
Kay terdiam sembari memandang pria yang berada di sampingnya ini. Tatapan lembut pria tampan tersebut membuatnya menjadi tidak nyaman. Apalagi, kini rasa bersalah bersarang didalam dadanya. Karena sikapnya yang sudah keterlaluan, saat berbicara dengan Kevin.
Kay berdehem singkat, lalu ia menghela napas berat. "Aku akan berusaha," ucap Kay, namun manik matanya tak berani menatap Kevin.
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut wanitanya, Kevin tersenyum. Kemudian tangannya menggenggam tangan Kay. Walaupun awalnya Kay tampak kaget dan juga terkejut, ia lalu mengurung niatnya saat melihat Kevin menaikkan sebelah alisnya.
Mereka berdua berjalan beriringan untuk kembali ke rumah Kay. Saat tiba di depan pagar, Kevin melepas genggaman tangannya, dan ia kemudian mengelus kepala Kay dengan singkat.
"Selamat istirahat. Jaga kesehatan, dan jika ada apa-apa, langsung beritahu aku," ujar Kevin lembut. Setelahnya ia juga mengusap pipi Kay, dan berjalan meninggalkan Kay. Evan sudah menunggunya di dalam mobil.
Kay mendengus kecil melihat senyum Kevin yang ia anggap tengil. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah. Dan di kursi sofa sederhana yang sudah usang, Kay melihat Kaisar yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya.
"Sudah bicaranya?" tanya Kaisar, saat Kay duduk di sampingnya. Adik perempuan satu-satunya itu, juga menyandarkan kepadanya ke bahu Kaisar.
"Sudah," jawab Kay lemah.
Mengetahui kalau adiknya tampak tidak semangat dan juga bingung, Kaisar lalu mengubah cara duduknya, hingga membuat Kay mengangkat kepalanya.
"Ada apa? Kalau Kay ada masalah, bicara sama Kakak. Jangan memendamnya sendiri," ujar Kaisar dengan lembut.
Mata Kay yang menatap Kaisar dalam kemudian mulai meredup. Wanita cantik yang baru saja dilamar tersebut, memeluk Kaisar dengan erat.
"Kay takut, Kak. Kay takut, jika nanti Kay benar-benar harus menikah dengan dia, maka semua orang akan mempertanyakan Kay, yang hanya seorang yatim piatu dan pelayan di supermarket. Mereka akan menganggap kalau kami tidak cocok, bagaikan langit dan bumi."
Kaisar tersenyum mendengar perkataan adik satu-satunya tersebut. Ia mengusap kepala Kay dengan lembut.
__ADS_1
Tak bisa Kaisar pungkiri, kalau dirinya juga mengkhawatirkan hal yang sama. Karena dia sendiri hanya seorang karyawan biasa di perusahaan milik Kevin.
Tapi ... Kaisar tak ingin menampakkan kekhawatirannya tersebut kepada Kay. Karena dirinya harus menjadi penguat adik satu-satunya tersebut. Jika ia lemah, kepada siapa lagi Kay akan bersandar.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Seharusnya Kay senang dong, karena dapat suami kaya raya?" Di akhir kalimatnya, Kaisar tertawa, membuat Kay merenggut. Ia memukul dada Kai karena kesal dengan jawaban kakaknya tersebut.
"Kay serius, Kak," kesal Kay dengan wajah muram.
Kaisar berdehem, lalu ia kembali membawa Kay kedalam pelukannya.
"Semua manusia sama di mata Tuhan, Kay. Hanya saja, memang ada beberapa manusia yang menganggap manusia lain rendah. Dan kamu tidak perlu menghirup orang yang seperti itu. Lagi pula, kakak yakin, kalau Kevin tidak akan pernah membiarkan siapapun menganggap rendah kamu." Kini raut wajah Kaisar serius.
Walaupun baru bertatap muka beberapa kali dengan Kevin, meskipun ia sudah lama bekerja di perusahaan calon iparnya tersebut, tapi Kaisar tahu, kalau Kevin bersungguh-sungguh terhadap adiknya. Setelah semua yang dilakukan oleh Kevin, dan tentu saja Kaisar melindungi kesungguhan di mata pria itu.
