
Setelah Euphoria kelulusan SMA berakhir Aku memikirkan akan melanjutkan kuliah. Aku tidak diperbolehkan untuk kuliah yang jauh sampai keluar pulau. Padahal aku ingin kuliah di Daerah Orang bukan di Tanah Jawa lagi. Tapi akhirnya akupun mengikuti apa yang Ayahku perintah kan. Akhirnya Aku memilih untuk Kuliah disalah satu Perguruan Tinggi Swasta yang ada di Kota P. Kalau di Perguruan Tinggi Negeri aku tidak bisa diterima karena Nilai ku yang jauh dikatakan sempurna. Sedangkan Nia, dia tidak tahu akan melanjutkan sekolahnya dimana karena setiap aku tanya pasti dia hanya akan tersenyum saja.
“Ni, Mau daftar dimana?” Tanyaku pada Nia. Aku sedang mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar besok. “Jadi, sekolah di Singapura?”
“Enggak tahu, Kamu yakin mau daftar disana?” Tanyanya. Nia sedang menjahit pakaian dengan menggunakan mesin jahitnya. Aku melihat Nia heran.
“Ya,,iyalah yakin. Kita kuliah bareng gimana?” Nia melihatku dan menghentikan jahitannya.
“Kalau aku bisa, Lin.” kata Nia lemas.
“Lho kok kalau bisa? Iya sih memang di sana enggak ada jurusan yang kamu inginkan tapi kan, setidaknya kita bisa bersama?” kataku tersenyum padanya.
“Lin?” Nia menatapku dengan tajam.
“kalau seandainya kita berpisah apakah kita akan bisa seperti ini untuk selamanya?” Kata Nia.
Aku melihat Nia dengan perasaan aneh. Aku menghentikan kegiatanku membereskan berkas-berkas ini lalu berjalan kearah Nia.
“Ni. Inget janji kita kan? Meskipun kita jauh kita akan tetap bersama?” Nia hanya melihatku “Sekarang mana berkas-berkas milikmu. Biar kubantu persiapkan?”
Nia sebenarnya dipaksa oleh ayahnya untuk bersekolah di Singapura dan tinggal disana. Tapi tidak tahu apa sebabnya Nia menolak untuk bersekolah di Singapura seperti ada seseuatu yang memberatkan hati Nia.
Sampai pada suatu saat Nia mengakatakan padaku kalau dia sudah memutuskan untuk sekolah di Singapura. Saat Nia mengatakan hal itu sebenarnya aku senang tapi disisi lain ada perasaan sedih harus kehilangan seorang sahabat seperti Nia.
Aku membantu Nia untuk menyiapkan segala suatu administrasi yang Nia butuhkan untuk mendaftarkan diri ke Singapura karena harus mengirimnya Via-Online dan Ayahnya yang akan mengurus tentang segala sesuatu yang dibutuhkan Nia di Singapura. Aku sama dengan Nia, sebelum mendaftar aku sudah berulang kali mengecek semua persyaratan pendaftaran.
Setelah berkas-berkas dan surat-surat untuk mendaftar kuliah lengkap, Akhirnya aku mendaftar kuliah di temani oleh Ayahku karena Ayah mengambil libur hanya untuk menemaniku mendaftar. Awalnya Nia yang mau mengantarku untuk mendaftar tapi Nia juga harus menyelesaikan administrasi yang diperlukan untuk tinggal di Singapura.
***
Pagi itu setelah semuanya siap aku dan ayahku berangkat menuju kampus. Membutuhkan waktu hanya 1 jam dari rumah untuk sampai di Universitas yang akan aku daftar. Di Universitas itu sudah banyak sekali yang mengantri untuk mendaftar dan gedung pendaftaran ada Spanduk bertuliskan “Pendaftaran One Day Service”. Aku yang ditemani ayahku mendaftar dibagian adminisrasi untuk mengisi formulir pendaftaran dan mengikui Ujian secara langsung. Setelah mengikuti Ujian, langsung pengumuman akan dikeluarkan 1 jam setelah Ujian dilangsungkan sambil menunggu pengumuman itu, aku dan ayahku berjalan-jalan terlebih dahulu di Kota P. Ayahku mengajakku berkeliling untuk memperkenalkanku Kota P dan memberitahuku tempat dimana Toko buku berada dan Departement Store yang lainnya yang ada di Kota P. Setelah satu jam berkeliling, aku dan Ayah kembali lagi kekampus untuk melihat pengumuman. Aku dan ayahku mencari cari namaku dilembar kertas yang terpasang di Papan pengumuman.
