My Muse 'Kamulah Inspirasiku'

My Muse 'Kamulah Inspirasiku'
BAB 33 NIA, NOTEBOOK


__ADS_3

2 Tahun 12 bulan kemudian,


Itulah saat terakhirku bertemu dengan Nia. Saat ini umurku 26 tahun, Nia tepat dibulan Mei dia genap berusia 26 tahun sama sepertiku.


Nia pergi dan Aku tidak tahu keberadaan Nia dimana. Terhitung Sudah 3 tahun Nia meninggalkanku. Saat ini hubunganku dengan Mas Hendra masih baik-baik saja, aku masih menjadi kekasihnya dan Hubunganku dengan Nia tidak bisa diperbaiki. Setiap hari aku selalu menunggu Nia menghubungiku dan selalu berharap Nia akan memberikan kabar padaku.


Aku menghela nafas panjang ketika aku mengingat kejadian 3 tahun yang lalu. Saat ini kuliahku sudah selesai, Aku mendapat gelar Sarjana S1 dan aku sudah bekerja mengikuti langkah ayahku. Aku bekerja disalah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembangunan gedung menjadi Konsultan untuk masalah pembangunan. Penampilanku saat ini berubah total, saat aku masih bersekolah dulu penampilanku Tomboy dan tidak mementingkan penampilan tapi sekarang aku cukuplah dikatakan Wanita anggun berkat penampilanku tapi tetap tidak meninggalkan kesan tomboy dari dalam diriku.


Aku duduk memandang ramainya Jalan Raya yang berada didepan rumahku, Aku mendapatkan cuti selama 1 minggu setelah 3 bulan bekerja tanpa ada libur. Aku menikmati siang itu yang tidak terlalu panas karena sedang mendung.


“Sepertinya hujan akan datang?” Gumamku.


Aku melihat keatas Awan yang mulai tertutup awan gelap itu. Aku segara memanaskan Sepeda motorku karena siang ini aku ingin pergi kesuatu tempat.


“Mau kemana?” Tanya mamaku yang melihatku sedang memanaskan sepeda motor.


“Mau main bentar mah,,,” Kataku. Aku menaiki sepeda motorku.


“Hati-hati dijalan, Mantel jangan lupa, kayaknya mau hujan?” Kata mamaku mengingatkan. Aku hanya mengangguk tersenyum padanya.


Siang ini tujuanku adalah ke Kafe Beer tempat dimana dulu aku selalu menemani Nia tampil dengan Bandnya. Aku menembus Jalanan yang cukup sepi hanya ada satu dua sepeda motor yang melintas didepanku dan Bis-bis yang berlalu lalang. Banyak sekali kenangan-kenangan yang aku lalui bersama Nia ketika melewati Jalanan ini.


Aku memarkirkan Sepeda motorku. Aku melihat kearah sekitar Kafe Beer ternyata pemandangan masih sama. Aku berjalanan melewati pelayan yang sedang berjaga dan melewati lorong-lorong yang temaram. Setelah sampai didalam ruangan suasanannya cukup lumayan ramai, kursi terisi penuh dan kebanyakan yang berada ditempat itu adalah pasangan yang sedang menikmati penampilan penyanyi solo laki-laki.


Aku memilih tempat duduk yang berada ditengah ruangan kemudian pelayan datang menghampiriku menawari makanan atau minuman tetapi aku menolaknya. Aku sedang memperhatikan Laki-laki yang sedang bernyanyi diatas panggung itu, seperti tidak asing untukku. Setelah laki-laki itu turun dari panggung aku baru menyadari bahwa itu adalah Mas Indra teman Nia. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum padanya. Mas Indra terlihat ragu-ragu mendekatiku.


“Ohhh,,, ini kamu?” Katanya tersenyum lebar sambil memperhatikanku.


“Mas Indra kira siapa?” kataku  dan aku mengulurkan tanganku. “Gimana kabarnya, Mas?” Tanyaku dan Mas Indra menjabat tanganku lalu dia duduk disampingku.


“Wahh,, Kamu keliatan beda.”


“Beda apanya? Tambah jelek iya?” kataku dan kita berdua pun tertawa bersama.


“Enggak,, tambah cantik. Udah punya pacar?”


“Kenapa? tanya-tanya?”


“Enggak Cuma tanya, siapa tahu masih punya kesempatan.”


“Yeee,,, Aku udah punya, Mas.” Kataku tertawa. “Kenapa?” Tanyakublagi.


“Serius? Yah,, aku enggak punya kesempatan lagi dong.” Mas Indra tersenyum padaku dan aku hanya bisa terertawa.


“Mas Indra tahu kabar Nia?” Tanyaku padanya.


“Nia? Bukannya Nia itu sahabat kamu?” Tanyanya. “Dimana ada Nia pasti disitu ada Liana kan, Begitu sebaliknya.” Mas Indra malah menggodaku.


