
Aku dan Nia sudah berjanji akan selalu memberikan kabar apapun yang terjadi. Tentang pertunjukkan yang kutonton tadi. Aku mengirimkan Video rekaman pertunjukkan Dance itu pada Nia. Nia juga melihatnya sangat takjub dan senang. Aku menceritakan semuanya pada Nia by Phone.
Tentang M&M Latin’s Dance dan seseorang yang bernama Hendra. Akupun sudah berjanji pada Nia suatu saat kalau Nia sudah pulang ke Indonesia aku akan mengenalkan padanya.
Hari ini setelah kuliah selesai aku harus menyerahkan beberapa laporan kepada Dosen karena tugasku yang menumpuk. Aku disibukkan oleh kegiatan Organisasiku. Aku langsung kembali kekost untuk beristirahat. Tidak sengaja aku melihat brosur yang diberikan oleh Mas Hendra yang aku tempel didinding.
Pertunjukkan mereka 3 hari lagi dari sekarang.
***
Pertunjukkan itu akan diselenggarakan pukul 7 malam. Sebelum pukul 7 aku sudah berangkat kealun-alun.
Malam itupun aku melihat pertunjukkan yang mereka selenggarakan di Alun-alun. Kali ini aku menonton pertunjukkan tidak sendirian aku mengajak beberapa temanku. Semua temanku sangat kagum melihat pertunjukkan mereka.
Semua penonton yang hadir betepuk tangan setelah mereka melakukan performance karena M&M Latin's Dance sangat hebat dan menghibur.
“Wahh,, Mas Hendra Hebat iya?” Tanyaku kepada Mas Hendra yang saat itu sudah selesai melakukan pertunjukkan. Ekspresi wajah Mas Hendra hanya biasa saja. “Belajar Dance seperti ini dari kapan?”
”Dari kecil, Lin. Dance seperti ini juga salah satu hobi.” Jawab Mas Hendra. “Kamu suka menari, Lin?”
“Suka, tapi??" Aku menggantung kalimatku. "Aku enggak pernah bisa yang namanya Nari atau dance-dance seperti itu, Mas.” Jawabku jujur. “Aku tuh dari dulu paling suka dan kagum ketika melihat orang menari. Baik itu tarian tradisonal ataupun modern, dari setiap gerakan mereka seperti ada sesuatu yang disampaikan oleh penari kepada yang melihat, Mas. Contohnya saja Ekspresi wajah dan gerakan yang bisa membuat Aura mereka sampai kepenonton." Aku tidak berhenti bicara. "Wahhh... rasanya jika aku melihat mereka menari seperti aku ikut menari bersama mereka, Mas.” Jelasku panjang lebar dan Mas Hendra hanya mendengarku tanpa bisa bicara apapun.
Akupun jadi tidak enak hati karena aku banyak bicara. “Maaf, Mas? jadi banyak bicara.” Kata ku tersenyum malu.
“Enggak apa-apa,, Aku malah senang dengarnya.” kata Mas Hendra. “Enggak belajar menari aja? Dari pada Cuma bisa mengangumi?”
“Iyahh,, Mas Hendra." Aku menepuk dahiku karena gemas pada diri sendiri. "Dari mulai SD aku belajar Seni Tari Tradisonal sampai SMP gerakan ku sama sekali enggak pernah luwes. Muatan Lokalku untuk Seni Tari pasti hanya mendapat Maksimal nilai 7 itupun kalau beruntung. Aku enggak berbakat jadi penari.” Mas Hendra hanya tertawa mendengar kejujuranku.
“Tapi yang aku rasakan kamu sepertinya Suka dan mengagumi Kesenian lain, Lin.” Kata Mas Hendra. “Pasti selain kamu mengagumi Seni Tari, Kamu mengagumi... contohnya Seni Lukis atau Musik gitu?”
“Yapzzz..." Aku bertepuk tangan karena girang dan Mas Hendrapum terlihat terkejut.
"Tebakkan Mas Hendra itu tepat sekali, Mas.” Kataku bersemangat karena tebakan Mas Hendra benar.
“Iyaa,, betul itu, Mas. Aku sangat Mengagumi Kesenian Apalagi Seni Lukis.” Mas Hendra hanya tersenyum padaku. “Aku tuh selalu penasaran sama para pelukis profesional dapat Inspirasi dari mana gituuu... bisa melukis, lukisan sebagus itu. Sedangkan aku saja sangat susah untuk menggambar pemandangan supaya terlihat hidup. Tapi mereka dengan sekali gores, bisa membuat kertas yang kosong menjadi hidup dengan gradasi warna-warna yang sangat indah.”
__ADS_1
“Terus Musik? Alat musik apa yang paling kamu suka?” Tanya Mas Hendra memancingku lagi.
“Alat Musik Gitar dan Piano. Kalau aku melihat seseorang bermain kedua alat musik ini. Jangan harap dahh... Mata ini lepas memandang.” Jawabku bersemangat.
