
Natya mulai mencatat peraturan untuk seluruh penghuni mansion saat dirinya nanti sudah menjadi istri seorang Devano Argantara Smith.
Satu. Seluruh penghuni harus memanggil Natya dengan sebutan Nona Muda.
Dua. Seluruh pengawal, bodyguard, supir pribadi, dan siapapun laki-laki di mansion ini dilarang menatap Natya lebih dari lima detik.
Tiga. Dilarang ada yang menyentuh Natya kecuali Dev seorang.
Empat. Dilarang mengajak ngobrol Natya kecuali ada kepentingan atau ia yang memulai pembicaraan.
Lima. Seluruh laki-laki di mansion dilarang tersenyum di depan Natya.
Enam. Jangan ada yang membiarkan Natya bertemu orang asing apalagi laki-laki.
Tujuh. Tidak ada yang boleh membiarkan Natya keluar rumah tanpa seizin nya.
Altaf tak berhenti menjelaskan dari poin pertama hingga ke tujuh dengan sedetai-detailnya. Natya mengangkat telapak tangannya di depan Altaf menandakan bahwa ia meminta jeda.
"Peraturan apa ini? Kenapa aneh begini?" tanya Natya. Kedua alisnya saling bertautan.
"Itu memang sudah sesuai dengan permintaan Tuan Muda, Nona. Mengertilah, Ia sangat takut kehilangan anda."
"Bagaimana mungkin, kami baru saja bertemu saat dia melamarku. Bagaimana mungkin dia takut kehilanganku," bantah Natya.
"Tuan Muda sepertinya sudah mencintai anda sangat lama, Nona. Jadi dia sampai seperti ini?" tutur Altaf.
"Mana mungkin orang yang tidak pernah bertemu bisa jatuh cinta. Entahlah Nona, anda bisa tanyakan langsung pada Tuan Muda jika menyangkut akan ini. Tugas saya hanya menjelaskan apa yang harus saya jelaskan," jelas Altaf.
Natya mengangguk lalu berkata, "Lanjutkan."
Altaf kembali menjelaskan segala peraturan aneh itu. Ia juga menjelaskan bahwa Dev adalah orang yang tempramental, keras kepala, dingin namun romantis, dan sangat sulit dimengerti.
Natya hanya menyimak dan mencatat semuanya dalam ponselnya.
"Tuan Muda sangat benci Hujan, Nona."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karna Tuan Besar kecelakaan pada saat usia Tuan Muda masih 18 tahun dan saat itu hujan."
Natya mengangguk mengerti, ternyata orang sedingin dan semenyebalkan dia, bisa trauma juga.
"Apa Tuan Muda kalian sudah punya pacar sebelumnya?" tanya Natya penasaran.
"Tuan Muda adalah orang yang tak tersentuh, Nona. Mantannya hanya satu yaitu Nona Melody, yang meninggalkan Tuan Muda tanpa alasan."
"dasar wanita bodoh!" pekik Natya dalam hati.
"Boleh aku tau lebih banyak tentang masalalunya?"
"Maaf, Nona. Itu bukan yang seharusnya saya sampaikan."
Natya mendengkus lalu kembali menyimak kata-kata Altaf.
***
"Malam."
"Tuan Muda sudah menunggu di ruang makan, Nona." kata pelayan itu lagi.
"Baiklah, aku akan segera turun." Natya bangun dari ranjang dan bersiap-siap, sedangkan pelayan itu sudah berlalu entah kemana.
"Kenapa aku berasa seperti seorang princess di sini? Dia sangat berlebihan," gumam Natya.
Natya memperhatikan seorang pelayan yang menarik kursi untuknya. Ini benar-benar berlebihan.
"Dev-"
"Makanlah!"
Natya kembali diam, perintah Dev cukup menginterupsi dirinya. Tiba-tiba ia merasa sangat gugup dan tidak nyaman. Selera makannya pun sudah hilang entah kemana.
__ADS_1
Mereka makan dalam hening.
"Grassia!"
seorang wanita paruh baya muncul dan tersenyum ramah.
"Kapan kau kembali? kenapa tidak mengabari?" tanya Dev datar.
"Baru saja, Tuan."
"Oke, perkenalkan dia adalah calon istriku. Buat dia senyaman mungkin disini. Tau kan peraturan hidupku?"
"Baik, Tuan."
Wanita bernama Grassia menatap ramah ke arah Natya, dan anehnya Dev tidak marah padanya.
"Dia adalah Grassia, kepala pelayan di sini. Dia sudah bekerja disini lebih dari separuh umurnya. Kau hanya boleh mengobrol dengannya atau denganku. Kau mengerti?" kata Dev ketus. Natya hanya mengangguk ragu.
"Kau menakutinya, Tuan. Bersikaplah lebih manis pada calon istrimu," kata Grassia menasehati Dev. Lelaki itu hanya berdeham lalu meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah kepergian Dev, Grassia duduk di samping Natya.
"Tak disangka, Akhirnya Tuan Muda menemukanmu," tutur Grassia ramah.
Natya menautkan kedua alisnya. lalu bertanya, "Maksud ibu?"
"Ah, jangan memanggilku begitu. Jika Tuan Dev tau, dia bisa membunuhku. Panggil saja Grassia," kata wanita paruh baya itu sembari terkekeh.
Natya mengangguk. Bahkan semua orang sangat patuh pada seorang Devano. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menerima takdir ini.
Pasrah saja. Seperti nasehat orang tuanya sebelum ia berangkat kemari.
Ah tiba-tiba ia merasa rindu. Besok ia ingin meminta izin pulang sebelum pernikahannya. Semoga saja Dev memperbolehkannya.
to be continue...
__ADS_1