My Guardian Angel : Lee Minho

My Guardian Angel : Lee Minho
EPISODE 14. Heartbeat


__ADS_3

"Untuk apa dia melukai diri sendiri? Wae? Kau takut?" Tanya Hyunjin yang langsung membuat gempar semua yang menyaksikan.


"Apa itu benar Nayeon?" Tanya Kepala Sekolah.


"Bukan! Bukan saya! Tidak ada buktinya 'kan?" Nayeon makin panik.


"Kita bisa cek CCTV 'kan?" Minho tampaknya ingin membuat Nayeon mati kata.


"Tentu saja." Jawab Hyunjin.


"Baiklah. Kita akan segera mengetahuinya." Ucap Kepsek.


Wali kelas XII-A sedang memeriksa CCTV sementara Kepsek, Guru lain, member SKZ, Nayeon, dan aku menyaksikan kejadian yang terekam. Mereka kaget karena melihat Nayeon yang menganiayaku dan membuat kebakaran di lab.


"Nayeon! Ikut ke kantor saya!"


Pak Kepsek menarik paksa Nayeon ke kantornya. Ia tidak bisa menjawab atau memberontak karena memang itu salahnya. Dia memberikan tatapan ancaman ketika dia melewatiku seolah dia akan membalas atas kejadian ini. Minho menarik tanganku saat aku bertatapan dengan Nayeon.


"Gaja."


Minho menyuruhku duduk di kasur UKS. Kenapa dia membawaku kesini? Padahal aku tidak terluka sedikit pun.


"Duduk."


"Aku ingin ke kelas."


"Bagaimana kau bisa ke kelas dengan luka itu?"


Ah, bagaimana aku bisa tahu saat aku tidak bisa melihat wajahku sendiri? Aku tidak merasa ada benda yang menggores wajahku. Minho menempelkan plester di sudut bibirku. Deru napasnya mengenai wajahku. Wae? Kenapa aku gugup?



Aku menatap matanya yang memang jaraknya dekat. Dia terlihat cukup serius dengan apa yang sedang dilakukannya. Ketika dia ingin menatapku, aku mengalihkan mataku darinya. Aku mencari-cari sesuatu untuk kupandang hanya sekedar pengalihan. Misalnya, sepatunya. Ya. Aku langsung menunduk memandang sepatunya. Benar-benar tindakan konyol.


"Kenapa kau melihat sepatuku?"


"Tidak. Tidak apa-apa." Ah, sial.

__ADS_1


"Tentang Nayeon, itu salahku. Maafkan aku."


"Jangan bicara padaku lagi."


"Y/N-a, kau mau kemana?"


Setelah aku mengatakan itu, aku keluar UKS untuk ke kelas tanpa menghiraukan perkataannya. Aku sangat membencinya karena dia aku selalu terlibat masalah. Aku benar-benar tidak menyukainya.



Setelah Minho berpikir, ini memang kesalahannya. Ia mengajak bicara, melindungi, dan menjaga Y/N karena Minho mencintainya. Tapi justru yang ia lakukan hanyalah tindakan yang di mata Y/N terlihat seperti perilaku yang sangat mengganggu. Dan sekarang, Minho malah membahayakannya.



Minho bangun lalu keluar untuk bicara dengan Y/N lagi. Kemudian secara tiba-tiba Hyunjin keluar untuk mencegat Minho di depan pintu. Dia mengajak Minho bicara.


"Kenapa?"


"Harusnya aku yang bertanya begitu padamu. Kenapa kau akhir-akhir ini tidak masuk latihan? Biasanya kau yang paling rajin."


"Aku ada urusan."


"Aku tidak mengerti maksudmu. Pikyeo."


Minho mengakhiri percakapan mereka. Ia masuk kelas dan berniat untuk bicara soal tadi pada Y/N. Namun bel masuk menjadi penghalang membuat Minho tidak jadi melakukannya.



Akhirnya, bel pulang sekolah berbunyi. Ketika aku ingin melangkah keluar kelas, secara tidak sengaja aku menoleh ke bangku Minho yang kosong. Pasti dia keluar lebih awal bersama yang lain. Oleh sebab itu, aku tidak melihatnya. Aku lega dan senang karena aku bisa pulang tanpa harus meladeni ocehannya. Aku mendengar percakapan saat melewati kantor Kepala Sekolah.


"Jadi bagaimana? Dengan benda itu, kejadian ini tidak akan terulang lagi." Wanita awet muda itu meletakkan sekoper emas batangan dihadapan Kepsek.


"Bagaimana Pak? Ibu saya menunggu." Ucap Nayeon. Jadi, wanita itu adalah Ibunya?


"Ah, ne. Saya jamin, kejadian sekecil ini tidak akan ada lagi."


"Baiklah. Gaja Nayeon-a."

__ADS_1


"Eo Eomma."


Mwo? Jadi, Ibunya menyogok Kepala Sekolah untuk mengganti hukuman Nayeon? Aku baru mengetahui bahwa sekolah ini selalu seperti itu? Aku sulit percaya.


"Ah, satu lagi Pak. Jangan biarkan anak itu menyentuh Nayeon. Bahkan sehelai rambut pun."


"Baik Bu. Tentu saya bisa melakukannya."


"Keureom."


Jelas Nayeon yang selalu menggangguku. Tapi kenapa aku yang dituduh ingin mencelakakannya? Bicara dengannya saja tidak pernah. Mulai sekarang, aku tidak mau berurusan lagi dengan siapapun. Aku akan menjauh dari orang-orang yang mungkin berniat buruk.



Aku melanjutkan langkahku di sepanjang lorong sampai akhirnya aku melihat Minho, Hyunjin, dan Felix dari jendela sedang berlatih dance TASTE. Aku tahu itu dari orang-orang karena mereka penggemar DanceRacha, kecuali aku. Namun fokusku hanya pada satu orang.



Minho. Dia menari dengan sempurna sampai aku tidak menyadari bahwa aku sudah berhenti melangkah. Aku memperhatikannya hingga tak terasa mereka telah selesai melakukannya. Aku kaget ketika dia melihatku. Aku langsung pergi namun dia keluar lalu mencegahku.


"Y/N-a. Kau melihatku? Ah, tunggu." Dia masuk lagi untuk mengambil sesuatu.


"Ini untukmu. Sebenarnya aku berbohong. Ibuku tidak berulang tahun. Aku melakukannya agar kau mau ikut. Mianhae. Jadi terima ini ya?"


Sepanjang Minho berbicara, aku tidak mendengarkannya. Karena aku sedang memandangnya. Dia bernapas sedikit terengah-engah karena habis menari. Seluruh wajahnya berkeringat. Sesekali dia menghela napas untuk mengembalikan napasnya yang normal. Dia juga terlihat basah dari ujung kepala sampai ke lehernya mengalir keringat. Aku dibuat meneguk ludah karenanya.


Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.


"Y/N-a. Kau baik-baik saja?"


Jantungku. Tolong berhenti. Kau berisik sekali. Nanti dia bisa mendengarnya. Ah, ada apa denganku? Aku mengabaikannya yang sedari tadi mengulurkan tangannya untuk memberi paperbag yang dibeli kemarin.


"GEUMANHAE!"


"Eo? Wae? Aku melakukan apa?" Tanyanya bingung.


Astaga, aku berteriak. Aku ingin lari tapi nanti aku akan terlihat bodoh. Aku berusaha membuat wajahku terlihat normal dan baik-baik saja.

__ADS_1


"Y/N-a. Ada apa?"


__ADS_2