My Posesif Husband

My Posesif Husband
Bawa dia


__ADS_3

Kay tidak terlalu berselera untuk memakan makan siangnya, karena tadi di kampus dia sudah makan bakso yang tentunya kini masih terasa kenyang di perutnya. Kay melirik pada Kevin yang makan dengan lahap, hingga tanpa sadar sudut bibirnya ikut tertarik membentuk senyuman untuk laki-laki itu.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Kevin selesai makan.


“Makan kok lelet banget sih! Dan ini kenapa juga coba, bawa aku kesini, cuma buat liatin kamu makan siang doang?!” Kay merenggut menatap Kevin yang hanya menampilkan senyumannya.


“Kan gapapa kalau sekali-kali makan siang bareng calon istri?!” tanya Kevin dengan senyuman menggoda pada Kay.


“Mimpi!”


^_^


Kay pulang di antar oleh Ronald. Kevin tidak ikut, karena Evan mengatakan padanya akan ada rapat setelah makan siang ini, dan juga Kevin harus segera pulang ke rumahnya karena kedua orangtuanya sudah kembali ke tanah air, setelah puas berlibur beberapa hari belakangan ini.


Kay tiba di depan kosannya, lalu turun dari dalam mobil yang ia tumpangi, gadis cantik itu langsung masuk kedalam rumah dan berjalan menuju kamar. Sedangkan Ronald kembali ke kantor Kevin setelah memastikan Kay benar-benar masuk kedalam rumahnya.


Kay merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar. Memikirkan perkataan Kevin tadi.


‘Kamu beneran ga mau nikah sama aku? Padahal aku pengen tanggung jawab sama kamu?!’


Kay menggelengkan kepalanya memikirkan setiap perkataan Kevin.


‘Kalau kamu hamil gimana?’ kalau soal hamil Kay merasa dia tidak akan hamil karena mereka hanya berhubungan satu malam saja, tapi entah berapa kali, Kay tidak ingat, di tambah lagi dia sudah membeli Pil pencegah kehamilan.


Tapi walaupun sekeras apapun Kay menolak sesuatu yang tidak dia inginkan untuk terjadi, tapi jika Tuhan menginginkannya, maka tidak ada yang mustahil.


‘Terus kalau nanti saudara kamu tau gimana?’ Kay terdiam karena itu.


Oh iya, ngomong-ngomong tentang Abangnya, kini bagaimana ya kabar laki-laki itu? Bagaimana keadaannya selama beberapa hari belakangan ini, karena Kay tidak menelepon sang kakak beberapa hari belakangan ini.

__ADS_1


Dia tidak ingin kakaknya merasa khawatir kalau dia menelepon dan mendengar suaranya yang kala itu serak karena menangis, bisa-bisa laki-laki itu akan memutuskan untuk pulang dan melihat kondisi Kay secara langsung. Dan Kay sadar diri untuk tidak melakukan hal itu karena dia juga tau bagaimana sibuknya sang kakak.


Kay melirik pada jam yang tergantung di dinding tembok kamarnya. Ini masih jam kerja, dan Kay tidak mau menganggu kakaknya yang saat ini pasti sedang berada di kantor. Baiklah, sebaiknya dia menelepon nanti saja.


‘Oh iya, kenapa ya aku bisa sampai tidur sama Kevin waktu itu?’


Kay mengingat-ingat saat dia yang waktu itu berjalan pulang dari supermarket. Berjalan sendirian hingga ...... Ah Kay tidak ingat lagi. Gadis itu terus mencoba untuk mengingat-ingat, tapi karena memang dasar ingatannya saja yang kurang baik untuk mengingat peristiwa menyedihkan itu membuat Kay menjadi kesal.


Ia hanya ingat, kalau saat itu hari sudah benar-benar gelap dan dia berjalan sendiri pulang dari supermarket, dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi kecuali ketika dia terbangun pagi dengan kondisi tubuh yang tidak terbalut oleh sehelai benangpun, bersama laki-laki tampan bernama Kevin dengan keperawanannya yang sudah di renggut oleh laki-laki tersebut.


^_^


kevin masuk kedalam rumahnya. Para pelayan yang memang sudah menunggu kedatangan laki-laki itu, menunduk hormat tatkala tuan muda dari keluarga kerajaan bisnis Zachary itu berjalan melintasi mereka, untuk menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang keluarga.


