My Muse 'Kamulah Inspirasiku'

My Muse 'Kamulah Inspirasiku'
BAB 35 KUUCAPKAN SELAMAT TINGGAL 2


__ADS_3

Sebelum Pukul 2 siang aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Aku mengenakan Gaun yang Nia berikan untukku. Gaun itu terlihat sangat indah dan Glamour tetapi tidak menghilangkan kesan Elegan dan sederhana karena Nia tahu aku tidak senang pakaian yang terlalu mewah.


Gaun hijau toska polos yang jika kugunakan itu panjanganya menutupi mata kakiku dan bagian dadanya tertutupi dengan bunga-bunga transparan dan bagian lengannya panjang sangat serasi dengan sepatu high heels berwarna putih tulang.


“Benar kata Nia,,,” Aku melihat diriku di depan cermin yang mengenakan Gaun. “Tidak terlalu terbuka, Untuk yang satu ini aku suka, Ni?” Kataku dalam hati.


“Wahhh,,,” Mas Hendra yang melihatku menggunakan Gaun itu terlihat sangat terkejut dengan perubahanku. Aku biasanya menggunakan celana jeans dan kemeja panjang kemudian tiba-tiba berubah seperti ini.


“Wahh,, Kamu cantik juga kalau berpakaian seperti ini.” Kata Mas Hendra tersenyum.


“Biasanya?” Tanyaku. “Mas Hendra juga kelihatan tampan, Dengan setelan Jas seperti ini.” Kataku. Aku dan Mas Hendra hanya tertawa bersama.


“Ini, untukku?” Tanyaku pada Mas Hendra. Aku melihat Mas Hendra membawa seikat Bunga ditangannya.


“Enak aja,,, ini untuk sahabatmu.” Katanya.


”Yang aku tahu jika keacara seperti ini, teman baik harus membawakan seikat bunga kan? Untuk memberikan dukungan.” Kata Mas Hendra menjelaskan padaku. Aku hanya mengangguk membenarkan.


Tujuan kami adalah Museum kesenian yang ada dikota B tempat ini yang akan dijadikan untuk acara Fashion Show itu. Kita berdua pun akhirnya menuju kelokasi tempat Fashion Show dilaksanakan. Sesampainya disana ternyata tempatnya sudah ramai. Karena Nia adalah Desianer yang sudah terkenal dikancah Internasional para wartatawan pemburu berita sudah siap di luar gedung membawa Kamera untuk mengabadikan moment langka seperti ini.


Aku menggandeng tangan Mas Hendra menuju Loby ruangan Museum itu dan memperlihatkan tiket beserta surat undangan sebagai Tamu kepada petugas penjaga. Kita berdua dengan mulus memasuki ruangan tempat dimana akan dilaksanakan Fashion Show itu. Peganganku semakin erat dan jantungku semakin berdetak kencang, langkah kaki ku semakin lama semakin berat untuk berjalan. Mas Hendra berusaha menenangkan dan tetap memegang tanganku yang dingin.


Alunan Musik yang sangat merdu menyambut kedatangan kami didalam panggung. Panggung panjang yang sangat Mewah dan terkesan sangat Glamour menjadi pusat perhatianku pertama. Panggung itu memancarkan lampu lampu yang berkelap-kelip. Kursi-kursi yang dibungkus kain merah dibuat mengelilingi panggung supaya setiap tamu-tamu undangan yang melihat bisa leluasa menikmati setiap model yang akan berjalan dan tata ruangan yang bernuansa Putih dan Ungu ini menambah kesan sangat Mewah dan tetap terlihat elegant. Bunga-bunga yang cantik sengaja dipajang disudut-sudut ruangan untuk mempercantik ruangan ini.


Kursi-kursi yang disediakan untuk tamu Undangan sebagian ternyata sudah penuh. Aku dan Mas Hendra memilih duduk didepan. Semua tamu undangan sudah hadir dan Kursi-kursi sudah terisi penuh. 


Tepat pukul 4 sore, acara dimulai. Alunan Musik yang tadinya pelan perlahan-lahan memulai mengeras dan kain besar yang menutupi sebagian panggung terbuka. Tepuk tangan meriah menggema diseluruh ruangan menyambut model-model yang keluar secara bergantian untuk membuka acara pada sore hari ini, Hanya 3 model yang keluar. Para wartawan dan kameran-man yaang sedari tadi stand by on untuk mengambil gambar para model dengan sigap mengambil gambar kearah model yang Flashnya menyilaukan mata.


