
Semalam aku mimpi aneh..., aku memimpikan pemilik toko bangunan yang ada di sekitar rumahku. Namanya pak Adi, kami memang lumayan akrab. Malam itu aku dan pak Adi berada di pos ronda. Ia berkata bahwa ia sudah tidak kuat lagi menahan sakit yang ia derita selama ini. Beliau mengungkapkan semua keresahan dan rasa sakit yang ia rasakan. Setelah cukup ia mengutarakan isi hatinya, aku ijin pulang dulu pada beliau. Aku kembali ke pos dengan membawa makanan. Dari kejauhan kulihat samar samar pak Adi mengikatkan tali jemuran ke pohon durian yang ada di belakang pos ronda.
Aku masih memperhatikan dari jauh, kakiku berat untuk mendekat pos. Pak Adi memanjat pohon itu, dan kemudian menggantungkan tubuhnya di sana. Leher pak Adi terjerat tali itu, suara tenggorokan terdengar sangat menyeramkan. Entah mengapa saat itu lidahku keluh, aku tidak bisa berteriak, berlari, atau pun berusaha menolong pak Adi.
Tubuhku seperti tertahan sesuatu, aku sama sekali tidak bisa bergerak bahkan berteriak.
Aku terbangun, dan aku bersyukur karena itu semua hanya mimpi. Ku lihat jam, masih pukul 2 pagi. Ku ambil air minum yang ada di nakas. Ku perhatikan wajah Lisa yang tengah tertidur lelap. Aku pergi mencuci muka ke kamar mandi. Setelah aku rasa fresh, aku memilih untuk tidur lagi.
Keesokan harinya, aku di bangunkan Lisa. Lisa memberitahu berita mengejutkan bahwa pak Adi di temukan sudah tidak bernyawa. Aku menutup mulutku yang terbuka, ini sebuah hal mustahil buatku, baru saja ku mimpikan, dan sekarang pak Adi benar benar sudah tiada. Keadaannya sama persis dengan apa yang ada di mimpiku.
"Pa... kenapa ngelamun? dan kenapa papa kelihatan shock?" tanya Lisa heran, dan sambil menghapus keringat di dahiku.
"Ma, semalam aku memimpikan pak Adi bunuh diri dengan cara gantung diri di belakang pos ronda." Kataku pada Lisa.
"Apaaa..??? bagaimana papa tau kalau pak Adi di temukan di belakang pos ronda?" tanya Lisa menyelidik, dengan kedua alisnya menyatu.
"Bukankah papa sudah bilang ma tadi, papa bermimpi pak Adi bunuh diri di belakang pos ronda."
"Sejak kapan papa bisa bermimpi seperti itu?"
"Baru semalam ma, dan papa kaget bahwa mimpi itu jadi nyata."
"Istighfar... pa, mungkin ini hanya kebetulan. Ya udah sekarang lebih baik papa bersihkan diri dulu, setelah itu papa pergi ke rumah pak Adi bantu pemakamannya." Aku langsung pergi ke kamar mandi, dan aku tidak mau membuang waktu lama aku bergegas pergi ke rumah duka.
Di sana sudah banyak orang yang datang untuk berbelasungkawa. Aku melakukan kewajiban sebagai tetangga dan orang Islam. Aku ikut memandikan jenazah, lidahnya menjulur keluar,kami berusaha untuk memasukkan tapi tidak bisa. Akhirnya di biarkan saja lidah itu, aku membantu hingga selesai semua proses pemakaman.
Banyak tanya dalam hati, seperti semua ini adalah sebuah permainan takdir. Aku yang tidak pernah memimpikan sesuatu hal yang bisa menjadi nyata. Ya ini untuk yang pertama kalinya. Semoga apa yang di katakan Lisa benar, bahwa semua yang terjadi adalah sebuah kebetulan.
Sepulang dari pemakaman aku mengajak tubuhku untuk langsung pergi ke klinik.
Aku terkejut melihat Nia ada di dalam klinik. Sejak dia datang minta tolong 2 bulan yang lalu, Nia datang ke sini hari ini.
"Siang Dok." Sapa Nia kala melihat kedatanganku.
