
Seorang laki-laki yang tampan dan juga gagah tentunya sedang berjalan menuju lift yang ada di gedung Zachary Grup.
Laki-laki dengan perawakan yang tinggi dan juga otot-otot yang lumayan besar itu berjalan dengan elegan. Garis wajah yang mirip dengan seorang gadis yang sudah Kevin hancurkan itu membuat beberapa karyawan wanita yang ada di sana menatapnya dengan penuh minat, sedangkan laki-laki itu menampilkan senyuman manis dan juga sopannya.
Tadi dia sudah diberitahu letak ruangan Kevin, karena laki-laki itu sudah menunggunya.
Kaisar masuk kedalam lift dan menekan angka yang sesuai dengan lantai letak ruangan Kevin berada.
Lift berdenting. Lalu pintu lift tersebut terbuka. Kaisar keluar dari dalam lift dan tampaknya kedatangannya memang sudah di tunggu.
Kaisar menganggukkan kepalanya sopan pada Evan yang berdiri di sana bersama dengan sekretaris Kevin.
“Selamat pagi, Tuan.” Kaisar tentu tau siapa laki-laki yang berdiri dengan wajah datar di depannya ini.
“Silahkan masuk!” suruh Evan, membuat Kaisar mengikuti ucapannya. Evan membuka pintu ruangan Kevin, lalu mempersilahkan Kaisar masuk terlebih dahulu. Kevin yang sedang menatap pada lembaran kertas di tangannya mendongak saat melihat pintu ruangannya terbuka.
Laki-laki itu berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekat pada Kaisar dan Evan.
“Selamat pagi, Tuan,” Kaisar lagi-lagi menundukkan kepalanya hormat.
Laki-laki itu tidak tahu kenapa dia di panggil ke kantor pusat. Kemarin dia di beritahu secara mendadak untuk datang ke Jakarta, membuatnya bertanya-tanya. Mungkin ada sesuatu yang sudah dia lakukan?
“Pagi! Apa kau yang bernama Kaisar?” Kevin bertanya dengan wajah yang sopan. Dia menatap Kaisar dengan pandangan yang bersahabat.
“Ya, saya Kaisar.” Kevin mengangguk.
“Silahkan duduk, ada yang mau saya bicarakan,” nada bicara yang penuh dengan wibawa itu membuat Kaisar kagum. Dia mengangguk lalu mengikuti Vin yang sudah duduk di sofa yang ada disana. Bagaimana dengan Evan? Laki-laki itu tetap berdiri dengan memegang tangannya didepan. Lalu menatap kedua orang itu tanpa ekspresi.
“Van, kau tidak mau ikut duduk?” tanya Kevin dengan nada kesal.
“Tidak Tuan. Saya berdiri saja!” jawab Evan singkat.
“Terserah kau saja!”
Kevin kembali menatap Kaisar.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!” Kevin menatap Kaisar dengan gugup. Baru kali ini dia bicara pada karyawannya dengan perasaan yang seperti ini. Kaisar menatap Kevin takut-takut. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah tentang pekerjaannya.
__ADS_1
“Apa itu sesuatu tentang pekerjaan saya, Tua?” Kevin menggelengkan kepalanya dengan kaku. Sedangkan Kaisar mengkerut mendengar perkataan Kevin.
“Lalu tentang apa Tuan?” tanya Kaisar penasaran.
“Tentang Kay!” jawab Kevin singkat. Dia bisa melihat wajah Kaisar yang terkejut mendengar perkataannya.
Degh....
“Ada apa dengan adik saya, Tuan?” tanya Kaisar penasaran. Dia tidak menyangka kalau laki-laki yang ada didepannya ini mengenal adiknya.
“Saya ingin menikahi dia!”
Degh...
Dua kali kaget!
“A—APAA ...?” Kaisar langsung berdiri dari duduknya. Dia terkejut mendengar perkataan Kevin. Bukan hanya terkejut, tapi sangat terkejut.
“Maaf—maaf ... Saya sangat kaget ....” Kaisar langsung kembali duduk dengan tenang dan juga perasaan tidak enak, karena bersikap tidak sopan pada atasannya. Di pikirannya berkeliaran tentang adiknya.
‘Astaga, bagaimana bisa Kay mengenal Tuan Kevin? Dan apa tadi? Tuan Kevin bilang ingin menikahi Kay?’ Kaisar benar-benar tidak habis pikir dengan perkataan Kevin barusan. Yang ada di kepalanya saat ini adalah, Bagaimana Kay bisa mengenal Kevin?
“Tapi ... Bagaimana Tuan bisa mengenal adik saya? Dan juga berniat menikahinya?” pertanyaan yang sedari tadi memenuhi kepala Kaisar akhirnya keluar dari mulutnya.
“Karena saya mencintai dia!” Kevin menjawab dengan sangat yakin. Kaisar terdiam dengan perkataan Vin.
