
Aku bertemu dengan Mas Hendra disalah satu Mall yang ada dikota P. Aku menunggunya dengan gelisah, Aku ingin menunjukkan padanya buku Diary Nia. Karena dengan buku Diary ini mungkin Mas Hendra akan mengerti bagaimana Nia begitu mencintaiku. Lama aku menunggu, akhirnya aku melihat Mas Hendra sedang berlari kecil menembus pengunjung yang sedang berjalan. Mas Hendra melihatku yang sedang duduk menunggunya disudut ruangan, Aku melambaikan tanganku dan Mas Hendra tersenyum melihatku dan berjalan mendekatiku.
Mas Hendra duduk dihadapanku dan melihatku yang sedang memegang buku Diary Nia yang aku letakkan diatas Meja. Lalu aku menyerahkan Buku diary Nia dan menyuruh Mas Hendra membaca. Aku hanya memperhatikan Mas Hendra yang membuka lembar demi lembar halaman itu dan membacanya dengan cermat. Mas Hendra berkali-kali melihatku dan eksperesi wajahnya berubah-ubah. Aku melihat Mas Hendra dengan perasaan tidak menentu. Entah apa yang ada dipikiran Mas Hendra sekarang.
“Aku, tahu sekarang, Lin.” Mas Hendra menatap ku sangat dalam dan memegang tanganku.
“Aku tahu sekarang. Bagaimana Nia mencintaimu.” Mas Hendra tersenyum padaku.
“Iya,, Mas. Jadi apa yang harus kulakukan?” Kataku.
“Aku sampai kapan pun itu tidak akan pernah bisa bersatu dengannya dalam sebuah ikatan apapun. Yang ada hanya aku dan Nia itu sahabat, Mas.” Kataku menjelaskan panjang lebar.
“Lin, Apa kamu takut?” Tanya Mas Hendra padaku.
“Takut?” Aku melihat Mas Hendra dengan bingung. “Takut? Maksudnya Mas?” Mas Hendra hanya tersenyum dan memegang tanganku.
“Takut kalau kamu mencintai Nia dan tidak berani untuk mengakui kalau kamu sebenarnya mencintainya karena kalian sama-sama perempuan?” Mas Hendra menatapku tajam.
Aku terkejut dengan kalimat yang Mas Hendra baru katakan.
“Takut? enggak mungkin aku mencintai, Nia.” Batinku
“Aku tahu kalau kamu itu kekasihku, Aku tahu kalau kamu mencintaiku dan akupun sama, Lin.” lanjut Mas Hendra.
“Tapi asalkan kamu tahu, Perasaan seseorang yang sesungguhnya itu tak akan bisa dibohongi, Lin.”
“Tapi, Mas. Sungguh perasaanku pada Nia itu hanya sebatas rasa sayang terhadap sahabat. Jujur aku takut kehilangan Nia, Jujur Nia itu penting untukku. Tapi aku dan Niaa,,,” Aku menggantung kaliamatku.
__ADS_1
“Mas Hendra adalah Masa depanku,,,” Kataku menangis.
“Masa depan sesorang hanya tuhan yang mengatur, Lin. Hanya dialah yang tahu kita berjodoh dengan siapa, Jika saja aku bertemu dengan mu lebih awal daripada Nia, Pasti kamu akan tetap memilihku kan. Aku yakin itu. Karena sampai kapanpun kamu akan mencintaiku karena aku tahu kalau kamu itu orangnya susah untuk jatuh cinta.” Mas Hendra menatapku dan Mas hendra mengusap pipiku yang basah terkena air mata.
“Tapi, Mas. Aku tidak ingin melihat Nia pergi dengan cara seperti ini, dengan menyisakan kebenciannya padaku dan Setidaknya untuk sekali saja Biarkan Ku Ucapkan selamat tinggal padanya, Mas?” Aku terisak-isak mengusap pipi ku dengan jari-jariku.
Mas Hendra mengambil sesuatu dari dalam tas nya, Dia memberikan 2 tiket untuk menghadiri sebuah acara.
“Mas Hendraaa,, Aku tidak mau nonton sekarang?” Kataku sebal.
Aku kira itu tadinya tiket untuk Nonton bioskop, tapi Mas Hendra menyuruhku untuk melihatnya.
