencoba melihat respon dia, saat aku memegang tangannya. Basah dan dingin, ya itu yang kurasakan di tangan Alexa.
"Dia benar benar ketakutan... sebaiknya aku bawa dia ketempat pemulihan, mungkin dengan begitu secara perlahan dia akan sembuh dan kembali normal." Batinku.
"Ya, saya sudah mulai tenang." Jawab Alexa.
" Apakah kamu masih ingin sembuh seperti dulu?" tanyaku, dan di jawab Alexa dengan anggukan.
Aku dan Agus langsung pergi mengantar Alexa ke tempat pemulihan. Kami berharap di sana Alexa bisa sembuh lagi.
# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan beri dukungan buat karya ku dengam like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋 dan juga mampir ke ceritaku yang lainnya.
__ADS_1
- Garis Hidup Arin
- Perjuangan Cinta Seorang Chef 🙏🙏😘🙏