
Banyak anak yang di ciptakan dengan indera keenam oleh Allah.
Indigo adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan anak yang di yakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, atau bahkan supranatural. Kondisi yang cukup aneh yang terjadi pada sebagian kecil orang. Indigo adalah sebuah kondisi dimana seseorang memiliki kemampuan yang lebih dari pada yang lain. Singkatnya indigo diidentikkan dengan indera keenam. Indigo bisa saja di bawa sejak lahir atau mereka setelah dewasa. Banyak faktor penyebab menjadi anak indigo.
Faktor pertama... yaitu faktor keturunan, ayah atau ibu yang memiliki kemampuan indigo, maka kemungkinan anaknya walau masih kecil akan mewarisi kemampuan yang sama.
Faktor kedua... yaitu faktor gangguan ghaib, tubuh seseorang sering di ganggu oleh makhluk gaib. Seperti sering kesurupan, terkena guna guna, sihir, dan sebagainya. Maka ia akan mudah masuk ke alam lain atau dimensi lain dari dunia ini.
Faktor ketiga... yaitu faktor psikologis, yaitu contohnya di mana seseorang suka menonton film horor. Terus mereka memikirkan hal hal yang berbau mistis, dan tentunya itu akan menghantui hidup mereka.
Faktor keempat... bawaan lahir, ini berbeda dengan faktor keturunan. Di mana bayi sudah memiliki kemampuan meskipun kedua orangtuanya tidak ada yang memiliki indigo yang sama.
Faktor kelima... sengaja membuka mata batin, kesengajaan. Seseorang sengaja membuka mata batinnya untuk melihat alam lain yang belum mereka lihat sebelumnya.
Faktor keenam... ibu hamil juga bisa berpotensi menjadi indigo. Entah bawaan bayi atau karena ada gangguan dari dimensi lain.
Itu semua adalah beberapa faktor penyebab seseorang menjadi atau di sebut indigo.
Selain itu ada juga tanda tanda seorang indigo yang bisa di lihat melalui fisik atau psikis.
Tubuh yang selalu lemas, sering sesak nafas, tidak tahan panas matahari, sering mual, sering gelisah, sering ingin menangis tanpa sebab, sering stres atau depresi tanpa sebab, sering melihat bayangan hitam di malam hari, berbicara tidak sesuai dengan usianya, susah tidur terutama malam hari, merasa selalu diawasi, merasa selalu di ikuti, kepribadian yang sering berubah ubah.
Kali ini kasus klienku ada hubungannya dengan kemampuan indigo.
\
Ada seorang gadis kini duduk depan ku, kalau di lihat usianya sekitar dua puluh lima tahun. Gadis itu masih terdiam menunduk, sorot matanya sulit untuk di artikan.
"Dari kecil aku selalu di kucilkan, aku tidak punya teman mereka takut kalau aku akan membunuhnya. Mereka menganggapku sebagai seorang pembunuh." Dia mulai bersuara.
"Apa maksudmu?" tanyaku yang penasaran.
Dia mengangkat pandangannya ke arahku.
"Aku butuh seseorang yang mau mendengarkan aku. Aku sudah tidak mampu lagi untuk menyimpan semua kisah ini sendiri. Aku butuh seseorang yang mau mengerti apa yang aku rasakan."
"Sekarang silahkan kamu mulai ceritanya."
Setiap malam aku selalu merasa gelisah, aku takut untuk tidur. Karena setiap aku mulai tertidur maka...aku di beri penglihatan tentang apa yang akan terjadi kedepannya. Aku bisa melihat kematian seseorang melalui mimpi. Dan aku akan menceritakan pada teman temanku, dan mimpiku pasti akan jadi kenyataan. Sejak saat itulah mereka menganggap aku sebagai pembunuh. Hingga tidak ada seorang temanpun yang aku miliki.
Sejak kecil aku memiliki kemampuan untuk melihat makhluk makhluk gaib, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Orang tuaku pernah membawaku ke penelitian aura, seperti orang yang pandai. Dan hasilnya warna indigo yang terpancar dari tubuhku. Tapi entahlah apa makna warna warna itu, aku tidak tahu, dan sama sekali tidak tertarik. Aku hanya lebih tertarik dengan apa yang aku lihat.
Wajah hitam pria tua, anak kecil dengan kepala botak yang telanjang dada, wanita dengan lubang besar di punggungnya, bayi yang masih memiliki tali pusarnya, sosok raksasa yang mempunyai bulu lebat dengan taringnya yang tajam dan ada juga pocong. Tapi ada satu sosok yang sama sepertiku, ia seorang gadis yang mati karena di bunuh ibu tirinya. Itu pemandangan yang lebih menarik buat aku.
