My Muse 'Kamulah Inspirasiku'

My Muse 'Kamulah Inspirasiku'
BAB 29 KAMULAH MUSEKU


__ADS_3

Keesokan harinya aku menepati janjiku untuk pergi ke Butik Nia. Aku meminta Nia menjemputku di Kostku karena kemarin aku tidak tidur di Apartement Nia. Aku tidak ingin mengganggu Nia dan Ketty.


Nia tepat sampai dikostku jam 4 sore. Sore itu didalam mobil Aku tidak banyak bicara karena aku sedikit merasa canggung bertemu dengan Nia hari ini. Nia juga seperti biasa hanya diam saja tak sepatah katapun keluar dari mulut Nia, dia hanya melihat kedepan dan fokus menyetir. Tidak sampai satu jam akhirnya kita sampai juga di Butik Nia.


"Wahh,,, Ini butik?"


Aku sangat kagum dengan bangunan yang Nia bilang itu butiknya. Dari bagian luar saja sudah terlihat kemewahannya apalagi bagian dalam, bangunan dua lantai ini terlihat seperti bangunan clasic bercat warna emas perak berlapis kaca yang tebal dan terlihat beberapa pakaian yang dipajang agar terlihat dari luar dan menarik perhatian pengunjung.


Aku dan Nia berjalan beriringan memasuki butik. Nia belum mendapatkan nama yang tepat untuk butik ini karena Nia masih memikirkan sederet nama-nama yang cocok untuk butik ini. Ketika aku memasuki ruangan dalam butik.


"Parah... Ini pameran seni atau butik pakaian?"


Mataku tak henti-hentinya memandang sekeliling. Desain Interior ruangannya memanjakan mata. Aku sempat mematung sejenak ketika aku menikmati berbagai Furniture-furniture yang ada dilantai satu ini.


Ruangan dilantai satu ini berkonsep mengenai Film Peterpan Negeri Impian “Never Land”. Tokoh-tokoh Patung yang dipajang dan diletakkan di berbagai sudut sudut ruangan sangat mirip dengan aslinya. Tokoh ketujuh sahabat Peter yang menganggap Peter itu adalah ayahnya juga ada, Ada juga Wendy wanita yang membuat Peter jatuh hati dan karena wendy, Peter ingin menjadi dewasa, disudut lain tidak ketinggalan tokoh peri Tinkerbell yang sangat menjaga Peter.


"Waww,, Luar biasa desain interiornya."


Tidak kalah dengan Desain Interiornya berbagai macam Gaun dan pakaian Kasual terlihat sangat indah terpajang sangat rapi dan membuat siapa saja yang melihat pasti ingin membelinya.


Aku benar-benar menikmati ruangan ini tetapi tiba-tiba Nia mengagetkanku dari arah belakang, sejak aku masuk ruangan ini aku tidak sadar kalau Nia masih berada disampingku.


“Udah,, kagumnya?” Tanya Nia.


“Iyaa,, Kamu kok bisa punya konsep Peterpan gini. Never Land Negeri Impian.” Kataku memandang Nia takjub.


“Iyaa,, Aku yakin jika kamu bisa memilih pasti kamu ingin menjadi Peter kan? Hidup selalu seperti anak kecil dan mempunyai sejuta mimpi.” Kata Nia.


“Sepakat, jika bisa.” Aku dan Nia tertawa bersama.


“Dan ini,,,” Aku berjalan kearah salah satu tokoh yang ada di Peterpan itu.


“Ini kan,, salah satu adegan ketika Peter menyelamatkan Tinkerbell dari kematiannya.” Kataku tersenyum senang karena masih mengingat adegannya.


“Tepat sekali,,,” Kata Nia.


“Liat kan,,, Peter menangisi Tinkerbell." Nia menunjuk patung itu.


“Ku mohon jangan mati Tinkerbell, bagaimana aku bisa hidup tanpamu." Kata Nia sambil memperagakan beberapa adegan ketika Peter menangis.


