
“Apakah cukup hanya dengan maaf?” mata tajam itu menatap Erika seakan mencabiknya hidup-hidup. Erika dibuat gemetar. Sehangat apapun sikap Kevin dulunya, tapi jika ada seseorang yang menganggu ketenangannya, tetap saja orang itu akan habis ditangannya.
“Vin, aku tau aku salah. Aku tidak bermaksud seperti itu. Vin, aku mohon maafkan aku.” Hal yang paling di benci orang Kevin adalah, dengan melihat wanita ular itu berlutut dibawahnya. Erika memegang kaki Kevin meminta maaf. Sedangkan Evan berdecih melihat akting wanita itu.
“Sudahi drama anda nona. Mari saya antar keluar!” Evan berjalan mendekat pada Erika.
“Tidak. Aku benar-benar minta maaf Vin. Kau kan tau aku sangat mencintaimu, tapi kau tidak pernah melirik ke arahku. Maafkan aku Vin, sekali lagi maafkan aku.” Erika masih memohon pada laki-laki itu. Sedangkan Kevin hanya berdiri tegak tanpa berminat untuk membantu wanita itu berdiri.
“Vinn...,” habis sudah kesabaran Evan. Dia berjalan semakin mendekat pada Erika. Berdiri di samping wanita itu.
“Nona Erika, apa perlu saya panggilkan security?” tanya Evan. Erika menatap tajam pria itu. Pria yang selalu saja menganggu kesenangannya. Mengganggu semua rencana yang dia susun. Bahkan dia juga yang menggagalkan rencana Erika yang saat itu berniat untuk tidur bersama Kevin.
“Keluarlah Erika, jangan tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku, kau tahu kan aku tidak suka dengan seorang penghianat!” Erika tercengang sesaat mendengar perkataan Kevin. Setelah itu dia menelan salivanya susah payah. Apa Kevin tau kelakuannya selama ini?
Jika iya? Ahhh, habislah dia.
Baiklah, sepertinya segera pergi dari tempat ini adalah pilihan yang sangat tepat saat ini. Jangan sampai Kevin kehilangan kendali dan tentunya itu akan semakin membuat kehidupan Erika semakin sulit kedepannya.
Tanpa berkata apapun Erika berjalan keluar dari ruangan itu. Dia tidak menoleh sedikitpun pada Evan yang menampilkan sebuah senyuman kemenangan.
Jangan coba-coba untuk mencari gara-gara dengan tangan kanan Kevin itu, bahkan informasi yang cuma ada di lubang semut pun pasti akan dia cari bagaimanapun caranya. Itulah bentuk kesetiaannya pada Kevin, pemuda berhati besar yang dulu sudah menolongnya.
Kevin duduk di kursi kebesarannya. Dia terlihat menghela nafas.
“Apa yang tadi kalian bicarakan di rumah Kay tuan?” tanya Evan. Laki-laki itu duduk di sofa yang ada disana.
“Hei, bro. Come on, jangan panggil aku tuan, panggil aku Kevin. Kau ini susah sekali di beritahu!” nada kesal kentara sekali dalam ucapan Kevin tadi. Sedangkan Evan hanya berdehem menormalkan ekspresinya.
__ADS_1
“Maaf, tapi saya tidak bisa tuan.” Aih, rasanya ingin sekali Kevin memukul kepala laki-laki keras kepala itu dengan tangannya. Sungguh menyebalkan.
“Aku akan menemui kakak Kay untuk meminta restu.”
“Oh, aku juga sudah mencari tahunya tuan.”
“Benarkah?” tanya Kevin singkat. Lalu dia kembali menoleh pada Evan.
“Iya tuan, saya sudah mencari tahu semuanya,” jawab Evan. Sedangkan Kevin hanya memicingkan mata.
“Benarkah?”
“Benar, Tuan.”
“Kau tau semuanya ya?”
“Astaga, kauuuu, kau sungguh keterlaluan. Ba—bagaimana bisa kau tau semua tentangku. Evan? Kau masih normal kan? Kau tidak menyukai aku kan? Ah, ya tuhan, aku jadi takut sekarang.” Kevin menampilkan wajah tidak percaya pada Evan, yang tampak biasa-biasa saja itu. Bahkan laki-laki itu tidak berekspresi sedikitpun.
