MISTERI DI BALIK ARWAH

MISTERI DI BALIK ARWAH
Tali Pocong


__ADS_3

Namaku Siska, aku seorang ibu rumah tangga yang mempunyai satu anak. Kehidupan rumah kami di penuhi dengan kebahagiaan... hingga pada waktu hal telah terjadi.


" Kembalikan."


" Kembalikan tali ku."


" Tolong kembalikan."


Wajah pocong itu semakin mendekati wajahku, lidahku keluh hingga ingin teriak pun aku ta mampu. Semakin dekat... dekat dan dekat.


"Aaaaaaaaaa." Aku terbangun dari mimpiku.


Akhir akhir ini aku sering sekali bermimpi pocong, dan berulang ulang kali pula pocong yang sama dan tempat yang sama. Aku menceritakan semua pada suamiku, namun dia juga tidak mengerti apa arti mimpiku itu.


Sudah seminggu semenjak aku cerita sama suamiku, dan selama itu pula aku tak lagi bermimpi pocong itu lagi. Aku pun menjadi sedikit lega, tidak di hantui lagi.


" Mama, aku mau main ke sana ya..." pinta anakku sambil menunjuk arah tempat. Ya tempat di mana setiap kali pocong itu ada.


" Jangan Ami, ini sudah mau maghrib lebih baik kita masuk kedalam rumah saja yuk." Ajak ku. Ami pun masuk ke dalam rumah, sedangkan aku yang masih di luar. Tiba tiba buluku merinding, tengkuk leherku pun terasa dingin. Dan ketika aku mau menutup pintu mataku menangkap bayangan putih di sudut jalan yang tak jauh dari depanku.



Ku kunci pintu rumah, dan langsung menghampiri Ami yang duduk di meja makan.


Ku belai rambut Ami yang panjang terurai. Berusaha menutupi rasa takutku...


" Ami cepat makannya nak, setelah itu belajar ya." Tidak ada jawaban atau isyarat dari Ami.


" Ami, dengar gak mama bicara?" masih ta ada respon.


" Mi..." ku goncang pundaknya pelan, Ami pun langsung menghentikan tangannya yang sedang menyendok nasi. Tapi dia masih diam, dan ta merespon.


" Ami..." Dia menoleh.


"Aaaaaaaaaaaa." Mata merah dan tatapan tajam. Dia bukan Ami, aku lari ke kamar Ami. Memastikan dengan apa yang ku lihat.


Di kamar, ku dapati ia sedang belajar di mejanya.


" Mama kenapa?" tanya Ami padaku.


" Nggak apa apa sayang... ya udah lanjutkan belajar." Jawabku pada Ami.


" Tapi kenapa muka mama pucat, apa mama baru lihat hantu?" lirih Ami.


" Huusshh... jangan bicara sembarangan sayang, gak baik!"


" Apa mama gak takut hantu?"


"Cukup Am--!" belum selesai ku bicara. Wajah Ami berubah menjadi hitam dan matanya merah menyala. Dia tersenyum miring padaku.


Aku sebenarnya ketakutan, tapi aku berusaha sekuat mungkin untuk melawan rasa takut itu.

__ADS_1


" Apa yang kau mau?" tanya ku.


" Tolong aku!"


" Tolong apa?"


" Carikan atau gantikan tali pocong ku yang hilang."


" Bagaimana aku mencarinya?"


" Dia sangat dekat dengan mu."


" Siapa?"


" Tanyakan pada suamimu, dia pasti tau."


Tiba tiba pocong itu pun menghilang. Kaki tak kuat lagi menopang berat tubuh ku, lemas seperti tak bertulang... badanku gemetar mataku tiba tiba buram dan akhirnya aku pingsan.


Suamiku yang baru pulang kerja, terkejut melihat keadaanku yang tak sadarkan diri, di samping ku ada Ami yang sedang menangis.


" Papa..." sapa Ami.


"Ami... kenapa dengan mama sayang?" tanya suamiku.


" Aku tidak tahu Papa, aku bangun tidur dan ku dapati mama pingsan." Jelas Ami.


Suamiku langsung mengangkat tubuhku, dan membawa ke atas ranjang. Ami mengambilkan minyak kayu putih untuk di balur ke seluruh badan. Beberapa saat kemudian, aku berusaha membuka mataku. Samar samar ku lihat wajah suamiku, aku pun langsung memeluknya dengan erat.


" Menangis lah, jika itu bisa menenangkan dirimu." Ucap suamiku. Aku pun menumpahkan semuanya.


Ketika aku sudah mulai merasa tenang.


" Ceritakan, apa sebenarnya terjadi." Pinta suamiku. Aku pun menceritakan semua dari awal sampai akhir.


Suamiku terdiam, setelah mendengar cerita ku.


" Sepertinya aku tahu siapa orangnya." Kata suamiku tiba tiba.


" Siapa Pa?"


