
"Oh begitu,ya sudah mba..saya jadi paham sekarang..dan lagi juga nggak mungkin toh orang sesukses mbak Eve ini sampai tidak punya
pacar..ngawur kok memang si mbak Zuma itu!" kata mas Bagas kemudian mulai mengambil
nampan itu kembali dan bergegas kembali ke pantry.
Eve hanya tertawa kering
menyembunyikan cerita yang
sesungguh nya..dia hanya tidak mau sampai urusan pribadi nya itu dikorek-korek oleh orang lain.
Buat nya,orang-orang kantor tidak
perlu tahu soal apa yang terjadi dalam hidup nya.
Sandra yang dari tadi berlalu lalang
mengambil berkas dari lantai lima pun tiba-tiba saja berjalan menuju ke meja kerja Eve.
"Ev..gue masih penasaran sih sama bule yang lo ceritain tadi" ujar nya sambil berusaha kepo karena dia sudah penasaran.
"Sandra..kerja Sandra..jam istirahat masih empat jam lagi!" ujar Eve dengan tegas.
"Yah,elo mah nyebelin nggak bisa santai gitu..tadi gue ke lantai lima ngambil berkas di ruang arsip,terus ngga sengaja nih Eve gue ngeliat
ada bule cakep gitu!" cerita Sandra mengenai sosok bule yang dia lihat tadi.
"Ah lo mimpi kali Sand..bukan nya atu-satu nya bule di kantor ini cuma presdir Jhon, CEO kita" ujar Eve masih tidak percaya.
"Ishhh ini tuh neneran Eve..dia tuh cakep banget,udah gitu tinggi lagi..terus putih gitu mirip model lu tau nggak" mata Sandra kini bahkan mulai berbinar-binar ketika menceritakan sosok bule yang dia lihat tadi.
"Idih lo terlalu banyak nonton drama
mungkin,ck udah sana balik kerja lagi nanti kalo nggak selesai,lo tau apa yang akan terjadi selanjut nya kan?" ujar Eve menatap kedua mata Sandra dengan tatapan garang.
"Aduh iya ampun bu Manajer!" ujar Sandra lalu membalik kan badan nya dengan girang sambil membawa berkas-berkas itu ke meja nya.
Bule,hmm kenapa jadi teringat kata Dattan dua hari yang lalu ya.
"Bu Eve" ujar seorang pria bertubuh tinggi dan kekar menghampiri Eve di ruangan nya.
Wajah nya tidak menunjuk kan ekspresi apapun hanya ada kedataran dan keras seperti batu.
"Anda disuruh untuk menghadap ke pak presdir" perintah Dion,asisten pribadi presdir Jhonson
Communication.
Even pun menghentikan pekerjaan nya dan mulai bertanya-tanya,kali ini pak presdir mau apa lagi..dengan langkah mantap, Eve pun mulai meninggalkan ruangan departemen keuangan menuju kantor presdir.
#
Di ruang presdir sendiri,tampak duduk seorang pria paruh baya dengan kumis dan jambang yang tebal yang sudah beruban..wajah mya sudah dipenuhi kerutan terlebih di pipi dan di dekat bibir..kelopak
mata nya juga tampak begitu dalam, dihiasi sepasang bola mata biru yang secerah langit pagi.
__ADS_1
Rambut nya pun ikal dan berwarna
pirang nyaris perak..pria paruh baya itu memiliki ciri-ciri wajah yang asing karena memang pria itu bukan lah orang lokal..Jhonny Jhonson,adalah CEO dari Jhonson
Communication.
Sudah lebih dari dua puluh tahun lamanya Ia memimpin perusahaan milik kakek buyut nya itu..Doni pun mengetuk pintu ruangan presdir dengan jemari-jemari besar nya yang begitu mantap.
Perlahan Eve pun milai masuk ke dalam ruangan itu setelah merapikan rok dan kerah blazer nya yang terlihat agak miring.
"Selamat pagi pak Jhon..apakah anda mencari saya?" tanya Eve sopan dan lugas serta sopan.
"Ah Eve,pegawai favorit ku kemari lah" ajak pak Jhon pada Eve untuk duduk di kursi tepat di
depan pak Jhon.
Tangan Eve masih menggenggam rok sepan hitam nya,kakinya ia rapat kan sedikit miring agar rok span nya tidak terlalu tertarik saat duduk.
"Ada yang ingin anda bicarakan kepada saya pak?" tanya Eve sopan.
"Begini Eve,saya kan sudah memimpin perusahaan ini cukup lama bahkan mungkin sebelum kau lahir..perusahaan komunikasi Jhonson Communication memang perusahaan turun temurun dari
keluarga saya..kau paham itu kan Eve?" ujar pak Jhon masih belibet.
Eve hanya mengangguk mengiyakan dan tatapan mata nya fokus ke arah pria bertubuh tinggi itu.
