My Guardian Angel : Lee Minho

My Guardian Angel : Lee Minho
EPISODE 10. Kiss Me Or Hate Me?


__ADS_3

Sementara di kelas, aku sedang membereskan peralatan sekolahku. Aku terbiasa keluar kelas paling terakhir. Karena aku tidak perlu repot-repot berdesakan dengan yang lain untuk keluar kelas. Anehnya, Minho juga melakukan hal yang sama denganku. Biasanya dia tidak seperti ini setahuku. Dia sedang memasukkan buku-bukunya dengan serius. Aku ingin cepat-cepat keluar kelas agar tidak bicara dengannya.



Ketika aku melewati meja Minho yang duduk paling depan untuk keluar kelas, tiba-tiba dia menarikku dan mendorongku ke papan tulis. Minho menghalangi kedua sisiku dengan tangannya. Apa dia pikir aku akan kabur darinya? Dia mendekatiku membuatku takut. Bahkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku tidak sanggup menatapnya.


"Aku ingin bertanya sesuatu."


"Mwo?" Aku bertanya tanpa menatapnya.


"Tapi lihat aku dulu."


Kenapa dia menyuruhku melihat wajahnya? Kenapa tidak langsung bicara saja? Apa dia tahu kalau aku gugup? Makanya dia mempermainkanku? Perlahan aku mendongakkan wajahku. Aku melihat Minho yang sudah membuat ekspresi serius dengan tatapan mata seperti ingin memakan orang.


"Kiss me? Or, hate me?"


Pertanyaan macam apa itu?!!! Aku benar-benar takut. Aku ingin kabur. Ditambah lagi tatapannya tidak teralihkan dariku. Sebentar lagi pasti aku akan sesak napas. Aku memutuskan untuk kabur dengan mendorong tangan yang menghalangiku. Aku ingin lari keluar kelas. Tapi secara tiba-tiba dia menarik tasku dan mendekatkanku padanya. Lalu .......


CUP


Dia, menciumku.

__ADS_1


Aku kaget dengan apa yang telah dia lakukan. Rasanya ingin menangis. Karena aku merasa dia lancang. Aku melepasnya kemudian lari keluar. Tujuanku ke taman belakang sekolah.


"Shibal! Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri! Aku harus menjelaskan padanya."


Minho mengusap wajahnya dengan gusar seperti orang yang menyesal karena telah melakukan kesalahan fatal. Dia berlari mengikutiku sambil memanggil-manggil namaku.



Aku sampai di taman kemudian duduk di bangku dengan menundukkan kepala menaruhnya dipahaku. Terdengar suara langkah kaki dan napas orang yang habis berlari. Aku bangun dan ingin pulang. Lagi-lagi Minho menahan tanganku.


"Jeongmal mianhae. Aku tahu aku lancang. Itu karena aku........... Sebenarnya aku........."


"Y/N! Neo gwaenchanha?"


Minho mengeluarkan sebotol air mineral dari tas gendongnya. Kemudian dia memberikannya padaku. Aku meminumnya dengan gusar. Lalu aku memberikan padanya lagi. Aku berniat meninggalkannya. Namun dia berkata.


"Tetap disini. Aku harus bertanggung jawab. Setidaknya untuk menenangkanmu. Jebal."


Dia memohon padaku dengan menunduk penuh penyesalan. Aku akhirnya duduk dengan memberi jarak yang jauh diantara kami. Aku duduk di sudut bangku paling ujung.


("Ayolah Lee Minho. Kau bisa melakukannya. Kau harus memberitahunya.")

__ADS_1


"Y/N. Sebenarnya...........sebenarnya aku................


Aku menyukaimu."


Satu menit. Hanya suara angin yang terdengar. Tidak ada yang bersuara. Aku menatapnya dengan ekspresi datar. Aku tidak pernah menyangka hal ini bisa terjadi.


"Aku tidak menyukaimu." Jawabku setelah satu menit hening.


"Arayo. Tapi tolong dengarkan aku. Sebenarnya, aku telah menyukaimu sejak kelas X. Aku hanya bisa memperhatikanmu dari jauh. Aku tidak memiliki keberanian. Aku tahu kau perempuan yang tertutup. Aku telah mengira ini sebelumnya. Oleh karena itu, kukira kelas XII adalah saat yang tepat."


Perkataannya membuatku mati kata. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya bisa menatap langit untuk berpikir dan mengalihkan pandanganku darinya.


"Maafkan aku, karena menyukaimu."


Aku salah apabila menyebut cinta adalah sebuah kesalahan. Aku tahu mencintai seseorang bukan suatu kesalahan besar. Hanya saja, aku tidak percaya akan ada orang yang menyayangiku setelah Ayah dan Ibu tiada. Itu yang selalu ada dipikiranku.


"Kau tidak perlu terburu-buru. Berjanjilah padaku. Biarkan aku selalu berada disisimu. Untuk membuatmu mencintaiku."


Aku bergelut dengan pikiranku cukup lama. Hingga aku tersadar Minho sudah mengulurkan tangannya untuk mengajakku pulang.


"Gaja."

__ADS_1


__ADS_2