" Pak Slamet, pasti tahu."


" Cepat temui Pa."


" Iya nanti aku akan ke sana."


" Tidak perlu nanti, sekarang saja. Aku lelah jika pocong itu terus menghantuiku."


" Baiklah, aku pergi sekarang. Kamu sama Ami di rumah saja."


" Nggak, aku mau ikut."

__ADS_1


Akhirnya kami pun pergi ke rumah Pak Slamet. Ini sudah tengah malam hampir jam satu malam. Rumah yang tak jauh dari rumahku, kami pun jalan kaki ke sana. Melewati sungai yang di sekelilingnya banyak pohon bambu. " Mama, Ami takut." " Cup sayang, jangan takut ya ... baca ayat ayat suci di dalam hati kamu." " Iya Mama."


Kami bertiga sudah hampir sampai rumah Pak Slamet. Suamiku mengetok pintu kayu itu. satu, dua, tiga sampai empat kali, sang empunya rumah baru membukakan pintu.


Kami di persilahkan masuk, dan kami menceritakan semuanya kepada Pak Slamet.


Tiba tiba.


Braaakk.


Pintu rumah itu tertutup.


Wus wus wus...


Angin kencang datang, aku memegangi Ami dengan kencang. Ami ketakutan sampai dia menangis. Suamiku terus membacakan Ayat kursi.


Dan angin itu pun langsung berhenti. Pak Slamet yang tak pernah mengalami hal seperti barusan, ia pun ketakutan. Suamiku mendekati Pak Slamet, yang tengah terpaku.


" Pak... sadar pak, istifar. Apakah bapak bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi."


Setelah merasa sudah tenang. Pak Slamet memulai ceritanya.


" Dulu Aku dan Sukri pernah mempelajari ilmu hitam, kami berguru pada orang di daerah Banyuwangi. Ekonomi keluargaku dan Sukri sangat kurang, untuk makan sehari hari saja kami sangat kesusahan. Ada seorang teman lama, ta sengaja kami bertemu di terminal. Dia yang dulu ekonomi nya ta jauh beda denganku kini menjadi kaya, punya mobil dan beberapa motor. Padahal terakhir ketemu tiga bulan yang lalu. Keadaannya sama dengan aku dan Sukri.


Aku yang penasaran pun tanya sama dia, apa rahasianya. Hendra menceritakan bagaimana mendapatkan kekayaan begitu cepat.


Aku dan Sukri tertarik, Hendra mengantar kami ke tempat tujuan. Kami berdua pada awalnya ragu, kami sadar ini semua di larang oleh agama. Namun kami tidak ada pilihan lain.


Aku dan Sukri mengikuti semua ritual yang harus di lakukan, hingga pada ritual yang terakhir kami kesusahan karena sulit mendapatkan syarat yang di ajukan. Tali pocong seorang jejaka yang lahir hari minggu dan meninggal hari minggu.


Hampir satu bulan kami tidak mendapatkan tali pocong itu. Kami putus asa, kami merasa mungkin ini adalah jawaban dari Allah.


Pada hari minggu pagi tersiar ada orang meninggal. Aku dan Sukri pun melayat kediaman yang wafat...


" Kasian ya masih Jaka tapi udah meninggal, pasti pacarnya sangat terpukul akan kepergiannya." Ucap salah satu pelayat lain, yang tak sengaja ku dengar.


Aku pun memberitahu Sukri, kami sedikit merasa senang. Aku dan Sukri mengikuti sampai proses pemakaman. Mata ku berbinar setelah membaca tulisan di batu nisan itu. Ya pemuda itu lahir hari minggu kliwon dan meninggal pada minggu kliwon juga.


Aku dan Sukri memutuskan untuk ikut turun ke liang lahat, di karenakan sanak saudara yang meninggal tidak ada yang turun. Itu adalah kesempatan bagi kami. Ku ambil tali pocong bagian tengah dan hanya menyisakan bagian kepala dan kaki. Tentu saja tidak ada orang yang menyadari perbuatan kami.


Setelah melakukan ritual yang terakhir, keadaan kami langsung berubah. Banyak orang yang menghormati kami, dulu padahal mereka selalu menghina kami. Dan sampai akhirnya kami menjadi orang terkaya di kampung ini.


" Tapi maaf kan saya Pak, sebaiknya bapak kembalikan tali pocong itu. Sekarang Pak Slamet sudah mendapatkan apa yang Bapak impikan, jadi lebih baik Bapak kembalikan." Ucap suamiku.


" Aku tidak bisa mengambil tali pocong itu."


" Kenapa?"


" Karena tali pocong itu sudah kami bakar, dan airnya kami minum." Jawab Pak Slamet lemas.


" Jadi kita harus gimana sekarang Pak?" tanyaku, yang terkejut dengan pengakuan Pak Slamet.

__ADS_1


# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏😘😘 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹💋


__ADS_2