“Tapi iya itu, Mas. Aku hanya bisa mengagumi saja dan berandai-anda, Mas. Jika aku bisa seperti ini, Jika aku seperti itu,,,. “ Aku mendesah. “Mungkin karena aku enggak punya bakat khusus kali iya, Mas. Kalau saja aku punya Bakat lebih, pasti aku akan dengan mudah melakukan sesuatu hal yang aku senangi.” Kataku tertawa dan Mas Hendrapun ikut tertawa. Tawanya renyah sekali seperti memakan kerupuk.
“Teater gimana?” Tanya Mas Hendra lagi.
Aku hanya melihat Mas Hendra bingung.
"Kenapa ada orang yang dengan sabar mendengar aku bicara panjang lebar seperti ini?"
Deni saja salah satu temanku sejak dari SMA kalau aku bicara panjang lebar pasti dia tidak akan pernah fokus untuk mendengarkan. Aku berfikiran Mas Hendra ini seperti Nia. Nia yang selalu setia dan sabar mendengarkan segala ceritaku. Aku diam sejenak dan memandang Mas Hendra yang sedang tersenyum.
“Heii,, Kok diam?” Mas Hendra membangunkanku dari lamunan.
“Ah,, Teater sama saja seperti yang lain, Mas.” Kataku. “Kalau Mas Hendra kenapa senang menari? Ini pekerjaan atau hanya hobi?” Tanyaku.
“Ini hanya Hobi bukan pekerjaan. Kalau pekerjaanku berbanding terbalik dengan Hobiku, Aku bekerja di Bidang IT.” Jawab Mas Hendra. “Iyaa,, Kayak kamu, Kamu senang Seni tapi mengambil jurusan Teknik Sipil.” Kata Mas Hendra.
“Jadi apa yang kamu cari, Lin?” Tanya Mas Hendra padaku. Mas Hendra menatapku dan aku terdiam.
“Entalah, Mas.” Jawabku. “ Mungkin,,, Keindahan dan Kenyamanan itulah yang selalu aku cari dalam setiap perjalananku, Mas.”
"Keindahan dan Kenyamanan?” tanya Mas Hendra padaku.
Tetapi aku hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Mas Hendra.
“Lin, Aku yakin. Setiap orang diciptakan didunia ini, Pasti memiliki bakatnya masing-masing. Mungkin saat ini kamu hanya bisa mengagumi hasil karya orang lain tapi aku yakin suatu saat bakat kamu yang terpendam pasti akan bisa dikagumi orang lain.” Kata Mas Hendra.
Kalimat Mas Hendra itu membuatku merasakan ada sesuatu yang mendorongku untuk melakukan sesuatu yang harus aku keluarkan. Tapi apa? Apa yang aku bisa kukembangkan dalam diri aku. Aku hanya bisa mengagumi dan senang melihat karya orang lain dan selalu bermimpi dan berkhayal.
Aku menghela nafas panjang, bingung harus mengatakan apa pada Mas Hendra. Aku menerawang jauh melihat Langit yang gelap diatas sana tanpa ada satu bintang yang berkelip seolah selalu mengejekku.
“Andai saja aku bisa terbang, Aku ingin seperti Peter pan yang bisa terbang kemanapun dia mau dan tidak pernah harus memikirkan segala apapun tentang kehidupan orang yang sudah dewasa apalagi memikirkan bakat apa yang terpendam dan apa yang harus dilakukan. Aku ingin seperti Peter pan yang selalu menjadi anak kecil.” Aku hanya bisa berbicara dalam hati tanpa mengungkapkan kepada Mas Hendra
__ADS_1
Malam ini aku habiskan bersama Mas Hendra. Mas Hendra mengantarku pulang dan Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan perasaanku. Ini adalah pertama kalinya aku banyak bicara kepada orang lain selain dengan Nia. Mas Hendra ini adalah seseorang yang belum lama aku kenal, tapi aku merasa Nyaman dan tenang ketika aku bicara dengannya dan tidak ada yang aku tutup-tutupi.
“Apakah? Perasaan ini adalahh....”
Belum sempat aku bisa menerka semua yang ada dipikiranku. Ponselku berdering dan aku sudah bisa menebak pasti Nia yang sedang menelepon. Aku mengangkat telepon dari Nia dan menceritakan segala apa yang terjadi denganku dan Mas Hendra. Nia mendengarkan aku bicara tanpa mengeluh sedikitpun seperti Mas Hendra yang mendengarkanku dengan baik.
🌳🌳🌳
Cinta
Cinta
Tak satupun orang tahu pasti apa arti Cinta?Ada Cinta yang bisa membuat Bahagia dan tertawa Girang
Ada juga Cinta yang bisa membuat kesengsaraan
Bagaimana jika memilih Cinta Bahagia?
Jika suatu saat Cinta yang dielu-elukan bisa membuat Buta
Bagaimana jika memilih Cinta Kesengsaraan
Jika suatu saat Cinta yang menusuk membawa kebahagiaan
Tergantung??
Bagaimana masing-masing diri menyikapi
Temukan?
Rasakan?
dan Berbahagialah
Salam
__ADS_1
Busa Lin