My Guardian Angel : Lee Minho

My Guardian Angel : Lee Minho
EPISODE 9. Fall With You


__ADS_3

Aku telah bersiap untuk berangkat sekolah. Tapi saat aku membuka pintu, seseorang menarik tanganku membuat aku terkejut. Dia Hyunjin. Orang itu menyuruhku naik ke motornya.


"Naik."


Aku mencoba berpura-pura tidak mendengar. Tapi dia memaksaku sambil menatapku serius.


"Aku bilang naik."


Kemudian dia naik lalu aku juga terpaksa mengikutinya. Aku tidak mau dia membuatku telat hanya karena aku tidak menurutinya.


"Pegangan."


Aku berpegangan pada jas seragamnya. Kemudian dia menjalankan motornya meninggalkan pekarangan rumahku.



Saat kami sampai sekolah, semua orang menatap kami aneh. Aku berjalan ke kelas dahulu. Membiarkan Hyunjin memakirkan motornya. Tapi kemudian dia menyusulku dengan berlari agar ke kelas bersama. Aku makin tidak nyaman dengan tatapan mereka. Aku mempercepat langkahku agar sampai ke kelas.



Sampai di kelas, Minho menatap Hyunjin malas. Aku duduk di kursiku. Aku teringat. Ini hari Rabu. Aku piket hari ini. Aku keluar kelas untuk ke atap mengambil sapu. Tanpa kusadari Nayeon memperhatikanku sejak tadi. Dia telah mengikutiku ke atap sekarang.


"Annyeong! Kim Y/N." Sapanya dengan senyum smirknya.


"Kau? Nayeon?"


"Eo. Maja. Kau tahu? Kau telah merebut sesuatu milikku." Lanjutnya.


"Mwo?" Tanyaku yang masih bingung.


"Wah, inilah yang membuatku membencimu. Pura-pura polos. Jinjja shiroyo! Pergi kau!"


Karena dia terus mendekatiku, aku semakin menabrak dinding pembatas. Dia mendorongku hingga aku hampir terjatuh kebawah. Untung saja aku berpegangan pada tembok.


"Biarkan aku melihatmu berjuang untuk hidupmu."


Nayeon pergi begitu saja. Aku benar-benar takut kehilangan kekuatan tanganku lalu terjatuh. Aku kemudian memutuskan untuk berteriak minta tolong.


"TOLONG!"


Nayeon menuruni tangga. Ketika ia sampai dikelas, ia dicegat oleh Minho di depan pintu. Tanpa sepengetahuan Nayeon, ternyata Minho memperhatikannya keluar kelas setelah Y/N juga keluar.


"Dari mana kau?" Tanya Minho.


"Bukan urusanmu."


"Apa yang kau lakukan pada Y/N?"


"Tidak melakukan apa-apa."


"Terserah. Aku akan cari sendiri."


"Tidak perlu." Cegah Nayeon sambil memegang tangan Minho.

__ADS_1


"Wae? Kau takut?"


"Sebentar lagi bel masuk."


"Tidak peduli. Lepas."


Minho melepas tangannya. Ia berlari ke atap sekolah karena ia tahu aku mengambil alat pembersih untuk piket hari ini. Minho mendengar teriakanku. Peganganku sudah terlepas. Minho berlari dan menarik tanganku. Kami berdua jatuh di atap. Aku menatap matanya yang penuh kekhawatiran.


"Kau tidak apa-apa 'kan?"


Aku menggelengkan kepalaku. Minho membantuku berdiri. Hyunjin melihat kami sejak tadi. Dia juga melihat Nayeon tadi. Tapi dia kembali ke kelas. Aku masuk ke kelas dengannya. Semua siswa melihatku. Nayeon terlihat marah. Bel masuk berbunyi. Guru masuk untuk memberi pelajaran.



Tiga jam pelajaran, akhirnya bel istirahat berbunyi. Sebagian siswa ke kantin, beberapa siswa memilih di kelas untuk mengobrol, membaca, atau memainkan ponsel.



Aku memilih tetap di kelas untuk merangkum materi. Aku jarang ke kantin. Karena bagiku uang jajan bagi mereka cukup untukku makan malam.


BRAKKK!!!


Tiba-tiba Itzy menggebrak mejaku. Mereka terlihat marah sekali. Aku tidak tahu apa yang mereka ingin lakukan padaku.


"Ya! Kim Y/N!"


"Dasar gadis centil!"


"Pura-pura polos!"


"Memangnya apa salahku?"


"Wah, daebak. Kau itu menggoda dua laki-laki sekaligus! Ara?"


"Busunsuria?"


"Aishhh! Kau ini-"


"YA!!!"


Yeji hendak memukulku. Tapi Minho mencegah tangannya. Dia terlihat sangat marah dilihat dari matanya. Tapi mencoba mengendalikan diri karena sedang berada di sekolah.


"Minho Oppa?"


"Berhenti mengatakan itu. Menjijikkan. Apa yang kau katakan padanya? Tarik kembali ucapanmu."


"Shiro."


"Mwo? Kalau begitu, minta maaf padanya."


"Aishhh, jinjja."


"Tidak mau?"

__ADS_1


"Araseo araseo. Y/N-a. Mianhae."


"Nado. Mianhae. Y/N-a."


"Nado."


"Mianhae."


"Mian."


"Sudah 'kan? Kami pergi."


Mereka minta maaf padaku satu persatu dengan wajah yang tidak ikhlas. Lalu mereka pergi keluar kelas.



Minho duduk di kursi yang ada di depanku. Seperti biasanya, dia selalu memberikan senyuman terbaiknya. Dia menaruh yogurt stroberi diatas mejaku.


"Cha. Minumlah."


"Tidak perlu."


"Biar aku bukakan untukmu."


Minho membukakan tutup botol minuman itu. Aku meminumnya terpaksa. Minho kemudian mengusap pelan kepalaku membuat semua yang melihat seperti ingin muntah. Dari jauh, Hyunjin memperhatikanku dan Minho. Tapi aku tidak mengetahuinya. Dia menatap kami sambil memainkan penanya dan kedua kakinya ditaruh diatas meja.


("Aishhh. Apa yang dia lakukan? Membuatku muak saja.")


Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa merapikan buku dan alat tulis masing-masing. Kemudian mereka pulang. Ada yang menunggu dijemput, menunggu bus, pulang bersama teman, atau bahkan pacar mereka.



SKZ sedang berjalan di lorong sambil mengobrol dan bercanda. Tapi ada satu orang yang tak hadir. Mereka pun menyadarinya.


"Dimana Minho?" Tanya Bangchan.


"Ah, dia bilang padaku ada urusan pulang sekolah. Jadi dia tidak bisa pulang bersama kita." Jawab Han.


"Kenapa dia hanya memberitahumu?" Tanya Hyunjin.


"Aku tak tahu."


"Wah, apa dia pulang dengan pacarnya?" Gurau Seungmin.


"Apa yang kau bicarakan?! Lagipula dengan siapa?"


"Ya! Kenapa kau yang marah?" Ledek Changbin.


"Ya! Shikeureo! Besok kita tanya saja orangnya." Ucap Felix.


"Aku jadi penasaran apa itu benar." Kata Jeongin.


"Ya! Jeongin-a! Untuk apa dipikirkan?" Lagi-lagi Hyunjin menjawab. Terdengar seperti nada tidak terima.

__ADS_1


"Hanya penasaran." Jawab Jeongin.


__ADS_2