Mereka semua adalah keluargaku, mereka tinggal di sekitar rumahku. Bahkan kami sering main sama sama, menghabiskan waktu bersama. Jika ada salah satu di antara mereka yang tidak ada maka aku akan bingung mencarinya, karena kehilangan salah satu dari mereka maka akan terasa tidak lengkap buatku.
Aku lebih dekat dan akrab dengan gadis itu, dia bernama Rika. Dia sangat jahil... tapi dia selalu bisa membuat aku tersenyum bahagia. Rika akan selalu mengganggu waktu malam ku. Dia sering datang dan mengajakku bermain. Banyak permainan yang kami mainkan, mungkin buat orang normal bermain di pagi buta adalah hal yang tidak wajar. Terkadang mereka semua yang tidak sengaja melihatku sedang bermain mengataiku gila.
Aku dan keluargaku dari alam gaib itu selalu berkumpul di bawah pohon beringin, yang ada di samping pekarangan rumah. Di tempat itu, kami sering bermain dan berbagai cerita, tempat itu adalah tempat favorit kami. Tapi semenjak pak Yusuf menebang pohon itu, aku jadikan gudang adalah markas kami. Pak
Yusuf adalah kyai terkenal di daerah ku, karena banyaknya warga yang mengeluh karena di ganggu oleh beberapa penampakan. Hal itu sangat menggangu mereka, dan akhirnya pohon beringin itu di tebang.
Setiap kali aku mendapatkan mimpi yang pasti akan terjadi aku selalu menceritakan pada teman temanku, dan juga orang tuaku. Peristiwa demi peristiwa terjadi sesuai apa yang aku mimpikan. Ibu selalu mengatakan padaku untuk tidak melakukan hal yang buruk, seakan aku lah penyebab mereka semua mengalami kejadian itu. Teman temanku juga menjauhiku dan menyebut aku sebagai penyihir dan pembunuh.
Pada suatu ketika aku melihat ada sebuah kecelakaan beruntun di sebuah jalan tol. Ku lihat jam tepat pukul 3 pagi. Salah satu korban meninggal dalam kecelakaan itu adalah orang yang aku kenal. Adik dari Ibu ku, ku terjaga dalam tidur.
Aku langsung pergi ke kamar orang tua ku.
tok tok tok, "Ibu..." tok tok tok, " Ibu tolong bila pintunya." Aku terus mengetok pintu sampai pintu itu terbuka.
"Ada apa malam malam begini kamu bangunkan Ibu?"
"Ibu kita harus segera pergi ke rumah tante Selly Bu, dia dalam bahaya."
"Nia, apa kamu habis mimpi lagi?" tanya Ibu menyelidik, aku mengangguk. " Lebih baik kamu sekarang tidur dulu, besok kita bicarakan lagi ya." Bujuk Ibu.
"Tapi Bu, kita harus pergi seka--."
"Besok...!!!" kata ibu langsung menutup pintu kamar.
Aku bingung gimana caranya untuk membantu tante Selly. Rika temanku datang,
__ADS_1
"Apa yang kau lihat kali ini Nia?" tanya Rika dengan membersihkan keringat di dahiku.
"Aku melihat tante Selly kecelakaan di jalan tol. Aku harus pergi memberitahukan agar tante tidak usah keluar rumah dulu."
"Lebih baik sekarang kamu telfon tante dulu!"
"Benar juga katamu Rik." Aku berlari ke tempat telfon, aku segera menghubungi no telfon tante."
Tut Tut Tut
"Halo..." suara di ujung telfon.
"Halo Tante, Tante sekarang ada di mana? aku minta Tante jangan pergi keluar dulu ya. Aku mohon Tante, nyawa Tante dan Om dalam bahaya!!"
"Nia sayang, ini udah pukul 1 pagi lebih baik kamu tidur ya. Terima kasih udah mengingatkan tante."
"Ok, tapi tante harus janji jangan kemana mana diamlah diri dirumah." Aku menegaskan pada tante.
Tante Selly tersenyum pada suaminya yang kini sedang mengemudi.
"Iya cantik, sekarang tidur ya...." Tante Selly mematikan sambungan telepon. Aku sudah sedikit merasa lega. Rika yang pada awalnya ingin mengajak Nia bermain, dia urungkan melihat Nia yang gunda.
Di tempat lain.
"Dia bilang apa sayang?" tanya om Reza pada tante Selly.