"Siang Nia, apa kabar kamu? ada apa hingga kamu datang kemari?"
"Aku baik Dok, cuma aku butuh bicara sama dokter."
"Ok, mari ikut keruangan." Tanpa rasa curiga sedikitpun, Aku dan Nia berjalan menuju ruangan khusus klien. Ku pandang sekilas Nia tersenyum padaku. Entahlah senyum yang tidak bisa ku artikan.
" Baiklah Nia, sekarang kamu bisa mulai cerita." Kataku.
*****
Selama 3 hari aku bermimpi sama dok, di mimpi itu ada hal yang sangat mengerikan.
Di mimpi itu waktu sudah malam hari... ku lihat pak Yusuf baru pulang dari masjid. Pak Yusuf masuk rumahnya, diam diam aku pun mengikutinya. Ini adalah pertama kalinya aku memasuki rumah pak Yusuf. Rumah itu terasa sejuk dan teduh, banyak sekali ku temukan tulisan kaligrafi di dinding rumah itu. Di depan pintu kamar pak Yusuf ku lihat dia pedang samurai dan sarungnya di hias begitu indah.
Di dalam kamar pak Yusuf, aku melihat seorang gadis yang mirip sekali dengan aku. Dia membawa sebuah pedang di tangan kirinya. Kala aku melihat wanita itu seperti aku sedang menatap sebuah cermin.
Wanita itu menatap garang ke mata pak Yusuf. Sangat seram, mata wanita itu menyala berapi api. Pandangannya berkobar kobar, di gigit bibir bawahnya kencang. Hidungnya kembang kempis menahan amarah. Sesaat kemudian ku lihat ia mengayunkan pedang, menebang tubuh pak Yusuf.
__ADS_1
Wuuuss!!!!
Craaatttt
Darah segar muncrat deras dari tubuh pak Yusuf. Dan berhenti di situ ia juga menebas leher pak Yusuf, hingga kepalanya jatuh menggelinding beberapa meter dari tubuhnya.
Astaga wanita itu memisahkan tubuh dan kepala pak Yusuf.
Aaaaaaaa, aku berteriak.
Terkejut melihat pemandangan mengerikan di kamar itu, kamar pak Yusuf.
Angin berhembus dingin dari luar, menggerakkan rambut wanita itu. Aku merinding melihat kepala tanpa tubuh itu. Kelopak matanya terbuka seakan masih ingin tahu siapa yang menebas kepalanya. Wanita itu tersenyum puas, dan dia juga tersenyum padaku.
Sebuah senyuman bermakna kepuasan mendalam dan rasa bangga tiada batas. Wanita itu kemudian mendekat padaku dan lalu berkata "Sekarang kita adalah pemenangnya!" aku tidak paham maksud dari kata kata itu. Entah mengapa tatapan matanya membiusku, tanpa ku sadari aku menuruti semua yang ia katakan.
Wanita itu menyuruh aku untuk membersihkan pedang yang baru ia gunakan tadi, tepat di depan kepada pak Yusuf. Kepala pak Yusuf yang sudah kaku sangat menggangu pemandanganku, tapi aku tetap saja mencuri curi lihat ke arah kepala yang masih bersimbah darah itu. Mata yang terbuka lebar itu terus memandangiku.
Jantungku berdetak cepat, aku takut kala membersihkan pedang tajam itu, hingga tanganku sedikit tergores. Mataku berusaha mencari orang lain, tapi tidak ada saati pun. Tapi jika memang ada orang yang lihat aku, mungkin mereka berfikir aku adalah seorang pembunuh.
Keesokan harinya aku bangun dengan keadaan tubuhku penuh dengan keringat dan nafas yang tidak teratur. Belum selesai aku mengatur nafas, ustadz dan ustadzah masuk ke kamar dan memberitahu bahwa Ayah menelfon dan memberi tahu bahwa pak Yusuf telah meninggal dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
" Apakah kamu tidak mempunyai penglihatan akan kejadian yang menimpa pak Yusuf?" tanya ustadz kepadaku, seakan aku ini adalah terdakwa. Refleks kepalaku menggeleng.