Aku mengambil tiket yang Mas Hendra letakkan diatas meja. Aku terkejut melihat tiket itu. Bukan karena acaranya tetapi itu tiket untuk menghadari Acara Fashion Show dikota B dan Desainernya bernama Karunia Venatan. Aku melihat Mas Hendra dengan wajah bingung.
“Besok, kau punya kesempatan untuk mengucapkan apa pun yang kamu inginkan padanya dan Jika kamu memilih Nia daripada aku, Aku akan menerimanya.” Kata Mas Hendra.
Aku berdiri dari kursi tempat ku duduk dan langsung memeluk Mas Hendra senang. Aku tidak peduli semua orang melihatku yang seperti ini. Hanya butuh satu kesempatan untuk bertemu dengannya dan Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.
“Iyaa,,, Aku tahu. Ini adalah kencan, Lin.”
“Kencan?” Kataku heran.
“Iyaa,, ini sama saja kencan kan? mengajakmu keacara Fashion Show dikota B.” katanya. “Besok kamu harus berdandan yang cantik dan kita berangkat sekarang.” Kata Mas Hendra.
Aku tidak membawa barang banyak saat itu, karena memang tidak ada persiapan khusus l untuk kekota B. Aku hanya membawa pakaian yang Nia berikan untukku. Aku dan Mas Hendra kekota B menaiki Mobil Mas Hendra. Perasaan ku saat itu senang bercampur rasa cemas karena sudah hampir dua tahun ini aku tidak bertemu dengan Nia, Jangankan bertemu mendengar suaranya saja tidak. Mas Hendra berkali-kali mengatakan padaku untuk tidak cemas dan grogi. Tapi gerakan tubuhku tidak bisa dibohongi.
Kita berdua sampai sebelum fajar tiba. Angin malam yang sangat dingin menyambut kadatangan kami. Mas Hendra menghentikan Mobilnya disalah satu Hotel ternama yang ada dikota B.
__ADS_1
Hotelnya sangat mewah. Mas Hendra menyuruhku duduk disalah satu sofa yang disedikan oleh Hotel, Suasananya yang nyaman membuatku sangat mengantuk. Mas hendra menuju meja Resepsionis untuk memesan kamar. Setelah selesai memesan kamar Mas Hendra memberikan salah satu kunci kamar yang dipegangnya.
“Lho,, enggak sekamar?” Tanyaku dengan polos. Mas Hendra tersenyum Nakal melihatku.
“Ehhh,,, Iyaa sudah kalau mau sekamar. Berarti kita tidur satu kasur iya.” Kata Mas Hendra tertawa.
Aku hanya tersenyum dan memukul Mas Hendra dengan sebal. Ternyata Mas hendra memesan dua kamar Hotel untuk kita menginap malam ini. Mas Hendra mengantarku sampai didepan pintu kamar Hotel.
“Istirahat iya,,” kata Mas Hendra. Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Karena acaranya nanti jam 2 siang.” Sebelum Mas Hendra pergi, Mas Hendra mencium keningku agak lama.
Kamar Hotel ini sungguh sangat nyaman untukku. Nuansannya Putih tulang bersih dan Nyaman. Ada satu tempat tidur yang lumayan cukup besar dan dikanan kirinya ada sebuah meja kecil yang atasnya diletakkan sebuah lampu kecil. Didepan kasur ada sebuah layar televisi yang cukup lumayan lebar. Aku melihat pemandangan malam diluar jendela, ternyata sangat indah. Kerlap kerlip lampu kota B ketika malam seperti ini sangat terang seolah ingin menantang indahnya Bintang yang ada di langit. Aku mulai membayangkan apa yang akan terjadi besok. Ini adalah penentuanku aku akan memilih Nia dan Meninggalkan Mas Hendra atau Aku akan tetap bersama Nia tetapi hanya bersahabat dan Aku akan tetap bersama Mas Hendra. Segala kemungkinan akan terjadi.
🌳🌳🌳
Kegelisahan menghantui setiap relung hati yang merana
Sesuatu kemustahilan berharap menjadi Nyata yang tak terikat
Justru Tabulah yang menjadi momok terbesar dalam kehidupan
Apa yang salah mencoba dibenarkan
Apa yang benar mencoba untuk disalahkan
Roda akan terus berputar
Kadang juga berhenti ketika ada sebongkah Batu kecil yang menghentikannya untuk berputar
__ADS_1
Salam
Busa Lin