
Ilmu Pengetahuan Alam, memang benar-benar membuat Frustasi. Setiap harinya aku harus berkutat dengan yang namanya rumus-rumus. Fisika, Biologi, Kimia dan Matematika. Hidupku penuh dengan rumus mungkin itu penggambaran yang tepat untuk situasi ku saat ini. Praktek, Laporan dan Berhitung itu adalah pekerjaan sebagai Siswa SMA jurusan IPA. Tapi itu kenyataan dan harus bisa aku terima meskipun susah dan berat. Apalagi aku bukanlah Siswa yang pintar, belajarku harus lebih Ekstra dan maksimal.
Ujian Tengah Semester (UTS) untuk menuju kesemester 2 akan segera dimulai, semua Siswa sibuk belajar dan mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk Siswa IPS mereka disibukkan menulis laporan mengenai Penelitian-penelitian tentang keadaan Lingkungan Masyarakat, aku mengetahuinya dari Deni. Sedangkan Siswa IPA tahu sendiri menulis Laporan-laporan Ilmiah dan menghitung Angka.
Tentang Mas Imam untuk saat ini aku melupakannya dan harus selalu fokus dengan Impianku. Ketika tidak sengaja harus berpapasan dengannnya dijalan aku harus menghindar darinya dan bersembunyi, sebisa mungkin tidak bertemu dengannya dan setelah itu yang bisa aku lakukan hanya memandangnya dari arah belakang berharap sesuatu yang tidak jelas.
Kegiatan rutinku ketika mau Ujian adalah Seperti biasa, hal yang paling menyebalkan adalah harus memaksa Nia untuk belajar supaya setidaknya dapat nilai yang bagus.
Satu minggu sebelum UTS berlangsung Wali Kelas kami masing-masing membagikan Kartu Ujian. Di kartu ujian sudah tertera Jadwal beserta Mata Pelajaran apa yang akan diujikan. Tertera dijadwal Ujian akan dilaksanakan selama dua minggu dengan satu Mata Pelajaran setiap harinya. Ruangan yang akan digunakan untuk ujian dan Nomor Urut peserta Ujian sesuai dengan Nomor Absensi sehari-hari, Kalau aku tidak salah untuk menghitung bangku yang aku tempati adalah dibelakang sendiri jauh dari pengawas Ujian.
***
Hari yang dinanti datang juga yaitu Ujian Tengah Semester. Aku dan Asti janjian untuk berangkat pagi karena memang kami berdua belum tahu letak ruangannya. Aku dan Asti satu ruangan meskipun tidak akan pernah duduk sebangku. Setelah sampai disekolah aku melihat Asti sedang menungguku di gerbang sekolah. Aku dan Asti berjalan bersama untuk mencari ruangan dan kita berdua sudah memegang kartu ujian. Aku melewati kelas demi kelas yang aku lewati tapi tulisan “R.012” tidak ketemu juga.
“012,, di kelas berapa iya, Lin?” tanya Asti yang sedang kebingungan.
“Iyaa,,,aku juga enggak tahu ini.” kataku.
Setelah akhirnya berputar agak lama mencari ruangan Ujian ternyata ketemu juga.
“Tulisannya kurang besar sih,,” Kataku yang melihat kertas yang ditempel di pintu bertuliskan R.012.
“Lin,,, Liat sini?” kata Asti memanggilku.
Sepertinya wajahnya terlihat terkejut. “Liat iyaa?” Kata Asti menunjukkan Daftar Absensi yang terpasang disalah satu papan.
Glegg!!
Aku menelan ludah, Aku melihatnya lagi untuk memastikan Daftar absensi dan Mukaku rasanya panas dan jantungku berdetak.
“Ihh,, Kok bisa iya kita satu ruangan sama Anak kelas XII IPS 3?” Asti menyikut lenganku
dan tersenyum menggoda.
“Apaan sih?” Kataku berusaha tenang.
Kemudian aku melihat daftar nama yang tertera dan disitu ada nama Mas Juki dan Mas Imam. “Mati aku, As?” Kataku memukul dahiku sendiri.
“Sebangku enggak iya?” Tanyanya. Aku tidak mengerti dengan yang dimaksud Asti.
“Iya kamu duduk sebangku enggak sama Mas Imam.?" Kata Asti dengan muka Jailnya. “Semoga iya, Aku ingin melihat mukamu
yang merah kayak kepiting nanti.”