" Apa Ayah bilang keadaan pak Yusuf?" tanyaku lirih....
"Ayahmu bilang bahwa pak Yusuf tubuhnya terbagi menjadi tiga." Tutur ustazah. Aku tersentak kaget mendengarnya...
"Jika kamu mau ijin, silahkan. Kami tidak akan melarangmu. Bagaimanapun juga almarhum masih saudara dengan Ibumu.
"Nanti saja ustazah,... maaf saya masih ingin sendiri dulu."
"Baik kalau begitu untuk hari ini kamu boleh tidak mengikuti kegiatan. Istirahatlah." Mereka berdua akhirnya pergi dari kamarku. Aku berlari menuju pintu, dan langsung mengunci kamarku. Aku terduduk lemas di pintu, aku memutar kembali ingatanku mengenai mimpiku semalam.
"Bukan bukan aku pembunuhnya, bukan...!" Aku bener bener ketakutan, aku terus menangis karena mimpi itu.
Aku tidak menceritakan mimpiku itu pada siapapun. Aku yakin, jika orang orang tahu bahwa akulah yang memenggal kepala pak Yusuf, aku bisa di bunuh atau bahkan di penjara. Aku bisa panggang, di kuliti, atau di penggal hidup hidup oleh mereka. Aku masih ingin hidup, aku masih ingin melihat matahari. Aku tidak mau menyerahkan nyawaku. Ketika semua orang bertanya aku selalu berkilah bahwa aku tidak memimpikan apa apa malam itu.
Hidupku berjalan normal seperti semula, namun tidak biasa. Sejak mimpi pak Yusuf aku selalu mengalami kejadian yang aneh.
Kepala pak Yusuf menghantuiku dan mengejarku. Kepala itu pernah muncul di meja makan. Saat itu aku dan santri lainnya baru pulang dari mengaji, kami semua merasa lapar. Ketika temanku membuka tudung saji di meja makan, kepala pak Yusuf terhidang di sebuah piring putih. Matanya terbelalak dan bibirnya tersenyum lebar padaku. Aku kaget bukan kepalang, aku langsung lari menuju kamar dan ku kunci pintunya. Seketika itu rasa laparku langsung hilang. Teman temanku, mengetuk pintu berulang ulang kali, "Nia, ada apa Nia?buka pintunya?" semua pada menghawatirkan aku.
Tiba tiba kepala pak Yusuf hadir di kasurku. Awalnya kupikir sebuah boneka bola, namun ketika aku ambil... boneka itu berubah menjadi kepala pak Yusuf. Matanya terbelalak, menatap tajam ke arahku.
Berkali kali, bahkan belakangan ini kepala itu sering sekali muncul. Di kamar mandi, di meja belajar, di kasur, di dapur, di aula, di depan masjid dan berbagai tempat kepala itu selalu menampakkan wujudnya. Terkadang kepala itu melayang, terbang dari satu tempat ke tempat yang lain, dari lantai satu ke lantai dua. Dari pohon satu ke pohon lainnya, terus saja mengejarku.
Aku semakin kacau, otakku tak karuan. Aku semakin sering melihat kepala pak Yusuf. Kepala itu tidak hanya membuat aku gila tapi kepala itu terus mengejarku. Sering ku lihat kepala itu bertengger di kepala para santri temen temenku. Itu sangat membuat aku ketakutan dan ingin aku tebas kepala pak Yusuf berkali kali.
******
Ku dengar cerita Nia dengan seksama, seakan aku ikut dalam peristiwa dan dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Nia. Aku mengangguk angguk kecil, mencerna cerita Nia lebih dalam. Alam bawah sadar Nia sangat kuat kurasa. Ia bisa membunuh dan mematikan yang hidup, dan menghidupkan yang mati. Ku pikir harus ada penanganan khusus untuk klienku satu ini.
__ADS_1
Nia tiba tiba mendelik, matanya memandangku dengan seluruh otot wajah yang menegang ketakutan. Mata itu, mata penuh ketakutan.