“Tenang saja tuan, saya masih normal.” Kevin mengurut dadanya lega mendengar perkataan Evan. Sungguh dia tidak menyangka, kalau ternyata Evan memperhatikan dirinya sedemikian rupa.
“Sepertinya kau harus dekat dengan seorang wanita Evan. Aku takut jika kau terus seperti ini, akan terjadi hal lain nanti.” Kevin menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang baru saja dia katakan. Sedangkan Evan? Tentu saja masih dengan ekspresi yang sama. Datar, dan tidak tergoyah.
“Tuan, pikirkan saja diri anda sendiri. Jangan memikirkan saya. Setelah anda bahagia nanti, saya yang akan jadi orang pertama yang akan sangat bahagia melihat anda bahagia.” Wajah yang selalu datar itu, menunjukkan senyuman tipis di sudut bibirnya. Sangat tipis, hampir tidak terlihat.
“Oh Evan, kau membuat aku terharu.” Kevin meledek tangan kanannya itu dengan senyuman di paksakan, dan berpura-pura seperti orang yang sedang mengusap air mata. Menurutnya Evan terlalu kaku jadi orang.
“Biar saya urus keberangkatan kita ke Surabaya tuan. Atau mungkin, dia saja yang kemari? Perusahaan bisa mengatakan kalau dia di panggil ke kantor pusat.” Evan mengalihkan pembicaraan. Dia menatap pada layar Tab yang ada di genggamannya.
__ADS_1
“Apa itu ide bagus?” tanya Kevin ragu. Pasalnya dia kesana karena ingin meminta restu pada laki-laki itu untuk menikahi wanita yang waktu itu dia ambil keperawanannya itu.
“Saya rasa, ya. Karena nona Kay juga pasti merindukan kakaknya tuan.” Evan memberikan alasan yang masuk akal pada Kevin.
“Ah kau benar juga. Baiklah, hubungi kantor yang disana, suruh mereka mengirim dia kemari.” Evan mengangguk mendengar perintah Kevin. Lalu dia berjalan keluar, untuk menghubungi kantor cabang dan mengatakan apa yang disuruh oleh Kevin.
^°^
Kevin pulang ke rumah orangtuanya. Hari ini dia sangat letih. Banyak berkas yang harus dia tanda tangani. Kevin berjalan begitu saja melewati ruang makan. Disana orangtuanya sedang berbincang kecil, dan merasa heran dengan tingkah anak laki-laki mereka itu.
“Kenapa dia, Evan?” tanya Al pada Evan, saat laki-laki itu mendekat pada mereka.
“Mungkin tuan muda hanya lelah, Tuan.” jawab Evan seadanya. Al mengangguk mendengar perkataan Evan.
“Kau sudah makan? Ayo makan bersama kami.” Istri Al, alias mamanya Kevin menawarkan makan pada Evan. Tapi di sambut gelengan kepala oleh laki-laki itu.
“Tidak, terimakasih Nyonya. Tapi saya sudah makan.” Evan menundukkan kepalanya hormat, menolak niat baik nyonya besar untuk menyuruhnya makan.
“Oh iya, jadi kapan Kevin akan membawa gadis itu kemari?” tanya Al saat mereka bertiga sudah terdiam.
“Tuan Kevin saat ini sedang menunggu kedatangan kakak Nona Kay, Tuan. Karena dia bekerja di kantor cabang di surabaya.” Al mengangguk mendengar perkataan Evan.
“Baiklah, sebaiknya kau tidur sekarang. Aku tau kau lelah.” Evan mengangguk. Dia berjalan meninggalkan ruang makan menuju garasi. Mengunakan mobilnya, dia akan pulang ke apartemennya sendiri. Tugasnya hari ini sudah selesai. Memastikan semua yang diinginkan oleh Kevin terpenuhi, dan memastikan semua berjalan dengan semestinya.
^°^
Selamat membaca!
__ADS_1