My Posesif Husband

My Posesif Husband
Sahabat


__ADS_3

Kay merasa sangat kesal dengan semua tuduhan yang dikatakan oleh Aileen.


"Lo kurang aja. Seenak jidat nuduh gue begitu!" balas Kay kesal.


Dan di rumahnya, Aileen tertawa mendengar omelan Kay. Karena ia tahu betul, kalau Kay tidak akan melakukan hal seperti itu. Tapi, pasti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya tersebut.


"Oke, jadi sekarang jelasin sama gue. Kenapa Pak Kevin sampai bilang Lo itu pacarnya dia? Dan sejak kapan kalian jadian? Kenapa bisa secepat itu?" runtutan pertanyaan itu keluar dari mulut Aileen. Karena jujur saja, ia sangat penasaran, kenapa Kay bisa berpacaran dengan Kevin.


"Gue gak pacaran sama dia," jawab Kay, dengan menggigit bibirnya. Karena, memang dia bukan tunangannya Kevin.


Dan mendengar jawaban Kay, lantas Aileen mengerutkan keningnya.


"Maksudnya? Tapi gue dengar pakai telinga sendiri, kalau Pak Kevin bilang, Lo itu pacarnya dia," ucap Aileen.


"Benar, Len. Gue bukan pacarnya dia," ucap Kay.


Makin bingung Aileen mendengar jawaban Kay.


"Jadi maksud Lo, pak Kevin bohong?" kini nada suara Aileen berubah. Antara bingung dan juga tak percaya.


"Iya. Soalnya gue benar-benar bukan pacar dia ... tapi ...."


Kay menggantung ucapannya.


"Tapiii...? Tapi apa?" tanya Aileen penasaran.

__ADS_1


"Tapi gue tunangannya," ucap Kay. Dan setelahnya ia refleks menjauhkan ponsel yang ia pegang dari telinganya.


"Dasar Kayana kamp*et! Sialan, lo! Beraninya Lo permainin gue Kayana!" Teriakan Aileen terdengar menggebu-gebu. Ia juga terdengar sangat marah dan juga kesal.


Dan Kay hanya tertawa mendengar kekesalan sahabatnya tersebut.


"Lo harus jelasin secara langsung sama gue, Kay! Gue gak mau tahu! Sekarang juga, gue berangkat ke rumah, Lo!" Dan setelah mengatakan itu, sambungan telepon terputus begitu saja. Dan yg mematikannya adalah Aileen.


Kay dapat membayangkan, bagaimana Aileen yang bar-bar, sedang marah saat ini. Dia pasti di sepanjang jalannya terus mengumpat dan juga menggerutu kesal.


Kay tahu, kalau Aileen sebentar lagi, benar-benar akan tiba di rumahnya. Karena sahabatnya itu, selalu menepati semua ucapannya. Sembari menunggu, Kay memilih untuk mandi.


***


Kay membuka pintu, ia memiliki Aileen yang sudah berdiri berkacak pinggang didepannya. Lalu menyelonong masuk begitu saja, tanpa mendekat kata-kata Kay.


Aileen duduk di sofa lusuh itu, lalu menatap Kay sengit. "Duduk! Jelasin sama gue semuanya!" perintah Aileen.


Kay mendengus. "Kenapa jadi Lo, yang berlagak kayak Tuan rumah?" kesal Kay. Tapi tetap ia menurut dan duduk di samping Aileen.


Dan protesan itu tak digubris oleh Aileen. Wajahnya serius dan membuat Kay menelan ludah susah payah.


"Cepat, jelasin sama gue!" titah Aileen yang tampak tak mau dibantah. "Tanpa ada yang ditutup-tutupi!" sambungnya.


Kay merasa terintimidasi oleh Aileen. Ia lalu menatap wajah sahabatnya tersebut. Dan mulai menceritakan awal kejadiannya.

__ADS_1


Dan Kay benar-benar menceritakan semuanya, tanpa ada yang ia tutup-tutupi. Karena sebelum Aileen datang kemari, ia juga sebenarnya sudah berniat jujur pada sahabatnya tersebut.


Perubahan ekspresi dan juga mimik wajah Aileen terekam jelas oleh Kay. Bagaimana sahabatnya tersebut hampir menangis karena mendengar ceritanya. Tak tampak lagi Aileen yang bar-bar dan sangat kesal seperti sebelumnya.


"Kay?" Dan air mata itu benar-benar lolos dari Aileen. Bahkan ia sampai terisak karena merasa bersalah.


"Seharusnya pas pertama Lo masuk kuliah hari itu, gue harusnya engeh, Kay. Maafin gue, karena gak bisa jadi sahabat yang baik buat Lo, Kay!"


Akhirnya Aileen benar-benar luruh. Ia kalah, dan akhirnya memeluk Kay. Merasa bersalah pada dirinya sendiri, kenapa sampai bisa tidak menyadari semuanya.


"Udah, Len! Udah lama juga! Lagian sekarang gue juga udah mau nikah sama Kevin," ucap Kay menenangkan.


"Harus Kay! Dia harus tanggung jawab sama Lo! Dia gak bisa lepas tangan gitu aja! Bang sat, kalau aja gue tahu duluan, udah gue botakin itu rambutnya si Kevin!" Aileen tampak menggebu-gebu, dan itu membuat Kay tertawa.


Dan melihat tawa sahabatnya, Aileen kembali memeluk Kay. "Maafin gue, ya, Kay. Gue benar-benar gak peka sama Lo," ucap Aileen, dan tentu saja, kata-kata penyesalan itu, Kay balas dengan anggukan kepala.


"Makasih, ya, Len. Setelah semua yang terjadi sama gue, lo masih mau jadi sahabat gue. Lo bahkan gak jijik sama gue," ucap Kay.


Mendengar perkataan Kay, Aileen lekas melepaskan pelukannya, dan mencubit tangan sahabatnya tersebut.


"Ngadi-ngadi, Lo! Kita itu sahabat, Kay! Dan sebagai seorang sahabat, tentu gue harus mendukung Lo, kapanpun dan dengan alasan apapun. Itu artinya sahabat! Dan gue gak akan ninggalin Lo, hanya karena ini, Kay! Lo satu-satunya sahabat gue!"


***


Selamat membaca!

__ADS_1


__ADS_2