Aku hanya tertawa melihatnya karena Peterpan adalah salah satu Film kesukaanku, jadi aku sedikit tahu tentang adegan-adegan dalam setiap ceritanya.


“Dan seketika itu angin bertiup kencang dan,,, bimsalabim Tinkerbell hidup kembali karena satu tetes air mata Peter mengenai tubuh kecil Tinkerbell,, Ajaib Tinkerbell bisa terbang kembali.” Lanjutku, Aku sedikit meneruskan cerita Nia.


Aku dan Nia tertawa bersama mengenang cerita Peterpan itu.


“Kok kamu bisa sih, memikirkan konsep seperti ini?” Tanyaku yang masih takjub.


“Ehh,, simpan dulu rasa takjub itu. Kita belum kelantai 2 kan?” Kata Nia. Aku hanya melihat keatas dan melihat kerah sekeliling dilantai 2.


“Hanya lingkaran yang tertutup kaca, Ni?” Kataku. Aku mengerutkan kening.


Aku dibuat penasaran oleh Nia ketika Nia mengajakku berjalan menaiki tangga untuk menuju lantai 2. Tidak ada Lift, jadi aku harus berjalan kaki untuk menuju keatas. Jalur Tangga ini membentuk huruf S dan terlihat agak panjang, disisi kanan kirinya dipasang pembatas kaca. Ketika kita sampai ditengah tangga, Nia menyuruhku untuk melihat kebawah dan Wawww... ternyata semuanya terlihat begitu jelas dan hidup.


Aku benar-benar takjub dengan tempat ini. Setelah aku puas memandangi semua ini, Nia menyuruhku untuk lanjut berjalan. Aku tidak sabar dengan kejutan selanjutnya. Sudah mencapai diakhir anak tangga, Aku melihat sekilas seperti ada patung bangsa Yunani para Dewa dari anak tangga 5 terakhir ini, Aku semakin penasaran. Aku mempercepat langkahku dan mendahului Nia, Aku berjalan didepan Nia dan ketika sampai diatas. Aku berteriak,


“Wawwwww,,, Nia?” Teriakku takjub.


Aku berjalan kearah patung-patung yang berdiri sangat Indah ini.


“Ini kan?” Aku menggantung kalimatku.


“Ini, kan? 9 Muse kisah Mitologi Yunani itu kan? Anak dari Zeus dan Mnemosyne.” Nia hanya menganggukan kepalanya saja. “Kok, bisa?” tanyaku.


“Ini, semua adalah bagian dari Inspirasiku, Lin. dan bagian dari Insipirasi seseorang yang selama ini aku jadikan Museku, Lin?” Jawab Nia. Aku tidak memperhatikan kalau Nia sedang memandangku.


“Wahh,, Hebat iya Muse kamu. Bisa membuat kamu seperti ini.” Kataku.

__ADS_1


Nia hanya diam saja memandangku dan aku berkeliling untuk melihat-lihat. Nia sedang duduk di kursi sofa dan aku sedang asik memperhatikan patung-patung para Muse ini.


Aku sedang mengamati Dewi Erato, Dewi Erato adalah Dewi Muse untuk Dewi Puisi Cinta. Dalam patung ini Dewi Erota terlihat sangat cantik tidak kalah cantiknya dengan ibunya Dewi Mnemosyne. Aku sangat mengagumi Patung-patung ini dan tidak kalah hebatnya dengan Patung-patung ini. Desain Pakaian Nia yang dipajang sungguh sangat indah, dilantai dua ini lebih dominan untuk Pakaian sejenis gaun dan terdapat beberapa sepasang sepatu yang diletakkan di dalam lemari dan berbagai koleksi Tas-tas rancangan Nia.


“Wahh,, Hebat kamu, Ni. Bisa menata ruangan sebagus ini, bisa membuat pakaian-pakian seindah ini, sepatu dan Tas. Luar Biasa.” Kataku bertepuk tangan.