"Sudah saat nya bagi saya untuk undur diri dari perusahaan ini Eve..kau paham kan saya sudah sangat tua untuk memimpin semua
perusahaan ini?" lanjut nya masih belum menemukan titik terang nya.
Lagi-lagi Eve pun hanya mengangguk,sepatah kata
"Alasan saya memanggil mu seorang diri sebenar nya karena saya punya sebuah perusahaan yang cukup menarik untuk mu" lanjut pak Jhon lagi kali ini membuat Eve sedikit menegakkan tubuh nya.
Mata Eve berbinar ketika mendengar kata penawaran dari bibir keriput pak Jhon.
"Benarkah..penawaran apa pak Jhon?" tanya Eve berbinar.
"Tetapi penawaran ini mungkin juga bisa saja membuat mu sangat kecewa karena,ekhemm" lanjut pak Jhon berdeham sejenak.
"Jabatan mu sebagai manajer
keuangan terpaksa akan dicabut"
Mendengar ucapan pak Jhon kedua mata Eve pun langsung terbelalak kaget..rasanya seperti disambar petir di siang bolong..ini pasti mimpi.
"Pak, ini tidak adil dong buat saya..saya bahkan sudah bekerja
sangat keras untuk dapat naik jabatan di usia muda Pak!" kini suara Eve sudah mulai meninggi.
"Iya saya paham Eve,kamu pasti akan kecewa..tetapi kau masih butuh pekerjaan ini bukan Eve?" ujar pak Jhon semakin membuat Eve emosi.
"Pak,atas dasar pertimbangan apa sehingga bapak mencabut jabatan saya sebagai manajer?" tanya Eve berusaha bersabar tak mau membuat suasana jadi kacau.
"Begini Eve..dengarkan saya dulu" pak Jhon pun menautkan kedua tangan nya dan melanjutkan.
__ADS_1
"Saya tahu betul bahwa kamu
memang salah satu pegawai terbaik di perusahaan ini..saya bahkan
memperhatikan kinerja mu sejak awal kamu bekerja di sini hingga detik ini..Namun saya juga terpaksa memberi mu penawaran untuk saya jadikan sekretaris pribadi untuk
presdir baru Jhonson Communication!" jelas pak Jhon pada inti nya.
"Presdir baru..aksud pak Jhon bagaimana?" ujar Eve masih memandang pria paruh baya itu dengan tatapan serius.
"Jadi Eve,anak saya akan menggantikan posisi saya di sini..tenang saja,dia sudah
berpengalaman di dunia komunikasi dan juga bukan lulusan main-main!" jelas pak Jhon mengenai anak nya.
"Lalu hubungan nya dengan jabatan
saya diturunkan menjadi sekretaris pribadi apa pak?" tanya Eve pada inti permasalahan.
"Bagaimana jika kamu saya kenalkan langsung kepada anak saya,Giordan kemari lah" kata pak Jhon dengan menjentikkan jarinya.
Seorang pria tinggi berwajah Eropa
perlahan mulai masuk ke kantor Jhonny..sepasang mata biru secerah langit pagi,rambut ikal emas
yang berkilau diterpa matahari.
Sosoknya benar-benar persis seperti Jhonny di versi
muda nya.. Eve tertegun melihat sosok pria asing yang ada di hadapan nya..pria itu bertukar
pandang dengan nya.. Eve seperti nya pernah bertemu dengan pria itu tetapi ia lupa di mana.
Tampak begitu asing namun sangat
familier.
"Selamat pagi nona,saya Giordan" sapa Gio sopan.
Pria itu tersenyum lalu menyodorkan
tangan nya untuk berjabat tangan dengan Eve.. Eve pun menggapai tangan itu dan berjabat dengan nya.
"Jadi mulai saat ini, Gio anak saya yang akan menjadi presdir Jhonson Communication..dan kau Eve,kau akan menjadi sekretaris
pribadi nya mulai minggu depan" ujar pak Jhon final lalu menepuk bahu Gio dan tersenyum ke
arah Lisa.
"Sungguh saya masih tidak paham dengan alasan anda yang menurunkan jabatan saya!" kata Eve masih belum paham dengan alasan si tua bangka itu.
"Eve, Gio ini kan masih muda..meski dia berpengalaman di bidang nya,tetap saja dia masih harua butuh bimbingan,utama nya..bimbingan dari seorang wanita gigih sepertimu"
"Dengan bantuan mu,kamu akan mengajari qnqk ku Gio untuk dapat bekerja dan menyesuaikan diri dengan orang-orang Indonesia." lanjut nya.
"Tetapi Pak Jhon kenapa harus saya?" tanya Eve dengan berjuta rasa kecewa nya.
__ADS_1
"Penawaran nya hanya kamu masih mau bekerja di sini atau tidak?" kata pak Jhon kini melangkahkan kaki nya ke arah Eve dan berdiri tepat di depannya.
"Jika iya,kau harus mau menjadi sekretaris pribadi putra ku"