“Lin,, Ini nama kamu ada?” Kata ayah tersenyum. Aku melihat kertas yang ayahku tunjukkan ternyata benar namaku ada.
“Liana Astari Progam Studi Teknik Sipil S1 “Lulus”" Kataku memastikan lagi.
Setelah aku dinyatakan Lulus. Aku segera mengurus persyaratan dan administrasi untuk menjadikan ku Mahasiswi dikampus ini. Satu hari di Kota P dan harus berlari-larian ketukang Foto Kopian, akhirnya selesai semua urusannya. Aku diberi Jadwal untuk Registrasi pembayaran dan Jadwal untuk mengikuti segala kegiatan yang akan diadakan oleh kampus untuk Mahasiswa baru sepertiku ini.
***
“Lin, gimana daftar kuliahnya?” Tanya Mas Alif kepadaku.
Aku melihat saat itu Mas Alif sedang berkutat dengan mobilnya. Aku mendekati Mas Alif.
“Mas? Lagi ngapain sih?” Tanyaku heran. “Kok, setiap aku kesini mesti Mas Alif sedang mainan sama mobil ini.”
__ADS_1
“Ini itu namanya perawatan Mobil, Lin?” Katanya. “Oya,, Nia dan aku sudah menyelesaikan semua Administrasinya untuk ke Singapura.” Kata Mas Alif. Mas Alif hanya melihatku.
“Wahh,,, Cepet iya?” Kataku mencoba tersenyum padahal perasaanku saat itu sedikit sedih dan ada rasa takut kehilangan Nia.
Aku tidak berani bertanya kapan mereka akan ke Singapura. “Aku juga sama, Mas. Aku juga tinggal registrasi ulang aja. Oya Nia mana?” Tanyaku.
Mas Alif hanya menunjuk dengan jarinya kalau Nia sedang ada dikamarnya.
Awalnya aku berjalan kekamar Nia bersemangat karena aku ingin menceritakan tadi saat aku melakukan pendaftaran. Tapi, semakin lama langkahku semakin berat. Ada perasaan ragu ketika aku harus bertemu dengan Nia saat ini. Sesampainya dikamar Nia, ketika aku mau membuka pintu kamarnya tangan ini tiba-tiba terasa berat aku hanya menggantungkan tanganku digagang pintu.
“Apa yang harus aku ceritakan sama Nia?" batinku.
Ketika aku sedang melamun, tiba-tiba saja pintu kamar Nia terbuka dari dalam.
“Nia,,, Kaget akuuu?” Kataku sedikit terkejut. Nia hanya melihatku bingung
“Kenapa enggak masuk? malah berdiri disini.” Kata Nia dengan sedikit sewot mungkin karena dia juga terkejut.
“Iya,, Ini mau masuk.” Kataku. Aku langsung masuk saja kekamar dan tidak memperdulikan Nia yang masih berdiri didepan pintu.
Aku berdiri didekat jendela kamar Nia.dan melihat pemandangan disekitaran komplek rumah Nia yang aku lihat hanyalah.atap-atap rumah yang tersusun rapi. Aku mendengar dari arah belakang Nia sedang bersenandung menyanyikan lagu Peterpan judulnya Sahabat ketika sampai direff aku pun ikut bernyanyi. Ketika lagunya habis aku berjalan mendekati Nia yang sedang merapikan buku-bukunya untuk dimasukan kekardus.
“Boleh kubantu?” Aku mengambil buku-buku yang masih berada di Rak Buku. Nia hanya menganggukan kepalanya. “Yang mau dibawa mana aja?” Tanyaku. Nia hanya diam saja dan berhenti mengambil buku-bukunya dari rak.
“Lin,,,” Kata Nia. Aku hanya melihat Nia dan mencoba tersenyum.
“Kita berangkat 5 hari lagi, Lin?” Kata Nia yang masih belum melepaskan pelukannya. “Lin,, Aku sayang sama kamu?” Kata
Nia. Aku hanya tersenyum mendengar kalau Nia sayang sama aku.
“Iyaa,, Aku juga?” Kataku. Aku juga semakin memeluk Nia. “Aku juga sayang sama kamu sebagai sahabat terbaikku. Memang ini keputusan yang berat, Ni? Meskipun kita jauh, aku enggak mau kamu lupa sama aku.” Nia hanya menganggukan kepalanya saja. Aku dan Nia lama berpelukan, seolah-olah kita tidak akan bertemu lagi untuk selamanya.
