
“Selamat Pagi?” Kata Nia yang membuka jendela kamar yang terasa silau dimataku.
“Nia,,, silauuuu,,,,” Kataku sebal. Aku menutupi wajahku dengan selimut.
“Bangun, kamu tidak ada kuliah apa?” Tanya Nia padaku. “Kok, jadi aku yang membangunkanmu seperti ini?” kata Nia.
“Hari ini aku tidak ada kuliah,,, Aku ngantukkk.” Kataku yang merengek dari dalam selimut. “Biarkan untuk hari ini aku tidur sampai siang, Niaa.” Lanjutku.
“Iyaa,,, aku tahu?” Kata Nia pasrah.
“Aku mau pergi dulu iya?” lanjut Nia. Aku langsung membuka selimutku.
“Mau kemana?” tanyaku. “Aku ditinggal sendiri disini?” kataku dengan wajah cemberut. Nia melihatku dan duduk dihadapanku.
“Iya,, hanya sampai jam 1. Aku harus kebutik, apa mau ikut?” Kata Nia yang merapikan rambutku yang acak-acakan. Aku menggeleng dengan cepat karena aku belum mandi dan masih ngantuk.
“Iyaa,, udah aku berangkat dulu iya?” Nia melihatku. Nia menatapku dalam, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa dia katakan. Aku hanya melihatnya saja.
Nia berdiri dan berjalan kearah pintu keluar.
“Biar,, ku antar sampai depan?” Kataku yang berjalan mengikuti Nia.
“Oya,, Lin? Kulkas masih kosong, jadi nanti tolong belanja iya?” Kata Nia sebelum pergi berangkat kerja.
"Aku???"
“Iya kamu? Aku meninggalkan ATM dilaci kamar pin-nya Ulang tahun mu.” Lanjut Nia.
Aku hanya mengangguk mengiyakan dan tidak bertanya banyak padanya. Aku mengantar Nia sampai depan pintu dan melihat Nia dari jauh menaiki lift.
Setelah Nia berangkat bekerja, niatku akan melanjutkan tidur ternyata aku tidak bisa tidur kembali. Aku lalu membereskan tempat tidur dan mandi, setelah itu aku bersiap untuk pergi belanja sesuai apa yang tadi Nia perintahkan padaku. Aku berjalan melewati lorong yang agak panjang ini karena kamar Nia yang berada disudut. Aku memasuki lift dan menekan tombol 1 untuk kelantai paling dasar. Setelahnya sampai di Lantai satu salah satu pegawai Apartemen itu memanggilku dan menyerahkan kunci motor untukku. Aku binguung ketika menerima kunci itu, tapi setelah pegawai itu menjelaskan ternyata dari Nia. Nia menyediakannya untukku.
“Nia, Kamu ini...” Tanyaku setelah nada tunggu tersambung juga.
“Aku sedang menyetir, Nanti saja bicaranya?” Kata Nia yang tiba-tiba menutup teleponnya begitu saja. Belum sempat aku bicara suara nada terputus sudah terdengar.
“Hehh,,, Aku belum selesai bicara. Awas kamu kalau pulang.” Kata ku sebal. Orang lain yang melihatku berbicara sendiri diparkiran hanya kebingungan.
Akupun menemukan sepeda motor yang Nia pinjamkan untukku, ternyata motor matik berwarna biru. Aku mengendarai motor itu dan mencari supermarket terdekat. Aku harus melewati beberapa lampu merah untuk sampai ke supermarket yang aku tuju. Akhirnya sampai juga disupermarket Aku mengambil troli.
Aku berkeliling mencari bahan makanan yang mudah dimasak karena jika Nia tidak ingin makan diluar jadi masak sendiri. Aku mengambil beberapa sayur-sayuran segar, daging sapi, sosis dan beberapa nuget.
***
Pagi hari ketika Nia akan bersiap untuk berangkat kebutik barunya aku sedang menyiapkan sarapan untuknya. Sarapan pagi itu Simple tidak ribet hanya roti yang kubakar dan aku menggoreng telur mata sapi untuknya. Aku letakkan semua sarapan yang telah kubuatkan untuk Nia diatas meja sebelum dia datang kemeja makan tidak lupa susu coklat hangat ku letakkan disamping piring makanan itu.
Aku sudah mengetahuinya ketika Nia berjalan kearahku tanpa suara sepatu terdengar karena aku sudah hafal dengan bau parfumnya yang lembut itu. Seperti biasa ketika aku sedang berkutat dengan cucian piring di wastafell, Nia langsung mememeluk pinggangku dari belakang dan selalu mengatakan.
