MISTERI DI BALIK ARWAH

MISTERI DI BALIK ARWAH
Kepala Bayi.


__ADS_3

 


***Terkadang ada kalanya kita merasa lelah dengan semua apa yang terjadi dalam hidup ini, dan di saat itu pula kita ingin mengakhiri hidup kita sendiri***.


 


Pagi itu aku sudah bersiap untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Dan seperti biasa pula ketika aku bangun Lisa sudah berangkat kerja, tinggallah Ade dan baby sister. Setelah selesai sarapan aku pun beranjak pergi. Sebenarnya aku masih sangat mengantuk karena kurang tidur semalam, tapi bagaimana pun aku harus kerja.


Tiba di klinik, Agus sudah tiba di sana. Dia sedang membersihkan ruangan dan tidak lupa memberi wangian Jasmine pada seluruh ruangan. Wangi yang sungguh menenangkan pikiran. Aku sangat menyukai nya.


" Pagi... maaf dok sudah ada klien di atas sedang menunggu." Beritahu Agus padaku.


" Sepagi ini sudah ada pasien? sudah berapa lama dia di sini?"


" Kurang dari satu jam yang lalu."


" Ok, ayo kita segera keatas. Mungkin dia benar benar butuh bantuan kita."


" Ayo siapa takut."


Aku dan Agus pun langsung naik ke lantai atas, dan aku sedikit terkejut melihat seseorang di hadapan ku. Ya dia wanita yang menemui aku di restoran kemarin. Dan wanita yang sama ku lihat di depan area pemakaman.


Nina nama wanita itu, dia mulai memperkenalkan diri nya. Dan dia pun memulai ceritanya.


---------


Namaku Nina, aku masih berusia sembilan belas tahun. Aku pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan akhirnya sampai sekarang rasa bersalah itu menghantui hidupku setiap saat.


" Lebih baik kau bunuh Ibu, bunuh Ibu jangan kau bunuh dia yang ta berdosa. Kau benar benar kejam kau ta punya hati. Aku menyesal telah melahirkan mu sebagai anakku." Tangis histeris ibu ku yang tau aku telah melakukan aborsi pada bayi yang ku kandung selama lima bulan ini. Ibu memukuli aku sekenanya, ibu benar benar marah dan kecewa padaku.


Apalah dayaku, aku pun tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada diriku saat itu. Aku tiba tiba tersadar, dan aku ada di sebuah ruangan yang serba putih dan juga ada beberapa orang yang mengenakan baju putih. Aku tidak mengenali mereka, apalagi mereka menggunakan masker.


Tapi yang aku tau saat itu, aku merasakan perutku benar benar sakit. Dan ketika ku raba perutku, aku terkejut mendapati perutku rata, dan di atas seprei yang ku tempati pun banyak ceceran darah. Ingin rasanya aku bangkit dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Tapi aku tidak bisa, ******** ku terasa sangat sakit. Dan juga entah mengapa aku merasa tak ada kekuatan.


" Di mana bayiku? dan siapa mereka? kenapa aku di sini?" tanya ku dalam hati.


Tak sengaja pandangan ku jatuh ke bawah setelah tempat tidur, di situ ku lihat ada sebuah baskom. Aroma amis dan anyir begitu kuat ku rasakan.

__ADS_1


Ya ternyata di dalam baskom itu adalah bayiku. Kulit yang masih sangat tipis hingga terlihat jelas organ dalam tubuhnya. Kepalanya hampir putus dari badan nya terlihat jelas lehernya tercabik cabik. Tangan kirinya terputus dan juga kakinya yang remuk.


Aku terkejut melihat keadaan bayi ku, aku menangis sejadi jadinya. Ada sosok yang ku kenal di antara mereka yang berbaju putih. Tio ayah dari bayiku, ku tarik dia agar mendekat ke arah ku.


" Apa yang terjadi? katakan!" tanya ku


" Ini yang terbaik buat kita, aku gak mau teman teman dan keluarga ku tau. Apalagi kita belum menikah. Seandainya saja waktu itu kau mau menggugurkan nya, pasti rasanya tidak akan sesakit ini."


" Kau benar benar kejam, dia itu darah daging mu. Perbuatan zina kita itu sudah dosa besar dan apa ini...? sekarang kau malah membunuh bayimu sendiri. Darah daging mu."


" Begitu bodohnya aku, percaya akan ucapan mu tadi. Seandainya aku mendengarkan kata Ibu, mungkin saat ini bayiku masih bersama ku saat ini. Kenapa ta sekalian kau bunuh aku Tio...?" tambah ku lagi.


