
Kay terdiam mendengar kata-kata Kevin, tapi setelahnya ia langsung memalingkan wajah. Kenapa mendengar Kevin mengatakan itu, membuat jantungnya berdebar. Apakah ada yang salah dengannya?
Kay lalu duduk dengan kurang nyaman. Melihat Kay yang tampak seperti salah tingkah, akhirnya Kevin tersenyum.
"Mau makan siang dulu?" Kevin bertanya agar memecahkan kecanggungan di antara mereka berdua. Ia juga tak ingin membuat Kay merasa tak nyaman di dekatnya.
Mendengar pertanyaan Kevin, lantas Kay mengangguk mengiyakan. Terlibat sedikit pertengkaran dengan Salsa, nyatanya membuat tenaga Kay lumayan terkuras, terlebih ia juga harus mendapatkan luka karena cekcok tersebut.
Kevin mengemudikan mobilnya, pergi dari area kampus, dan kedua orang itu melupakan Aileen yang masih tertinggal di sana.
"Dasar Kayana kampret! Mentang-mentang dibawa pergi sama pacarnya, gue ditinggal gitu aja!" Aileen merajuk kesal, ia sampai menghentak tanah yg dipijaknya. Tapi itu tak akan mengubah kenyataan, kalau dirinya benar-benar sudah dilupakan oleh sang sahabat.
Kay dan juga Kevin berhenti didepan sebuah restoran mewah. Yang bahkan area parkirnya saja sangat luas.
Dengan perasaan ragu, Kay turun dari dalam mobil Kevin. Ia juga menahan lengan Kevin, karena merasa tidak nyaman.
"Ada apa?" Kevin bertanya dengan penuh perhatian. Ia juga menatap wanita tercintanya tersebut dengan lembut.
"Ini terlalu mewah," ucap Kay dengan ragu-ragu. Mendengar itu, Kevin tersenyum, ia juga mengusap rambut Kay dengan penuh kasih sayang.
Bertemu dengan wanita polos seperti Kay, membuat hidup Kevin terasa lebih berwarna. Walaupun pertemuan itu diawali dengan sebuah ketidaksengajaan dan berakhir dengan sebuah kesalahan, tapi tetap saja itu berkesan.
Dengan perlahan namun pasti, tangan Kay diraih oleh Kevin. Laki-laki itu menggenggam tangan Kay.
"Tidak ada yang terlalu mewah, Kay. Bahkan jika kamu menginginkan lebih dari ini, aku akan mewujudkannya untukmu," ucap Kevin. Dan tentu saja Kay langsung menggeleng mendengar perkataan pria itu.
__ADS_1
Konyol! Bahkan jika dipaksa sekalipun, Kay tidak akan pernah meminta yang lebih mewah dari ini kepada Kevin.
Kaki Kevin mulai melangkah. Tangannya terus menggenggam jemari Kay, hingga keduanya tiba di pintu masuk. Restoran bintang lima ini benar-benar memberikan pelayanan yang terbaik.
Saat baru menginjakkan kaki selurus pintu masuk saja, mereka berdua sudah disambut hangat oleh pelayan di sana. Disapa dengan lembut, lalu diarahkan menuju meja yang diinginkan sesuai kriteria yang dijelaskan pelanggan.
Dan sejauh mata Kay memandangi pengunjung di sana, hanya mereka yang berpakaian mewah dan juga mahal yang duduk di sana. Dan itu membuat Kay minder. Karena, bajunya bisa dikatakan hampa pudar.
"Aku tidak nyaman. Mereka pasti menganggap aku seorang pelayan," bisik Kay yang duduk di hadapan Kevin.
Dan pria yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya itu, lalu menggeleng.
"Tidak akan ada yang berpikir seperti itu, Kay. Kamu sangat cantik, bahkan hanya dengan menggunakan pakaian ini," ucap Kevin. Dan kata-kata itu membuat Kay terdiam dan juga jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
"Jangan berlebihan," cicit Kay, Beru menyembunyikan wajahnya yang terasa panas.
Saat keduanya berbincang ringan, saat itulah pesanan makanan mereka sampai. Dan menu serba ayam yang Kay pesan, tentu saja menjadi petunjuk bagi Kevin, kalau calon istrinya itu sangat menyukainya menu makanannya berbahan dasar ayam.
"Makanlah," ujar Kevin, saat Kay masih berumur menahan dirinya. Dan tingkah Kay yang seperti itu, tentu saja membuat Kevin gemas. Kenapa bisa ada wanita semenggemaskan Kay di hidupnya.
Kayana mengangguk, dan mulai memakan makanannya. Dan kualitas makanan di restoran ini, sangat sebanding dengan pelayanan dan juga tempatnya.
Kay memakan makanannya dengan lahap, dan Kevin yang melihat itu tentu saja tersenyum.
Setelah selesai menghabisi makam mereka, Kay dan juga Kevin tentu saja segera beranjak dari sana. Kevin membayar dengan kartu kreditnya, hingga Kay tidak mengetahui berapa nominal uang yang harus Kevin keluarkan untuk makan kali ini.
__ADS_1
Padahal sebelumnya, Kay juga sudah berusaha untuk melihat bill yang diserahkan oleh pelayan pada Kevin, tapi pria itu menolak memberikannya.
Didalam mobil, Kay duduk diam. Selain karena merasa kekenyangan, ia juga merasa kalau dirinya semakin nyaman di dekat Kevin.
"Ingin pergi ke suatu tempat? Atau mau ikut denganku ke kantor?" tanya Kevin pada Kay yang duduk di sebelahnya.
Kay langsung menolak mentah-mentah ajakan Kevin. Mana mungkin ia mau pergi ke kantor Kevin sekarang. Akan timbul banyak pertanyaan nantinya. Terlebih, dengan penampilannya yang terkesan sangat biasa seperti ini.
"Mau langsung pulang saja. Lagipula pakaianku tidak cocok jika harus dibawa pergi ke kantormu," ucap Kay.
Dan Kevin menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Kay.
"Jangan pernah sekalipun kamu merasa rendah diri Kay. Dirimu itu sangat berharga. Jadi jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain, karena kamu punya banyak kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain."
Kay terdiam, tapi kemudian ia tersenyum kecil.
"Terima kasih," ujarnya dengan tulus. Perasaan insecure yang membuat Kay merasa tak pantas untuk laki-laki sempurna seperti Kevin, membuatnya terus merasa rendah diri.
Ia terus berpikir, kalau diantar dirinya dan juga Kevin, tidak akan pernah bisa disamakan. Dia hanya WAN biasa yang kebetulan bisa tiba-tiba berada di ranjang Kevin, sedang Kevin adalah laki-laki dengan penuh keistimewaan yang tiba-tiba terjebak dengannya.
"Aku mencintai kamu, tanpa melihat kamu datang dari latar keluarga apapun, Kay. Aku mencintai kamu, karena hatiku sudah jatuh, saat pertama kali aku melihatmu, hingga saat pagi kamu menghilang dariku, membuatku sangat kacau."
"Jadi jangan pernah membandingkan diri lebih rendah dari orang lain lagi. Kamu sempurna di mata orang yang benar-benar mencintaimu!"
***
__ADS_1
Selamat membaca!