Aku berjalan kearah Nia, setelah aku puas menikmati ruangan ini. Nia mengajakku memasuki ruangan yang tidak berada jauh dari letak tempat tadi. Ruangan itu cukup lebar, Ada cermin besar menempel disalah satu dinding dan Korden yang menggantung. Aku berpikiran ini pasti ruang ganti. Didalam ruangan itu sudah ada dua orang yang sepertinya sedang menunggu Nia. Kedua Orang itu memberikan senyum terbaiknya pada Nia dan padaku.


“Lin, kenalkan. mereka berdua adalah penata busana dan penata rambuku. Ini namanya Mba Dewi dan Mas Huni.” Aku menjabat tangan mereka berdua dan aku memperkenalkan namaku juga.


“Mba, Mas. Bajunya sudah disiapkan?” Kata Nia.


“Owhh, sudah, Ni. Saya gantung dilemari belakang.” Kata Mas Huni. “Jadi ini perempuannya?” lanjut Mas Huni.


Nia hanya mengganggukkan kepalanya dan memberikan Isyarat untuk membawaku masuk kedalam ruangan yang tersembunyi dibalik pintu itu. Aku hanya bingung melihat mereka berdua membawaku. Aku melihat Nia, Nia hanya tersenyum melihatku yang dibawa oleh keua orang Ini.


Kedua orang itu terlihat sangat sibuk ketika kita sampai diruangan untuk ruang ganti. Aku hanya berdiri saja di depan pintu melihat mereka sedang mondar mandir kebingungan mereka seperti dikejar sesuatu. Mas Huni menyuruhku untuk masuk keruangan ganti pakaian yang terlihat lebih kecil dan menyuruhku untuk mengenakan pakaian berwarna biru muda ini. Aku menurut saja, Aku memasuki ruangan kecil itu, ternyata hanya ruangan kosong tidak ada-apanya hanya ada beberapa gantungan pakaian dan tidak ada kaca.


"Ruangan ditempat ini banyak juga?" Batinku.


“Lin, pakai bajunya jangan kelamaan?” Teriak Mas Huni dari arah luar.


“Iyaa,, Mas” Aku cepat-cepat memakai pakaian yang diberikan oleh Mas Huni itu.


Aku tidak bisa melihat tubuhku ketika aku memakai pakaian ini karena tidak ada kaca, yang aku tahu Gaun ini adalah Gaun panjang berwarna biru muda. Bagian depan dan belakang aku tidak tahu karena tidak ada motif di baju ini.


“Sederhana sekali?” Gumamku.


Aku dengan segera keluar dari ruang ganti itu. Mas Huni dan Mba Dewi yang melihatku memakai Gaun ini seperti terlihat terkejut, Entah itu reaksi terkejut karena kau bagus memakai gaun ini atau karena aku jelek.


“Wahh, Lin. Tidak kusangka kau cantik juga memakai gaun buatan Nia ini.” Kata Mba Dewi yang menggelengkan-gelengkan kepala perlahan sambil bertepuk tangan. “Kalau tidak percaya lihat saja dicermin?” lanjut Mba Dewi.


Dengan langkah ragu-ragu aku memberanikan diriku untuk melihat kecermin. Aku sempat terkejut dengan apa yang kulihat, Ternyata benar apa yang dikatakan Mba Dewi. Gaun ini terlihat bagus ketika kukenakan.


Tapi Nia selalu membuat baju pasti salah satu disisinya terlihat terbuka. Ini dibagian dada sedikit terbuka dengan aksen kain itu seperti jatuh secara alami dan bagian punggungku memang sengaja terbuka tapi ada tali tipis transparan untuk mengingkat kedua sisinya. Kalau Mba Dewi tidak mengingatkan mungkin aku tidak tahu.


“Nia, Kebiasaan. Aku disuruh mengenakan pakaian seperti ini lagi.” kataku.


“Sini, Biar ku dandani kamu. Agar terlihat semakin cantik.”