“Mas,, Serius ini. Aku udah hampir 3 tahun ini tidak mendengar kabar Nia.” Kataku serius


"Serius, Lin? Jangan bohong?” Kata Mas Indra yang belum mengerti masalahku. “Aku sudah lama sekali tidak berhubungan dengan Nia, Lin. sejak dia pergi keluar negeri dan selalu berpindah-pindah tempat.” Kata Mas Indra menjelaskan.


“Lin, kamu tahu tidak?” lanjut Mas Indra yang wajahnya mulai terlihat serius. Aku hanya melihatnya dan bersiap untuk mendengarkan ceritanya. “Sebenarnya Nia itu menyukaimu, Lin.” kata Mas Indra yang membuatku tidak terkejut karena aku sudah tahu sebelumnya.


“Aku tahu itu, Mas?” Kataku menganggukan kepala tanpa reaksi yang berlebihan. Mas Indra yang melihatku hanya bingung.


“Kamu tahu?” tanya Mas Indra yang tidak percaya. Aku mengangguk sekali lagi.


“Terus kamu sudah punya pacar, Nia tahu?” Katanya lagi.


“Iyaa,,, Aku tahu Nia suka sama aku. Nia juga tahu kalau aku ini udah punya pacar.” kataku sedikit sebal dengan Mas Indra.


“karena itu aku tanya Nia sama Mas Indra, Siapa tahu Mas Indra tahu atau setidaknya bertemu dengan Nia?” kataku yang bertambah kesal.


“Iyaa,,, sabar, Lin. Aku tahu gimana perasaan kamu.” Kata Mas Indra yang mencoba menenangkan ku. “Tapi yang perlu kamu tahu Nia mencintaimu sejak pertama kalian bertemu.” Lanjut Mas Indra.


“Dan asal kamu tahu, Lin.” Kata Mas Indra menggantung kalimatnya.


"Kamu ingat saat aku mencoba mendekatimu?” Aku hanya menoleh kearah Mas Indra yang sedang melihat kearah panggung sambil tersenyum.


“Nia lah yang melarangku untuk tidak dekat-dekat denganmu dan kamu ingat tidak dengan kejadian di Kafe Golden yang Nia mabuk itu,,,” Kata Mas Indra tersenyum dan aku hanya mengangguk.


“Disitu Nia menceritakan semuanya padaku tanpa sadar. Setelah itu aku baru sadar kalau Nia benar-benar mencintaimu,  Maskipun aku tahu itu tak akan pernah mungkin bisa, karena kamu pasti tahu kan apa sebabnya dan akupun memutuskan untuk tidak mendekatimu lagi.” Jelas Mas Indra panjang lebar.


Mas Indra merangkul pundakku dan mencoba menenangkan ku. Aku yang mendengar cerita Mas Indra itu hanya bisa mencoba untuk tenang.


...


“Hati-hati dijalan.” Kata Mas Indra yang mengantarku sampai diparkiran. “Aku yakin suatu saat Nia akan kembali padamu.” Kata Mas Indra.

__ADS_1


“Iyaa aku tahu itu, Mas?” Kataku yang mencoba tersenyum.


Aku mempercepat laju sepeda motorku. Pada saat hujan turun Jarak Pandangku terbatas ketika aku sedang mengendarai motor. Aku berharap hujan tidak turun sebelum sebelum aku sampai ditempat tujuanku selanjutnya, tetapi hujan mulai turun rintik-rintik. Aku berulang kali mengusap kaca helmku.


Aku memasuki Gerbang perumahan dan berhenti disalah satu rumah yang menyimpan banyak kenangan itu.


Bresss...


Seketika itu Hujan pun turun dengan sangat lebatnya.


“Untung sudah nyampe.” Kataku dalam hati.


Lalu aku membunyikan Bell yang ada dirumah itu berkali-kali tetapi tidak ada yang membukakan, aku menunggu agak lama dan akhirnya terdengar suara orang sedang membuka kunci pintu ini. Orang itu keluar dan melihatku.


“Siang menjelang sore, Mas Alif?” kataku padanya. Mas Alif sedang ada di Indonesia karena sedang mengurusi bisnis mobil.


“Eh,, kamu, Lin?” Katanya tersenyum. “Maaf tadi Mas, Sedang diatas. Membereskan kamar Nia yang sudah banyak debunya.” Kata Mas Alif sambil menyuruhku untuk masuk.


“Iyaa enggak apa-apa, Mas?” Jawabku tersenyum.


“Mas Alif, Istirahat aja. Biar aku yang membereskan kamar Nia.”


“Tapi, Lin?” Mas Alif terlihat ragu-ragu.


“Enggak apa-apa, Mas? Lagian kamar Nia juga kamarku kan?” Kataku tersenyum.


