
Sinar matahari dari jendela membuat kedua mataku terbuka karena silau. Aku terbangun dari bangku lalu duduk sebentar. Tunggu. Siapa yang menyelimutiku? Dia? Aku baru tersadar bahwa Minho sudah pergi. Aku menemukan kertas note di atas meja. Aku membacanya.
('Y/N-a. Aku tidak ingin pergi. Namun Ibuku mencariku. Besok aku akan datang.')
Flash back last night (on) :
"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi."
Minho memeluk Y/N sangat lama dan amat erat seolah sedang menyalurkan kekuatannya pada Y/N. Ia memberikan rasa nyaman dan aman pada perempuan yang dicintainya itu. Walaupun Minho tahu bahwa Y/N belum bisa mencintainya. Tapi ia selalu berusaha untuk membuat hati Y/N goyah dan akhirnya jatuh padanya.
Minho melihat Y/N yang sudah tertidur dalam pelukkannya. Dia tidur dengan damai. Membuat Minho selalu gugup dalam hatinya. Namun ia tidak pernah menunjukkannya.
"Chalcayo." Ucap Minho untuk Y/N.
Minho melihat jam tangannya yang sudah pukul 22.00. Kemudian ponselnya berbunyi. Pesan dari asisten pribadi Ibunya.
('Nyonya Lee mencarimu.')
Sangat singkat namun Minho tahu bahwa ia disuruh pulang oleh Ibunya. Minho mengambil kertas dan pulpen di tasnya lalu menuliskan beberapa kata. Setelah itu dia pulang.
"Annyeong. Y/N-a."
Minho masuk ke rumahnya dan menemukan Ibunya sedang mengotak-atik laptopnya. Ibu Minho menegur anaknya yang pulang larut.
"Dari mana saja?" Tanya Ibunya itu tanpa mengalihkan matanya dari laptop.
"Latihan di rumah Chan."
"Kau sudah mengambilnya?"
"Eo." Minho menaruh sebuah barang yang diinginkan Ibunya.
"Chota."
"Isanghae. Apa sebenarnya hubungan Ibu dengannya? Aku selalu-"
"GEUMANHAE! Berapa kali Ibu bilang, jangan tanyakan apapun tentangnya! Karena semuanya sudah selesai, kau harus berhenti dengannya lagi."
"Mwo?"
Flash back last night (off) :
Jadi dia sudah pulang. Aku bangun menuju kamar mandi, makan, dan belajar. Setelah itu, terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Aku keluar dan melihat mobil yang kukenal terparkir di depan rumahku. Tapi aku tidak melihat siapa yang mengemudi. Ketika aku berbalik berniat hendak masuk lagi. Sebuah wajah seseorang mengejutkanku. Sehingga wajah kami hampir bertabrakan.
"Annyeong!"
"Ah! Kamjagiya!"
Orang itu datang sesuai dengan pesannya yang dia tinggalkan. Sekarang dia sedang tertawa kecil dengan gigi kelincinya.
"Gaja." Minho menarikku masuk ke dalam mobilnya.
"Pasti kau bingung aku akan membawamu kemana, keuchi? Kau akan tahu sendiri nanti." Ucapnya ketika dia sudah memegang kemudi lalu kami pergi meninggalkan rumahku.
__ADS_1
Kami sampai di sebuah pusat perbelanjaan Seoul yang cukup terkenal karena mewahnya tempat ini. Minho mengajakku masuk sambil menggenggam tanganku. Namun aku melepaskan tangannya.
"Aku tidak ingin kesini." Ucapku dingin dan pergi melewati Minho. Namun dia menghadang jalanku.
"Ayolah, eo? eo? Sekali saja bermain denganku, eo?"
Minho membuat ekspresi memohon seperti bayi agar aku menurutinya. Belum sempat aku menjawab, Minho sudah menarikku masuk ke dalam Mall.
"Hari ini adalah hari ulang tahun Ibuku. Jadi, aku mengajakmu memilih hadiah yang disukai wanita."
Ucap Minho sambil memilih-milih pakaian yang bagus. Sesekali aku ikut membantunya. Setelah itu kami memilih tas dan sepatu. Ketika kami sudah selesai memilih dan sedang berjalan-jalan, Minho mengajakku memainkan boneka capit. Dia menarik tanganku mendekat benda itu.
"Y/N-a. Lihat. Menurutmu aku bisa mendapatkannya?"
"Tidak."
"Mwo? Aishhh, lihatlah kemampuanku."
Minho memasukkan uang koin kedalam lubang mesin pencapit itu. Perlahan dia menggerakkan pengendalinya. Percobaan pertama gagal.
