My Muse 'Kamulah Inspirasiku'

My Muse 'Kamulah Inspirasiku'
BAB 27 SIAPA DIA?


__ADS_3

“Hallo...” Suara seorang perempuan diujung telepon sana.


“Iyaa, ini siapa iya?” Aku tidak tahu siapa yang menelefon.


“Kamu tidak mengenalku?” Aku mencoba mengingat-ingat suara siapa yang diujung sana. Karena Nomor Hpnya Kode Indonesia.


“Tebak?” Katanya semakin membuatku penasaran.


“Ahhh,,,, Aku tahu?” Kataku yang meloncat girang dari kursi tempat dudukku dan Mas Hendra hanya melihatku.


"Niakan?" Kataku.


“Iyaa,, Ini aku? kamu lagi dimana?” Kata Nia tertawa.


“Ini lagi makan sama Mas Hendra,, Kamu sekarang lagi dimana? Kok No. Hp kamu kodenya Indonesia, Aku kira siapa tadi.”


“Menurutmu?”


“Jangan bilang kamu lagi di Indonesia?” Aku hanya mendengar tawa Nia diujung telepon sana.


“Kok, enggak bilang mau ke Indonesia Ada pekerjaan iya?” Tanyaku.


“Enggak, pengin ketemu kamu aja?” Kata Nia.


“Iya udah dulu iya,, Aku lagi dibandara, nanti kalau sudah sampai aku hubungi kamu lagi.” Kata Nia menutup teleponnya.


Mas Hendra yang melihatku seperti itu hanya menggelengkan Kepalanya. Aku menjelaskan pada Mas Hendra bahwa yang menelepon itu Nia. Aku berjanji pada Mas Hendra kalau Aku akan mengenalkannya pada Nia.


...


Aku menjemput Nia di stasiun P sore itu. Aku datang lebih awal 30 menit dari jadwal kereta Nia, Supay Nia tidak menunungguku terlalu lama. 30 menit, Aku menunggu akhirnya kereta yang dinantikanpun tiba.


Tepat setelah kereta itu berhenti dari pintu keluar satu-persatu semua penumpang turun. Aku menunggu disalah satu gerbong dan menunggu Nia dipintu keluar sampai orang terakhir turun tapi Nia tidak keluar-keluar. Aku melihat kedalam kereta dan bertanya pada petugas penjaga, takutnya masih ada orang yang tertinggal tapi petugas itu hanya menggelengkan kepalanya. Akupun akhirnya menghubungi Nia, memastikan dia benar menaiki kereta ini.


“Hallo,, kamu dimana?” tanyaku cemas pada Nia. Aku melihat sekelilingi untuk memastikan sekali lagi kalau aku tidak melihatnya.


"Aku?" Nia kemudian diam.


“Harusnya aku yang bertanya,, kamu dimana?” Katanya Nia dengan Nada sebal.


"Aku distasiun Ni? Aku ada di...." Belum sempat aku melanjutkan kalimatku.


Aku sudah melihat Nia yang melambaikan tangannya dan tersenyum padaku.


“Niaaaa..." Kataku berteriak ditelepon. Nia mencoba menjauhkan ponsel dari telinganya.


Aku berlari kearah Nia yang sedang tertawa senang karena sudah berhasil membuatku cemas. Tanpa aba-aba Nia langsung memelukku. Aku dan Nia lansung menuju keluar stasiun. Nia tidak membawa koper banyak hanya satu koper saja yang dibawa Nia. Ternyata jauh sebelum Nia sampai dia sudah memesan Mobil pribadi untuk menjemputnya distasiun.


"Terus? kenapa aku harus menjemputmu?" Kataku sebal. Nia hanya merangkul pundakku gemas.

__ADS_1


Mobil pun melaju dengan pelan menembus jalanan yang sangat ramai. Lampu-lampu jalanan mulai menyala


“Kamu mau tidur dikostku,,,” Tanyaku.


“Lin,, tinggal denganku iya?” Nia malah balik tanya.


Ada banyak perubahan yang terjadi pada Nia yang kulihat di Video yang tersebar di Internet dan Youtube sangat berbeda.


"Jauh lebih tampan, kulitnya sangat cantik, Wajahnya putih mulus, matanya tampak bersinar dan bibirnya...." Batinku


"Lin...???" Nia membuyarkan lamunanku.


"Ehh.... iya, Apa?" Tanyaku


"Tinggal denganku?" Kata Nia menekan suaranya.


“Iyaa,,, makanya aku tanya, Kamu mau tidur dikostku?” Tanyaku lagi.


“Kebiasaan, enggak ilang. ditanya malah balik tanya.” Batinku.


“Aku sudah memesan Apartemen untuk ku tinggal di Indonesia?” Kata Nia yang sedang bermain dengan Ponselnya nya.


“Kamu mau tinggal disini berapa lama, Ni? Ada urusan pekerjaan apa?” Tanyaku.


“Emmm,,, iyaa urusan pekerjaan dan juga ingin bersama denganmu?” Jawab Nia.


“Selama di Indonesia, kamu harus tinggal denganku. Titik.”


Ternyata dari Stasiun ke Apartemen Nia membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dan dari kampusku ke Apartemen Nia memebutuhkan waktu 15 menit.


"Bolehlah kalau aku tinggal dengannya."


Sesampainya di Apartemen Nia langsung menuju meja Resepsionis untuk registrasi ulang. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk klaim atas kamar Nia akhirnya pun selesai.


Aku melihat ternyata pegawai yang berada disana meminta tanda tangan Nia karena mereka ternyata mengenal Nia sebagai seorang desainer terkenal.


Nia berjalan mendekatiku dengan senyum yang disombongkannya.


“Mau minta tanda tanganku juga?” Kata Nia yang menggodaku.