Setelah ketiga model itu keluar dan kembali kebelakang panggung, pembawa acara menaiki panggung. Pembawa Acara memberikan sambutan-sambutan dan Ucapan selamat datang kepada para tamu Undangan.


“Terimakasih sekali lagi yang sudah berkenan untuk Hadir. Dan... Tanpa menunggu-nunggu lagi. Kita akan tampilkan seluruh desain-desain dari Desianer Muda Asal Indonesiaaaaa,,,, Karunia Venatan.... “


Musik pun berganti aliran musik, Musik yang tadinya Slow Merdu kini berubah menjadi nge-bite, tetapi kesan seksi dari musik ini tidak hilang. Satu-persatu model keluar dari balik panggung. Tepuk tangan menggema sangat kencang. Model-model ini berliuk-liuk diatas panggung mengenakan Pakaian rancangan Nia yang sangat indah. Aku melihat dengan serius Model-model yang keluar masuk itu, ternyata ada sedikit perubahan dari desain rancangan Nia. Aku tersenyum melihatnya. Biasanya Nia senang dengan Desain yang terkesan Seksi dan sangat terbuka kini yang aku lihat Pakaian-pakaian yang dikenakan model-model itu sudah sedikit tertutup tapi kesan Seksi, Glamour, Elegan dan sederhana tidak hilang.


Semua rancangan Nia sudah diperlihatkan dan diperagakan oleh Model-model itu, kini saatnya sang Desainer untuk keluar dan berdiri diatas panggung bersama para modelnya. Akhirnya yang aku tunggu keluar juga, Nia keluar dari balik panggung di iringi oleh kedua Modelnya dan Model yang lainpun menunggu dibelakang. Semua mata tertuju pada Nia sang Desainer berbakat asal Indonesia. Kamera yang dari tadi tidak henti-hentinya mengambil gambar kini bertambah banyak yang mengambil gambar. Senyum dibibir Nia tidak lepas dari wajahnya terlihat sangat senang. Nia Berjalan diatas panggung sambil melambaikan tangannya menyapa seluruh tamu, Nia berhenti diujung panggung  dan semua yang hadir bertepuk tangan.


Mataku tidak lepas melihat Nia, Nia belum menyadari kedatanganku. Tiba-tiba air mataku menetes dan Mas Hendra merangkulku mencoba menenangkanku. Ketika Nia berbalik badan dan melihat kekanan kirinya, Akhirnya Nia melihatku juga. Masih ditengah ramainya sorak sorai dari para tamu undangan. Nia berhenti berjalan dan memandangku. Entah apa yang ada dipikiran Nia saat ini ketika melihatku sekarang. Mataku dan Mata Nia bertemu kita beradu pandangan. Nia kemudian berjalan kembali menuju kebelakang panggung.


“Hallo,, Mba Nia?” tanya Pembawa acara.


“Sebelum acara ini ditutup, berikan satu dua kata untuk menggambarkan perasaan anda.”


“Emmm,,,,,” Nia menggantung kalimatnya.


“Terimakasih, Untuk kalian semua yang sudah mau hadir di Fashion Show Saya sore ini, terimakasih juga yang sudah mendukung acara ini...” Kata Nia panjang lebar.


“Mba,, Ada pertanyaan ini dari penggemar Mba Nia? Mba sudah punya pacar atau belum?” Kata Pembawa acara menggoda dan suara sorak-sorakpun silih berganti terdengar. Nia hanya tersenyum.


“Aku sedang menunggu sesorang.” Kata Nia yang melihat kearah ku dengan tatapan penuh makna


“Wawww,,, Jadi untuk yang disana yang sedang mengharapkan Nia,,, Jangan berharap banyak. Ternyata dia sedang menunggu sesorang untuk dijadikan kekasihnya.” Kata Pembawa acara.


Dan Acara Fahsion Show ditutup dengan sangat meriahmya.


Setelah acara Fashion Show itu selesai rencana ku yang akan menemui Nia ternyata tidak bisa. Karena aku saja tidak mempunyai keberanian untuk bertemu dengan Nia. Aku menatap langit yang sedang mendung ini seperti akan hujan dan seolah mengejekku. Aku bingung harus mengatakan apa pada Nia ketika aku bertemu dengannya. Saat ini aku sedang duduk sendirian ditaman menunggu Mas Hendra yang sedang membelikanku minuman.


