
***" Apa yang kita punya saat ini adalah titipan , jangan sia siakan selagi mampu untuk membantu orang lain"
Shanum Almahyra Mahendra adalah seorang gadis berusia 23 tahun yang mempunyai paras yang sangat cantik, berkulit putih bersih bak porselin, membuat siapa yang memandangnya terpikat akan kecantikan yang ia miliki.
Shanum menutup semua keindahan yang ada pada tubuhnya dengan memakai pakaian tertutup serta hijabnya. Sebagai seorang muslim sudah menjadi kewajiban untuk setiap wanita untuk menutup auratnya.
Hal tersebut sudah di tanamkan oleh orang tuanya sejak dini, dan pendidikan akhlaq adalah yang paling utama bagi keluarga Mahendra.
Sejak kecil ia selalu menjadi pusat perhatian dimana pun ia berada, walaupun begitu Shanum tak merasa sombong dengan apa yang ia miliki, karena ia paham betul bahwa apa yang ia punya hanyalah titipan.
Shanum adalah seorang desainer muda yang tak perlu di ragukan lagi kemampuannya . Sudah banyak karya yang tercipta dari tangannya yang teramat di minati oleh para wanita sosialita dan kalangan meneggah.
Shanum selalu bersama dengan sahabatnya sekaligus asisten pribadinya yang sudah di anggap keluarga olehnya dan orangtuanya. Sahabat yang selalu ada di sampingnya dalam susah ataupun senang. Sahabat yang sama - sama merintis karirnya dari bawah, tanpa bantuan dari kedua orang tua mereka.
Luna Sasmitha adalah gadis cantik sahabat sekaligus asisten Shanum, mereka selalu bersama bergandengan tangan dan melangkah bersama untuk mencapai tujuan mereka dalam mengembangkan butiknya.
Semua yang ia punya saat ini adalah hasil dari jerih payahnya bersama dengan sahabatnya yang selalu ikut andil dalam setiap proses menuju sukses.
Shanum adalah anak kedua dari pasangan Aditama Mahendara dan Zia Anggraini. Aditama adalah seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang perhotelan dan kuliner.
Seorang ayah yang sangat menyayangi anak dan istrinya. Seorang lelaki yang umurnya sudah tak muda lagi tetapi masih terlihat bugar. Ia sangat menjaga keluarganya agar selalu berpegang teguh pada norma - norma agama yang mereka anut.
Anak pertama mereka Arsaka Putra Mahendra, yang sekarang membantu ayahnya mengelola perusahaan karna sang anak gadis yang tak mau ikut terjun mengurus perusahan.
Walaupun Shanum dalah anak orang kaya dan terpandang tetapi ia bukanlah gadis yang suka berfoya - foya seperti anak pengusaha lainnya.
__ADS_1
Suara kicauan burung yang bersautan di pagi hari mengiringi sang surya beranjak dari peraduannya. Beningnya embun yang menetes di pagi hari disertai kabut tipis yang sangat menyegarkan.
Pagi yang sangat cerah menambah semangat untuk memulai hari kembali ke rutinitas seperti biasanya.
Shanum sudah bersiap untuk berangkat kebutik, menapaki satu persatu anak tangga dari kamarnya menuju ruang makan.
" Lama banget sih dek,.." kata Shaka.
" Maaf bang, tadi aku tidur lagi abis subuh,hehe.." jawab Shanum manja sambil cengegesan.
"Diih... anak gadis kok malesan.." ledek Shaka.
" Abisnya ngantuk, semalem abis nyelesain desaign buat produk baru yang akan lunching bulan depan." kata Shanum.
"Jangan terlalu di paksain sayang, jaga kesehatanmu. Walaupun kamu gak bekerja ayah masih sangat mampu menanggung semua kebutuhanmu." kata ayah Adi menasehati anak gadisnya.
Zia hanya menperhatikan suami dan anak anaknya sambil menyiapkan sarapan uuntuk suaminya.
" Makan dulu, di lanjut nanti lagi ngobrolnya, inget gak boleh ngomong kalo lagi makan nanti keselek.." kata Zia membuat mereka semua diam tak berkutik menuruti perkataan sang ibu.
Setelah selesai sarapan mereka berangkat bekerja seperti biasa, dengan kendaraan kesayangan masing masing.
Shanum melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sekitar 30 menit perjalanan akhirnya ia sampai di butiknya. Shanum memarkirkan mobilnya di depan butiknya dan melangkahkan kakinya memasuki butik.
"Pagi bos cantik..." sapa Mita salah satu karyawan Shanum.
__ADS_1
"Pagi juga mbak, Luna udah sampai belum mbak?" jawab Shanum sambil tersenyum manis.
"Udah mbak, baru aja masuk." kata Mita.
"Owh... aku masuk dulu ya mbak mita." kata shanum.
Shanum bergegas menuju keruangannya yang di desaign dengan sangat apik dan penuh warna. Di Ruang kerjanya juga terdapat kamar yang ia gunakan untuk istirahat.
"Luunnnaaa..." teriak Shanum saat sampai di ruangannya.
"kenapa sih num, teriak teriak,, aku gak budek jadi pelan - pelan aja panggilnya," protes Luna.
"hehehe....sengaja.." kata Shanum dengan senyum jahilnya.
"Sarapan apaan sih kamu num kok semangat banget. masih full yha batrainya...." kata Luna meledek sahabatnya sambil berlari keluar.
"Di kira aku boneka pake batarai..." kata Shanum sambil memanyunkan bibirnya.
Shanum duduk manis di kursi kerjanya memeriksa beberapa dokumen yang ada di mejanya.
Setelah selesai ia mengambil alat gambar mulai membuat sketsa menuangkan ide ide yang ada di pikirannya.
Jangan lupa dukungannya untuk Author.
like,vote,dan komen.
__ADS_1
dan jangan lupa tambahkan kedaftar favoritmu.