“Tanganku capek,, jadi maaf iya aku tidak bisa memberikan mu tanda tanganku sekarang.”


“Apa?” Kataku sebal.


Nia sudah berjalan mendahului ku. Aku mengejar Nia. Nia hanya tertawa melihatku yang kesal dan semua pegawai yang ada disitu melihatku iri karena bisa sedekat itu dengan seorang Desainer terkenal.


Aku dan Nia menaiki Lift untuk menuju lantai 8, ternyata lift itu terisi agak penuh, ketika kami berdua masuk ternyata ada juga yang mengenali Nia, saat itu juga semua yang ada lift berebutan meminta tanda tangan Nia dan akupun hanya melihat Nia tertawa karena kewalahan meladeni Fans-fansnya itu. Setelah berhasil keluar dari lift itu ternyata penderitaan Nia belum berakhir, Ada wanita-wanita cantik yang menunggunya untuk meminta fotonya. Akupun yang jadi fotografer mereka. Setelah selesai sesi fotonya Nia langsung menarik tanganku untuk segera mencari kamarnya.


Nia langsung merebahkan tubuhnya disofa ketika sampai di kamar Apartemennya. Aku hanya tertawa melihat Nia yang kelelahan. Ruangan Apartement itu ternyata sangat luas dan nyaman. Perabotannya pun telihat mewah, Aku membuka korden yang menutupi jendela Apartemen dan akupun terkejut melihat pemandangannya

__ADS_1


“Wawwww,,, Nia? Lihat dehh?” Aku menunjuk-nunjuk pemandangan yang aku lihat. Nia hanya melihatku sekilas. “Ihh,,, kebiasaan banget sih?” Kataku.


“Jendela ini bisa dibuka enggak?” Kataku yang menunjuk jendela kaca karena yang aku lihat diluar sana ada teras dengan kedua kursi.


Nia hanya menganggukan kepala malas. Aku mencari-cari dimana pengunci pintu itu karena aku tidak terbiasa dengan pintu kaca seperti ini.


“Nia,,, ini gimana cara bukanya?” Kataku yang tidak bisa membuka pintu dan tidak sabaran.


Aku menggeser kacanya kekanan lalu kekiri, lalu memdorongnya kedepan dan menariknya kebelakang tapi tetap tidak bisa dibuka.


Aku melihat kearah Nia, mencoba meminta tolong dalam bahasa Mata. Tapi Nia tidak menggubris.


"Niaa... ini gimana bukanya?" Sekarang aku merengek padanya.


Karena aku terlalu berisik, akhirnya Nia menyerah, dia berdiri dari kursinya dan membantuku membukakan pintu kaca itu, Nia dengan mudah menggeser pintu kearah kiri dan akhirnya pintu itu terbuka. Nia yang melihat kelakuanku yang seperti ini hanya menggelengkan kepalanya.


Aku tidak perduli apa yang saat ini dikepala Nia. Aku berlari menuju teras dan melihat pemandangan sekitar. Pemandangan senja disore hari, pemandangan lautan yang begitu indah dan lampu-lampu kota pun mulai menyala terang. Angin yang segar menerpa tubuhku. Aku melihat Nia, dengan harapan dia sudah disampingku ternyata dia masih berdiri dipintu kaca itu. Aku memanggil Nia. Nia berjalan kearahku.


“Sini,,, jalannya lambat banget.” Aku memegang tangan Nia dan menyuruh untuk berjalan cepat. Nia hanya menurutiku.


“Liatkan?” Kataku yang menunjukkan pemandangan indah itu.


“kamu pinter milih tempatnya?” Kataku. Aku melihat Nia, Nia malah memandangku.


“Ihh,, bukan aku yang harus kamu liat,, pemandangannya Nia...” kataku yang mencoba membalikkan badan Nia yang mengahadap kerahku. “Indahkan?” Kataku.


“Iyaa,,,” Kata Nia.


“Hanya, iya? kamu itu,,,” Kataku sebal. Aku meninggalkan Nia yang sedang berdiri.


“Ehh,, Lin? Mau makan apa?” Kata Nia berteriak padaku dan Nia mengejarku. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan Nia merangkulkan tangannya dipundakku aku berusaha melepaskan tangannya.


“Hei,, jangan gitu. Mau makan apa?” Nia hanya tertawa.


“Terserahhh,,,” Kataku sebal. “Aku mau mandi.” aku masuk kesalah satu kamar dan menutup kamar itu dan langsung memasuki kamar mandi yang berada didalam.


“Iyaa,,, sudah aku akan memesan makanan dan aku akan mandi dikamar satunya.” Kata Nia berteriak.


Setelah selesai mandi aku mencium bau harum makanan. Aku mencari sumber bau itu ternyata dari meja makan dan Aku melihat Nia sedang menyiapkan meja makan untuk makan malam. Nia yang melihatku keluar hanya tersenyum.


“Sudah mandi?” Tanyaku pada Nia. Aku berdiri disebelah meja makan dan melihat apa yang dipesan Nia, ternyata bukan masakan yang bernuansa keju.


“Sini,, duduk,, disini.” Kata Nia yang menyeret kursi dan menyuruhku untuk duduk. “Aku siapkan ini untuk kamu.” Bisik Nia.


“Makasih iya,,,” Kataku tersenyum dan Nia pun duduk dihadapanku.


Malam itupun Aku dan Nia lewati bersama. Nia yang biasanya hanya diam saja tidak mau cerita sebelum dipancing, Malam itu Nia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya dijepang dan harus membuatkan desain baju untuk artis dan penyanyi terkenal. Akupun senang melihat Nia yang seperti ini.


🌳🌳🌳

__ADS_1


???


Busa Lin


__ADS_2