
Saat orang orang yang kita cintai dan sayangi... mereka meninggalkan kita. Maka secara perlahan kita akan berubah menjadi sosok atau wujud karakter yang aneh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini aku putuskan untuk berangkat kerja walaupun tadi ada sedikit perdebatan antara aku dan Lisa.
Sudah hampir pukul sepuluh, aku mencium dahi Ade dan berpamitan padanya.
" Hati hati Papa..." peluk Ade.
Setibanya di klinik .... aku membuka pintu dan di kursi tunggu sudah ada klien yang menunggu. Ku sapa dia, seorang laki laki yang duduk termenung jauh...
" Selamat pagi..." Sapaku. Laki laki itu tersentak kaget. Seuntas senyuman tipis terukir di bibir nya.
" Pagi Dok."
Aku mengajak laki laki itu keruangan, aku menyuruh Agus mengikuti kami seperti biasa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pulang kerja aku langsung ke rumah,ku buka pintu rumah... tidak seperti biasanya, rumah dalam keadaan sepi. Aku memasuki kamar dan masih tak kutemukan Tiara. Aku mencoba menghubungi nya, namun hanya operator yang menjawabnya. Tapi ketika aku mau meletakkan tas kerjaku, tidak sengaja manik mataku menangkap sebuah surat di atas nakas.
**Untuk yang tercinta
Vino*.
*Sayang maafkan aku, karena pergi tidak memberitahumu terlebih dahulu. Aku tidak mungkin mengajak mu dalam bertempur dalam dunia yang sungguh menakutkan ini. Kau terlalu berharga untuk di korbankan. Sayang aku pikir aku sudah menjadi gila.
__ADS_1
Kita memang bisa melewati saat saat mengerikan itu berdua. Tapi tidak untuk kali ini.
Jika nanti aku sudah sembuh, aku akan pulang. Aku akan menemui mu. Itu pun jika masih ada tempat di sisimu untukku.
Saat itu aku mendengar suara ... Suara itu masuk ke telinga dan langsung ke pusat otak ku. Dan itu berhasil memecah konsentrasi. Aku merasa ada sesuatu di wajah ku. Lalu ku lihat wajahku di dalam cermin. Secara perlahan wajahku berubah, aku melihatnya seperti menonton sebuah film horor, mengerikan. Sangat mengerikan. Dan sempurna wajahku yang cantik berubah menjadi zombi yang sangat mengerikan.
Di pikiranku hanya satu yaitu.... Aku harus pergi darimu mencari kehidupan ku yang baru. Dan berusaha mencari kesembuhan untuk diriku. Melakukan semuanya yang bisa aku lakukan.
Ketika aku pergi nanti, ku yakin tidak akan ada pengaruhnya buat hidupmu. Pasti semua akan tetap berjalan seperti biasa. Semua yang biasa kita lakukan bersama. Akan mudah jika kau lakukan sendiri tanpa aku di sisimu. Karena aku tahu kau bisa, sayang. Kau kuat untuk menjalani hidup mu tanpa aku.
Dari yang mencintaimu
Tiara
Hanya surat itu yang Tiara tinggalkan untuk ku. Aku masih teringat bagaimana rasanya saat ia mencium ku di pinggir pantai Lok nga. Di pantai itu pula ia sakit, dan terus hilang meninggalkan aku sampai sekarang. Pada awalnya ku pikir aku dan dia tidak akan terpisahkan. Seperti tsunami Aceh yang dahsyat itu menceraikan kami beberapa saat. Dan akhirnya kami sama sama terdampar di pengungsian yang berdekatan.
Aku dan Tiara adalah salah satu korban tsunami Aceh. Kami sama sama kehilangan keluarga. Aku hanya kehilangan kedua orang tua ku dan tidak punya keluarga yang lain lagi.
Untuk pertama kalinya aku dan Tiara di pertemukan dalam sebuah program pemerintah yaitu pemulihan trauma. Saat itu Ki lihat Tiara hanya berdiam diri, setiap kegiatan dan permainan yang ada tidak ada satu pun yang membuat ia tersenyum. Dan saat mata kami bertemu, ku lihat tatapannya kosong. Seperti tidak ada sinar kehidupan.
Tuhan telah menakdirkan kami untuk bersama, hari hari kami lalui dan dengan jalanya waktu Tiara kembali menjadi gadis yang periang. Kami pacaran selama dua tahun dan saat itu pula kami memutuskan untuk hijrah ke Surabaya.
Sepanjang hari setiap waktu kami saling menguatkan satu sama lain, saling berbagi kisah. Dan salah satu alasan kami masih hidup hanya untuk saling menemani. Kami bertahan hidup untuk satu sama lain.
" Kedengarannya sangat romantiskan?"
Laki laki itu tersenyum manis pada ku, sambil mengangguk angguk. Tapi ada air mata yang berlinang di pipi, entah ada kisah apa selanjutnya.
" Apa yang terjadi pada Tiara?" tanya ku saat memberi kotak tissue pada Vino.
Vino menghela nafasnya, seperti berat beban yang ia pikul, kemudian ia melanjutkan lagi ceritanya.
