My Muse 'Kamulah Inspirasiku'

My Muse 'Kamulah Inspirasiku'
BAB 31 LAUNCHING NEVER LAND


__ADS_3

Launching butik Nia yang berkonsep tentang Neverland dan kisah Mitologi Yunani menjadi pembicaraan hangat dikalangan sosialita kelas dunia. Tidak hanya dari mulut kemulut tetapi hal ini menjadi tranding topik di acara berita berita TV nasional swasta di Indonesia.


Wartawan dari berbagai satsiun TV sawasta rela untuk menunggu diluar butik dan tidak henti-hentinya mengambil gambar butik Nia dari luar.


Waktu acara Pers Konfrensi Nia mengatakan akan meresmikan Butiknya 2 hari lagi dan akan memberitahukan nama dari Butik ini karena belum ada namanya. Aku hanya bisa melihat Nia dari layar kaca saja, Aku sudah menerima surat undangan dari pihak Nia untuk menghadiri acara launching butik.


Aku berniat untuk tidak hadir karena pasti akan terasa canggung dan aneh ketika bertemu Nia. Ketty pun yang sebenarnya tidak pernah menyukaiku sama sekali. Ketty memintaku untuk datang keacara Launching butik Nia dan Nia sama sekali tidak menghubungiku.


“Datang Lin?” tanya Mas Hendra


“Enggak lah,,,” Jawabku singkat.


“Kenapa? Takut iya?” Kata Mas Hendra menggodaku.


Aku hanya manyun mendegar Mas Hendra mengatakan itu. “Kalau enggak, besok datang iya? Temani aku?” Katanya.


“Apa? Mas Hendra mau datang?” Tanyaku terkejut.


“Iya iyalah datang, sahabatmu, sahabatku juga. Tapi pacarku bukan pacaranya.” Kata Mas Hendra semakin menggodaku yang hanya aku bisa lakukan adalah mencubit lengannya dan Mas Hendra dan Mas Hendra hanya merintih kesakitan.


***


Mas Hendra membantuku keluar dari mobil. Aku merasa sangat gugup ketika sebelum sampai di Butik Nia dan ketika sudah sampai rasa.gugupku semakin mendera. Mas Henda menggandengku untuk memasuki butik Nia. Aku dan Mas Hendra harus mengantri masuk karena banyak sekali orang-orang yang datang keacara Launching Butik Nia. Para wartawan sangat antusias untuk mengambil berbagai gambar dari berbagai sudut. Aku melihat para wartawan itu sedang mempersiapkan segala kelengkapannya dan bersiap untuk mengambil gambar Presenter, ada juga yang memberi aba-aba untuk segara Take dan masih lagi kegiatan-kegiatan para wartawan itu.


"Ini diluar gimana didalam?" Batinku.


Aku dan Mas Hendra akhirnya bisa memasuki ruangan itu setelah sekian lama berdiri diluar untuk mengantri. Aku bisa melihat Ekspresi wajah Mas Hendra ketika masuk keruangan ini yang sama seperti ku saat pertama kali memasuki ruangan ini, saat itu aku bisa berteriak karena butik ini masih sepi belum dibuka untuk umum.

__ADS_1


Tapi sekarang, tempat ini bagaikan akan ada pertunjukkan Musik yang luar biasa megah, ramainya melebihi konser. Aku yakin kalau saja Mas Hendra bisa berteriak pasti dia akan berteriak sangat kencang karena takjub melihat desain ruangan yang indah.


Aku bisa melihat disini, para Sosialita sangat mengagumi desain-desain pakaian Nia yang terpajang sangat indah diberbagai sudut-sudut ruangan daripada mengagumi Desain Interornya. Desain  rancangan Nia baik itu pakaian, tas atau sepatu belum bisa dibeli karena butik ini belum di resmikan secara sah oleh pemiliknya. Jadi, wanita-wanita sosialita ini harus menunggu dengan sabar sampai Butik ini benar-benar resmi dibuka.


“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, Mohon perhatiannya.” Terdengar Suara dari arah panggung.


Tanpa perlu di Instruksikan kembali, para tamu undangan pun serempak menuju arah sumber suara dengan tertib. Panggung yang berada didalam ruangan yang sangat besar itu sudah didesain sedemikian rupa. Ada pita merah yang panjang untuk nantinya Nia gunting.


“Terimakasih Tuan dan Nyonya-nyonya. Baiklah sebelum acara peresmian ini kita mulai, tidak adalah salahnya saya selaku Mc ingin menyampaikan susunan acaranya........” Kata Sang moderator dengan sangat gagah.


Moderator menyampaikan susunan acaranya dengan sangat suara yang nge-Bass. “Baiklah, itu tadi susunan acaranya, sekarang saya panggilkan, Desianer kita. Karunia Venatan.” Serempak tepuk tangan para tamu berbunyi dan sorotan kamera tidak henti-hentinya mengambil gambar.