“Astiiii,,, Nyebeli kamu.” Kataku sebal.
Bell masuk Ujian pun berbunyi. Aku dan teman teman sekelaskupun masuk keruangan. Sebelum aku masuk keruangan aku belum melihat Mas Juki dan Mas Imam. Aku mencari tempat dudukku, ternyata benar aku duduk dibelakang sendiri dan akupun tersenyum senang.
Katika aku akan duduk tiba-tiba seseorang mendahuluiku dan duduk dibangku sebelahku. Aku sedikit terkejut dan tiba-tiba saja jantungku berdetak dengan sangat kencang, entah muka seperti apa. Aku lalu langsung duduk dengan agak ragu-ragu.
Asti yang melihatku hanya menjulurkan lidah mengejekku dan tersenyum mengejek.
“Awas kamu, As?” Batinku.
Mas Juki duduk didepan. Dia melihatku sebelum dia duduk dikursinya. Aku hanya bisa memberikan senyumanku.
__ADS_1
Pengawas membagi-bagikan kertas Ujian dan mengatakan memberi peringatan untuk mengerjakan sendiri-sendiri.
“Gimana mau ngerjain, Pak?” batinku. “Kalau ini orang ada disebelahku.”
Aku gugup sekali, bukan karena gugup ujiannya tapi karena gugup dengan orang yang disebelahku.
Tidak tahu berapa kali aku mengubah posisi
dudukku dan mukaku semerah apa sekarang.
"Kenpa harus Mas Iman?" Kataku tidak terima. “Hufffff,,,,” Aku menghela nafas panjang dan Mas Imam melihatku dan tersenyum padaku.
“Kanapa?” Tiba-tiba Mas Imam bertanya padaku dan aku hanya melihat Mas Imam yang sedang menulis. Aku hanya diam, tidak tahu harus berkata apa.
“Santai jangan grogi, konsentrasi aja, baru UTS ini, belum UAS.” Katanya lagi. Aku hanya
mengangguk mengiyakan.
“Gimana mau Kosentrasi, Mas? Kalau Mas Imam disebelahku gini?” aku hanya bisa mengatakannya dalam hati.
Disisi lain aku senang bisa duduk dengannya dan disisi lain aku tidak bisa Komsentrasi untuk mengerjakan soal Ujian ini.
Setelah selesai Ujian aku langsung berlari kekamar mandi. Asti yang melihatkku berlari kekamar mandi mengikutiku dari belakang. Setelah sampai dikamar mandi, Aku melihat kearah cermin yang besar dan mencuci mukakku yang masih terasa panas dengan harapan bisa segera dingin. Aku menepuk-nepuk mukaku agar segera kembali kewarna semula dan berusaha untuk tenang.
“Heiii,,, Kok mukannya merah gitu?” Kata Asti yang berada disebelahku. “Kayak Kepiting rebus.”
“Astiiii,,, kamu tahu enggak sih?” Kataku sedikit berteriak.
“Apa?” tanya Asti yang hanya tersenyum.
“Aku enggak bisa konsenyrasi tadi ngerjain Soalnya.” Kataku tertunduk lemas.
“Sial,, Konsentrasi ku, Buyar!!! gara-gara Mas Imam ini!” Kataku.
Aku berjalan keluar dari kamar mandi dan melihat segerombolan Mas Juki sedang berjalan. Aku mencoba menghindar ketika tiba-tiba Mas Juki memanggilku. Aku berhenti berjalan dan Mas Juki berlari kearahku. Aku melihat sekilas Mas Imam dan Mas Juki menuju ketempatku berdiri.
“Ada apa mas?” Kataku.
“Enggak? Cuma mau bilang? Mau pulang bareng enggak?” Katanya.
“Kurang kerjaan banget, Mas Juki.” batinku.
“Enggak Mas, kataku.” Menolak dengan halus. "Nia, menjemputku."
“Hei,, Lin.” Kata Mas Hakim menyapaku. “Erlina mana? kok enggak bareng?” Tanya lagi. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan melihat Mas Imam.
"Hei, anak kecil,,," Mas Fauzi merangkul pundakku dari belakang. Aku sedikit terkejut dengan sikap Mas Fauzi yang tiba-tiba datang dari arah mana. Buru-buru aku mencoba melepas rangkulannya.
"Heh kau ini!" Mas Juki memukul lengan Mas Fauzi dengan sebal.