" Setelah Tiara mengirim surat itu Tiara pergi, dan aku melanjutkan hidup sendiri. Aku merasa hampa dan kesepian tanpa gadis itu. Tapi aku harus kuat, sama seperti apa yang ia katakan pada suratnya. Aku pun melakukan hal seperti biasa, walau terasa ada yang kurang dalam diriku, terasa tidak lengkap.
Dan Dua bulan kemudian tuhan mengembalikan Tiara padaku. Ya Tiara kembali walau dengan jiwa yang cuma setengah."
__ADS_1
" Tunggu dulu, maksudnya jiwa cuma setengah apa?" tanya Agus yang heran.
" Biarkan dia melanjutkan ceritanya dulu Gus." Kataku.
" Lanjutkan saja Vin...!"
" Tiara ada di sudut kamar kami, sinar matanya kembali kosong sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Ia berkata baru pulang dari Aceh, Pulang untuk menemui mereka yang ia cintai."
" Aku sudah kembali sayang.... Ku pikir saat ini aku sudah sembuh. Aku sangat puas dan bahagia sudah bertemu dengan mereka." Kata Tiara antusias.
"Siapa mereka?"
" Ya mereka... ibu, ayah, abang, adik, dan semua keluarga ku yang lain. Keluarga yang sangat aku cintai." Cerita Tiara semangat. Beberapa saat keheningan yang ada di kamar kami. Aku ingin tahu apa yang ingin Tiara ceritakan lagi.
" Vino, maafkan aku karena aku meninggalkan kamu sendiri. Aku pergi ke suatu tempat... hhhmmm tapi entahlah. Aku tau tempat itu seperti Aceh, tapi yang aku tau Aceh telah hancur luluh lantak di terjang tsunami.
Saat itu aku pergi ke terminal, tapi aku tidak ingat nama terminal itu. Yang aku tau aku pernah ke sana sama kamu. Dan tujuan ku hanya satu, aku ingin menemui keluargaku. Aku yakin mereka belum mati, seperti yang ada di papan pengumuman kematian. Ku ikuti kemana hati ini ingin melangkah. Hati yang rindu akan kampung halaman, dan pada keluargaku terutama Ibu, ayah,kakak dan adik.
Malam itu di bus aku duduk seorang diri. Aku mengedarkan pandangan ada seorang wanita paruh baya di hadapanku. Beliau menatapku dengan tatapan haru, seakan ia mengerti apa yang aku rasakan. Tapi anehnya wajah wanita itu mirip sekali dengan Ibu. Karena penasaran aku pindah duduk di sampingnya. Bus berjalan pelan, wanita itu menceritakan anak gadisnya yang telah tiada. Gadis itu meninggal karena suatu penyakit di otak. Kemudian wanita menunjukkan sebuah foto... satu hal yang mencengangkan bahwa gadis itu sangat mirip denganku. Ya mirip denganku, wanita itu memandangiku lagi dan seperti mencari sesuatu ke dalam mataku.
Dan kau tau? semakin wanita itu mendekatiku, aroma tubuhnya, nafasnya, suaranya, setiap inci di wajahnya itu adalah milik Ibu. Wanita itu memelukku, kami larut dalam pelukan. Rasa rindu pada ibu rasanya terobati. Demikian juga pada wanita itu yang rindu pada anak gadisnya yang sudah tiada.
Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang aku tau di kereta itu semua orang tidak merasakan kehilangan. Di sini semua orang bahagia, semua orang senang.
Tidak terasa kami sampai di tempat tujuan, aku dan wanita itu turun bersama. Dan ketika ku tanya tujuannya, ternyata tujuan kami sama. Kabut di pagi hari itu sangat tebal, kami saling berpegangan erat seperti tidak ingin terpisah lagi. Kami berjalan terus menerjang kabut, dan kami berhasil menembus. Di balik kabut tebal itu ada sebuah rumah, rumah yang sangat akrab bagiku. Rumah itu adalah rumahku, tempat di mana aku di besarkan. Rumah yang beberapa tahun lalu habis di sapu gelombang tsunami.
Di depan pintu rumah ku melihat seorang laki laki dengan baju yang sangat sering ku lihat. Ya di sana ada ayah dengan sebuah cangkul di pundak kirinya. Waktu itu aku merasa sangat lengkap, ada ibu, ayah dan di dalam rumah ada kakak, adik, nenek, kakek, sepupu ku dan semua orang yang aku cintai ada di sana.
Aku putuskan untuk tinggal di sana sementara waktu. Dan tepat di hari ke lima puluh, aku pamit pulang untuk menemui Vin. Dan aku bilang pada mereka semua aku pasti akan mengunjungi mereka lain waktu.
Aku berlari... hampir saja ketinggalan bus. Tapi sayang aku hanya melihat ekor bus yang semakin menjauh. Aku berusaha mengejarnya namun kaki tak cukup panjang. Aku bingung, hanya bus itu yang bisa membawaku pulang padamu.
# Penasaran dengan kelanjutannya... sabar, ada di bab berikutnya... dan pasti lebih seru. Terima masih suka dengan cerita ku.🙏
# Terima kasih 🙏 ya'sudah mampir ke cerita ku jangan lupa like dan komen 🙏 vote dan favoritkan ya 🙏😘🙏 dan jangan lupa mampir ke cerita ku
-Garis Hidup Arin
- Mengenal Rasa 🙏🙏***
__ADS_1