Nia berjalan menaiki panggung dengan senyum diwajahnya. Sama seperti waktu dulu, Aku jadi teringat ketika Nia naik keatas panggung untuk bersiap bernyanyi bersama bandnya dengan senyum diwajahnya dan Aku sebagai penonton setianya bersiap untuk mengambil gambar saat dia perfrom.


Hal inipun sama aku lakukan, Aku tetap menjadi penggemarnya dan akan selalu bersiap untuk mengambil gambar Nia. Nia sudah berada diatas panggung dan bersiap untuk menyampaikan pidato singkatnya dan pemberian nama Butik ini. Sebelum Nia bicara, tanpa sengaja aku yang sedang fokus untuk merekam Nia, Nia melihatku. Aku menyingkirkan kamera ditanganku dan melambaikan tanganku pada Nia. Nia pun sama denganku dia tersenyum padaku.


“Tumben liat aku ditengah keramaian seperti ini." Gumamku.


“Apa?” katanya.


“Tidakkk adaa,,,” aku sedikit berteriak.


Nia membenarkan posisi Mik-nya yang sedikit miring dan Nia bersiap untuk memberikan pidatonya.


“Terimakasih untuk para tamu undangan yang sudah berkenan hadir dan terimakasih juga untuk para sponsor yang sudah mau menghabiskan biayanya untuk membangun butik ini, tidak lupa saya ucapkan rasa terimakasih pada teman-teman media yang sudah berkenan hadir.” Nia diam sejenak dan melihat kearah para tamunya.


“Butik ini, Saya akan memberikan nama.” Nia mengambil nafas panjang dan bersiap untuk memberitahukan nama butik ini.

__ADS_1


“NEVER LAND." Nia melihat kearahkh.


"Itu adalah nama dari butik ini.” Serempak suara tepuk tangan bergemuruh.


“Never Land adalah Tanah Impian, Negeri Impian untuk para pemimpi besar dan mimpi itu tidak akan pernah padam jika usia kita sudah tidak muda lagi.”


Suara tepuk tangan semakin kencang ketika Nia mengakhiri pidatonya. Mc meminta Nia untuk segara meresmikan butik ini dengan memotong pita merah ini sebagai simbol bahwa Butik Never Land siap untuk bersaing di Dunia Fashion.


Sebelum Nia memotong pita merah itu, Nia membisikan sesuatu pada Mc dan Moderator itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


"Baiklah, sekarang yang namanya saya panggil. Saya harap untuk maju kedepan.” Kata Mc tersenyum.


“Liana Astari, saya harap untuk maju kedepan dan mendampingi Nona Nia untuk memotong pita ini.” Kata Mc.


Aku sedikit terkejut ketika namaku dipanggil. Aku tidak siap namaku dipanggil dan Mas Hendra menyuruhku untuk segera untuk naik keatas panggung. Aku memberikan kameraku ke Mas Hendra. Spontan seluruh tamu undangan memandangku, mereka semua memberikan jalan untukku, Aku bagaikan berjalan di Red karpet dan semua kamera otomatis menyorotku. Aku berjalan agak ragu-ragu, ketika aku sampai didekat panggung Nia meraih tanganku dan membantuku berjalan.


Aku memandang Nia. Aku dan Nia saat ini sedang berada didepan pita merah ini, tidak sepatah katapun keluar dari mulut Nia. Nia hanya tersenyum memandang kearah depan dan bersiap untuk mengambil gunting itu dari baki yang telah disediakan.


Dengan aba-aba dari Moderator, Aku dan Nia pun menggunting Pita merah itu secara bersamaan. Suara riuh dan tepuk tangan para tamu undangan menggema diseluruh ruangan dan kamera tidak henti-hentinya megambil gambar yang membuat mata semakin silau karena kilatan cahaya.


Aku berharap semoga Butik Never Land ini akan selalu sukses dan Nia selalu memberikan segala Inspirasi yang dia punya untuk mendesain pakaian-pakaian yang sangat indah, untuk sepatu dan tas nya aku juga berharap akan selalu ada model-model yang baru dan menarik. Meskipun, Nia memintaku untuk menemaninya memotong pita merah itu, sikap Nia masih dingin padaku, ketika aku berusaha untuk berbicara pada Nia, Nia dengan sangat jelas menghindariku.


Acara launching Never Land telah usai tetapi hubunganku dengan Nia masih belum bisa kembali. Andai saja hari itu Nia tidak mengatakan isi hatinya pasti semua tidak akan sekaku dan secanggung ini.


Aku selalu berharap hubunganku dengan Nia akan semakin baik. Aku berharap semoga kita berdua bisa kembali seperti dulu lagi.


🌳🌳🌳

__ADS_1


Salam


Busa Lin


__ADS_2