“Apakah aku harus mengatakan, jangan pergi lagi Nia? atau aku mau jadi pacar kamu? atau kamu harus ninggalin aku, karena aku mencintai Mas hendra dibanding kamu... atau... atau...." Aku hanya bisa mengatakan dalam hati.


“Haaaa,,,, Siallll,,,, kenapa aku harus datang ketempat ini. Kalau pada akhirnya Nia tidak mau bersamaku lagi....” Aku berteriak.


“Haaaa,,, siallll... Awas kalau aku... “

__ADS_1


“Awas, Kenapa?” Tiba-tiba suara dari arah belakang mengagetkan ku. Aku membalikkan badanku dan aku melihatnya, Aku segera berdiri ketika yang berada dibelakang ku adalah Nia.


Aku memperbaiki posisi berdiri yang kurang benar. Akuhanya diam saja dan bingung. Nia berjalan mendekatiku dan melewatkanku begitu saja lalu Nia duduk dikursi yang tadi aku duduki. Aku hanya berdiri diam seperti patung.


“Kenapa, hanya diam?” Nia melihatku. “Ayoo,, duduk sini?” Kata Nia menyuruhku untuk duduk.


Aku agak ragu untuk duduk disebelah Nia, Rasanya canggung tetapi aku tetap harus bisa menyesuaikan diriku dengan Nia. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kita berdua, Hanya diam. Entah apa yang sedang Nia pikirkan dan Aku merasa canggung untuk membuka pembincaraan. Aku hanya menatap langit yang mendung itu dan sekali lagi langit itu mengejekku.


“Kok diam?” Kata Nia memecah keheningan


“Biasanya kamu bicara terus seperti burung Beo,,, lagi sakit tenggorokan iya?” Kata Nia yang tertawa dan melihatku. Aku buru-buru membuang mukaku dan memandang kedepan dengan segera.


“Kamu cantik,,” Katanya lagi. “Suka sama bajunya?” Tanya Nia padaku.


“Gimana kabar kamu, Ni?” aku tidak menjawab pertanyaan Nia. Nia hanya memandangku.


“Aku baik,,,”


“Hebat iya sekarang, sudah jadi Desainer yang terkenal sangat terkenal. Dikenal banyak orang.”


“Terimakasih. Semua harapanku dulu kini jadi kenyataan, Lin.” Kata Nia tersenyum.


“Menjadi seorang Desainer yang karyanya bisa dibanggakan.” Aku senang mendengar jawaban Nia.


Biasanya dia kalau ditanya-tanya seperti ini pasti tidak akan pernah mau menjawab dan mengalihkan pertanyaannya.


“Tumben,,,” Kataku. Nia hanya melihatku tidak megerti.


“iyaa,, tumben. Kamu diajak ngomong mau jawab pertanyaanku, biasanya,,, tunggu aku sampai marah baru dijawab.” kata ku dengan muka yang disebal-sebalkan. Nia hanya tertawa.


“Nia, bisa tidak kita seperti dulu lagi.” Aku mencoba memberanikan diriku untuk mengatakan hal ini karena kapan lagi punya kesempatan bertemu dengan Nia selama 3 tahun tidak bertemu.


“Aku kangen saat-saat dimana kita bersama, Aku kangen berantem sama kamu,,, semua, Ni.”


Apa yang harus kujawab?” Batinku.


“Perasaan mu padaku bagaimana, Lin?” Tanyanya lagi. Aku hanya bisa diam saja.


“Kamu tahu kan, Lin. Kalau aku itu sayang sama kamu dan Satu hal yang perlu kamu tahu, Lin. Dari dulu sampai sekarang kamu adalah Museku, Orang yang sedang ku tunggu-tunggu selama ini adalah kamu. Kamu, Lin?”  Kata-kata Nia yang keluar dari mulutnya membuat wajah Nia berubah memerah itu pertanda dia sedang menahan emosinya.


“Iya,, aku tahu, Ni. Tapi Nia, duniaku dan dunia mu itu berbeda. Kita sama-sama perempuan enggak mungkin kita menjalin suatu hubungan yang lebih, Ni. Kamu tahu kan hukum dinegara kita bagaimanaa? Hubungan yang seperti ini masih minoritas, Ni.”


Nia berdiri sepertinya dia sangat marah dengan kata-kataku barusan.


“Apa ada yang salah dengan kata-kataku?” batinku.