Aku pun terpukul atas apa yang berlaku, tapi aku akan mencoba untuk kuat dengan semua tekanan keadaan ini. Bayangan bayiku masih segar dalam ingatan dan melekat erat di kepala ku.


" Kau tega membunuh bayi yang ta berdosa Nin, kau jahat." Aku tersadar dari lamunanku yang mengerikan, bayi itu pun langsung menghilang seketika.


Aku hanya bisa terdiam melihat kemarahan Ibu, dan menerima pukulan ibu.


 


\\


 


Perbuatan Aborsi bagaimana pun tidak bisa di maaf kan baik di mata Allah dan mata hukum. Membunuh makhluk hidup yang tidak bisa melawan adalah perbuatan yang paling jahat di muka bumi ini. Apalagi itu adalah darah dagingnya sendiri.


 


\\*


 


" Yang membuat aku datang ke sini bukanlah penyesalan atas apa yang sudah terjadi. Namun bayiku ... bayiku terus dan terus menghantuiku di mana pun aku berada.


Karena keluarga besar ku selalu mencaci maki aku setiap saat, aku merasa muak. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi menjauh dari keluarga. Ku ajak pacar ku yang merupakan ayah dari bayi yang pernah ku kandung. Tidak ada protes dari Tio, ku minta ia menemani ku ke suatu tempat di mana tidak akan ada orang yang memprotes ku.


Dengan uang yang ada, aku dan Tio pergi ke Padang. Tanah Melayu menjadi tujuan kami, entah mengapa aku ingin tinggal di sini. Tidak ada darah Melayu yang mengalir pada diriku maupun pada Tio. Dan aku pun tidak pernah menginjakkan kaki di sini.

__ADS_1


Kami mengaku sudah menikah, pada pemilik kontrakan yang ingin kami tempati. Setiap penghuni haruslah pasangan suami istri itulah syarat yang di ajukan agar boleh ngontrak. Tapi ku bilang sama pemilik kontrakan surat nikah kami hilang saat banjir.


Sebuah kontrakan kecil yang berukuran empat kali lima meter, cukup untuk kami berdua. Kupikir dengan menjauh dari keluarga adalah hal yang tepat, rongrongan dari keluarga yang selalu menyudutkan diriku membuat aku benar benar frustasi.


Tapi ternyata hal lain malah muncul dan terus terus menyiksaku. Bayi itu, bayiku... terus mengikuti aku ke mana pun aku pergi.


Tio yang tidak pernah percaya akan cerita ku selalu menganggap aku bohong.


" Bayi itu sudah mati, bagaimana mungkin bayi yang sudah mati bisa menghantui orang yang masih hidup. Itu semua hanyalah khayalan yang hadir akibat pikiran mu sendiri." Tio selalu berkata seperti itu jika aku ketakutan akan sosok bayi itu, yang bergentayangan di sekitarku.


Pada malam hari, ketika aku tidak bisa tidur aku pergi ke luar rumah. Tio yang waktu itu sudah tertidur lelap ta menyadari kepergian ku. Jalan yang sudah sangat sepi, ku susuri jalanan seorang diri.


Ooooeeeeek oooeeekkkk


Ku dengar tangisan bayi, suara itu sangat jelas. Ku hentikan langkah kaki ku, ku lihat keadaan di sekitar. Sepi tak ada kendaraan yang lewat, hanya satu sepeda motor yang memutar arah. Sepasang kekasih yang mungkin baru pulang berkencan.


Tangisan bayi itu terdengar lagi. Ku lihat setiap sudut di sekitar ku, tapi sepi sepi saja. Bulu di seluruh tubuh ku berdiri, dan kemudian


Ooooeeeeek oooeeekkkk oooeeek.


Tangisan itu semakin kuat.


Hihihi hihihihi hihihihi


Suara wanita tertawa, semakin membuat langkah kaki menjadi berat.


Klontangg... ta sengaja ku menginjak kaleng minuman.


Ngikk ngiikk ngiik.


Ada sebuah ayunan besi tua yang bergerak gerak sendiri. Tidak ada seorang pun di situ sekujur tubuhku merinding bulu kuduk kulun berdiri.


Ngiik ngiikk ngiikk.


Ayunan itu tetap bergerak, bergoyang. Itu membuat aku tidak bisa memandangi nya lebih lama lagi.


# **Ingin tahu kelanjutannya? di Bab berikutnya ya.

__ADS_1


# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🌹🌹💋**


__ADS_2