
“Kakak ...?” Kay menatap pada Kaisar yang tampak biasa saja saat Kevin mengatakan hal itu.
“Apa, Kay?” tanya Kaisar.
“Kaisar sudah tau, Kay! Aku sudah meminta izin padanya!”
“Ap—apa?” tanya Kay kaget.
Di membesarkan matanya pada Kevin, tapi laki-laki itu tampak biasa saja, seperti tidak takut sedikitpun pada kakaknya.
Lama Kay menatap Kevin, hingga dia menyadari kalau sudut bibir laki-laki itu tampak sedikit memerah karena bekas luka.
“Kenapa itu?” tanya Kay dengan nada khawatir, bahkan dia sendiri tidak menyadari itu.
“Hanya sedikit luka,” ujar Kevin santai, karena memang Evan sudah memberikan obat pada sudut bibirnya yang terluka karena pukulan Kaisar tadi.
Kay terdiam. Dia menatap pada sang kakak dan juga Kevin secara bergantian. Lalu menghela napas, saat menyadari sesuatu.
“Apa Kakak, yang melakukan itu?” tanya Kay pada Kaisar yang duduk di dekatnya. Kaisar mengangguk mengiyakan.
“Jadi, dia sudah mengatakan semuanya pada Kakak?” tanya Kay lagi. Dan lagi-lagi Kaisar mengangguk mengiyakan. Kay menghela napas.
“Dan, apa Kakak merestui?” tanya Kay. Lidahnya agak berat saat menanyakan itu, tapi melihat reaksi Kakaknya yang mengangguk, membuat bahunya merosot.
“Apa dia mengancam Kakak?” tanya Kay memicing.
“Kay, kenapa kau jadi banyak tanya seperti ini? Kenapa kau malah mengintrogasi Kakak, bukankah seharusnya Kakak yang mengintrogasi mu?” Kaisar sedikit kesal saat Kay banyak bertanya padanya.
Untuk apa Kevin mengancamnya, karena memang dia sendiri yang menyetujui ini. Lagipula, Kaisar tidak cukup bodoh untuk bermain-main dengan Kevin.
Kay menggaruk tengkuknya mendengar perkataan Kaisar.
Iya juga, ya? Kenapa jadi dia yang banyak tanya pada Kaisar, bukankah seharusnya, Kaisar lah, yang seharusnya banyak tanya pada dia?
“Ya ... aku hanya heran saja, kenapa Kakak bersikap biasa saja padannya!” ujar Kay sedikit gugup.
“Biasa apanya Kay, dia bahkan memberikan aku dua bogeman mentah tadi!” seru Kevin, saat dia mengingat sakit di wajahnya karena pukulan dari kakak wanita yang ada di depannya itu.
“Dua?” tanya Kay kaget. Lalu dia melirik pada Evan yang sedari tadi hanya diam di samping Kevin.
“Iya ....” jawab Kevin singkat.
“Lalu, kenapa pengawalmu ini, tidak melerainya?” tanya Kay menatap Kevin dan Evan heran.
__ADS_1
“Dia bukan pengawalku Kay, dia asisten dan juga temanku!” seru Kevin kesal. Pengawal? Dia bukan bocah SD yang harus di berikan pengawal.
Hahaha, dia tidak tahu saja, kalau orangtuanya memang memberikan dia pengawal.
“Kenapa kalian jadi ribut seperti ini, sih? Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku mau ke kamar, aku mengantuk!” Kaisar menyela di antara perdebatan unfaedah yang terjadi di depannya ini.
“Tunggu dulu! Baiklah, aku disini ingin mengatakan, kalau nanti malam, orangtuaku mau kesini untuk melamar Kay secara resmi!”
Kevin akhirnya angkat bicara dengan tujuan kedatangannya kesini.
“Ap—apa ...?” Kay bahkan sampai berteriak karena terkejut.
“Hei, kenapa buru-buru seperti ini?” tanya Kaisar yang tak kalah terkejutnya sama dengan Kay.
“Aku mau pernikahan itu terjadi secepatnya! Aku tidak mau menunda-nunda sesuatu!” jawab Kevin tegas. Kaisar menghela napas mendengar perkataan Kevin, dia paham dengan tujuan laki-laki itu.
“Iya, tapi kenapa harus malam ini? Kami tidak punya persiapan apapun!” seru Kaisar, sedikit kesal. Karena tingkah Kevin, dan sikap pria itu yang terkesan terlalu terburu-buru.
“Kalian tenang saja, sebentar lagi orang-orangku akan tiba untuk menyiapkan segalanya,” jawab Kevin dengan enteng.
“Tapi Vin, aku takut nanti orangtuamu tidak suka padaku!” Kay menundukkan kepalanya. Dia meremas kedua tangannya gelisah.