"Dia bilang agar kita hati hati jangan keluar rumah kerena nyawa kita dalam bahaya. Mana mungkin aku memberitahu dia yang kita sekarang ada di jalan menuju rumahnya. Gagal dong nanti kejutannya."
"Tapi sayang... terkadang omongan Nia bisa jadi kenyataan low."
"Iya juga mas, lebih baik mas bawa mobilnya hati hati."
Di kamar Nia.
Nia di temani Rika, dia berusaha untuk bisa tidur. "Rik, kenapa aku tidak bisa tidur ya?" menatap Rika yang duduk di bawah. "Aku bantu kamu agar bisa cepat tidur ya..." pinta Rika. Aku hanya mengangguk dan tak butuh waktu lama aku pun tertidur.
"Aaaaa." Aku terjaga, aku melihat sekeliling. Ini masih kamarku, kenapa aku masih mimpi kecelakaan itu? kemudian aku melihat jam dinding. Masih pukul 2 lebih 50, berarti tinggal 10 menit lagi kejadian itu akan terjadi.
Aku bergegas turun ke bawah, menuju kamar Ibu.
"Ibuuuu... buka pintunya ibu... tolong buka pintunya ibu." Teriakku dari luar kamar, dan mengetok pintu dengan keras.
Kring kring kring
Telfon rumah berbunyi, aku semakin ketakutan, ku biarkan telfon itu hingga mati sendiri. Tubuhku lemas, hingga aku terduduk dekat dengan pintu kamar Ibu.
Kring kring kring kring, telfon itu kembali berdering dan tak lama kemudian Ibu keluar kamar dan mengangkat panggilan itu.
"Ya halo, siapa ini?" tanya Ibu.
"Maaf apa benar ini kediaman keluarga Jaya?"
"Iya betul."
"Kami dari kepolisian, saya ingin menyampaikan bahwa saudara Ibu yang bernama Selly dan suaminya mengalami kecelakaan. Dan sekarang ada di rumah sakit kota."
Ibu kaget, hingga gagang telfon itu terjatuh dari genggaman tangannya. Aku berlari mendekati Ibu.... "Apa yang terjadi Bu?" bibirku bergetar saat bertanya. Mata ibu yang sudah basah itu langsung menatapku tajam. Ibu langsung pergi ke kamar. Kami bertiga pergi menuju rumah sakit, selama perjalanan hanya suara tangis dari ibu yang terdengar.
Di rumah sakit.
"Maaf anda keluarga korban? keluarga Jaya?"
"Iya Pak..."
"Mari ikut saya." Polisi itu mengantarkan kami ke kamar jenasah. Tangisan Ibu semakin histeris kala melihat 2 jenasah di depannya.
"Maaf kami, yang tak bisa menolong nyawanya. Korban mengalami kecelakaan di tol 40 km, sewaktu korban kami temukan masih bernyawa. Tapi di perjalanan menuju rumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong. Korban pria di ujung nyawanya menyebutkan nama Nia, tapi kami tidak paham apa maksudnya."
Mata Ibu langsung mengarah kepadaku...
"Nia!!!! apa yang kau lakukan pada mereka hahh? Jawab Nia! kenapa kau lakukan ini pada mereka? kenapa?"
"Sudah Bu, Nia tidak bersalah."
Sejak hari itu lengkap sudah deritaku, ibuku menyalahkan aku sebagai penyebab kematian mereka. Akhirnya aku di bawah ke sebuah pesantren oleh ayah, karena ayah tidak mampu melihat aku di kucilkan dari lingkungan dan sekarang di tambah perlakuan ibu yang setiap hari membuat aku menangis.
Semenjak hari itu aku tidak pernah lagi menceritakan mimpiku pada siapa pun, kecuali hanya pada Rika. Hanya kepadanya aku bisa berbagi cerita. Tapi sudah lebih dari seminggu aku tidak lagi menemukan keberadaan Rika. Aku semakin merasa kesepian meskipun di dalam pesantren itu aku mempunyai banyak teman.
Hari ini aku minta ijin untuk pulang pada ustadz yang ada di pesantren dan beliau mengijinkan aku pulang. Tapi aku tidak ingin pulang ke rumah, aku putuskan untuk pergi ke sini.
__ADS_1
\* \* \*
" Sekarang masalahnya apa? bukankah seharusnya kamu bahagia?dan kenapa kamu kesini?" tanyaku pada Nia.
"Seharusnya memang begitu, tapi ada satu hal yang membuat aku datang kemari."
"Apa itu?"