Aku ikut berdiri. “Hunbunganku dengan Mas Hendra masih baik, Ni.” Kataku.


“Apa kamu takut jika harus menjadi kekasihku, Lin? Apakah kamu tidak berani untuk mencintaiku, Lin? Apakah Cinta harus memandang, Aku ini siapa? Perempuan atau laki-laki? Apakah salah jika aku mencintaimu karena aku seorang wanita? Apakah negara akan menghukum ku mati, apakah semua orang akan membunuh ku, Lin. Jika kau mencintai seorang perenpuan? iya Lin!!!" Nia berteriak sangat kencang.


“Jika hati sudah bicara apa yang harus kulakukan, Lin? Apa!!!” Nia berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


“Bukan, bukan itu yang kumaksud, Ni. Hanya saja aku tidak mau kehilangan kalian berdua, Aku sayang sama kalian. Aku takut kehilanganmu dan Mas Hendra. Aku tidak bisa kalau aku harus kehilangan kalian, Ni?” Kataku. Aku menangis terisak-isak.


“Nia, semua yang kamu katakan benar, Aku ini penakut dan bukan orang yang berani. Apalagi untuk urusan Cinta. Bukan Cinta kamu yang salah, Ni. hanya saja aku tidak berani untuk Mengatakan “Iya” padamu dan tidak berani mengatakan “Tidak” padamu karena aku benar-benar mencintai Mas Hendra Ni?”


“Kamu egois, Lin.” Nia menatapku tajam.


“Kamu egois,, Kamu enggak bisa memilih diantara aku dan Mas Hendra. Kamu menginginkan Aku untuk tetap bersamamu untuk tetap menjadi sahabatmu disisi lain kamu enggak mau ninggalin Mas Hendra. Bagaimana perasaanku, Lin? ketika aku harus bersamamu tapi aku tidak bisa memilikimu seutuhnya.” Nia menangis. Nia berjalan menjauhi ku.


“Niaa tunggu!" Aku mengejar Nia.

__ADS_1


“Kamu, 3 tahun yang lalu boleh meninggalkanku seperti ini begitu saja. Tanpa aku bisa bicara apa-apa, Sekarang dengarkan aku baik-baik, Ni. Setelah ini kau bebas akan pergi kemana aja dan membenciku.” Kataku. Aku mencoba untuk mengatur nafasku dan menghalangi Nia berjalan.


“Nia, Jujur aku sebeneranya takut kehilanganmu, Jujur selama aku berteman denganmu aku merasa nyaman dan tenang jika bersamamu, rasa sayang aku sama Kamu lebih besar daripada rasa sayang aku pada Mas Hendra.” Aku diam sejenak mengatur nafasku dan Nia mulai mau menatapku.


“Ni, Aku tahu cinta itu tidak pernah mengenal Jenis, Mau Homo, Lesbi atau Normal itu masalah hati. Iyakan? Cinta juga tak pernah mengenal usia. Tapi satu yang perlu kamu ingat, Ni. Aku sayang kamu sebagai sahabat aku, Rasa sayang yang aku miliki buat kamu bisa berubah jadi Cinta manakala rasa itu berubah menjadi rasa takut kehilangan.” Aku menghela Nafas panjang lega sudah bisa mengatakan semua hal yang aku ingin katakan sejak dulu.


“Nia, terserah kamu mau mengatakan aku egois atau apalah,,, Tapi maaf Ni, aku mencintai Mas Hendra sebagai kekasihku dan Aku menyayangimu sebagai Sahabatku.”


Aku mengeluarkan Buku Diary Nia yang aku bawa dari rumah Nia dari dalam tasku dan memberikannya pada Nia yang sedang menangis terisak-isak. Aku berusaha untuk tegar dan mengusap air mata dari pipiku. Nia yang melihat Buku Diary itu hanya melihatku, sekali lagi aku tidak tahu apa yang sedang dipikiran Nia.


“Sekali lagi, Terimakasih sudah mau mencintai orang seperti ku.” Kataku.


Nia berjalan meninggalkanku tanpa berkata apapun dan aku sudah tidak bisa menghalangi Nia lagi untuk pergi. Sebelum Nia pergi jauh lagi meningggalkan ku ada yang ingin kukatakan lagi.


“Niaaaa,,,” Teriakku karena Nia sudah agak jauh denganku dan Nia berhenti tanpa menoleh kebelakang.


