
Minggu malam hari jam 7 malam kupertemukan Nia dengan Mas Hendra. Kita menghabiskan malam bersama dengan suasan yang cukup akbrab.
"Iyaa... Akrab? Tapi seperti ada sesuatu yanh disembunyikan Nia, dia tidak terlihat senang."
Malam ini Aku pulang dengan Nia. Sebelum Nia mengantarku kekost Nia mengajakku kesuatu tempat, Nia menghentikan mobilnya didepan gerobak penjual jagung bakar.
Nia memesan 2 jagung bakar, sementara Nia sedang menunggu jagungnya matang. Aku mencari tempat duduk yang tidak jauh dari gerobak jagung bakar dan tempat yang aku duduki ini adalah gundukan kecil yang membentuk bukit. Dari atas sini aku bisa melihat pemandangan kerlap kerlip lampu di Kota P yang sangat indah. Rasa canggung dan Kikukku sudah bisa kuatasi.
“Ahhh,,, sudah lama aku tidak makan jagung bakar ditempat seperti ini.” Kataku pada Nia.
Aku menggigit jagung yang Nia berikan padaku. “Ni, tadi apa yang kamu bicarakan sama Mas Hendra?” tanyaku. Nia hanya diam saja.
“Ni, kamu enggak apa-apa?” Tanyaku yang melihat raut muka tidak senang.
“Tidak, aku tidak apa-apa?” kata Nia. “Lin,.boleh aku tanya sesuatu.”
“Apa? tanyakan saja?”
“Apa salah jika aku mencintai seseorang?”
“Tidak, tidak ada yang salah. Memang siapa yang kamu cintai?” tanyaku tanpa perasaan.apapun. Nia memandangku dalam.
“Kamu, Lin. Aku mencintai kamu.”
Deg...
Aku sempat terdiam mendengar kalimat itu.
“Mencintaiku karena aku sahabat kamu?” kataku.
Aku mencoba mengendalikan diriku dan aku tidak berani memandang Nia.
“Bukan, Lin.” Nia mulai memegang tanganku erat dan menatap mataku.
“Aku mencintaimu karena aku ingin menjadikan kamu sebagai kekasihku.Perasaanku ini sudah kupendam sejak lama, aku sudah berulang kali ingin mengatakannya padamu tapi selalu gagal."
Aku langsung berdiri dan melepaskan genggaman tangan Nia.
“Lin, terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi ini benar, Aku mencintaimu.
“Cukup, Nia... Cukup!!!” Teriakku. “Aku tidak ingin mendengar apapun tentang hal ini lagi!!" Teriakku
“Lin, Aku tahu ini semua adalah diluar kesadaran kamu. Aku tahu kalau kamu akan seperti ini. Tapi, Lin aku menyukaimu sejak pertama aku bertemu dengan mu.” Nia menatapku semakin dalam dan Nia berusaha memegang tanganku. “Aku mau kamu selamanya ada disisiku, Aku mau kamu kekasihku.”
“Itu tidak mungkin Nia... Tidak mungkin, aku dan kamu tidak akan bisa menjadi sepasang kekasih apalagi untuk hidup bersama, Itu tidak akan mungkin, Ni.” teriakku. Aku mulai menangis.
“Kenapa tidak? Apa karena kita ini sama-sama perempuan?”
“Itu.kamu sudah tahu jawabannya.” Jawab ku datar dan aku tidak berani memandang Nia.
__ADS_1
“Dan itu juga bukan satu-satunya alasan. Aku sudah punya pacar, yaitu Mas Hendra.”
“Lin, dengar aku baik-baik.” Nia memegang kedua lengan ku sangat erat. “Cinta itu bisa datang pada siapa saja, Apakah salah jika aku seorang perempuan mencintaimu, apakah salah jika aku bermimpi untuk bisa hidup denganmu?”
“Itu kesalahan, Niaaa. Itu tidak akan mungkin, Aku bermimpi ingin punya anak banyak, menikah dengan seseorang kucintai dan kehidupanku bahagia.” Aku mengusap air mataku yang tidak kunjung berhenti.
“Tapi, meskipun aku tidak bisa mewujudkan mimpi-mimpimu. Aku akan selamanya bisa membahagiakanmu hingga sampai saat terakhir.”
“Cukup!!! aku tidak ingin mendengarnya lagi. Aku dan kamu selamanya tidak akan bisa....” belum sempat aku melanjutkan kalimatku.
Nia menarik tanganku.
Deg...
Nia mencium bibirku. Aku menutup mataku, sejenak aku bisa merasakan bibir Nia yang hangat enempel dibibirku ini. Ketika aku sudah mulai sadar aku mendorong Nia dan berlari menjauhi Nia.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nia. Aku bisa merasakan kejujuran Nia yang membuat kita sama-sama terluka, membuat kita akan selamanya bisa menjauh. Aku tidak tahu kapan lagi akan bisa menghadapi Nia lagi.
***
Sejak kejadian itu hubunganku dengan Nia tidak seharmonis seperti dulu. Nia selama 1 minggu ini tidak menghubungiku. Terakhir kabar yang aku dengar dari Ketty, Nia akan segera meresmikan Butik barunya itu. Selama 1 minggu ini pun aku juga tidak pernah menghubungi Nia, apalagi menanyakan kabarnya.