“Sudah berapa lama Tuan mengenal adik saya?” kini Kaisar berperan seperti seorang orang tua yang sedang menanyai pacar dari anaknya. Kaisar bertanya dengan tatapan serius pada Kevin. Dia tidak lagi menatap Kevin takut. Karena saat ini dia sedang berperan sebagai wali Kay, dan yang duduk didepannya ini adalah kekasih adiknya.
Padahal dia tidak tahu saja, kalau adiknya membenci pria yang ada didepannya ini.
“Sudah satu Minggu lebih!”
“A—APA?” Kaisar kembali terkejut mendengar perkataan Kevin.
“Bagaimana bisa kalian mau menikah, tapi baru saling mengenal satu Minggu ini?” Kaisar tidak habis pikir dengan hal ini. Pikirannya bercabang kemana-mana.
“Jangan bilang, kalian sudah tidur bersama?” Kaisar menatap Kevin dengan memicingkan matanya. Sedangkan laki-laki yang sedang melamar adiknya itu menelan saliva gugup.
__ADS_1
“Iya!” jawab Vin singkat.
“A—APA ...?” kejutan apalagi ini.
Kaisar berdiri dari duduknya. Laki-laki itu mengangkat kerah jas yang digunakan oleh Kevin hingga laki-laki itu berdirinya dari duduknya, membuat Evan yang sedari tadi menonton mereka langsung mendekat pada keduanya. Tapi langkah kakinya ditahan oleh Kevin yang memberi isyarat dengan tangannya, membuat pria itu langsung berdiri diam seperti semula.
“Kau merusak adikku? Brengsek.” Kaisar memukul wajah Kevin, membuat sudut bibir pria itu berdarah. Evan meringis melihat hal itu. Karena selama ini, Kevin tidak pernah mendapatkan pukulan seperti itu.
“Kenapa kau menghancurkan adikku?” pukulan kedua kembali melayang pada wajah Vin.
Evan tidak bisa diam saat melihat darah kembali keluar dari sudut bibir pria yang dia lindungi itu, terlebih Kevin tampak tidak melawan sedikitpun saat Kaisar memberikan pukulan padanya.
“Hentikan!” Evan menahan tangan Kaisar yang kembali mau memukul Kevin.
“Diam kau! Brengsek! Berani-beraninya kau merusak adikku!” wajah Kaisar memerah karena marah. Urat-urat tangannya tampak membesar karena kepalan tangannya.
“Diamlah Tuan. Kendalikan emosimu! Kalau kau seperti ini, tidak akan mengubah apapun!” Evan bicara dengan suara tegas. Kaisar terdiam mendengar perkataan Evan. Dia kembali duduk seperti yang diarahkan oleh Evan.
“Jelaskan!” serunya dengan suara dingin.
Kevin menatap Kaisar dengan sedikit menciut. Laki-laki ini begitu menyeramkan saat marah. Kini sudut bibirnya terasa masih sakit karena pukulan pria itu.
“Kami melakukanya karena saat itu, aku sedang dalam pengaruh obat! Ada seseorang yang memasukkan obat kedalam minumanku! Aku tidak tau siapa yang memasukkannya, tapi saat aku kembali ke ke kamar hotel tempat aku menginap, tubuhku terasa sangat panas, dan saat aku masuk kedalam kamar, ada seorang wanita yang tertidur di atas ranjang ku, aku tidak kenal wanita itu, dan ternyata dia adalah adikmu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, dan saat aku mendekat kedua mata adikmu terbuka dan dia menyerangku. Disitu aku tau, kalau dia juga meminum obat yang sama denganku. Tapi sayangnya dia tidak menyadari itu!”
Kaisar menghembuskan napas kasar saat mendengar perkataan Kevin. Dia tidak mempercayai ini, tapi dilihat dari mata laki-laki itu, sepertinya dia tidak berbohong.
“Aku saat malam itu tidak memakai pengaman. Jadi aku tidak tahu, itu bisa membuat Kay hamil atau tidak, walaupun dia sudah meminum pil untuk tidak hamil. Tapi aku tau, pil itu tidak akan berguna jika meminumnya saat sudah melakukan itu. Dan kami malam itu melakukannya berkali-kali, karena sama-sama dalam pengaruh obat!”
Kaisar mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa menyalahkan Kevin sepenuhnya, karena Kay lah yang datang ke kamarnya. Tapi, dia masih tidak bisa menerima ini semua.
“Apa kau yakin menikah tanpa ada cinta di antara kalian berdua?” tanya Kaisar, saat sudah bisa mengendalikan dirinya.
“Aku sudah jatuh cinta pada Kay saat ini. Dan karena itu, aku yakin untuk meminta izinmu untuk menikahi dia. Walaupun dia masih membenciku, dan belum mencintai aku, tapi aku yakin, perlahan-lahan dia akan bisa membuka hati untukku!”
.
.
__ADS_1
.
Tengkyu for reading 😗