Aku langsung naik keatas menuju kamar Nia. Ketika sampai diatas dan membuka pintu kamar, teringat kembali kenangan-kenangan saat Aku bersama dengannya. Didinding kamar terpajang foto-toto kami berdua dan aku mulai merasakan mendengar suara saat kita tertawa bersama, terdengar suara ketika kita sedang bertengkar dan setelah sampai di meja rias, teringat kembali kenangan ketika aku sedang mendandani Nia setiap paginya.


Aku membuka lemari pakaian Nia, yang tersimpan baju-baju desainnya, Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.


“Masih sama seperti dulu.”


Lalu Aku teringat sesuatu, tujuanku adalah rak buku Nia dan aku ingin melihat lagi desain desain Nia yang dulu diperlihatkan padaku dan dijilid dengan rapi. Aku mencarinya tetapi tidak ketemu.


“Mungkin dia membawanya bawa.”


Tetapi aku melihat terselip buku yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, sampulnya warna coklat tua dan beraksen garis halus. Baunya sangat lembab karena lama tidak disentuh. Aku mengambilnya dan melihat judulnya “The Notebook”.


“Nia, suka Nulis juga.”


Aku membuka-buka buku catatan itu ternyata isinya adalah tentang kisahku dan dirinya. Aku membuka lembar demi lembar buku catatan itu dan aku membacanya dengan sangat cermat setiap kata yang dituliskan dalam catatan itu dan salah satu isi catatan itu adalah mengenai


***


**18 Juli 2008


Dear Diary


Hari ini aku bertemu dengannya lagi. Seorang gadis kecil yang sebenarnya tidak terlalu cantik tapi dia selalu tersenyum manis dan selalu menunjukkan wajahnya yang ceria dan bersemangat. Dia adalah seorang perempuan yang bisa menggetarkan hatiku. Liana Astari, nama Gadis itu.


Lin,


begitu teman-teman memanggilnya. Hari ini adalah hari dimana aku pertama kali memegang tangannya. Sebenarnya saat itu jantungku berdetak kencang tetapi aku berusaha untuk mencoba tenang dihadapannya.


Lin,


Aku sudah memberikan No. Hpku padanya. Tinggal dia menghubungiku dan aku akan segera membalasnya dengan cepat karena sinyal dirumah ini agak susah.


“Lin, adalah Cinta Pertama Nia.”


NIA**


**20 November 2009


Dear Diary


My Muse


Liana Astari


Kamulah Inspirasiku


Lin,


Aku tidak pernah terganggu dengan apa yang selalu kamu ceritakan padaku. Aku selalu senang ketika kamu menceritakan mengenai kegiatan mu sehari-hari dan apa yang sedang kau rasakan. Meskipun kita berbeda, tentang hobi, cita-cita dan keinginan tapi kamu selalu bisa mengerti aku.


Lin,


Aku selalu senang ketika aku bisa membuatkan baju untukkmu. Aku senang ketika kau tersenyum saat aku berikan Desain pakaian pertama yang aku berikan. Meskipun belakangan kamu selalu menolak pakaian yang aku buatkan untukkmu tapi kamu selalu mau mencobanya untukku.

__ADS_1


“Muse”


Kamu selalu bertanya padaku, Siapa Muse ku untuk membuat Desain baju seindah ini. Kalau aku bisa menjawab saat itu juga, Aku akan mengatakan


“Muse ku adalah Kamu, Inspirasiku adalah kamu dan sebuah karyaku adalah kamu.”


Lin,


Aku selalu berharap kamu bisa menjadi miliku untuk selamanya. Bukan hanya Sahabat tetapi kekasihku. Meskipun aku tahu itu tidak akan terjadi, Karena kita sama-sama seorang perempuan. Tapi aku selalu berharap itu, bisa hidup selamanya denganmu Karena aku mencintaimu selalu.


Nia**


Air Mataku tidak bisa ku bendung lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bingung jika kejadiannya seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu kalau Nia mencintaiku sampai seperti ini dan aku baru benar-benar sadar ketika Nia sama sekali tidak menyukai Mas Hendra sebagai kekasihku.


“Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus meninggalkan Mas Hendra untuk menjadi kekasih Nia dan mengubur impianku yang ingin menikah dan mempunyai banyak anak atau aku harus tetap bersama Mas Hendra dan meninggalkan Nia sahabat terbaikku.” Aku hanya bisa menangis dan tiba-tiba Mas Alif sudah berada dibelakang dan memanggil namaku. Aku hanya melihat Mas Alif dan Aku mengusap Air Mataku.


“Lin?” Kata Mas Alif dengan suara lembutnya dan aku menyerahkan Buku catatan itu pada Mas Alif.


“Jadi kamu sudah tahu iya?” Aku hanya melihat Mas Alif yang seolah-olah dia sudah tahu kejadiannya.


