
Natya tidak bisa tidur semalaman. Matanya terpejam namun pikirannya berkelana entah kemana. Ia masih tidak mengerti dengan yang kini terjadi padanya. Ia ingin sekali kabur tapi tidak tahu caranya karna Devano terlalu kejam dan menakutkan. Jangankan berbicara, duduk di hadapan laki-laki itu saja sudah membuat Narya merasa terintimidasi.
Nanya bangun, memposisikan dirinya untuk duduk. Wajahnya tampak lesu dan kantung matanya mulai terlihat akibat menangis dan tidak tidur semalaman.
Natya menatap langit-langit kamar yang ia tempati lalu tersenyum simpul saat mendapatkan ide. Mungkin hanya ini satu-satunya cara agar ia terlepas dari laki-laki pemaksa itu.
Tok tok tok!
Suara pintu di ketuk.
Natya segera memposisikan dirinya terbaring dan memejamkan matanya, pura-pura tidur.
Krek!
tak tak tak! suara langkah kaki memasuki kamar. Natya semakin merapatkan matanya, jantungnya serasa ingin copot karna ketakutan.
Seseorang itu tampak meletakkan sesuatu di atas nakas, dan berlalu pergi meninggalkan kamar itu.
Natya segera membuka matanya.
Dengan segera diambilnya sesuatu yang kini terletak di atas meja. Hanya ada secarik kertas note bertuliskan "Bersiaplah karna tiga hari lagi Kau akan menjadi Nona Muda Smith!"
"Tiga hari lagi!" pekik Natya sembari menutup mulutnya dengan segera.
"Apa laki-laki itu sudah gila? aku bahkan belum mengenalnya!" gerutunya.
***
Seharian Natya tidak keluar kamar namun kegiatan yang dia lakukan sudah cukup untuk membuatnya frustasi. Bahkan membantu bundanya pun tidak akan semelelahkan ini.
"Apa kau lelah?" tanya Dev melihat keringat menetes di dahi Natya. Ini adalah gaun ke dua puluh satu yang ia coba. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu hingga membuat Natya merasa sangat kesal.
"Masih berapa puluh gaun lagi yang harus kucoba?" sindir Natya. Dev hanya menarik sedikit sudut bibirnya. Hanya sedikit, tapi itu sudah sangat cukup untuk memperlihatkan ketampanan seorang Devano Argantara Smith.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan diteruskan. Lagi pula aku sudah menyiapkan satu gaun rancangan spesial untukmu." Setelah mengatakannya tanpa dosa Dev berlalu dari kamar Natya. Menyisakan gadis itu yang mengomel tanpa henti sepanjang membereskan gaun-gaun menyebalkan yang tadi dicobanya.
Natya meletakkan gaun-gaun itu di atas koper lalu meletakkannya di sudut ruangan.
Sebenarnya ia masih tidak terima dinikahi begitu saja oleh lelaki menyebalkan itu. Tapi apa boleh buat, mereka terlalu berkuasa. Orang tuanya bisa kenapa-kenapa jika ia memaksa kabur.
tok tok tok!
Natya menoleh dan mendapati Altaf berdiri di ambang pintu.
"Nona, Tuan Muda meminta anda untuk segera turun."
"Iya."
**
Natya sangat tidak menyukai suasana hening seperti ini. Hanya suara dentingan sendok dan piring di ruang makan yang sangat luas itu.
"Panggil aku, Dev."
"Tap... tapi-"
belum sempat Natya menyelesaikan kata-katanya, tatapan tajam Dev mengintimidasi dirinya.
"Ada apa?" tanya Dev datar.
"Apa kau tinggal di sini sendirian?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Ibu dan kedua adikku sedang ke Paris untuk liburan. Mereka akan kembali tepat pada hari pernikahan kita. Tiga hari lagi," ujar Dev tetap dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Apa tidak terlalu cepat? aku belum siap, Tu.. maksudku Dev." Natya menyebutkan nama Dev dengan sangat kaku membuat lelaki itu mau tak mau menarik sedikit sudut bibirnya.
"Lebih cepat lebih baik. Altaf akan menjelaskan semuanya padamu. Aku tidak punya banyak waktu, aku harus segera pergi. Baik-baik di sini dan jangan mencoba untuk kabur. Aku sudah mempersiapkan pengamanan ketat." Natya melongo mendengar penjelasan Dev. Baru kali ini ia melihat Dev menjelaskan panjang lebar di hadapannya secara live.
Setelah sepeninggal Dev, Natya segera membereskan piring yang tadi mereka gunakan, tetapi belum sempat ia berdiri suara Altaf sudah menghentikan usahanya.
"Tidak perlu di bereskan, Nona. Para chef dan pelayan yang akan membereskannya." Tak lama setelah Altaf mengatakannya, puluhan orang berbaju chef dan pelayan menghampiri mejanya.
"Ia adalah Nona Natya. Calon istri Tuan Muda. Beri salam dan jangan buat kesalahan."
"Siap Tuan," jawab mereka serentak.
"Apa saya sudah boleh menjelaskan semuanya pada anda Nona?" tanya Altaf pada Natya.
"Boleh."
"Kalau begitu mari ikut saya ke Taman Belakang."
***
"Siapa mereka?"
"Di rumah ini ada tiga puluh pelayan, dua puluh chef restoran bintang lima, seratus pengawal, tiga supir pribadi, dan dua ratus bodyguard."
"Lalu dimana mereka semua? kenapa aku tidak melihatnya?"
"Mereka ada di mansion khusus belakang mansion ini. Mereka tinggal disana sementara karena Tuan pikir Nona tidak akan nyaman dengan perubahan yang tiba-tiba. Tapi karna anda sudah mengetahuinya. Jadi mereka akan mulai kembali bekerja hari ini."
Natya melongo.
"Sekarang jelaskan tentang Tuan Muda kalian," kata Natya mulai mengeluarkan hpnya dan mencatat semua yang di katakan Altaf.
to be continue...
__ADS_1