My Muse 'Kamulah Inspirasiku'

My Muse 'Kamulah Inspirasiku'
BAB 36 MUSE, KAMULAH SAKSINYA


__ADS_3

8 Bulan kemudian


“Muse adalah tempat dimana aku dan kamu berbagai cerita, Muse adalah Nama yang Kamu berikan untuk Danau ini dan Muse adalah Saksi dimana kita adalah Sahabat baik untuk selamanya. Aku tidak bisa membohongi perasaan sayang ku padamu tapi itu hanya sebatas sayang sebagai sahabat, sahabat untuk selamanya. Dalam benakku sedikitpun aku tidak pernah membayangkan kalau Aku akan meninggalkanmu Nia dan kamu akan selalu ada disisiku. Disisi lain aku sangat mencintainya, meskipun Mas Hendra bukan cinta pertamaku tapi dia adalah pacar pertama dan terakhirku. Aku tahu ini sangat berat untukku, Kamu dan Dia. Tapi ini adalah keputusanku, Aku lebih baik meninggalkan kalian dan hidup sendiri. Meskipun aku mempunyai harapan dan impian bersama Mas Hendra. Aku selalu sayang sama Kamu dan Dia selamanya.”


Aku menutup buku diary ku dan menatap Indahnya danau ini. Aku menggunakan desain pakaian gaun malam yang diberikan Nia sebelum dia pergi untuk meninggalkanku selamanya. Sama dengan waktu itu suasananya ketika aku dan Nia berada disini menceritakan segala kisah yang aku alami dan ketika Nia mencari Inspirasi untuk Desain Pakaiannya itu. Kini semuanya berubah, aku duduk sendiri disini menikmati Indahnya pemandangan ini.


Sejak kejadian diacara Fashion Show waktu itu aku sudah tidak tahu lagi kabar Nia bagaimana mungkin Nia sudah sangat membenciku dan tidak ingin bertemu denganku lagi. Hubunganku dengan Mas Hendra aku memutuskan untuk meninggalkan Mas Hendra selama-lamanya. Aku tidak mau ada lagi yang terluka karena biarlah ini menjadi kisah perjalanan hidupku. Sahabat terbaikku pergi meninggalkan ku selama-lamanya dan Kekasihku pun sudah aku tinggalkan.


Aku memejamkan mataku dan memasang Earphone ketelingaku dan memutar sebuah lagu. Aku ikut larut menyanyikan lagu yang sedang aku putar itu. Dan tidak terasa air mata menetes membasahi pipiku. Kenangan kenangan tentang Nia dan Mas Hendra pun terlintas kembali membuat dadaku semakin sesak.


Suara ku tiba-tiba tercekat dan Air mataku mengalir sangat deras. Bayanganku tentang kedua orang itu terlintas didepan mataku. Aku menangis sejadi-jadinya.


“Heii, jelek nangis terus?”


Deg...


Aku sangat terkejut ketika aku mendengar ada suara orang perempuan memanggilku. Aku membuka mataku ternyata sudah ada seseorang yang berdiri didepanku entah itu laki-laki atau perempuan yang sedang memandang Danau itu.


Aku langsung melepaskan Earphone lalu mengucek-ucek kedua mataku dan berlari kearahnya memastikan itu bukan hanya Ilusi tetapi Nyata dan ternyata benar yang aku lihat itu Nia. Aku senang melihatnya.


“Nia? Kamu?” Aku bingung harus berkata apa.


“Iyaa,, Ini aku. Kenapa Jelek?” Tanyanya. Nia mengusap Pipiku yang basah terkena air mata.


“A,,, Aku” kataku terbata-bata tetapi Nia menutup mulutku dan Nia langsung memeluku sangat erat.


“Maaf  iya,, sudah membuatmu selalu menangis.” Masih tetap memelukku dan aku hanya bisa menangis saja.


“Maaf selama ini aku selalu menyusahkanmu.” Aku hanya menggelengkan kepalaku.


“Dan Maaf juga aku mencintaimu dan menyayangimu bukan sebagai sahabat tetapi Sayang karena Cinta.”


Aku semakin keras menggelengkan kepalaku dan Nia semakin erat juga memelukku.


“Sekarang aku sadar, Lin.” Nia melepaskan pelukkannya kemudian memandangku.


