My Posesif Husband

My Posesif Husband
Tiba-tiba


__ADS_3

Kay masuk ke dalam rumahnya setelah ia sampai. Kevin benar-benar memperlakukan Kay sepenuh hati, seolah ia adalah ratu.


Kay langsung masuk ke dalam kamarnya setelah ia menutup pintu. Meletakkan tasnya diatas meja kecil yang ada di sudut kamar, Kay merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Kemudian ia menatap langit-langit kamar, dengan tangan yang ia angkat tinggi. Menatap sebuah kartu yang sedari tadi ia genggam.


Masih Kay ingat dengan jelas apa yang Kevin ucapkan tadi.


"Pegang ini." Kay melihat tangannya yang dipegang Kevin. Kini mereka sudah ada di depan rumah Kay. Dan Kay bersiap untuk turun, tapi Kevin menahannya.


"Apa ini?" tanya Kay, saat matanya menangkap sebuah kartu berwarna kuning emas, diberikan oleh Kevin padanya.


"Kamu pegang kartu ini, dan beli apa saja yang kamu inginkan dengan ini," ucap Kevin dengan wajah tegas tanpa ingin dibantah.


Tentu Kay tidak mau dan berbalik menggenggam tangan Kevin, dan meletakkan kartu itu ditangan sang pria.


"Tidak mau," tolaknya mentah-mentah.


Kevin yang mendengar itu tentu mengembuskan napas lelah. Kenapa Kay sangat keras kepala sekali?


"Kay ... pegang ini! Aku memberikannya untukmu," ucap Kevin. Walaupun terdengar lembut, tapi suara itu penuh intimidasi.


Kay mengembuskan napas lelah. "Aku tidak mau. Aku tidak berhak mendapatkan ini, karena ...."

__ADS_1


Ucapan itu langsung terhenti, saat tiba-tiba mulut Kay terbungkam. Bukan karena sebuah ucapan atau tangan, tapi karena sebuah bibir yang melekat di sana.


Terkejut? Tentu saja Kay terkejut. Ia bahkan sampai melototkan matanya, dan mendorong Kevin hingga menjauh dari Kay.


Saat Kay hendak melayangkan sebuah tamparan ke pipi Kevin, tangannya tiba-tiba ditangkap, dan sebuah kecupan lagi mendarat. Tapi bukan di bibir, Melain pipi.


"Kamu lupa, kalau sekarang kamu adalah tunanganku, Kay? Dan beberapa lama lagi, status itu akan berubah lagi, menjadikan istri?!"


Dan kata-kata yang Kevin ucapkan membuat Kay terdiam. Kemudian matanya melirik ke arah cincin yang tersemat indah di jari manisnya.


Tapi setelah diam dan berpikir lagi, Kay tetap membantah.


Kevin menggeleng. "Kamu mau menerima kartu ini, atau temui kakakmu sekarang, dan kita Menik setelahnya. Aku tidak masalah jika harus menikahimu sekarang, Kay!"


Dan kalimat ancaman itu sukses membuat Kay terbungkam. Karena ia tahu, kalau kakaknya pasti akan menerima saja, semua yang Kevin katakan. Terlebih pria didepannya ini, adalah atasan kakaknya.


Kay menggerutu pelan, dan mengambilnya sendiri kartu yang masih Kevin pegang. "Buka pintunya!" sengit Kay kesal. Kenapa ia tidak bisa menolak perkataan Kevin? Kenapa ia harus kalah karena laki-laki ini.


Dan setelah mengingat kejadian didalam mobil itu, Kay kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Lalu memegang bibirnya, lalu pipinya. Masih Tering oleh Kay, bagaimana Kevin mengecupnya dengan singkat, dan Kay merasa ada sesuatu yang menggelitik perutnya.


"Kenapa aku bisa kecolongan sama dia?" Kay kesal, karena Kevin yang mencuri ciumannya. Dan dilain sisi, ia juga sedang berusaha menahan debaran dadanya yang menggila.

__ADS_1


Saat Kay sedang merenungkan nasib yang ia anggap sial, tiba-tiba saja ponselnya yang lusuh, berdering. Lekas Kay meraih tasnya dan mengambil ponsel dari dalamnya. Mata Kay menatap nama yang tertera di layar tersebut.


"Astaga Aileen?!" Kay menepuk keningnya sendiri. Bagaimana ia bisa melupakannya sahabat terbaiknya tersebut.


Dengan perasaan takut Kay kemudian mengangkat panggilan itu. Ia juga menetralkan napasnya.


"Halo?" sapa Kay dengan suara sehalus mungkin. Dan setelahnya, suara teriakan seseorang di seberang sana, membuat Kay menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Dasar Kay sialan, Lo, ya! Bisa-bisanya Lo ninggalin gue sendiri sama si demit itu! Sedangan Lo enak-enakan pergi sama pacar baru Lo itu! Benar-benar kurang aja Lo, ya, Kay!"


Teriakan dan kata-kata penuh umpatan kasar itu memekakkan telinga.


"Maafin gue, Len. Gua benar-benar lupa. Lagian kenapa setelah gue di tarik pergi, Lo gak ngikutin gue?" Kay mencari alasan agar Aileen tak menyalahkannya, tapi apalah daya, Aileen tak akan terjerat dengan alasan palsunya.


"Benar-benar Lo, ya! Lo itu sebenarnya, temen gue atau bukan, sih? Bisa-bisanya lupa sama temen sendiri!" Aileen masih terus berciloteh meluapkan kekesalannya.


"Dan sekarang, Lo juga harus jelasin sama gue! Kenapa tiba-tiba, itu Pak Kevin yang ganteng, cakep, kaya, pemilik kampus, sampai bisa jadi pacar Lo? Lo pakai pelet atau nge santet dia, ya?"


***


Selamat membaca!

__ADS_1


__ADS_2