My Posesif Husband

My Posesif Husband
Mari sama-sama berjuang


__ADS_3

Kay duduk diam di kursi bersama dengan kakaknya. Baju yang diberikan oleh Kevin, sangat pas untuk dirinya. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna pink tersebut.


Bahkan, saat kedatangannya tadi, Vin tak henti-hentinya menatap Kay dengan pandangan memuja. Ia terlihat begitu terpesona saat melihat gadis itu.


Saat acara tukar cincin, Kevin sedikit lebih mendekat ke arah Kay. Kemudian ia tersenyum dan berbisik.


"Kamu cantik sekali, Kay," ujar Kevin, dengan senyuman yang membuat Kay jengkel.


"Diam, atau aku tampar wajahmu itu?!" kesal Kay dengan sorot mata penuh permusuhan. Kay masih belum bisa menerima Kevin sebagai calon suaminya. Jika saja ia tidak terjebak satu malam dengan pria itu, tak mungkin kalau kini dirinya akan berdiri berdampingan Kevin, dengan status sebagai calon istri pria itu.


Saat acara sudah usai, Kay mengantar calon mertuanya ke depan rumah. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu menggenggam tangan Kay dengan lembut.


"Terima kasih, ya, Kay. Karena sudah mau menerima Kevin," ucap mama Kevin dengan senyuman lembutnya.


Kay balas tersenyum, lalu ia mengangguk.


"Kami sangat berharap, semoga kamu bisa memaafkan Kevin, dan dapat lebih menerima Kevin. Tante janji, tidak akan membiarkan Kevin menyakiti kamu."


Kay merasa terharu saat mendengar perkataan calon mama mertuanya tersebut. Setelah sangat lama ia tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok orang tuanya, kini ia merasa memiliki orang tua lagi.

__ADS_1


Kay memeluk mama Kevin, dan tentu saja pelukannya itu dibalas oleh wanita paruh baya tersebut.


"Kami pulang dulu, ya." Kedua orang tua Kevin, dan juga beberapa orang yang ikut serta menjadi saksi pertunangan itu, pergi dari sana.


Kini tinggal Kevin, Evan, Kaisar dan juga Kay di sana. Mereka berempat saling pandang, hingga akhirnya Evan dan juga Kaisar memilih hengkang dari sana. Meninggalkan Kay dan juga Kevin berdua di depan rumah itu.


Kay menatap Kevin malas. "Ada apa lagi? Kenapa gak langsung pulang aja?" tanya Kay dengan suara ketus.


Bukannya merasa tersinggung mendengar perkataan Kay, Kevin justru malah tersenyum.


"Aku ingin bicara lagi denganmu," ucap Kevin.


Kay mengerling malas. "Bicara apa lagi? Tidak lihat, sekarang sudah jam berapa?" kesal Kay.


Wajah Kevin yang biasanya tengil kini berubah menjadi serius dan penuh wibawa. Maka tak heran jika dia bisa memimpin perusahaan besar, dengan wibawanya itu.


Kay dan Kevin berjalan santai menjauh dari rumah Kay yang tak seberapa besar. Hingga mereka tiba di sebuah taman bermain anak-anak. Dan Kay duduk disalah satu ayunan, diikuti oleh Kevin.


"Aku ingin bicara serius tentang hubungan kita kedepannya, Kay," ucap Kevin. Wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan, membuat Kay menelan ludah kasar.

__ADS_1


"Katakan langsung, jangan bertele-tele!"


Kevin menghela napas kasar, kemudian ia menggenggam tangan Kay secara perlahan. Awalnya, Kay segera menarik tangannya dari pegangan Kevin, tapi tentu ditahan oleh pria tersebut.


"Aku benar-benar serius denganmu, Kay," Kevin menatap Kay sangat dalam. "Dan aku ingin, kamu mau membuka hati untukku," sambungnya.


Kay diam, tak menjawab perkataan Kevin, namun matanya menatap dalam, membalas tatapan Kevin.


"Aku tahu, hubungan kita terjadi sangat tiba-tiba dan juga terburu-buru. Tapi walaupun hubungan ini terjalin dari sebuah kesalahan, aku harap, kamu mau mulai membuka hati untukku, dan untuk hubungan kita kedepannya."


Kay tak dapat berkata-kata. Semakin lama ia menatap mata laki-laki didepannya ini, ia semakin masuk kedalam pesonanya. Dan Kay akui, Kevin adalah seorang pria tanpa celah. Dan Kevin benar-benar seorang pria yang bisa dikatakan seorang yang sempurna.


Kay yang merasa semakin larut dalam tatapan mata itu, akhirnya memutus tatapan tersebut. Ia berdehem agar mengurangi kegugupannya.


Namun, pegangan tangan Kevin di tangan Kay, bukannya merenggang, malah semakin erat. Dan tatapan Kevin, tak lepas dari Kay.


Tangan lembut Kevin meraih pipi Kay, dan mengusapnya dengan lembut.


"Mari kita mulai hubungan ini dengan sebaik-baiknya, Kay. Mari kita saling mengenal lebih dalam satu sama lain, dan mari kita membuka hati, agar bisa saling mencintai. Dan aku benar-benar berharap, kamu mau membuka hati untukku, Kay."

__ADS_1


***


Selamat membaca


__ADS_2