Mas Huni dan Mba Dewi dengan sangat sigap memoles-moles wajahku secara bergantian. Segala macam alat make up dioleskan dimukaku ini, aku sempat terbatuk-batuk ketika bedak bertebrangan dimana-dimana.


Setelah puas mendandaniku mereka mulai merubah gaya rambutku. Aku sempat mendengar mereka sedikit berselisih pendapat mengenai style rambutku ini. Akhirnya mereka sepakat membuat rambutku diikat satu keatas dan cepol sedikit bernatakan dengan menyisakan sedikit poni. Setelah melewati proses satu jam yang melelahkan dan harus mendengarkan mereka berdua bertengkar karena berselisih paham akhirnya selesai juga. Aku memakai sepatu High Heels yang tidak terlalu tinggi. Aku dituntun keluar dari kamar ganti itu, ternyata tirai itu sudah tertutup sangat rapat seolah-olah aku ini adalah tawanan yang akan dieksekusi mati.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Aku terus memandangi penampilanku yang berubah drastis ke Cermin dan Mba Dewi berada disampingku sambil membenarkan apa saja yang kurang atau cacat kalau aku lihat sebenarnya tidak ada yang cacat.


“Niaaa,,,” Teriak Mas Huni.


Aku hanya mendengarnya dari dalam tirai. “Semua sudah selesai. boleh ku buka tirainya?” Kata Mas Huni.


Entah apa reaksi Nia, Aku tidak mendengar suara Nia, pasti Nia hanya menggangguk dan tersenyum saja.


Tidak tahu kenapa ketika Mas Huni perlahan membukakan Tirai itu aku merasa deg-degan, seolah-olah yang akan melihatku berpakain seperti ini adalah kekasihku.


Tirai penuh terbuka, Aku bisa melihat dari cermin bahwa Nia sedang memandangiku. Aku membalikkan badanku dan melihat Nia. Aku berusaha untuk memberikan senyum terbaikku. Seketika itu aku sudah tidak melihat Mas Huni dan Mba Dewi yang tadi ada disampingku.


Nia, berjalan mendekatiku dan jantung ini berdetak semakin cepat. Ketika Nia sudah sampai dekat denganku, Nia hanya bisa memandangku dengan tatapan yang mempunyai arti khusus, Entah itu tatapan karena kagum karena hasil karyanya seperti sihir untukku atau tatapan yang bermakna lain. Tanpa bicara sepatah katapun Nia membalikkan tubuhku menghadap kearah cermin lagi hal ini membuatku sedikit terkejut. Aku merasakan Nia mengingkatkan kembali tali transparan itu yang sedikit mengendor. Nia tepat dibelakangku.


“Nia,, ini Sihir iyaa,,,” Kataku yang memecah keheningan.


“Sihir? Maksudmu?” Nia menatapku dari.cermin.


“Iyaa, sihir yang bisa membuat baju ini indah ketika aku kenakan.”


“Bukan,,, Ini adalah Inspirasiku.” Kata Nia. Nia membalikan badanku, aku tepat berada dihadapannya.


“Lin,,, Kamu tahu tidak?” Nia menatapku kembali dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


“Apa?” Kataku. Aku hanya bisa tersenyum.


“Kamu sering menanyakan padaku siapa Museku kan?” Nia sekarang mengusap lembut pipiku dengan jemarinya. Aku semakin bingung dan aku hanya bisa memandang Nia, lalu Nia memegang tanganku sangat erat.


“Lin, Kamulah Museku selama ini? Kamu adalah Inspirasi dari semua karya-karya ku.” Suasana saat itu sangat lengang hanya terdengar suara detak jam dinding.


“Maksud kamu?” Aku melepaskan tangan Nia perlahan dan mundur darinya selangkah.


“Owhh,, aku tahu kenapa kamu menjadikanku Muse kamu? Karena aku sahabat terbaik kamu kan?”


“Bukan, bukan itu Lin. Aku menjadikanmu Muse ku, karena aku itu....”