“Cinta memang tidak bisa dipaksakan, Aku sama kamu itu beda. Tidak mungkin kita bisa bersama menjalin sebuah hubungan yang serius dan aku tidak akan pernah membayangkan lagi untuk menikah denganmu.” Kata Nia dan Aku hanya memandangnya saja.

__ADS_1


“Mulai sekarang aku sebagai sahabatmu tidak akan pernah meninggalkan kamu dan akan selalu disisimu untuk selamanya.” lanjut Nia. Aku senang ketika Nia mengatakan itu. Aku langsung memeluk Nia.


“Janji iya,, jangan pernah ninggalin aku lagi. Apalagi berantem sampai bertahun-tahun gini.” Kataku sambil tersenyum lalu Nia melepaskan pelukkan ku.


“Apa? Bertahun-tahun?” Kata Nia tidak terima.


“Iyaa,,, terhitung sejak 3 tahun 8 bulan kamu Pergi meninggalkan aku.” Aku dan Nia tertawa bersama.


“Oya... Bagaimana dengan Mas Hendra?” Tanya Nia tiba-tiba. Aku hanya menggelengkan kepalaku.


“Heiii,,,.kalian berdua, bagaimana bisa kalian menemukan tempat ini?” Kata suara orang laki-laki dari arah belakang yang sedang kesusahan untuk berjalan. Aku melihat laki-laki itu lalu melihat Nia tidak mengerti.


“Itu,, Cinta Kamu. bantu dia?” Kata Nia.


Aku masih tidak mengerti apa yang Nia katakan.


“Sudah sana bantuin?” Kata Nia sekali lagi.


Aku lalu langsung berlari kearah Mas Hendra dan membantunya berjalan.


“Menurutmu?” Kata Mas Hendra. Mas Hendra berhenti berjalan lalu memegang kedua tanganku.


“Kamu mau jadi Pacar aku lagi?” Kata Mas Hendra mantap.


Aku tidak langsung menjawab. Aku melihat Nia dan Nia mengangguk kepadaku. Lama berpikir akhirnya aku mengangguk mengiyakan. Mas Hendra langsung memelukku. Kita pun berjalan bersama menuju Nia.


Aku langsung memeluk Nia dan kita bertigapun tertawa bersama. Kita  memandang Indahnya Danau ini.


“Haaa,, senangnya. Aku tidak harus memperebutkanmu dengan seorang wanita lagi kan, Lin?” Celetuk Mas Hendra.


Aku dan Nia melihat Mas Hendra dengan muka akan menjailinya. Mas Hendra melihat kita berdua tidak mengerti dan mencoba berlari menjauhi kami. Tapi aku dan Nia mengerjarnya.


“Ha,,,hahahahaha.“ terdengar suara Candaan yang begitu aku nantikan.


Bahagia, senang, terharu bercampur jadi satu itulah yang kurasakan. Semua kembali normal seperti yang kuharapkan.


“Muse kaulah saksi atas kejadian ini. Sahabat dan Kekasihku kembali kesisiku. Aku tersadar bahwa Cinta tidak pernah memandang pada siapa dia akan datang. Cinta, tidak ada yang pernah tahu apa arti dari cinta itu sebenarnya, tapi kita tidak pernah tahu bahwa kita bisa merasakan cinta."

__ADS_1


-----------------THE END---------------


🌳🌳🌳


Hadiah terindah dari seorang Pelaku Seni adalah Mendapat suatu Inspirasi yang dapat menggugah Jiwanya


Inspirasi yang membuat bersinar dengan terang


Ada juga kalanya Sang Maestro mengendur tak kala Insipirasi tiba-tiba menghilang


Seperti halnya seorang Amatir yang mencoba memainkan Imajinasi sebagai bentuk rasa Obsesi akan suatu perwujudan


Manakala Hati dan Pikiran hanya tertuju pada


Suatu Perwujudan Obsesi atas dasar kencintaan


Pujanggapun berhak bercinta


Pelukis pun berhak menjadikn Nyata


Pemusik pun berhak bersendu


Pelakon pun berhak menjadi Semburat Penjahit pun berhak berandai Mengartikan suatu Muse


My Muse


Kamulah Inspirasiku


Sebuah Makna akan kencintaan terhadap rasa Kasih bercampur Ego


Muse yang dapat menggetarkan dan Menggugah Jiwa


Mencari dengan Hati dan temukanlah Inspirasi Maka semuanya akan terbuka dan bersinar.


Salam


Busa Lin

__ADS_1


__ADS_2