
Altaf membawa Natya ke sebuah mansion, milik siapa lagi jika bukan calon suaminya.
"Nona, mari masuk. Tuan muda sudah menunggu anda."
Natya menghembuskan napasnya sejenak lalu mengikuti langkah Altaf memasuki istana yang dihuni tuan muda sombong itu.
Mansion itu sangat megah, bahkan meski Natya bekerja seumur hidupnya ia tak akan mampu membeli Mansion ini.
Natya dibawa masuk ke sebuah ruangan yang memang sepertinya sudah disiapkan untuknya bertemu calon suaminya.
"Silahkan duduk, Nona. Sebentar lagi Tuan Muda akan datang."
Natya mengangguk lalu menarik kursinya dan duduk. 15 menit sudah berlalu, namun tak ada tanda-tanda kedatangan seseorang yang mereka tunggu.
Drrrtttt! Dddrrrrtttt!
HP milik Altaf berbunyi, lelaki berparas tampan namun berwajah tak kalah dingin dengan majikannya itu segera menjauh untuk mengangkat telepon.
Natya merasa bosan. Kenapa ia tidak di rumah saja dan membantu mamanya merangkai bunga. Itu lebih menyenangkan dari pada menunggu laki-laki tidak tepat waktu itu.
"Maaf, Nona. Sepertinya Tuan Muda pulang agak terlambat. Jadi, daripada menunggu istirahatlah. Kami telah menyiapkan kamar khusus untuk anda," ujar Altaf.
"Bolehkah saya pulang saja?"
"Maaf, Nona. Jika saya membiarkannya Tuan Muda bisa membunuh saya."
Natya menghembuskan napasnya kasar. Lelaki itu selain dingin, ketus, pemaksa, kejam ternyata otoriter juga.
"Baiklah, tunjukkan dimana kamarku? aku ingin istirahat," kata Natya lirih lalu mengikuti Altaf yang mengantarkan dirinya ke kamarnya.
Setelah kepergian Altaf, Natya memijat pelipisnya yang terasa pening. Beribu pertanyaan singgah memenuhi kepalanya.
__ADS_1
***
Devano turun dari mobil dan disambut oleh Altaf, asisten pribadinya.
"Apa dia ada di dalam?"
"Ya Tuan."
"Di mana dia?" Devano melepas jas dan menggulung lengan kemejanya.
"Dia ada di kamarnya, Tuan."
"Apa dia tidur?"
"Sepertinya tidak, Tuan."
"Kau sudah buat surat perjanjiannya?"
"Oke, Panggil dia ke ruanganku," ucap Dev dingin.
"Baik, Tuan."
Devano menunggu Natya di ruangannya.
Matanya tak henti-hentinya mengawasi pintu, namun gadis yang dinantinya tak kunjung muncul juga.
Brak!
"Kenapa lama sekali!" gerutunya.
suara ketukan heels di lantai membuat ia berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak ingin terlihat tempramental di depan calon istrinya.
__ADS_1
Natya berjalan ke arahnya.
"Duduk!" titah Dev saat Natya sampai di hadapannya, dengan gugup gadis itu duduk di kursinya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Natya sembari berusaha mengontrol kegugupannya.
"Altaf! berikan perjanjian itu padanya!" perintah Dev pada Altaf. Altaf menghampiri Natya dan memberikan secarik kertas pada gadis itu.
Dengan tangan bergetar, Natya membaca surat perjanjian itu dengan seksama.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Dev.
"Apa aku harus menikah denganmu, Tuan?"
Dev menahan geram. Wajahnya memerah.
"Apa maksud pertanyaanmu? jangan coba-coba kabur. Tanda tangani surat itu dan menikahlah denganku. Jika tidak aku akan membunuh keluargamu satu per satu!" ancaman Dev membuat Natya bergidik ngeri.
"Apa aku harus melakukan semua yang ada pada surat ini saat menjadi istrimu, Tuan?"
"Apa kau sebodoh itu, sampai tidak tau harus melakukan apa dengan adanya perjanjian ini?"
Natya mengangguk lalu segera menandatangani surat perjanjian itu. Karna memang tidak terlalu sulit syaratnya. Dia juga masih boleh kuliah dan hidup orang tuanya akan terjamin. Meski ia belum tau pasti mengapa lelaki ini memaksa menikahinya. Ingin bertanya, namun melihat wajah ketus Dev, ia segera mengurungkan niatnya.
"Altaf, simpan surat itu dan urus segera pernikahan kami. Secepat yang kau bisa," titah Dev pada Altaf.
"Baik, Tuan."
"Antarkan dia ke kamarnya."
"Baik tuan, Mari nona Natya," kata Altaf mempersilakan Natya untuk berjalan mendahuluinya.
__ADS_1
to be continue...