My Possessive Hubby

My Possessive Hubby
Menerima


__ADS_3

Suara jam diding yang berdetak membelah kesunyian malam, Shanum mengerjapkan matanya dengan perlahan menyesuikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya.


Ia melihat sekelilingnya ternyata ia sudah berada di kamarnya. Ia sudah bisa menebak siapa yang memindahkannya semalam.


Di lihatnya jarum jam dinding di kamarnya menunjukan pukul 03,15 dini hari, ia pun segera beringsut menuruni ranjang dan bergegas kekamar mandi dan mengambil air wudhu.


Ia sudah terbiasa bangun di sepertiga malam untuk berkeluh kesah kapada sang khaliq. Setelah menyelesaikan sholatnya ia mengambil mushaf yang ada di rak buku kamarnya dan membacanya dengan khidmat sembari menanti datangnya sang fajar.


Ia selalu menyempatkan membaca Al Qur'an  walaupun hanya 1 ayat setiap harinya. Hingga terdengar Adzan subuh berkumandang memanggil setiap insan yang masih terlelap di alam mimpi untuk menjalankannya kewajibannya sebagai seorang muslim.


Shanum beranjak dari duduknya melangkah keluar kamar menuju kamar kakaknya berniat untuk membangunkannya, biasanya sang ibulah yang sering membangunkan anak sulungnya tersebut.


Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk ke kamar Shaka dan melangkah masuk, di lihatnnya  sang kakak  masih tertidur pulas di ranjang king sizenya masih bergelung di alam  mimpi.


" Kak bangun  udah Subuh!" kata Shanum sambil mengoyang - goyangkan lengan Shaka.


" lima menit lagi dek, kakak ngantuk banget." tukas Shaka dengan mata yang maish terpejam.


" Gak ada, cepat bangun dan ambil air wudhu kak dan aku tunggu di mushola." kata Shanumberdiri di sisi ranjang.


" Hemz,,,," Shaka hanya berdehem tapi tak urung ia menuruti perkataan adiknya. Dengan malasnya beranjak bangun dan berjalan kekamar mandi dengan mata yang masih tertutup.


Shanum hanya geleng - geleng kepala melihat sang kakak berjalan dengan mata masih terpejam menuju ke kamar mandi, ia kembali ke kamarnya mengambil air wudhu dan mukena . Ia pun bergegas menuju mushola yang ada di lantai dua.


Biasanya jika kedua orangtuanya berada di rumah, para lelaki kan pergi berjama'ah kemasjid dan Shanum hanya berdua dengan sang mama. Tak jarang  mereka juga sering berjamaah di rumah  di saat - saat tertentu.


Hingga tak berselang lama Shaka berjalan dari kamarnya sudah rapi dengan baju koko dan Sarungnya. Di lihatnya sang adik sudah siap di tempatnya menunggunya untuk menjadi makmumnya.


Awan hitam menyelimuti langit pagi ini,  rintikan hujan yang turun membasahi tanah dengan bau khasnya yang  menyeruak diudara. Shanum sudah cantik dengan tunik warna mocho di padukan dengan celana bahan hitam dan pastan berwarna mocha.


walaupun langit pagi ini tak secerah biasanya tetapi harus semangat memuai hari. Shaka sudah menyelesaikan sarapannya ia pun segera berpamitan kepada adiknya.


" Dek, kakak berangkat duluan yha!" kata Shaka seraya meraih kunci mobil yang ada di atas meja makan yang sudah ia siapkan sedari tadi.


" Iya, hati - hati ya kak." kata Shanum meraya meraih tangan kakakna.


Shanum mengendarai mobil kesayangannya membelah jalanan yang selalu ramai di jam jam sibuk seperti saat ini.  Seolah - olah mereka sedang di kejar - kejar oleh waktu.

__ADS_1


Sesampainya di butik Shanum sudah di sambut oleh Luna yang sedang menunggunya di depan pintu utama butik. Setelah memarkirkan mobilnya ia pun segera turun dan menghampiri sahabatnya.


" Tumben - tumbennya undah Stand by disini kamu lun?" tanya Shanum saat sudah berada di samping luna.


" Nungguin bu bos karna ada hal penting yang harus segera di selesaikan." kata Luna.


" Sepertinya genting sekali Lun, Ayuk kita biicara di ruangan aku aja." kata Shanum seraya mengandeng tangan Luna berjalan bersama memasuki butik. Setelah sedikit berbasa - basi dengan kariyawannya mereka berdua memasuki  ruangan Shanum.


 


Shanum  berjalan ke mejanya  untuk manaruh barang bawaannya seraya mengambil laptopnya dan menyusul Luna yang  sedang duduk di Sofa tak jauh dari meja kerja Shanum. Shanum membawa laptonya dan menaruhnay di meja dan menekan tombol ON.


" Num, kita harus bergerak cepat karna kain yang di gudang sudah habis."


" Kalo bisa hari ini kita harus mendapat distributor kain ang baru." kata Luna  - dengan mengebu -ngebu.


Tetapi Shanum masih diam saja tanpa menimpali pekataan Luna, oia masih fokus dengan laptopnya. Melihat hal itu Luna menjadi kesal sendiri.


" Shanum Almayra Mahendra, yang paling cantik dan baik hati, aku tuh lagi ngomong lho sama kamu, bukan lagi ngigo kenapa akunya di cuekin. " protes Luna.


" Bentar Lun. " kata Shanum dengan pandsangnanmatanya yang masih fokus menatap layar datar yang ada di hadapannya.


" Lun, perusahaan ynag kakmu rekomendasikan kemaren." Tanya Shanum.


 


" Bagaskara Group." kata Luna singkat padat dan jelas.


Shanum mengalihkan pandangan dari layar datarnya mendengar Perkataan Luna, dan menatapnya.


" kenapa?" tanya Luna.


" Huufft" Shanum menarik nafas panjang.


" Sebenernya direkturnya yang memintaku untuk bergabung dengan perusahaannya."  kata Shanum.


" Woow, It's so emazing."

__ADS_1


" Kenapa gak langsung terima aja sih Num." kata Luna.


" Banyak yang harus aku pertimbnagkan Lun."


" Aku aja gak tau kalo perusahaannya sangatlah besar." kata Shanum.


" What?...kemana ja kamu Num selama ini sampai tak tau rajanya Dunia bisnis." Kata Luna tak percya dengan Sahabatnya ini, padahal ia anak pengusaha.


" hehehe...." Shanum hanya cengegesan.


" Trus apa keputusanmu saat sudah tau semuanya."  kata Luna.


" Aku akan menerimanya, tapi kamu yang bertanggung jawab di butik, karna aku tak akan datang setiap hari kesini." kata Shanum.


 


 


.


 


.


 


 


.


hello gais, I come back.........


selamat membaca............


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2