Karena, walau bagaimanapun, dia itu tidak sama derajatnya dengan keluarga Kevin. Laki-laki itu sangat kaya, sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya dari keluarga sederhana.
“Benarkah?”
“Tentu saja!”
“Oh iya Kay, mulai sekarang kau tidak usah bekerja lagi, karena aku yang akan menanggung semua biaya mu, lagi pula sebentar lagi kita akan menikah!” Kay menghela napas, dia sudah menduga hal ini.
“Hemm, aku akan mengatakan itu pada bos-ku nanti!” Kay menjawab lemah.
“Tidak usah, Evan sudah mengurusnya, jadi sekarang kau bisa berganti pakaian dengan pakaian biasa, mataku sakit melihat pakaian kerjamu ini!” Kay menatap Kevin dengan memicingkan matanya, sedangkan Kaisar dan Evan hanya diam mendengarkan perdebatan mereka.
“Sialan kau!” desis Kay kesal.
“Sudah, aku mau pulang dulu. Sebentar lagi mereka akan tiba untuk membantumu, jadi bersiap-siaplah. Dandan yang cantik malam ini!” ujar Kay berdiri, diikuti oleh Evan, Kaisar dan juga Kay tentunya.
“Eheemm ....”
“Ya sudah, aku permisi!”
Kevin keluar dari dalam rumah Kay, diikuti oleh Evan yang sedari tadi, sukses menjadi patung mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Kak ... maafkan aku,” Kay menunduk pada Kaisar saat mobil Kevin sudah meninggalkan pekarangan rumah mereka. Dia berdiri di samping kakaknya itu.
Kay menatap Kaisar dengan tatapan penuh rasa bersalah, wanita itu menundukkan pandangannya ke bawah, tidak berani menatap pada sang kakak.
“Sudahlah Kay, aku tau kau melakukan itu bukan karena sengaja, jadi tidak usah di pikirkan. Seharusnya Kakak yang minta maaf padamu, karena tidak bisa menjagamu dengan baik selama ini.”
Kay menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Kaisar. Dia tidak menyalahkan kakaknya sedikitpun, karena dia tau, dia sudah besar dan bisa menjaga diri sendiri. Lagipula, selama ini Kaisar jauh darinya, juga karena bekerja untuk kebutuhan mereka berdua.
“Enggak Kak, semua ini adalah salah aku. Karena aku yang gak bisa jaga diri!”
Kaisar memandang Kay dengan sedih, lalu membawa adiknya itu kedalam pelukannya.
Kaisar mengusap rambut Kay dengan sayang, sesekali mengecup puncak kepala gadis itu.
“Sudah, lupakan semua itu sekarang. Karena orang-orangnya udah datang, lagipula kamu sebentar lagi akan menikah, Kakak tau, kalau Kevin itu adalah laki-laki yang bertanggungjawab, harusnya kamu senang, dan jangan jutek seperti itu sama dia,”
Kaisar terkekeh saat mengatakan ucapannya yang terakhir, karena dia geli sendiri saat melihat adiknya itu, berlaku judes pada Kevin, dan bahkan tampaknya laki-laki itu juga tidak keberatan sedikitpun dengan perlakuan Kay.
“Biarkan saja, Kak. Lagipula, semua ini gara-gara dia!” seru Kay kesal.
“Sudah-sudah. Disini kalian sama-sama bersalah, kamu tidak boleh seperti itu lagi sama dia, walau bagaimanapun dia itu calon suami kamu, Kay!”
Kaisar menatap Kay dengan serius, membuat Kay mau tidak mau mengiyakan perkataan kakaknya itu, karena yang dikatakan olehnya adalah benar.
“Iya, Kak.”
Kay dan Kaisar mempersilahkan orang-orang itu untuk masuk, mereka membawa bunga dan juga bahan makanan. Dan tentunya juga baju untuk Kay dan Kaisar.
Kevin benar-benar sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Oke, bukan Kevin, tapi Evan!
Orang-orang yang dari katering itu masuk kedalam dapur Kay, untuk menyiapkan makanan yang akan mereka hidangkan saat orang tua Kevin tiba nanti.
Sebenarnya, menurut Kay ini agak berlebihan, karena mereka hanya akan mengadakan lamaran kecil saja, tapi Vin menyiapkan semuanya dengan berlebihan.
Kay masuk kedalam kamar. Dia memenung di depan cermin yang ada didalam kamarnya.
“Aku benar-benar gila. Baru beberapa hari putus dengan Ziko, aku malah akan menikah dengan Kevin sebentar lagi, pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak denganku!”
Kay menghembuskan napas kasar. Dia menatap pada wajahnya yang sedikit kusam.
“Sebaiknya aku merawat diri saja sekarang, daripada memikirkan hal yang tidak-tidak!” gumam Kay masuk kedalam kamar mandi.
****
__ADS_1
Selamat membaca!