"Uwaaaahh, kau lihat? Hampir saja 'kan?"
Namun setelah beberapa kali percobaan lagi, dia terus saja gagal. Bonekanya sama sekali tidak terangkat. Tapi dia terus saja mencoba dengan ambisius. Aku emosi dibuatnya. Karena aku harus berdiri menunggu dia mendapatkan apapun yang ada di dalam sana. Akhirnya aku merebut kendali mesin itu.
"Biar aku melakukannya."
"Eo? Benarkah? Kau bisa?"
'YOU WINNER'
"Ini."
Aku mendapatkan boneka beruang putih ukuran kecil lalu kuberikan padanya. Kemudian kami melanjutkan melihat-lihat lagi.
Saat sedang di area luar Mall untuk mencari barang tambahan, Minho tiba-tiba melihat bianglala yang indah hingga membuatnya ingin menaiki wahana itu.
"Eo! Lihat itu! Ayo naik." Kata Minho bersemangat.
"TIDAK."
"Hanya itu saja, eo? eo? eo?"
"Araseo."
"Yeiy!"
Aku dan Minho menaiki wahana itu. Kami duduk berhadapan. Aku melihat kota dari kaca yang cukup indah dari atas sini.
"Yeppeoji. Keuchi?"
"Eo."
('Y/N-a. Aku penasaran dengan perasaanmu padaku. Aku ingin sekali menanyakan itu.)
__ADS_1
Setelah menaiki wahana kesukaan Minho, sekarang aku berakhir dengan makan siang bersamanya. Seperti biasanya. Dia terus memaksaku jika aku menolak. Dia memesan dua daging sapi beef dengan dua minuman jus daun mint. Pesanan pun datang ke meja kami.
"Apa kau menyukai ini? Aku bisa menggantinya jika kau tidak suka."
"Tidak perlu."
Dia memang sangat kaya. Bagaimana aku bisa menyukainya jika aku tidak pernah memakannya? Bagiku, makan siang ini sama dengan uang sewa rumahku perbulan.
"Gomawo, sudah menemaniku." Ucap Minho ketika kami sedang duduk beristirahat di taman terdekat.
"Eo." Jawabku tanpa menatapnya.
"Tunggu sebentar."
Ucap Minho lalu dia pergi meninggalkan semua barang yang dia beli. Setelah sepuluh menit menunggu, aku memutuskan berjalan-jalan disekitar sampai akhirnya keluar taman. Aku melihat Minho yang ditarik tangannya oleh seorang perempuan. Aku diam-diam memperhatikan mereka.
"Aishhh! Lepas! Nayeon?"
"Eo. Naya."
"Sedang apa kau di sini?"
"Tak perlu tahu. Aku ingin bicara padamu."
"Malhae."
"Pernahkah kau memikirkan perasaanku?"
"Mworago?"
"Aku benci melihatmu tersenyum dan menghabiskan waktu bersamanya."
"Apa kau mengikutiku?"
"Eo. Wae? Tahukah kau bahwa cinta sepihakku ini sudah cukup menyakitkan? Lalu kau tidak pernah berhubungan denganku lagi. Wae? Karena aku mengganggumu? Itu karena aku sangat mencintaimu! Dan kau memilih bersama dengan orang yang baru hadir dihidupmu!"
Nayeon mulai menangis tersedu lalu perlahan memeluk Minho. Sementara Minho terpaksa membalas pelukkan Nayeon sambil membelai kepalanya. Setelah menyaksikan itu, aku menyesal mengapa aku harus ikut dengannya untuk memilih hadiah untuk ulang tahun Ibunya? Waktuku terbuang disini. Jika aku tetap dirumah, pasti aku sedang belajar sekarang.
Aku memutuskan untuk pergi karena sepertinya mereka akan lama. Aku menuju halte bus lalu menaiki bus yang sudah datang.
"Ijen geumanhae, Nayeon-a. Kau tidak bisa seperti ini. Lupakan aku. Aku tidak akan pernah bisa memberikan hatiku. Itu sudah menjadi milik orang lain."
Setelah itu Minho pergi meninggalkan Nayeon. Namun Nayeon mengatakan sesuatu yang membuat Minho berhenti di tempat.
"Apa kau menyukai Y/N? Apa dia memiliki perasaan yang sama denganmu?"
Tapi Minho meneruskan langkahnya tanpa menghiraukan Nayeon.
"Minho-ya! Minho-ya!"
Minho kembali ke taman dan dia tidak melihat Y/N disana.
('Apa dia sudah pergi? Mungkin besok saja.')
__ADS_1