“Selamat Pagi, Lin?”
“Pagi...” Kataku sambil tersenyum. Lalu aku melepaskan tangan Nia yang melingkar dipinggang ku.
“Sarapan dulu, Ni. Aku sudah membuatkan ini untukkmu.”
“Iyaa,, Lin nanti mau ikut enggak ke butik aku?” Tanya Nia. Aku melihat Nia sedang mengoleskan selai dirotinya.
“Ngapain?” Kataku. Aku berjalan kearah Nia dan duduk dikursi dihadapannya.
“Eh,, Ni. Kapan kamu sama Mas Hendra bisa bertemu. Aku kan ingin mengenalkan kalian berdua.” Kataku tanpa dosa mengatakan itu.
__ADS_1
Aku melihat reaksi diwajah Nia berubah. Entah reaksi apa itu, Marah ataukah senang.
“Enggak tahu,,” Kata Nia. Nia hanya mengangkat bahunya saja.
Ting... tong... ting.... tong
Suara bell berbunyi dari arah luar pintu Apartemen Nia. Aku dan Nia saling berpandangan heran. Pagi-pagi seperti ini sudah ada yang berkunjung. Nia akan membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang tapi aku menyuruh Nia untuk tetap duduk dan menyelesaikan sarapannya. Aku berjalan kedepan untuk membukakan pintu.
Aku sedikit terkejut ketika yang datang itu adalah seorang perempuan berwajah asia cantik tapi saat itu aku tidak tahu dari mana asalnya berambut hitam panjang dan memliki tubuh yang tinggi berkulit putih. Aku memperhatikanya dari ujung rambut hingga ujung kaki dan diapun tidak kalah memandangku dengan tajam. Aku melihat dia membawa koper yang sangat besar.
"Selamat pagi, Saya ketty dari Thailand." Kata perempuan itu dengan berbahasa ingris tapi aksen thailandnya masih kentara.
“Selamat pagi... Cari siapa?” Tanyaku dengan berbahasa inggris.
“Aku mencari Nia Venatan, kudengar dia tinggal disini.”
Nia, perempuan ini mencari Nia. Ada Urusan apa? Aku menyuruhnya untuk menunggu diluar.
“Nia? Ada yang mencari mu?” Teriakku. Nia hanya melongokkan kepalanya dari meja makan dan wajah Nia terlihat bingung.
“Siapa yang mencariku sepagi ini.” Kata Nia. Nia beranjak dari kursinya dan berjalan kearah depan.
Aku mendengar suara teriakan dari perempuan itu dengan nada senang. Aku hanya menganggapnya biasa.
“Mungkin teman Nia..” gumamku.
Aku membuatkan minum untuk perempuan yang bernama Ketty itu. Aku berjalan menuju ruang tamu dan Aku sangat terkejut ketika melihat pemandangan yang aku lihat saat ini. Aku menghentikan langkahku dan aku mundur selangkah supaya keberadaanku tidak terlalu terlihat. Aku berdiri dibalik lemari kaca untuk memperhatikannya kembali kalau yang aku lihat salah. Aku melihat Nia dan Ketty sedang berpelukan, aku menganggap wajar saja tetapi yang aku lihat adalah Nia dan Ketty sedang berciuman entah siapa yang memulai duluan Nia yang mencium Ketty atau Ketty yang mencium Nia. Aku bingung harus melakukan apa,
“Pura-pura tidak tahu dan tetap mengantarkan atau,, atau... apa iya,,,” Batinku.
Saat itu aku gelisah, sebab ini pemandangan yang pertama untukku antara sesama perempuan saling berciuman. Aku memperbaiki posisiku dengan tetap membawa minuman ini, untung saja tidak jatuh. Aku memberanikan diriku untuk berjalan kearah mereka.
“Ini, aku buatkan minuman untuk Ketty, Ni?” Kataku. Aku berjalan menuju meja dan meletakkan minuman itu.
“Ni,, Siapa dia?” Tanyaku yang berusaha tersenyum.
“Ah,, i..ini...” Nia mengatakannya terbata-bata dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Aku tidak pernah melihat Nia yang seperti ini. Nia berjalan kerah ku dan diikuti oleh Ketty.
“Ini... Ketty Lin. temannku dari thailand,,, Dia ini...” Nia melihat kearah ketty.
“Aku adalah teman spesial Nia. Kita dekat saat Nia tinggal di Thailand.” Kata Ketty mantap dan merangkul lengan Nia.