“Aku tahu bagaimana perasaan mu saat ini. Kamu tidak harus memilih Nia, Pililah sesuai dengan kata hatimu. Aku tidak memihak pada siapa kamu akan memilih, tetapi kamu perempuan dan Nia perempuan pasti akan banyak sekali kekurangan jika kalian hidup bersama dan Jika kamu memilih kekasihmu saat ini, kamu akan kehilangan Nia, Lin.” Kata Mas Alif menjelasakan.


 “Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanyaku pada Mas Alif.


“Entalah, Lin. aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu? Disisi lain Nia adalah Adikku dan disisi lain kau adalah wanita yang mempunyai sejuta mimpi akan menikah dengan seseorang lelaki yang kamu cintai.” Kata Mas Alif yang tidak bisa memberikan solusinya. Setelah berkata seperti itu Mas Alif pun keluar dari  kamar dan meninggalkanku sendiri.


Aku membuka lembar berikutnya dan aku memutuskan ini adalah lembaran yang terakhir aku baca, Isinya adalah.


19 Juni 2011


**Lin,


Kenapa harus banyak yang menyukaimu dan ingin menjadikan mu pacarnya? Kalau aku bisa aku juga ingin mengatakannya, Lin? Apakah kamu mau menjadi kekasihku?”


Tapi, Lin?


ada satu hal yang membuatku selalu bisa memiliki mu yaitu kau selalu disisiku saat aku bangun tidur dan selalu menyisir rambutku.


Lin, apakah kamu tahu? Ketika kau melakukan semua itu padaku, Jantungku berdetak sangat cepat.


Tapi, Lin?


Aku tahu cintaku ini padamu adalah suatu kesalahan besar. Cinta ini tidak seharusnya ada, Lin. Aku baru tahu ketika kamu menceritakan tentang mimpi-mimpimu itu dan ketika kau ingin menikah dan mempunyai anak banyak, Lin.


Tapi, Lin?


Apakah Aku dan Kamu tidak bisa bersatu. Aku masih berharap, Lin suatu saat kita bisa hidup bersama tanpa mempunyai banyak anak. Mungkin aku egois dalam perasaanku ini, tapi aku yakin, Lin. Aku akan bisa membuatmu bahagia selama-lamanya meskipun Aku tak sempurna untukkmu.


Lin,


Dan hingga tiba saatnya nanti aku berani untuk mengungkapkan perasaanku padamu aku akan menyimpan rasa cinta ini untukku mu, Lin.


“CintaNia akan selalu untuk, Lin. Sampai kapanpun.”


Nia**


***


Aku memutuskan saat itu juga pulang kerumah dan aku meminta ijin pada Mas Alif untuk membawa buka catatan Nia ini. Sebelum aku pergi Mas Alif  memberikan sebuah Tas kantong kertas yang ukurannya cukup besar padaku. Mas Alif tidak mengatakan apa-apa tentang Tas itu. Aku pergi dari rumah Nia membawa buku Catatan Nia dan Tas besar yang aku juga tidak tahu isinya bersamaku. Aku membawanya pulang kerumah.


Hujan yang tadinya begitu deras kini berhenti menyisakan kubangan-kubangan kecil yang berisi Air disepanjang jalan. Sesampainya dirumah Aku menghubungi Mas Hendra untuk segera bertemu dengannya dan aku ingin menunjukkan buku catatan itu padanya.


Aku melihat Tas yang tadi diberikan Mas Alif padaku dan aku langsung membukannya. Ada kotak kado berwarna silver besar didalannya dan ketika aku membuka kotak itu, Aku sangat terkejut ketika mengetahui isinya. Ternyata isinya adalah Gaun Malam berwarna hijau toska yang sangat indah dan sepasang sepatu high heels berwarna putih tulang dan terselip surat beramplop putih.


**Hai, Lin


Kutitipkan Gaun malam ini pada Mas Alif. Aku membuatnya sesuai apa yang kau inginkan. Dipakai, aku membuat ini dengan perasaan tulusku padamu.


Museku, Inspirasi terindah dan terkasih yang pernah kumiliki.


Sampai Jumpa, Lin**


“Sial,, Nia. Nia? Aku membencimu?” Kataku sebal padanya. “Kenapa kamu enggak bilang dari dulu, terus kenapa enggak ada yang kasih tahu keaku kalau kamu itu suka sama aku.” Aku membanting tubuhku kekasur dan melihat-lihat Gaun yang Nia berikan padaku.


“Indah juga,,” Aku tersenyum. “Dasarrrr nyebeliii,,,” Kataku berteriak. Tidak tahu orang yang berada dirumah terganggu atau tidak.


🌳🌳🌳


Salam

__ADS_1


Busa Lin


__ADS_2