
Aku sampai rumah pukul 17.00 dan dua jam lagi aku akan pergi bekerja. Sungguh, memang benar waktu adalah emas. Aku mandi, makan malam, dan belajar sampa akhirnya pukul 18.15. Aku pun berbaring di kasur. Mengistirahatkan tubuhku yang penuh tekanan. Ketika aku ingin tidur sebentar, ponselku berbunyi tanda pesan masuk. Aku membuka ponselku. Pesan itu berasal dari nomor tak dikenal.
("Y/N. Ini aku, Lee Minho. Aku mengetahui nomormu dari grup sekolah. Temui aku di Cafe dekat Seoul pukul 18.30. Aku ingin bicara denganmu.")
Minho? Apa yang perlu dibicarakan? Tidak bisakah besok saja di sekolah? Kenapa pas sekali di Cafe tempatku bekerja? Haruskah aku bertemu dengannya? Baiklah. Tidak masalah. Sekalian aku berangkat kerja. Aku berganti pakaian lalu keluar rumah menuju Cafe.
Setelah sampai, aku duduk di kursi yang ada di depan Cafe. Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam berjalan kearahku. Lalu satu dari mereka membekap mulutku dengan kain, dan satunya lagi memegangi tanganku. Aku tak bisa berteriak. Aku berusaha memberontak tapi mereka kuat sekali. Akhirnya aku pingsan di tempat. Kedua orang itu entah membawaku kemana.
Minho tampak sedang belajar di kamarnya. Ia mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Minho membacanya. Pesan itu dikirim oleh Nayeon.
[FOTO] (Y/N di club dengan tangan diikat)
("Sudah kubilang bukan? Aku akan melakukan apa saja. Jika kau menjauhinya dan kembali bersamaku, aku tidak akan melakukan apa pun padanya.")
"Saekkiya! Kau sudah gila Nayeon. Aku tidak akan menurutimu. Aku akan melakukannya sendiri."
Aku terbangun dengan tangan terikat dan mulut ditutup lakban. Yang membuatku ingin menjerit adalah aku berada di klub dan dikelilingi banyak laki-laki yang sedang minum. Aku berusaha melepaskan diri. Perhatian mereka menjadi teralihkan padaku.
"Hei. Tidak perlu memberontak, manis."
"Tidak akan ada yang menolongmu."
"Jadi, kau akan bersama kami lebih lama, cantik."
Mereka tertawa sambil sesekali menyentuhku. Aku menendang mereka dan berlari keluar dengan tangan terikat. Sayangnya mereka menutup pintu klub dan aku tersudut di dekat pintu. Mereka mendekatiku. Beberapa kali aku menghindar.
__ADS_1
Aku terkejut ketika seseorang mendobrak pintu lalu menghajar mereka. Perlawanan sengit pun terjadi diantara mereka. Minho. Laki-laki itu membukakan ikatan di tanganku dan lakban yang menutup mulutku.
"Gaja."
Dia menarik tanganku keluar dari klub itu. Minho memintaku menenangkan diri di taman kota. Aku duduk di bangku taman bersamanya.
"Kau dijebak. Jangan terima pesan dari nomor asing."
Aku tidak menjawab. Aku menunduk ketakutan sambil memainkan jariku. Kemudian napasku putus-putus. Aku sesak napas sambil memegangi dadaku. Minho panik lalu segera membeli air minum.
"Tunggu sebentar." Pintanya dengan kalut.
Tidak lama kemudian dia datang dengan sebotol air mineral ditangannya. Dia menyuruhku meminumnya. Aku meneguk minuman itu dengan lima tegukan.
"Kau pasti ketakutan."
"Gwaenchanha. Abaikan dulu hal lain. Aku hanya ingin menenangkanmu."
Suasana malam di taman begitu indah. Aku tidak tahu ada taman sebagus ini di kota. Hanya suara air mancur yang membuat ketenangan di malam hari ini. Disini sangat sepi. Bahkan tak ada lampu yang menerangi. Mungkin karena itu tidak ada yang datang kesini.
Minho memelukku sangat lama. Tidak ada yang bersuara. Kami mencoba mencari ketenangan di malam hari yang sunyi ini. Aku melepaskan pelukkannya. Lalu Minho melepas jaket hitamnya dan mengenakannya padaku.
"Suasananya menenangkan bukan? Kau bisa datang kesini kapan pun. Aku sudah jarang kesini lagi. Aku minta maaf karena kejadian ini. Aku akan segera mengurus pelakunya."
Aku sungguh tidak ingin mengetahui siapa yang melakukan ini. Sudah tidak asing lagi karena banyak sekali orang yang membenciku. Sudah setengah jam kami berada disini. Minho mengajakku pulang dengan mobilnya. Tanpa kami sadari, ada seseorang memperhatikan sejak tadi.
__ADS_1
Kami sudah sampai di rumahku. Aku mengembalikan seragam cadangannya yang kupinjam kemarin. Aku hendak masuk, tapi aku berbalik lagi. Ternyata Minho masih belum pergi. Dia menungguku masuk dengan aman.
"Minho-ya! Gomawo." Ucapku dengan senyumku. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku tersenyum.
("Ini pertama kalinya aku melihat senyumnya. Manis sekali. Aku akan membuatnya terus seperti itu.")
Kemudian aku masuk ke rumahku. Sementara Minho pergi dengan mobilnya sambil tersenyum lebar bahagia.
Minho sampai dirumahnya. Ia disambut dengan asisten pribadi Ibunya begitu ia masuk.
"Tuan, Nyonya memanggil dan ingin menemuimu di ruangannya."
Minho segera ke ruangan tempat Ibunya berkutat dengan laptop. Ia agak heran, karena jarang sekali dipanggil oleh Ibunya kecuali urusan yang sangat penting. Minho membuka pintu. Bu Lee memulai pembicaraannya.
"Kau sudah melakukan apa yang Ibu suruh 'kan?"
"Ya."
"Kapan kau akan mengambil benda itu? Kau tahu itu sangat berharga bagi Ibu?"
"Segera. Tapi kenapa itu bisa ada padanya? Apa hubungan Ibu dengannya? Kenapa Ibu tidak membelinya lagi saja?"
"Akan Ibu ceritakan lain kali."
"Ne."
__ADS_1
Minho keluar dari ruangan Ibunya. Ia menuju kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Minho mulai bicara sendiri.
"Aku tidak akan melakukannya. Aku telah menahannya sejak kelas X. Aku akan segera memberitahunya. Bukan karena Ibu."