
Matahari menunjukkan wajahnya yang ceria. Pagi hari tiba, tandanya awal untuk menjalani hari yang baru. Aku telah selesai bersiap dari pukul 05.30. Aku membuka pintu, dan menemukan seseorang tengah berdiri hadapanku. Menyapa sambil tersenyum.
"Annyeong. Aku Lee Minho. Boleh berangkat bersama?"
Aku mengacuhkannya. Aku hanya berlalu melewatinya.
"Ah, kau pasti tidak mau. Jika kau menolak....."
Dia sengaja menggantungkan ucapannya kemudian menarikku ke hadapannya. Aku sebenarnya terkejut, hanya saja aku tidak ingin dia melihatnya karena itu akan membuatnya senang.
"Apa maumu?" Tanyaku datar seperti biasanya.
"Hanya ingin berangkat sekolah bersamamu. Kau tidak boleh menolak. Jika tidak......"
"APA?"
"Aku akan menciummu."
Mataku hampir saja terbuka sempurna. Baru kali ini, aku hampir saja menunjukkan ekspresi terkejutku. Aku yakin dia tidak melihatnya.
"Kau tidak ingin telat 'kan? Ayo masuk."
Dia membuka pintu depan untukku. Aku sangat terganggu belakangan ini karenanya. Entah apa yang dia rencanakan. Karena obrolannya sejak kemarin, terasa tiba-tiba dan sangat aneh. Namun begitu, aku tidak dibuat pusing hanya karena dia.
Sesampainya di parkiran sekolah, aku langsung keluar dan menganggap tidak ada orang yang berangkat bersamaku.
"Ya! Gachiga!"
Dia berteriak dan berlari menyusulku sambil menggenggam tanganku, membuat semua orang menatap kami. Aku melepas tangannya dengan kasar dan menunjukkan sorot mata yang penuh kebencian, seolah ini puncak kesabaranku sejak kemarin karena ulahnya. Kemudian aku pergi ke kelas. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang sedang menatapku karena kelakuan kasarku pada anak lelaki populer itu.
Begitu aku memasuki kelas, aku melihat mejaku sudah penuh oleh cairan kotor warna hitam yang menjijikkan. Aku tahu siapa yang melakukan ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah Itzy. Mereka berdiri mengelilingi mejaku sambil tertawa terbahak-bahak. Minho terlihat ingin mendekati mereka, tapi seseorang mendahuluinya.
"YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN!?"
"Hyunjin Oppa?" Tanya Yeji.
"APA PERINGATAN KEMARIN BELUM CUKUP UNTUK KALIAN?!!?"
"Tunggu. Kenapa kau membelanya?" Tanya Ryujin mewakili pertanyaan semua orang yang mulai memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Sekarang dengar ini. KALIAN BERSIHKAN INI SEKARANG!"
Mereka pun akhirnya menuruti perkataan Hyunjin karena mereka takut dengannya jika sedang marah. Sementara mereka membersihkan mejaku, terdengar bisikan orang-orang yang menyaksikan keributan mereka. Sedangkan aku dari tadi sudah berhenti dengan langkahku.
"Wah, tidak bisa dipercaya."
"Y/N dibela olehnya?"
"Lihat ekspresinya."
"Menakutkan sekali."
"Dia bersikap sok tersakiti."
"Maja maja."
"APA YANG KALIAN LIHAT!!!" Bentak Hyunjin pada mereka yang berbisik-bisik.
Setelah semua bersih, aku pun duduk. Bel masuk berbunyi. Guru masuk untuk memulai pelajaran hari ini. Tapi kenapa tiba-tiba aku memikirkan perkataan Hyunjin kemarin?
("Kau tidak berterima kasih? Wah, kau memang dingin. Kau tahu? Ada orang yang diam-diam peduli padamu. Dia sekarang sedang mendekatimu.")
"Y/N? Kau memperhatikan apa?"
"Y/N?" Tanya Guru lagi.
"Ne?"
"Kau bisa kerjakan soal di papan tulis? Karena kau sepertinya tidak memperhatikan sedari tadi."
Semua siswa menatap kearahku dengan pandangan meremehkan. Baiklah. Aku akan menunjukkan kepada mereka potensiku.
"Bagaimana? Kau bisa?"
"Baiklah. Saya akan menyelesaikannya."
Aku maju kedepan dan mengerjakan soal yang sudah ditulis oleh Guru. Setelah selesai, aku kembali ke tempat dudukku. Guru terlihat sedang mengoreksi jawabanku.
"Tepat sekali jawabannya. Beri tepuk tangan untuk Y/N."
Mereka memang tepuk tangan, tapi ekspresi mereka bermacam-macam. Ada yang tidak percaya, iri, marah, dan merendahkan. Tapi aku tidak peduli. Mereka tidak tahu saja, bahwa aku belajar bab baru di Cafe semalam.
"Baiklah, karena kalian telah menyelesaikan dua bab materi, hari ini kalian akan mengerjakan ulangan harian."
__ADS_1
"Ayolah Bu, kenapa mendadak?"
"Benar. Kenapa baru memberitahu?"
"Bagaimana ini? Kami belum belajar."
"Ah, aku pasrah saja."
"Mohon tenang anak-anak. Ibu sengaja mengadakan ulangan harian mendadak untuk menguji kemampuan kalian. Baiklah, siapa yang bersedia mengambilkan soal ulangan di meja Ibu?"
"Kami Bu."
"Ah, Bangchan dan Han. Tolong ambilkan kertas soal di meja kantor Ibu."
Bangchan dan Han keluar untuk melaksanakan apa yang diperintah Guru. Tidak lama kemudian mereka datang dan memberitahu bahwa mereka tidak menemukan kertas ulangan tersebut.
"Kami tidak menemukan kertas ulangannya Bu." Ucap Bangchan.
"Bagaimana bisa? Kalian sudah cari disekitar meja?"
"Sudah. Tapi tetap tidak ada." Jawab Han.
"Bagaimana ini? Apa hilang?"
"Mungkin ada yang mencurinya Bu!" Teriak seorang perempuan di meja paling belakang barisan Minho dan Hyunjin.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Periksa saja pada semua siswa Bu."
"Baiklah. Mari kita cek. Bangchan, Han, bantu Ibu."
Guru, Bangchan, dan Han menggeledah satu persatu tas dan bawah meja siswa siswi. Sampai akhirnya, Han menemukan semua lembaran kertas soal di bawah mejaku. Apa? Sungguh, bukan aku yang meletakkannya disini.
"Bu! Saya menemukannya di bawah meja Y/N!"
Semua mata tertuju padaku dengan omongan-omongan menuduh menganggap aku yang mengambilnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku juga tidak tahu.
"Y/N, kau mengambilnya?" Tanya Guru padaku.
"Tidak."
"Lalu kenapa bisa ada di bawah mejamu?"
__ADS_1
Pertanyaan itu membuatku bungkam. Tapi aku melihat satu orang perempuan tampak sedang tersenyum miring. Bukankah dia........