Aku hanya mengangguk-ngagguk, antara mengerti dan tidak mengerti. Suasana seketika itu hening, Entah apa yang ada dipikiran Nia saat ini yang aku lihat Nia hanya berwajah bingung dan salah tingkah.
“Ni... Mau berangkat jam berapa? Aku mau kuliah ini?” Kataku memecah keheningan.
Aku berjalan kearah kamar untuk mengganti pakaian. Nia mengikutiku dari arah belakang dan meninggalkan Ketty sendiri diruang tamu.
“Ketty mau tinggal disini juga, Ni?” Kataku dari arah kamar mandi. Aku sedang mencuci mukaku.
“Tidak tahu, Lin. Kamu tidak apa-apa kan kalau dia tinggal disini?”
“Tidak.” Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah heran.
“Maksudku tidak apa-apa, Ini kan Apartemen kamu. Kamu berhak untuk menyuruh siapa saja untuk tinggal disini. Termasuk Ketty.” Kataku menggebu, Entah dari mana kata-kata itu keluar begitu saja.
“Kamu marah iya?” Kata Nia. Nia berjalan kearahku.
__ADS_1
“Tidak,, untuk apa marah, Nia.” Aku hanya tersenyum.
Aku sedang merias diriku didepan cermin. “Aku kan sudah bilang, itu terserah kamu.” Kataku.
Aku berjalan kerah Nia dan mengambil tasku.
“Kalau kamu, enggak berangkat duluan. Kalau gitu aku yang berangkat duluan.” Aku meninggalkan Nia dikamar.
Sekilas kulihat Nia melihatku sampai aku tidak ada dihadapannya
***
Aku tidak tahu apa yang sedang dipikiranku saat ini ketika melihat Nia dan Ketty seperti itu. Aku sedang memikirkan setelah aku meninggalkan mereka berdua apa yang akan mereka lakukan. “Husttttt,,,,” Aku menggelengkan-gelengkan kepalaku dan membuang rasa curiga dan perasaan yang jorok dari kepalaku.
Aku fokuskan mengendarai motor maticku dengan sangat cepat tujuanku memang kekampus tapi pagi ini aku memang tidak ada kuliah. Aku hanya berasalan pada Nia supaya aku bisa keluar dari apartemen itu dengan segera mungkin karena aku tidak ingin melihat hal yang aneh-aneh lagi.
Aku menuju perpustakaan untuk membuang buang waktu sambil menunggu jam kuliah. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong perpustakaan yang kanan kirinya terdapat rak buku yang tinggi-tinggi dan buku-buku yang tidak tertata dengan rapi.
Aku berhenti disalah rak buku dan mengambil Novel yang sedang ingin kubaca kemudian aku duduk disalah satu bangku dan mulai berkonsentrasi untuk membaca Novel itu. Tapi, Nihil konsntrasiku hilang. Aku tetap mengingat ingat kejadian tadi pagi. Aku mencoba untuk fokus kembali, ternyata bayangan itu muncul lagi.
“Sial,, Siapa sih perempuan bernama ketty itu. Siapa Dia? Ketty bilang dia adalah teman spesial Nia dithailand. Tapi apa urusannya dengan ku. Itu hidup Nia. Tapi kan,, Nia itu... ketty...” Aku hanya bisa menggumam berbicara sendiri seperti orang gila.
Tiba-tiba saja Ponselku bergetar-getar ternyata ada 3 sms yang masuk dari Nia
dan Mas Hendra.
Lin,
Nanti kita ketemu iya di Kafe biasa?
**Mas Hendra
Lin,
Jam 4 sore aku jemput kamu?
Mas Hendra
Lin,
Besok kamu kujemput? Aku akan menunjukkan butiknya besok padamu.
Nia**
Membaca ketiga SMS itu aku sangat senang karena aku mempunyai kesempatan untuk mempertemukan mereka berdua. Aku mau bertemu dengan Mas Hendra ditempat biasa kita bertemu yaitu Kafe Kopi. Lalu aku mau untuk ikut Nia kebutiknya tetapi dengan satu syarat dia harus mau bertemu dengan Mas Hendra.
🌳🌳🌳
Ketika Prahara Cinta mulai diuji
Tak biasa menghadapi suatu hal yang dianggap Tabu
Jika memang tak ada hal yang mampu membendung perasaan
Maka apakah rasa itu akan tetap ada atau rasa itu akan dipertanyaankan?
Sebab atas alasan Rasa itu, semua hal dibenarkan
Busa Lin
__ADS_1