Aku dan Nia punya kesibukan masing-masing. Untuk melupakan semua yang terjadi antara aku dan Nia, Aku selalu meyibukkan diri. Aku selalu berusaha untuk memfokuskan segala kegiatan Organisasi ku, dari mulai ikut kerja bakti, mengikuti kemana senior pergi ketika sedang bertugas. Kuliah aku selalu mencoba berkonsentarasi penuh, supayanaku bjsa melupakan penuh kejadian malam itu.
***
“Ternyata tidak salah aku membawamu kemari, Lin?” Suara itu mengagetkanku.
Aku mencari-cari sumber suara itu. Ternyata Mas Hendra, Mas Hendra berjalan kearahku dan duduk disebelahku.
“Gimana suka sama pemandangannya?” Tanyanya lagi.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan tersenyum kepadanya.
“Lin, Aku tahu gimana perasaan kamu sekarang?” Aku hanya menatap Mas Hendra dengan pandangan datar dan tidak tahu apa yang hatus kukatakan.
Aku sudah menceritakan semuanya pada Mas Hendra mengenai Nia yang menginginkanku menjadi kekasihnya. Mas Hendra awalnya terkejut mendengar cerita ini tapi dialah orang yang paling pengertian didunia ini. Mas Hendra sama sekali tidak marah padaku dan itu dianggapnya wajar.
"Wajar???"
"Iyaa,, Mas. Tapi menurut Mas Hendra, Apa yang harus kulakukan?” Tanyaku.
“Tidak ada, mengalir seperti biasanya. Wajarlah, kalau Nia itu menyuakai kamu, Lin. karena orang seperti Nia itu tidak akan bisa menyukai orang lain lebih dari rasa sukanya sama kamu. Kamu ingat tidak? ketika Nia mengatakan, kalau kamu adalah Inspirasinya?” tanya Mas Hendra.
“Iya, ingatlah Mas.” jawabku singkat.
“Nia juga pernah mengatakan itu padaku secara langsung, Nia seperti seorang laki-laki gentelman.”
“Benarkah? Kapan?” Tanyaku sedikit terkejut. “Kok, Mas Hendra enggak pernah cerita padaku?”
__ADS_1
“Waktu pertama kali aku bertemu dengan Nia. Waktu kamu mengajak kita berkenalan.”
“Ohh,, iya itu. Aku ingat, saat kalian berdua aku tinggalkan dan kalian ngobrolnya sangat Asik, jika dilihat. Ceritanya gimana, Mas?” Tanyaku yang mulai penasaran. Mas Hendra mulai menceritakan apa yang sebenarnya mereka berdua bicarakan waktu di Kafe Kopi.
***
“Wah,,.aku sangat beruntung. bisa bertemu denganmu disini. awalnya aku tidak yakin ketika Liana mengatakan padaku bahwa kamu adalah sahabatnya.” Mas Hendra memulai pembincaraan. “Lin, banyak cerita tentang kamu.”
"Lin, juga banyak cerita tentang Mas Hendra padaku.”
“Wah.. jadi secara tidak langsung aku dan kamu sudah mengetahui segalanya satu sama lain. ini semua berkat, Lin."
“Mas Hendra, benar mencintai Lin?” tanya Nia dengan muka serius. Mas Hendra menganggukan kepalanya.
“Bagaimana dengan mu?” Tanya Mas Hendra.
Seketika itu raut wajah Nia berubah, dia sepertinya belum siap menerima pertanyaan itu.
“Iyaa,, Aku mencintai Lin. Bukan sebagai teman tapi seseorang yang benar-benar mencintainya dan menjadikannya seorang kekasih.”
"Ohhh begitu,,, Aku yakin orang sepertimu tidak akan berani mengatakannya.” Jawab Mas Hendra santai.
“Kamu tahu kan tentang mimpikan, Nia?”
“Aku tahu,, tapi aku yakin satu hal. Kalau aku akan bisa membahagiakan Lin, lebih dari apapun dan asalkan Mas Hendra tahu, Lin adalah Inspirasiku, dia adalah Inspirasi dari semua karya-karya aku.” Kata Nia.
Wajah Nia terlihat merah dan matanya memancarkan amarah.
***
Mas Hendra mengakhiri ceritanya dengan Nafas panjang dan melihat sikapku yang sedang tidak menentu ini. Mas Hendra hanya memelukku mencoba menenangkanku.
“Hahh,, Lin.” Mas Hendra melepaskan pelukannya dan menatapku.
“Apakah mungkin, aku harus bersaing dengan seorang wanita untuk mendapatkan cintamu.” Kata Mas Hendra.
“Maksud,nMas Hendra apa?” Aku menekan suaraku dan mencubit lengannya.
" Hahahah,,, sakit tahu. Iya, yang aku harapkan itu, setidaknya aku bersaing dengan seorang laki-laki yang tampan atau konglomerat atau siapalah seorang laki-laki untuk mendapatkan cintamu. Eh... Ini malah...” Mas Hendra berlari menjauhi ku.
“Apa?bkalau tidak suka dengan ku tinggalkan saja aku,,,” Aku berteriak dan berusaha mengejar Mas Hendra. Mas Hendra hanya tertawa saja dan berusaha menghindariku.
Aku dan Mas Hendra berlari-larian dipinggiran pantai dengan demburan ombak yang sangat indah dan temani dengan Matahari yang akan mulai tenggelam. Sejenak aku bisa melupakan masalahku dengan Nia.
🌳🌳🌳
Salam
Busa Lin
__ADS_1