Belum sempat Nia melanjutkan kalimatnya, Aku dan Nia di kagetkan dengan suara dering Ponselku yang sangat keras. Aku berjalan kearah sofa yang tadi Nia Duduki. Tas yang kubawa kuletakkan disana. Aku mencari-cari ponselku ditas dengan tangan gugup,


“Biasanya langsung ketemu?” Gumamku.


Aku merasa sedikit jengkel karena ponselku tidak berhasil kudapatkan. Aku tidak melihat kearah Nia sama sekali, entah reaksi wajahnya seperti apa saat ini. Akhirnya dengan susah payah aku mencari, ketemu juga ternyata dari Mas Hendra.


“Hallo, sayanggg?” Suara Mas Hendra terdengar lembut seperti biasanya. “Gimana besok hari minggu jadikan?”


“Iyaa,, Jadi mas.” Jawabku singkat.


“Nia jadi ikut? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatmu itu, Desainer terkenal yang menghasilkan karya yang luar biasa?” Kata Mas Hendra panjang lebar.


“Iyaa,, dia harus bisa bertemu dengan Mas Hendra. Karena dia sudah janji padaku.”


“Ok, baiklah.” Suara telepon terputus.


Aku melihat kearah Nia yang masih berada dalam posisinya. Aku berjalan mendekati Nia. Aku berada dibelakang Nia, Nia memunggungiku.


“Pembicaraan masalah ini kita hentikan sampai disini.” Kataku mantap. “Besok hari minggu, karena kamu sudah janji padaku. Aku akan mengenalkanmu pada Mas Hendra.” Aku melihat kearah jam dinding, tidak terasa ini sudah jam 9 malam.


"Aku mau pulang, Ni. Besok aku ada kuliah jam 7 pagi."


Nia hanya diam saja dan tidak melihatku sama sekali.


"Oya ini gaun nya gimana?” Tanyaku.


“Pakai saja sampai Apartemen, malam ini kamu tidur di Apartemenku.” Kata Nia.


Aku ingin menolak permintaan Nia, tapi ketika aku akan mengatakan aku akan pulang kekost saja. Nia sudah berjalan mendahului ku tanpa mengatakan apapun.


Akupun mengikuti langkah Nia keluar dari Ruangan itu dengan masih menggunakan gaun. Sepanjang perjalanan pulang Aku dan Nia hanya diam saja, Aku melihat dari wajah Nia sepertinya dia marah. Aku tidak berani membuka pembincaraan. Ketika turun dari mobil pun seperti itu, aku agak kesulitan mengikuti langkah Nia yang berjalan sangat cepat karena aku memakai gaun panjang ini.


Sesampainya di Apartemen kita disambut oleh Ketty. Ketty terlihat sangat senang ketika melihat Nia. Berbeda ketika melihat kedatangan Nia, Ketty melihat kedatanganku dengan sangat tidak senang.


Ketty langsung memeluk Nia ketika kita sampai diruangan tengah. Aku hanya melihat Nia saja dan yang aku rasakan Nia melihatku juga.


Aku tidak pernah secanggung dan sekikuk ini ketika aku harus berhadapan dengan Nia. Malam ini Nia tidur dikamar yang memang disediakan untukku.


Aku melihat Nia sedang membaca buku dikursinya, setelah berganti pakaian aku langsung menaiki kasur dan berusaha memejamkan mataku dan berharap pagi segera datang.


🌳🌳🌳


Detak jantung


Detakkannya tak ada yang bisa mebandingkan


Dia akan berdetak cepat dikala sedang Gugup


Dia akan berdekat tenang dikala sedang Nyaman


Menurut Hati detakkan cepat bisa terasa ketika sedang berada didekat orang tersayang.


Rasa gugup muncul berubah tenang ketikan detakkan mereda


Simbolisasi dari perasaan yang sedang berbunga

__ADS_1


Salam


Busa Lin


__ADS_2