5 hari sebelum keberangkatan Nia. Aku membantu Nia dan Mas Alif membereskan apa saja yang akan dibawa ke Singapura. Dari mulai pakaian, buku-buku dan segala sesuatu yang menurut mereka penting dibawa.
Aku menemani Nia untuk berpamitan kepada teman-teman dekat Nia. Seperti Mas Indra teman main band bersama dan teman-teman Nia saat bermain basket. 5 hari sebelum keberangkatan, aku dan Nia memanfaatkan waktu kita bersama sebelum kita benar-benar berpisah. Aku dan Nia menghabiskan waktu untuk bermain-main di Muse dan mendengarkan Nia bermain dengan gitarnya
***
Aku dan teman-teman Nia mengantarnya hingga Bandara. Bandara saat itu sedang sangat ramai. Ramainya bandara saat itu tidak membuat senang karena perasaanku yang begitu berat harus kehilangan seorang sahabat seperti Nia.
Tidak tahu kapan lagi aku bisa bertemu dengan Nia, Entah 2 atau 3 tahun Aku bisa melihatnya lagi. Aku dan Nia tidak banyak bicara, Aku tidak tahu apa yang sedang Nia pikirkan, Apakah sama denganku atau tidak. Aku mengantar Nia sampai tempat pemberhentian terakhir ketika orang yang mengantar tidak boleh ikut masuk.
“Ni, ingat. Jangan lupa hubungi aku setelah kamu sampai disana, jangan lupa sama janji kita. Jaga Komunikasi jangan sampai terputus.” kataku. Aku kemudian terisak.
“Iya,, Jaga kesehatan selalu?” Kata Mas Indra menambahkan.
__ADS_1
Aku seketika itu langsung.memeluk Nia. Perasaanku benar-benar berat saat itu harus kehilangan Nia. Nia sahabat yang selama ini selalu ada untukku.
“Jangan Nangis jelek. Aku pasti akan kembali. Hanya Singapura ini.” Kata Nia mencoba menghiburku.
Akupun tertawa mendengar kalimat Nia. Nia dan Mas Alif kemudian berjalan dan menghilang ditelan oleh keramaian yang ada dibandara saat itu. Aku mendengar dari arah sumber suara kalau keberangkatan singapura akan segera Lepas lamdas 10 menit lagi.
Aku mencoba tenang ketika aku melihat pesawat yang Nia naiki sudah terbang jauh.diatas sana. Aku berharap suatu hari nanti aku masih bisa bertemu dengan Nia. Aku mengusap air mataku.
“Ni,, Sejauh apapun kita berpisah aku yakin kita akan bisa bersama lagi. Menghabiskan waktu kita di Muse dan bermain-main bersama lagi.”
***
Malam ini aku bernostalgia lagi dengan lagu peterpan sahabat, kudengar kencang-kencang menggunakan speaker dikamar yang cukup kedap suara. Aku mulai mengetik beberapa cerita yang nantinya akan kujadikan kenanganku.
Aku tak ingin sampai ditahap ini aku merasakannya sendiri. Berbagai jenis perasaan dan emosi coba kuluapkan di mesin ketik yang mulai usang dan layar monitor yang sedikit berdebu.
Kucoba pindahkan catatan kecil yang kutulis dengan menempatkannya pada file document memory. Agar aku tahu sejauh mana aku bisa bertahan dengan perasaanku ini. Aku hanya ingin suatu saat jika dia dan kekasihku kembali padaku aku masih menyimpan berbagai kondisi, kerinduan dan Kasih sayang. Aku bisa menyombongkan diriku.
"Aku bisa bertahan dan berdiri tegak tanpa kalian..."
Tapi harus berapa lama aku menunggu. 2, 4 , 6 tahun atau beberapa tahun lagi aku harus menunggu semuanya reda.
Aku melihat-lihat kembali tulisanku yang sudah kuketik. Ku naik turunkan dan membacanya sekali lagi. Aku menaikkan kacamataku hingga kedahi.
"Sebegitukah aku merindukan kalian?" Aku menghelas nafasku panjang.
Dan kumatikan laptopku. Kurebahkan tubuhku yang sedikit mulai kaku ini.
🌳🌳🌳
Terkadang perasaan rindu membuat Jenuh
Tak bisa memandang
Tak bisa menyentuh
Apalagi bertatap muka
Panggilan suara tak bisa melihat Ekspresi
Chat tak tahu perasaan ketika yang diberikan hanya emoticon 😓🤗😏
Video Call tak mempan karena sinyal buruk
busa lin
__ADS_1
(Absurs sekali)