Melihat adiknya yang terdiam dan seperti tengah berpikir, Kaisar lalu tersenyum.
"Sebaiknya kamu istirahat, Kay. Bukannya besok kamu harus kuliah?"
Mendengar perkataan Kakaknya, Kay lalu bangkit.
"Makasih, ya, Kak, karena sudah dengarin keluh kesah Kay. Terima kasih juga karena sudah menyayangi Kay." Dan setelah kata-kata tersebut terucap, Kay lekas bergegas masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Kaisar yang tersenyum.
Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Kay lalu menghela napas pelan. Melihat langit-langit kamarnya yang terlihat usang.
"Semoga ini adalah jalan terbaik yang aku tempuh untuk hidupku," ucap Kay. Dan setelahnya ia bangkit, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan juga mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Sedangkan saat ini, Kevin dan juga Evan baru sampai di depan pintu rumah besar keluarga Zachary. Kevin kemudian turun dari dalam mobil, sedangkan Evan tetap duduk di kursi kemudi.
"Pulanglah!" suruh Kevin saat ia melihat Evan yang tampak ragu untuk menginjak pedal gasnya. Mungkin karena ia melihat raut wajah Kevin yang tampak sedikit kacau.
Mendengar perintah itu, Evan menurut. Karena Evan tahu, jika Kevin akan mengatakannya sendiri, jika ia sudah siap untuk membicarakannya. Evan pergi mengemudikan mobilnya untuk pulang ke apartemennya sendiri. Setelah menjalani hari yang panjang ini, Evan juga butuh istirahat. sebab, besok ia harus kembali bekerja mendampingi Kevin.
Sebelum Kevin masuk ke dalam rumahnya, terlebih dahulu ia berjalan menuju sebuah taman dengan hiasan air mancur yang cantik. Duduk di kursi taman yang berwarna putih, dengan berbekal lampu taman yang berwarna kuning, Kevin menyulut api rokoknya.
Perlahan namun pasti, Kevin mulai mengisap dan mengeluarkan asap dari mulutnya. Mendesah pelan, lalu ia memejamkan matanya. Walaupun hari ini ia bahagia karena bisa memasangkan cincang di jari manis Kay, tapi ia juga terbebani dengan beberapa hal.
"Semoga kamu tidak takut dengan pernikahan kita nanti, Kay. Aku pastikan, kamu akan selalu aman terlindungi, tanpa harus mendengarkan ocehan dari mulut orang-orang berisik di luaran sana."
Kevin berucap seperti itu, sebab ia tahu kalau ini akan menjadi buah pikiran untuk Kay. Gadis cantik tersebut bukan tipe wanita glamor yang gila harta. Jadi pasti nanti Kay akan tertekan dengan hal ini, terlebih jika ia sampai bertemu dengan kolega Kevin nanti. Dan mempertanyakan tentu status Kay dan juga latar belakang keluarganya.
Semua itu bukan tanpa alasan. Sebab, banyak dari sebagian kolega Kevin dan juga orang tuanya, yang menginginkan anak mereka untuk menikah dengan pewaris Zachary. Dan jika mereka tahu, bahwa yang menjadi ratu kedua di kerajaan bisnis Zachary adalah seorang wanita biasa, pasti itu akan menjadi perbincangan dan memberikan tekanan untuk Kay.
Melempar asal puntung rokoknya yang mulai habis, Kevin lalu mendesah pelan. Matanya melihat langit malam yang terlihat terang. Bukan terang karena cahaya bulan dan bintang, tapi karena pantulan cahaya lampu di pusat kota.
Bahkan malam yang biasanya terasa dingin, kini terasa hangat. Dan itu bukanlah hal langka di ibu kota.
"Aku akan menjaga kamu dengan cara terbaikku, Kay. Jika memungkinkan, menjaga calon anak kita juga nanti."
***
Selamat membaca! Kasih komentar dong!
__ADS_1