“Pa ... Ma...,” sapa Kevin dengan riang. Dia berjalan mendekat pada Mamanya lalu memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu dan mencium pipinya sekilas.


Tapi yang Kevin heran, kenapa Mamanya tampak marah pada dirinya dan seperti mengabaikan dia? Dan juga, dia melihat tatapan tidak bersahabat dari sang papa yang melirik tajam padanya, membuat Kevin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, lalu duduk diam dengan senyum yang masih bertahan di kedua pipinya.


“Kapan kamu mau bawa perempuan itu kemari?” tanya Al pada Kevin langsung to the point, tanpa basa-basi, membuat Kevin sedikit terkejut. Sedangkan sang istri hanya melihat keduanya dalam diam.


“Perempuan siapa Pa?” tanya Kevin. Dia masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud papanya ini. Dan perempuan mana yang dimaksud sang papa, karena seingatnya perempuan yang berkencan dengannya cukup banyak dan tidak akan bisa di hitung dengan jari.


“Perempuan yang waktu itu di hotel XX sama kamu?!” ujar Al menatap tajam anaknya. Sedangkan Kevin yang kini sudah mulai mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh papanya itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Papa tau dari mana?” tanya Kevin yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Bukannya takut, Kevin malah sepertinya senang dengan pertanyaan papanya itu. Berarti Papa-nya mengizinkan dia untuk bersama dengan Kay dan membawa gadis itu kerumah besar ini.


“Gak usah tanya papa tau darimana! Pokoknya papa tanya, kapan kamu mau bawa dia kesini?” tanya Al menatap tajam Kevin.


“Papa serius?” tanya Kevin lagi. “Lagian, dia juga gak mau dekat sama aku pah, bahkan dia udah nolak aku tadi!” Kevin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtuanya itu. Ah, jika dia mengingat penolakan Kay tadi, membuatnya merasa semakin tertantang untuk mendapatkan gadis itu.

__ADS_1


Karena Kevin tau, kalau selama ini sang papa pasti masih memantau dirinya, apa saja yang dia lakukan pasti Papa-nya tau, walaupun dia pergi berlibur dengan sang istri kemana pun.


“Pokoknya papa gak mau tau, kamu harus bawa dia kesini dan tanggung jawab! Papa sama Mama tau dia masih perawan saat tidur sama kamu, tidak seperti perempuan-perempuan lain yang kamu tiduri itu!” Al mengatakan dengan tatapan sengit membuat Kevin sedikit gugup.


“Hehe...,” hanya itu yang keluar dari mulut manis Kevin. Dia tidak menyangka jika Papa-nya juga tau kalau dia suka bermain wanita di luaran sana.


“Jangan cuma cengengesan kamu! Papa serius!” ujar Al.


“Iya pa,” ucap Kevin. “Aku bakal berusaha untuk bawa dia kesini sesuai keinginan papa dan mama.” Al beserta istrinya hanya tersenyum tipis saat mendengar perkataan putranya itu lalu saling memandang satu sama lain.


^_^


Kevin menghubungi Evan untuk menemaninya menemui Kay, karena dia tau pasti sebentar lagi gadis itu akan pergi bekerja, dia berniat untuk mengantarkan Kay ke tempat kerjanya.


Kevin keluar dari dalam rumah megah itu lalu masuk kedalam mobil. Evan sudah berdiri disana dengan wajah datarnya menatap Vin tanpa ekspresi.


“Itu muka Lo, bisa biasa aja, gak? Merinding gue!” tidak ada jawaban dari Evan, membuat Kevin menggelengkan kepalanya menatap Evan kesal. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah mewah itu.


“Evan...,” panggil Kevin singkat.


“Hmmm?” sahut Evan tanpa menoleh sedikitpun pada Kevin.


“Oyy?”


“Apa tuan?” Evan menjawab dengan nada seperti orang yang sedang menahan kekesalannya.


“Bisa ga sih, Lo itu ngomongnya itu santai aja? Gak kaku kek begini?” Evan hanya diam tanpa menjawab pertanyaan yang menurutnya tak bermutu dari Bos sekaligus temannya itu, membuat Kevin semakin kesal.


“Au ah, gelap!” -_-

__ADS_1


***


Selamat membaca!


__ADS_2