“Ku Ucapkan Selamat Tinggal untukmu." Kataku berteriak.


Aku berusaha mencoba menahan supaya aku tidak menangis dan melambaikan tangan pada Nia. Tetapi tetap saja Air mataku gagal ku bendung, Aku menangis dan menangis lagi.


Nia semakin jauh berjalan meningalkanku dan bayangannya pun tidak terlihat lagi. Ketika aku melihat keatas tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya.


“Puas, kamu liat aku kayak gini.” Kataku memandang langit yang sedang menurunkan hujan dan terlihat semakin mengejekku.


Mas Hendra berjalan mendekatiku dan membawakanku payung untuk melindungi tubuhku dari derasnya hujan. Ketika aku melihat Mas Hendra, Aku langsung memeluknya dan menangis sekencang-kencanganya, aku tidak tahu harus berkata apa padanya.


“Ayoo, Kita pulang?” Kata Mas Hendra yang menuntunku. Aku dan Mas Hendra berjalan ditengah lebatnya hujan yang turan.


....


"Maaf membuatmu terluka, Ni? Kau tetap sahabat terbaikku. Terimakasih sudah mau mencintai perempuan jelek dan tak berperasaan sepertiku. Terimakasih, aku tak pernah menyesal bertemu denganmu. Kau adalah Anugrah terbaik yang pernah kumiliki. Terimakasih kau sudah mau menjadi sahabatku untuk seumur hidupuku. "


Aku memandang langit merah yang tidak bersahabat ini.


"Maaf, Jika aku jahat dan Egois terhadapmu, Mas? Terimakasih sudah mau Mendukungku dan merangkulku, apalagi mencintai perempuan bodoh sepertiku. Terimakasih karena aku menemukan cintaku didirimu. Terimakasih sudah menjadikkan ku kekasih hati. Terimakasih untuk kedewasaan atas Cintamu, Mas..."


Kupejamkan mataku dan berusaha untuk melupakan segalanya.


...


"Maaf memaksamu untuk mencintaiku, Lin? Terimakasih kau telah hadir dalam hidupku. Terimakasih telah menjadi Muse ku. Maaf jika kau kujadikan sebagai pusat Inspirasiku tanpa meminta ijin padamu. Terimakasih kau sudah ada untukku selama ini. Terimakasih kau mau menjadi sahabatku selama ini, Hingga kita tumbuh dewasa bersama."


Nia berada diruang pakaian. Dia duduk dikursi sofa sambil memandangi Gaun-gaun yang sudah diperagakan.


"Maaf jika aku harus membuat hatinya Goyah, Mas? Terimakasih kau sudah menemukannya dan mencintainya. Maaf harus membuatmu pusing dengan Rasa Cintaku pada Lin. Kutitipkan Lin padamu. Terimakasih atas kejujuranmu tentangku yang memberanikan diriku, agar aku tak menyesal nantinya."


Nia berjalan meninggalkan ruangan, dia menghela Nafas panjang. Sebelum Nia bener pergi meninggalkan ruangan itu, sekali lagi dia melihat Gaun-gaun yang sangat indah dengan tatapan bersalah.


...


"Maaf jika aku tidak bisa melepasmu, Lin? Aku tahu aku yang akan jadi pemenang dari rasamu. Terimakasih kau sudah mau menerima cintaku. Terimakasih untuk tetap mencintaiku. Terimakasih sudah menjadi pusat ketenangan untuk dihidupku. Terimakasih kekasihku untuk tetap setia bersamaku hingga akhir.


Mas Hendra menyesap rokoknya ditemani oleh segelas kopi. Dia memandang jalan yang tidak begitu ramai oleh kendaraan.


"Maaf, sedikitpun aku tak bisa menyerahkannya, Ni? Terimakasih kita pernah berbincang. Terimakasih kau menjadi alasanku untuk memperkuat cintaku padanya. Aku mengijinkanmu untuk berani mengungkapkan cintamu walau itu terasa menyakitkan, Maaf Nia. Terimakasih sudah menjaga Kasihku selama ini."


Mas Hendra berjalan ditrotoar menembus kabut malam yang tipis.


🌳🌳🌳


"Maaf jika ada pihak yang tidak suka atau kurang berkenan. Ini murni Imajinasi dan Author hanya menuangkan Ide cerita saja tidak lebih. Bukan bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Mohon Maaf...."

__ADS_1


Salam Damai 😘


Busa Lin


__ADS_2