"Maaf, maaf, kalo dengan Lin aku masih gemas, Juk,," Kata Mas Fauzi sambil mengacak-acak rambutku gemas.
“Gimana tadi bisa, Lin?” kali ini yang bertanya Mas Imam. “Liana kan?” Sekali lagi Mas Imam bertanya padaku.
“Mas Imam tahu namaku?” batinku. Aku kegirangan dalam batinku. Asti yang melihatku senyum-senyum sendiri tambah mengejekku. Aku hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
“Iyaa,, sudah kalau tidak mau diantar. Kuantar sampai gerbang depan saja iya.” Kata Mas Juki tiba-tiba. Aku kemudian melihat Mas Juki dan dia sudah menarik lenganku mengajakku untuk berjalan. Tanpa sempat mengatakan kata-kata.
“Aku pulang dulu iya,,,” Kata Mas Juki melambaikan tangan kepada kedua temannya itu dan Akupun hanya bisa mengikuti dengan pasrah.
Asti hanya melambai dengan tetap senyum yang menyebalkan.
“Nia, bagaimana kabar?” Tanya Mas Juki padaku.
"Baik, Mas?"
Disepanjang jalan kebanyakan Mas Juki yang bertanya aku hanya diam saja. Setelahnya sampai digerbang sekolah aku sudah melihat Nia yang sedang menungguku. Aku menghampiri Nia dan Mas Juki pun ikut denganku.
Mas Juki masih terus mengira bahwa Nia itu adalah laki-laki karena Nia sudah berganti pakaian biasa. Dia masih bingung ketika melihat Nia.
Nia tidak menyadari kedatanganku karena dia sedang sibuk dengan Ponselnya. Aku menepuk pundak Nia. Nia melihatku dan tersenyum. Nia melihat kearah Mas Juki dan melihatku heran.
“Hei, Nia?" Mas Juki menyapa Nia. Mas Juki mengulurkan tangannya.
“Hei, Mas?” Kata Nia dengan tidak siap menjabat tangan Mas Juki.
“Gimana kbar?” Tanyanya lagi dengan canggung.
"Baik, Mas?" Nia tersenyum dan melihat kearahku dengan heran.
Aku memberi Isyarat untuk segera pergi pada Nia. Nia hanya mengangguk halus. Aku menarik lengan baju Nia
Nia melihat Mas Juki. Dan menarikku untuk lebih dekat dengannya. Nia memberikan gitarnya untuk kupegang dan memasangkan Helm dikepalaku.
"Mas kita pulang duluan?" Kata Nia.
"Iyaa, hati-hati dijalan..." Mas Juki menepuk pundakku dengan halus. "Titip Liana, Ni?"
Nia hanya mengangguk. Mas Juki melambaikan tangannya ketika melihatku pergi. Nia yang mengerti hal itu tidak berani bertanya banyak dia hanya tersenyum dan berkonsentrasi mengendarai motornya. Sesampainya di Studio Band Nia, Aku menceritakan semuanya dari A-Z dan Nia pun hanya menanggapi nya dengan anggukan kepalanya saja. Aku selalu bisa tenang ketika aku sudah melihat Nia dan teman-teman Nia memainkan alat musiknya dan bernyanyi.
**
Nia, seseorang yang menemaniku tanpa banyak mengeluh. Dia sahabat terhebat yang aku punya. Meskipun kadang menyebalkan dia tetap satu-satunya orang yang paling kusayang. Entah bagaimana Masa Remajaku bisa kulewati dengan Bahagia jika Nia tak ada disisiku.
Aku merindukannya, sangat. Aku ingin bertemu dengannya setidaknya hanya sekali. Aku tak tahu harus memilih antara Kekasihku atau sahabatku.
Jika suatu saat mereka kembali padaku, Aku tak akan menyia-yiakannya.
Terimakasih saat itu sudah datang padaku
Aku menutup buku Diaryku. Mengambil Laptopku untuk melihat berita tentang Nia di Internet. Video mengenai launching desain yang baru. Nia tersenyum sangat senang, Dia terlihat baik-baik saja.
"Aku merindukkanmu."
🌳🌳🌳
Butuh prasangka baik untuk mengubah segala persepsi
Tak akan baik jika kita memaksa
Tak akan tenang jika kita maracau
__ADS_1
Tenangkan Hati untuk menutup Ego yang tak berarturan
busa lin