My Muse 'Kamulah Inspirasiku'

My Muse 'Kamulah Inspirasiku'
BAB 32 PERTENGKARAN HEBAT


__ADS_3

Hiruk pikuk tentang Launching butik Never Land telah usai. Setelah Never Land diresmikan, butik itu semakin lama semakin ramai oleh pengunjung. Harapan Nia terkabul, ingin mempunyai butik sendiri dan tidak bekerja dengan orang lain lagi. Aku turut senang mendengar berita itu.


Aku harus bisa melupakan segala kajadian tentang Nia pada saat itu, Nia tetaplah sahabatku. Biarkan ini menjadi kenangan untukku. Nia mencintaiku bukan sebagai sahabatnya tetapi Nia mencintaiku karena dia ingin menjadikanku kekasihnya. Pembahasan ini tidak lagi pernah kuungkit ketika aku sedang bersama Mas Hendra. Aku sangat beruntung mempunyai kekasih seperti dia yang bisa mengerti aku, mengerti tentang kesibukanku dan bisa mengerti mengenai hubunganku dengan Nia.


***


Sampai saatnya, siang itu ketika aku sedang bersama Mas Hendra disuatu Mall. Salah satu Manager Nia menghubungiku. Dia mengatakan kalau Nia akan pergi meninggalkan Indonesia hari ini juga. Aku langsung berlari meninggalkan Mas Hendra mengejarku dari belakang. Aku berlari sekencang yang aku bisa dan akupun menangis.


“Jangan pergi seperti, Ni?” Batinku.


“Ada apa, Lin?” Mas Hendra berhasil meraih tangaku dan wajah Mas Hendra terlihat cemas.


Aku tidak menjawab Mas Hendra, Aku bingung harus mengatakan apa padanya.


“Lin, jangan membuatku cemas?”


“Nia,,, Mas?” Suaraku bergetar.


“Kenapa dengan Nia? Ada apa?” Katanya.


“Nia, Mau pergi Mas? Nia enggak boleh ninggalin aku kayak gini, Mas?” Kataku.


Aku akan segera berlari. Tetapi mencegahku, Mas Hendra mengatakan Akan mengantarku ke Apartemen Nia.


Didalam mobil berulang kali Mas hendra menenangkanku dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi tetap saja perasaanku tidak menentu, yang aku pikirkan hanya Nia.


Dikoridor lorong Apartemen Aku melihat Nia dan Ketty sudah membawa Kopernya. Aku memanggil Nia, tetapi Nia hanya melihatku dan berlalu begitu saja. Aku tidak menyerah.


“Nia,,, Dengerin aku dulu.” Kataku ketika aku berhasil menyeimbangkan langkahku dengannya dan mencoba menghentikannya. Nia hanya diam saja dan tetap berjalan meninggalkanku.

__ADS_1


“Nia,,, Aku minta maaf . Kalau aku salah sama kamu?” Lanjutku dan Aku berlari mengejar Nia.


Tujuan Nia ketempat parkiran, Aku tetap mengikuti Nia yang terus berjalan bersama Ketty dan Mas Hendra tetap terus mendampingiku. Kali ini Nia menghentikan langkahnya sebelum dia memasuki mobil. Lalu Nia melihatku dan Mas Hendra.


“Sekarang gini, Lin?” Kata Nia sambil melihat Mas Hendra dengan wajah tidak senang.


“Kamu pilih Aku atau Dia?” Katanya.


Belum sempat aku menjawab Nia memasukkan Kopernya kedalam Mobil dan Ketty sudah duduk manis didalam mobil.


“A,, apa? Maksudmu?” Kata ku tidak mengerti.


Aku melihat Nia dan Mas Hendra dengan perasaan tidak mengerti.


“Akuu,,,,” Kataku menggantung kalimatku.


“Kamu enggak bisa Jawab kan?” Kata Nia yang akan segera masuk kedalam mobil tapi aku menghentikannya.


“Tunggu duluu,, Aku enggak akan bisa memilih diantara kalian? Aku dan kamu adalah sahabat Nia,  dan Mas Hendra...” Aku tercekat tidak bisa melanjutkan kalimatku.


“Mas Hendra? Kenapa? Kamu mau bilang dia Pacar kamu? iya kan?” Kata Nia dengan Wajahnya yang marah.


“Aku tahu, Aku tidak sempurna, Lin. Aku tahu tentang segala mimpi-mimpi kamu. Aku tahu di masa depan, kamu ingin menikah dan memiliki anak yang banyak. Aku tahu, aku....” Nia tidak melanjutkan kalimatnya. Nia memandangku sangat dalam.


“Aku tahu, Aku tak akan pernah bisa mewujudkan mimpi-mimpimu itu.” Kata Nia mempelankan suaranya.


“Tapi yang harus kamu tahu, Aku akan selalu mencintaimu dan tak akan pernah meninggalkan mu, Lin?” Kata Nia.


Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan yang aku bisa lakukan hanyalah tertunduk lemas dan berharap saat itu juga Tuhan mengambil nyawaku. Nia melihatku dan memegang pundakku.

__ADS_1


“Sekarang kamu tidak akan bisa menjawab, Lin? Aku tahu kamu akan memilih Mas Hendra?” Kata Nia.


Nia masuk kedalam Mobilnya dan mobil yang di Kendarai Nia melaju dengan sangat cepat. Aku tetap berusaha mengejar Nia dan memanggil-manggil Nia. Tetapi Mas Hendra menghentikan langkahku dan memelukku yang sedang menangis.


“Aku tidak ingin Nia pergi meninggalkan ku seperti ini.” Kataku padanya.


“Setidaknya dia bisa menerima semua keputusan ini.” Aku menangis dipelukkan Mas Hendra dan Mas Hendra berusaha menenangkanku.


Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Nia. Aku memang tidak akan bisa memilih diantara Mas Hendra dan Nia karena mereka berdua adalah kekasih dan sahabatku.


***


Sejak kejadian itu aku tidak pernah mendengar kabar Nia sama sekali. Nia benar-benar pergi meninggalkanku. Aku selalu mengikuti kabar Nia lewat media online tapi tetap saja keberadaan Nia tetap tidak bisa kuketahui secara jelas karena Nia adalah tipe orang yang akan dengan mudah berpindah dari satu negara kenegara lain karena pekerjaannya ini. Terakhir kabar yang aku dengar Nia berada di Jepang dan lalu dia berada di Cina. Aku sudah berkali kali mencari Nomor Ponsel Nia yang masih bisa dihubungi dan akupun sudah mendatangi butik Nia tapi Nihil petugasnya hanya diam saja dan merahasiakan keberadaan Nia.


🌳🌳🌳


Desiran hati membuat kebahagian semakin berkelana


Menembus hati yang kelabu


Mengharap suatu kepastian yang Fana


Berteman dengan ketidakpastian


Melepaskan belum tentu merelakan


Hanya saja Ego yang bermain


Menari-nari mengacak Sukma yang temaram Sinar Bulan meredup tertutup Awan kemerahan

__ADS_1


Salam


Busa Lin


__ADS_2