My Guardian Angel : Lee Minho

My Guardian Angel : Lee Minho
EPISODE 4. That's you? HJ


__ADS_3

"YA! HENTIKAN!"


"KALIAN TIDAK MALU?!"


"DASAR KALIAN LEMAH!"


"APAKAH MENINDAS ORANG YANG LEMAH MEMBUAT KALIAN SENANG HUH?!?!!!"


Itu suara bentakan dari Bangchan, Changbin, Han, dan Felix. Sementara member lain menghentikan Itzy. Minho mendekati dan membantuku berdiri ketika aku jatuh terhempas. Tapi, aku merasa ada seseorang yang menatapku.


"Neo, gwaenchanha? Biar kuantar kau pulang."


"TIDAK."


Dengan cepat aku menjawab. Ketika aku berdiri dan hendak keluar sekolah, dia menahan tanganku dan malah menarikku ke parkiran.


"Masuklah."


Dia menyuruhku masuk ke dalam mobil hitamnya yang tampak mewah. Aku terpaksa masuk karena sepertinya dia akan semakin mendesakku jika aku menolak. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam mobil seperti ini.


Aku duduk sambil memainkan jariku ketika dia sudah masuk. Tapi, tiba-tiba dia mengulurkan tangannya dan merapikan rambutku akibat kejadian tadi. Kami saling bertatapan sejenak, namun aku segera mengalihkan pandanganku kebawah kemudian menjauhkan kepalaku.


"Ah, rambutmu berantakan."


Dia segera menjalankan mobilnya. Aku tidak bicara apa pun selain menjawab pertanyaan dimana arah rumahku. Akhirnya kami sampai juga dirumahku. Aku keluar mobil lebih dulu. Minho berdeham sebelum memulai bicara.

__ADS_1


"Ehm. Begini. Kenapa mereka-"


"Aku masuk dulu."


Aku memotong pembicaraannya karena aku tahu apa yang dia ingin bicarakan. Pasti dia ingin bertanya padaku kenapa Itzy selalu merundungku. Aku tidak ingin menjelaskannya. Karena aku bukan orang yang mudah memercayai orang lain. Aku langsung masuk meninggalkannya. Kemudian dia melajukan mobilnya.


Aku mengganti bajuku kemudian makan, istirahat sejenak, lalu bersiap untuk bekerja. Aku bekerja di sebuah Cafe dekat ibu kota. Aku biasa berangkat pukul 19.00 dan pulang pukul 24.00.


Ketika aku sedang berjalan kaki menuju Cafe, tiba-tiba sekumpulan geng motor saling serang. Mereka mengelilingiku jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berjongkok dan menutupi telinga. Hingga seorang laki-laki menyuruhku naik ke motornya.


"Ayo cepat naik jika ingin selamat."


Aku sempat ragu karena mengira dia akan mencelakaiku. Terlebih lagi penampilannya sama seperti mereka, memakai pakaian serba hitam. Jadi aku hanya menatap wajahnya yang tertutup helm.


"Cepat. Aku tidak berniat buruk."


Akhirnya kami sampai di Cafe, karena aku menyuruhnya kesini. Begitu ia membuka helmnya, aku terkejut tapi berusaha menyembunyikannya. Atau mungkin dia mengetahui sorot mataku yang terkejut karena dia berkata.


"Maja. Naya. Hwang Hyunjin."


Benar, dia Hyunjin. Aku tahu sifatnya seperti apa dari para penggemar perempuannya. Jadi tidak heran jika dia dikejar-kejar oleh geng motor tadi.


"Untuk apa kau kesini? Atau, kau bekerja disini?"


Aku memilih masuk ke Cafe daripada menjawabnya. Tapi dia malah mengikutiku masuk kemudian duduk di salah satu kursi. Ketika aku melewati mejanya, dia berkata padaku.

__ADS_1


"Aku ingin americano."


Kemudian aku membuatkan satu americano sambil berharap dia cepat pergi dari sini. Aku mengantarkan kopi itu ke mejanya.


"Thank you." Ucapnya dengan gaya bicara sok Inggrisnya.


Setelah itu aku tidak menghiraukannya lagi dan kembali fokus menjalani pekerjaan. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 24.00. Aku mengganti seragamku dan mematikan lampu karena aku keluar paling terakhir daripada pegawai lainnya. Ketika hendak menutup pintu, aku malah melihat pemandangan yang sangat mengerikan.


Orang itu masih ada disini. Bahkan dia tertidur di kursinya. Ingin sekali aku tidak menghiraukannya. Tapi diriku yang lain mengatakan untuk membangunkannya. Aku menepuk-nepuk bahunya agar dia terbangun. Aku terkejut ketika dia bangun dan mendekati wajahku. Ternyata dia berpura-pura.


"Aku bosan menunggumu. Tempat ini bagus ya? Dan ini sudah malam."


Dia terus mendekatiku sampai aku terpojok di dinding. Aku takut dia melakukan sesuatu.


"Kuantar kau pulang. Ini sudah larut malam."


Aku hendak lari tapi dia menghalangi jalanku hingga aku menabrak dadanya.


"Tidak boleh menolak." Ucapnya sambil tersenyum.


Aku hanya mengikuti apa katanya. Benar juga apa yang dia bicarakan. Aku naik motornya lagi, kali ini canggung karena situasinya tidak darurat seperti tadi.


"Pegangan. Aku akan mengebut."


"TIDAK."

__ADS_1


Dia malah mengambil tanganku dan meletakkannya di pinggangnya. Kemudian dia benar-benar melajukan motornya sangat kencang melebihi yang tadi. Sesampainya di depan rumahku aku ingin langsung masuk, tapi dia berkata sesuatu. Aku hanya pura-pura tidak mendengarnya.


"Kau tidak berterima kasih? Wah, kau memang dingin."


__ADS_2