"Dua hari lalu aku bermimpi, bahwa tempat yang kini jadi tempat tinggal ku terjadi kebakaran hebat, semua habis di lahap api. Dan semua santri ikut terbakar. Tidak satu orang pun yang selamat." Nia menceritakan dengan bibir yang gemetar dan mata yang mengalirkan cairan bening.
Aku menutup mulutku, tak percaya dengan cerita Nia.
"Apakah itu pasti akan terjadi?" Nia hanya mengangguk dan menghapus air matanya.
"Apa kau yakin?" tanyaku lagi.
"Aku semakin yakin karena aku memimpikan dua kali..." jawab Nia pasti.
"Jika aku beritahu mereka, pasti mereka tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Jadi aku mohon bantuan Anda." Nia memohon kepadaku.
" Apa kau tau kapan itu akan terjadi?" tanyaku ragu.
" Pukul 1.20 tengah malam nanti. Aku benar benar minta tolong, bantu saya."
"Baiklah aku akan bantu kamu." Janjiku pada Nia.
Aku mulai berfikir sejenak, bagaimana caranya membawa para santri dan penghuni keluar dari pesantren. Bukannya mudah karena mereka banyak. Santri dan penghuni yang lain lebih dari 100 orang.
Setelah beberapa saat, aku mencoba menghubungi salah satu rekan di kepolisian terdekat. Aku menceritakan semua dari a sampai z. Roy setuju untuk membantu masalah Nia.
Dua pemadam kebakaran di panggil dan satu team polisi di kerahkan untuk masuk wilayah pesantren.
"Selamat malam Pak haji." Sapa Roy pada pemilik pondok pesantren.
"Iya ada apa ya Pak? hingga malam begini anda datang?"
"Kita langsung saja ya Pak." Roy pun menceritakan semuanya tanpa ada yang di sembunyikan.
" Jadi gimana pak, bisa kita kerja sama?" tanya Roy.
" Baiklah, mungkin ini memang agak tidak masuk akal tapi saya bisa menerimanya. Dan apa lagi ini menyangkut keselamatan para santri saya... apa pun akan saya lakukan."
Roy dan teamnya mengefakuasi para santri dan beberapa orang yang ada di pondok itu. Setelah di rasa aman, sebagian team memeriksa segala sesuatu yang bisa memercikkan api. Pondok pesantren kini sudah benar benar kosong tanpa penghuni.
Semua di evakuasi ke lapangan yang tidak jauh dari tempat itu.
Tepat pukul 1.15 suara ledakan kecil terdengar di dalam pesantren. Dan tak lama setelah itu api berkobar cepat, tapi dengan sigap 4 petugas pemadam mulai melakukan tugasnya.
Semua orang yang berada di lapangan sujud mengucap syukur dan banyak juga yang menangis karena mereka selamat dari peristiwa itu.
Tidak banyak yang terbakar hanya sebagian tempat. Pemilik pondok dan Roy saling berpelukan seakan beban mereka sudah hilang.
Sudah tiga hari semenjak kejadian itu, Nia datang ke klinik.
"Terima kasih, karena sudah menyelamatkan teman teman saya." Ucap Nia tulus. Aku berdiri mendekati duduk Nia.
"Sepatutnya kami yang berterima kasih, berkat kemampuan kamu mereka semua selamat. Kapan kamu akan kembali ke pondok pesantren?"
"Rencananya hari ini saya akan kembali, saya sangat merindukan mereka. Karena hanya mereka yang bisa membuat aku merasa hidup."
"Bagus kalau gitu, apa perlu aku antar?"
"Tidak, Ayah akan datang ke sini sebentar lagi. Dan ayah akan mengantarkan aku pulang ke pondok."
Nia dan Ayahnya sudah pergi sejak setengah jam tadi. Sepanjang jalan menuju pondok Nia tidak berhenti untuk tersenyum bahagia. Melihat itu Ayah ikut bahagia.
" Ayah bahagia Nak bisa melihatmu tersenyum seperti ini. Teruslah bahagia."
Tiba di pondok, Nia di sambut ucapan terima kasih dan banyak pelukan dari teman teman nya.
" Terima kasih sudah menyelamatkan tempat ini? kami berhutang nyawa padamu." Ucap ustazah dengan memeluk Nia.
Nia sangat bahagia, mendapatkan perlakuan yang hangat dari mereka. Hingga ia lupa akan kesedihan yang beberapa waktu lalu ia rasakan..." *Terima kasih 🙏 ya' Allah, telah memberikan kebahagiaanku seperti saat ini."
# **Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🙏 dan juga jika ada waktu mampir juga ke cerita ku yang lainnya.
-- Garis Hidup Arin
-- Perjuangan Cinta Seorang Chef***
__ADS_1