
Setelah pembicaraan tersebut Shanum memilih untuk kembali kekamarnya, sedangkan kedua
pria tersebut masih asik mengobrol seputar perkembangan bisnis, hingga tak
terasa waktu sudah sore dan Satria pun berpamitan kepada sahabatnya.
Shaka mengantarkan Satria sampai kedepan pintu, setelah mobilnya tak terlihat lagi ia pun kembali kedalam rumah. Ia langsung menuju keruang kerjanya karna masih ada beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan .
setelah makan malam kedua kakak beradik itu kembali pada ke kamarnya masing masing.
Shanum sedang berdiri di balkon kamarnya sembari melihat ribuan bintang yang bertaburan di langit dan entah apa yang ada dalam benaknya saat ini. Hingga terdengar suara ponselnya yang berdering membuyarkan lamunannya.
Ia melangkahkan kakinya ke arah nakas dimana ponselnya berada. Saat melihatnya no yang tidak di kenal ia ragu untuk mengangkatnya, tapi karna takut ada sesuatu hal yang menting akhirnya ia menjawab panggilan tersebut.
“ hallo..” kata Shanum.
“ hallo..” terdengar suara di seberang sana, ternyata adalah suara seorang pria .
“ maaf dengan siapa ini?”
“ apakah kau sudah lupa dengan suaran abang Shanum sayang?”
“ jika tak ada hal yang penting aku matiin.”
“ jangan galak - galak jadi perempuan, nanti gak ada yang naksir.”
“ sorry ya yang ngantri bunyaakk?”
“ diiih sombongnya!”
“karna nyatanya begitu bang. Kenapa abang menelfonku
malam malam begini?”
“ buatkan abang baju pengantin yang paling bagus num!”
“ buat siapa bang?”
“ buat abanglah num.”
“aku lagi pusing bang gak niat bercanda.”
“ siapa juga num yang bercanda.”
__ADS_1
“serius abang mau nikah?sama siapa?pacar aja kagak punya.”
“ diih nih bocah,”
“ paling juga kaya biasanya, bercanda doang abang mah,”
“ Abang serius Num Num,”
“ Gak percaya bang.... kalo tante atau om yang bilang^^^
baru aku percaya.”
“ Besok abang ke butik, pokoknya kamu harus ada di butik pas abang dateng”
“ Diiihh, maksa banget bang.”
“ Apa perlu abang jemput?”
“ Terserah abang ajalah, aku udah ngantuk, dadah abang”
Shanum tak berniat mendengarkan lawan bicaranya lagi, ia langsung mematikan sambungan telponnya. Ia tak akan mudah percaya dengan sepupunya yang satu itu karna sedari dulu ia suka sekali mengisengi Shanum, ia adalah Dio Anggara.
Shanum langsung merebahkan badannya di tempat tidurnya, tak membutuhkan waktu lama akhirnya ia pun sudah berkelana ke alam mimpi.
sang fajar akan segera menyingsing.
Shanum sudah terbagun sedari tadi di sepertiga malam tetapi ia tak tidur lagi sampai subuh datang. Itu sudah menjadi kebiasaannya setiap hari.
Shanum sudah rapi dan sudah siap untuk kembali melalukan aktifitasnya seperti biasa. Begitupun dengan Shaka yang sudah menunggu sang adik di meja makan.
“ lama amat sih dek?” kata Shaka.
“ namanya juga prempuan kak, dandan dulu.” Kata Shanum.
Mereka berdua segera melanjutkan sarapannya dan bergegas ke tempat kerja mereka masing masing
. sangat jarak mereka berangkat bersama karna tempat kerja mereka berlawanan arah.
Sesampainya di butik Shanum langsung menuju keruangannya setelah menyapa karyawannya yang
sedang bekerja di lantai bawah. Ia memiliki pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Tak jauh berbeda di Bagaskara Group Satria yang baru saja memasuki area perusahaan
__ADS_1
dengan penuh percaya diri yang membuatnya terlihat begitu berwibawa dengan satu
tangannya meneteng tas kerjanya.
Aura kepimpinannya yang begitu kentara,setiap karyawan yang berpapasan dengannya selalu menyapanya dengan hormat. Richo yang dengan setia berjalan di dampingnya.
Mereka berdua memasuki lift khusus petinggi perusahaan dan menekan tombol lantai paling atas di mana ruangannya berada. Setelah sampai Satria langsung masuk keruangannya begitupun dengan Richo. Hingga tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu, setelah di persilahkan masuk, terlihatlah seorang wanita cantik memasuki ruangannya.
“ Apa agenda saya hari ini?” kata Satria tanpa melihat siapa ang ada di hadapannya.
“ hari ini bapak ada meeting dengan beberapa investor dan jam 11.00 ada agenda makan siang
bersama bapak bupati.” Kata Vina sekertaris Satria.
“ apakah itu undangan pribadi?” tanya Satria.
“ benar pak, bapak bupati di temani oleh anak gadisnya.” Kata Vina.
“ Batalkan agenda makan siang, dan sampaikan permintaan maaf saya karna tak bisa memenuhi undangan makan siang beliau.” Kata Satria.
“ Baik pak.” Kata Vina.
“ Apakah masih ada lagi bu vina?” kata Satria.
“ Tidak ada pak. Saya akan kembali ke meja saya” Kata Vina.
“ heemmzz.”
Satria tak mau memenuhi undangan pak bupati karna tak mau memberi harapan kepada yang
bersangkutan. Ia juga tak berminat dengan anak gadisnya yang selalu mengejar – ngejarnya tanpa tatu malu. Cantik sih cantik tapi ia tak suka dengan gadis genit.
Setelah vina keluar dari ruangannya Satria kembali berkutat dengan pekerjaannya hingga beberapa saat kemudian ponselnya berdering ternyata panggilan dari Richo.
selamat membaca reader....
maafkan author yang baru bisa update, karna banyak hal di selesaikan di dunia nyata.
jangan lupa like, favorit dan coment.....
__ADS_1