
"Nah, setelah ini kau tidak akan lupa mandi lagi."
"Mandi yang bersih ya?"
"Bye bye!"
Mereka pergi kemudian meninggalkanku yang penuh dengan sampah. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya masuk kelas dengan seragamku yang seperti ini. Aku menghembuskan napas dan keluar untuk ke kelas. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Sepertinya Y/N belum masuk. Siapa yang mengetahui keberadaannya?"
Hening. Tidak ada yang menjawab. Mereka memang tidak menanggapi pertanyaan itu, bukan karena tidak tahu. Sementara Itzy terlihat sedang menahan tawa tanpa sepengetahuan Guru. Minho justru sebaliknya. Ia terlihat bingung dan melihat ke seluruh isi kelas. Kemudian Minho mengangkat tangan.
"Saya melihatnya hendak ke perpustakaan ketika bel istirahat."
Ceklek
Tepat setelah itu aku masuk ke kelas. Seketika seluruh isi kelas menertawai, menyoraki, dan menatap jijik kearahku.
"Diam semua! Y/N, ada apa ini?"
Ketika aku ingin mengatakan yang sebenarnya, Yeji menatap tajam kearahku mengisyaratkan agar tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi. Jadi aku mengurungkan niatku.
"Saya terjatuh ke tempat pembuangan sampah."
Tawa pecah siswa siswi memenuhi ruang kelas membuat aku menunduk dan memainkan jariku.
__ADS_1
"Lain kali, hati-hati. Cepat salin dengan seragam cadanganmu."
"Ne." Ucapku lemah.
Aku pun keluar kelas. Aku bingung harus mengganti seragamku dengan apa.
Aku tidak membeli seragam cadangan karena orang tuaku tidak punya cukup uang saat itu. Sekarang aku ke toilet untuk mengelap seragamku dengan tisu dan menyingkirkan sampah-sampah yang menempel. Setidaknya ini akan sedikit membantu.
"Saya izin ke toilet."
Seorang siswa mengangkat tangannya minta izin kepada Guru untuk ke toilet. Guru pun mempersilahkannya.
"Ah, silahkan."
"Pakai ini. Rokmu tidak kotor 'kan? Cepat ganti."
"Tidak perlu."
Aku menjawab tanpa menatapnya. Tapi dia malah mengambil tanganku dan meletakkan paperbag yang berisi seragam cadangannya ditanganku. Aku pun tidak punya pilihan selain menerimanya dan segera mengganti seragamku. Ketika aku selesai dan keluar toilet, ternyata dia belum pergi. Dia bersandar di samping pintu toilet sambil melipat kedua tangannya didada.
"Ayo ke kelas." Ajaknya. Kami pun ke kelas beriringan.
"Kenapa kalian lama sekali? Dan kenapa kalian masuk bersama?" Tanya Guru heran. Seluruh siswa pun ikut heran.
__ADS_1
"Ah, haha. Tadi kami bertemu saat hendak masuk kelas." Jawab Minho mengarang cerita.
"Begitu. Baiklah kembali ke tempat duduk masing-masing."
Aku pun duduk di kursiku. Aku tidak heran kenapa dia berbohong, karena aku tahu alasannya.
Bel pulang berbunyi. Aku sedang membereskan buku-buku pelajaranku yang berserakan di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Ketika sudah selesai, aku keluar kelas. Tapi ternyata sudah ada yang menungguku disamping pintu dan mereka langsung menjambak rambutku.
"YA! KENAPA KAU DAN MINHO MASUK KELAS BERSAMA TADI?!?!?"
"APA YANG KALIAN BICARAKAN HUH?!!!?"
"JANGAN BILANG KALIAN PUNYA HUBUNGAN!!!"
Aku memegang kepalaku sambil berusaha melepaskan cengkraman mereka. Tapi tidak bisa. Mereka terlalu kuat. Aku hanya bisa berteriak kesakitan.
"Kumohon hentikan!"
Ucapku sedikit berteriak. Namun mereka tidak mendengarku. Malah semakin menjadi-jadi. Para member SKZ yang melihat itu di lorong pun langsung menghentikan kegilaan mereka.
"YA! HENTIKAN!"
"KALIAN TIDAK MALU?!"
__ADS_1
"DASAR KALIAN LEMAH!"
"APAKAH MENINDAS ORANG YANG LEMAH MEMBUAT KALIAN SENANG HUH?!?!!!"