"Kepala Pak YUSUFFFF!!!! kenapa... kau terus mengikutiku?? Aku tidak membunuhmu!! bukan ... bukan aku, tapi wanita itu. Entah siapa!!! Tapi bukan aku, Percayalah wanita itu bukan aku. Aku mohon PERGI!! PERGIIIIIII KAU KEPALA SIALAN!!!! AAAAAAA..."
BUUUG BUGG
Nia terus memukulku dengan tenaganya yang kuat. Dan setelah beberapa pukulan ku dapat, beruntung aku bisa menangkis tangan itu dan menggenggam erat tangan Nia.
Kami saling menatap tajam, matanya ku lihat bukan lembut bukan tenang, tetapi dingin. Membuat aku menggigil ketakutan. Ya Nia kesurupan, raganya di kuasai oleh makhluk gaib.
"Siapa kamu??? keluar lah dari tubuh Nia. Raga itu bukan tempatmu."
Hhhiiiihiiiihii
Suara tawa menakutkan... keluar dari mulut Nia. "KAU JUGA HARUS MATI!!! HAHAHAHAHHA." Iblis laknat telah memasuki tubuh Nia, dan kemungkinan yang membunuh pak Yusuf adalah raga Nia yang sudah di kendalikan oleh iblis itu. Agus memberi suntikan pada Nia, dengan susah payah akhirnya berhasil juga.
"JANGAN KAU PIKIR AKU BISA LEMAH, HAI MANUSIA!!!!" Teriak iblis itu.
Beberapa orang sudah memegangi tubuh Nia, dan aku berlari ke ruangan ku untuk mengambil sesuatu.
Di dalam ruangan kerjaku aku mencoba mencari botol yang berisi doa doa dari pak kyai. Ketemukan, dari ruanganku dapat ku dengar jelas raungan dari iblis itu. Aku segera berlari, dan ku paksa Nia untuk meminum air itu. Dan berhasil... tubuh Nia melemah, dia tak sadarkan diri. Aku meminta Agus untuk mengikat kaki dan tangan Nia di ranjang. Sementara itu aku bergegas menuju ke pondok pesantren.
Setiba di sana aku bertemu dengan pak kyai, pemilik pondok pesantren tersebut.
Ku sampaikan maksud kedatanganku.
" Sudah 2 minggu ini Nia ijin pulang, dan sampai sekarang dia masih belum kembali." Ungkap ustazah Aisyah, istri dari pemilik pondok.
"Nia sekarang ada di tempat saya Pak, saya sungguh mengharapkan bantuan dari pak Kyai... terus terang ini sudah di luar kemampuan saya. Jadi saya mohon untuk ikut saya ke klinik." Pintaku penuh mohon ke pak Yai dan Bu nyai.
" Tapi sebelum kita pergi ke sana alangkah baiknya jika kita menghubungi orang tua Nia terlebih dahulu." Usul Fatimah, anak dari pak kyai.
"Itu benar sekali, lebih baik kita kabari mereka." Pak Kyai sependapat dengan Fatimah.
Fatimah langsung menghubungi orang tua Nia. Dan mereka akan bertemu di klinik.
Sesampainya di klinik, kami semua terkejut melihat orang orang yang menjaga Nia tadi semua pada terluka. Di sekujur tubuh mereka terluka seperti terkena serangan hewan buas.
Pak kyai dan kedua anak buahnya langsung bertindak.
AAAAAARRRGGGHHHH, HENTIKAAAN !!!
Pertarungan tak kasat mata terjadi di depanku, dan membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk melumpuhkan iblis itu. Dan akhirnya Nia bisa kembali pada raganya.
Nia, yang masih belum sadar di bawa ke pondok, untuk masa pemulihan.
"Maaf pak kyai, sebenarnya siapa mereka yang menggangu Nia?" tanya ibu Nia.
Sebelum menjawab, pak Kyai tersenyum kecil. "Mereka adalah teman teman Nia, mereka tidak senang jika Nia mendalami ilmu agama. Sebab itulah mereka selalu membuat keonaran, yang seakan akan Nia yang melakukannya."Tutur pak Kyai.
# Hai , pembaca ku yang setia, terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke ceritaku. Jangan sungkan memberi like, komen vote dan favoritkan ya.,,
__ADS_1