
'Dari apapun yang pernah aku benci,kamua adalah yang paling tidak ingin ku benci.'
**
Seorang pria menatap tak minat kepada secangkir expresso yang tadi dipesanya.
Sudah 30 menit berlalu,namun seseorang yang ditunggunya belum juga menunjukkan tanda tanda akan kedatanganya.
Dengan gusar,pria tampan berpakaian casual dengan atasan kemeja panjang casual berwarna baby blue yang dipadukan dengan bawahan celana bahan hitam miliknya,menatap nyalang kearah jalanan yang tampak padat akan lalu lalang kendaraan beroda empat.
Dari balik jendela kaca besar caffe tersebut,ia bisa melihat seorang pria turun dari mobil pajero hitam miliknya.Berjalan tergesa gesa sambil menengteng tas kerjanya.Pakaian serba hitamnya yang nampak mencolok yaitu mantel hitam panjangnya,membuat pengunjung lain menatapnya penuh tanya.
"Oii sob,sorry gue telat."
Ucapnya tergesa gesa sambil menarik kursi dihadapannya yang kosong.
"..."
"Ayolah man,loe mah gak tahu gimana rasanya ngeladenin istri yang lagi hamil muda.Ck,susahnya brooo,minta ampunnn."
Keluhnya,sambil menyeruput kopi expresso milik sahabatnya.
"Ck,kenapa gak pesan lagi? Itu punya gue Gen."
Kesal pria tampan itu angkat bicara.
"Haus,lagian belum loe minum inih."
Ujarnya santai.
"Gimana,sama permintaan gue semalan?"
Tanyanya to the point.
"Relax bro,gue udah hubungin mereka.Mereka udah ambil job mereka masing masing."
Pria bermanik tajam itu mengangguk mengiyakan,sebelum sahabatnya itu kembali berucap.
"Dan ini,berkas berkas yang mereka dapetin kemarin.Kerja mereka memang cepet bro."
Disodorkanya sebuah map coklat gelap yang ia bawa dari dalam tasnya.Pemuda berusia 28 tahun itu meraihnya,membaca tiap baik kata didalamnya,sebelum maniknya dibuat terbelalak oleh apa yang ia dapatkan.
"Loe yakin?"
Tanyanya ragu.
"100% yakin.Ini datanya real dan gak mungkin diedit atau dimanipulasi.Team yang gue kerjain ini punya akses diberbagai negara,makanya loe gak usah ragu."
Ucap Geno meyakinkan.
Bukanya Al ragu,tetapi ia cenderung lebih terkejut saat melihat fhoto Bram yang sedang bersama gadis yang sama dengan fhoto yang kemarin ia dapatkan di caffe.
"Ini benar,Gladis handaru yang asli?"
"Iya.Menurut orang orang gue,mereka lihat gadis itu di Swiss,dari koneksi mereka yang menetap di negri itu."
Al terdiam sejenak.Jika Gladis Handaru masih hidup,berarti ada pemalsuan kematian disini.Bukan satu kasus kematian yang dipalsukan,kemungkinan dua kasus.
Lalu,apa tujuan dari pemalsuan kematian ini.
Al mencoba memutat balik pemikiranya.Bagaimanapun juga teka teki ini sudah mulai memunculkan banyak titik terang.
"Dari hasil pemeriksaan dirumah sakit di Singapura sembilan tahun lalu,kemungkinan sudah dimanipulasi.Tapi,yang bikin aneh itu ini."
Tunjuk Geno kepada sebuah nama yang tertera didalam surat keterangan dari rumah sakit sembilan tahun lalu.
"Mama?"
"Iya.Tante Sesil,diakan dokter yang menangani Gea.Juga yang menjadi pihak utama solusi agar Gea dirujuk kerumah sakit di Singapura.Pertanyaanya,masa dia gak tahu kalau salah satu pasien khususnya dipalsukan kematianya.Padahal disini ada paraf dia,sebagai salah satu dokter yang menyatakan jika Gea sudah meninggal."
Al diam termenung,pikiranya berkelana kesana kemari.Benar juga,ada hubungan apa mamanya dengan semua teka teki ini.
Bukanya ia seudzon menuduh sembarangan kepada sang mama,namun nyatanya semua bukti yang didapatkan dari rumah sakit ada paraf sang mama.
"Atau jangan jangan-"
Jeda Geno sebentar.
"Apa?"
"Tante Sesil juga ikut ambil bagian dalam rencana ini?"
Deg
Al menatap sahabatnya itu penuh keraguan.
Untuk saat ini semua pihak memang dapat diragukan,tetapi biarlah dulu.Al tidak akan semudah itu terpancing.Setidaknya sampai semua bukti terkumpul,ia tidak akan menerka nerka tanpa bukti dan alasan yang jelas.
Karena dalam teka teki ini banyak menyeret orang orang baru juga orang terdekatnya.Bukti yang belum cukup valid,juga titik terang yang belum banyak nampak,membuat Al tak mau gegabah untuk segera mengambil kesimpulan.
__ADS_1
"Oh iya Al,orang gue tadi pagi nelpon.Katanya Gladis ada disalah satu mansion megah milik Andra Genandra, didekat pegunungan Alve,swiss."
Pemuda bermanik tajam itu memejamkan matanya sejenak.Kenyataanya,halangan terbesarnya sejak dulu hanya satu yaitu Andra Genandra.Sang Singa jantan yang selalu memblockade setiap pergerakanya.
"Kita berangkat kesana hari ini juga."
Ucapnya datar namun sarat akan keyakinan.
"Ok."
**
Semilir angin pangin yang sejuk,menyambut gadis catik yang baru saja keluar dari rumah tersebut.Kakinya yang terbalut sandal jepit rumahan,berjalan tanpa tujuan menyusuri jalanan yang cukup lenggang.
Hamparan pemandangan hijau dari pegunungan Alven,terlihat memanjakan mata bagi setiap orang yang memandangnya.
Tetapi tidak bagi gadis ini.Hatinya terasa hampa,oleh karena itu hidupnya pun terasa tak berwarna.
Langkah kaki yang tak bertujuan itu nyatanya telah membawanya jauh ketengah kota yang cukup tenang.Namun dia menjadi bingung,jalan mana yang akan membawanya pulang nanti.Sialnya lagi,ia sama sekali tidak membawa handphone dan juga uang sepeserpun.
Ditengah kebingungan yang melandanya,Gla-gadis itu memilih duduk di kursi taman yang sepi,sesepi hatinya saat ini.Kakinya yang terbalut hotpans hitam selutut,dengan atasan sweeter abu membuat dirinya terlihat cute.Wajah cantik babyfacenya terlihat cantik natural tanpa makeup,kecuali polesan lipbam dibibirnya yang agak kering.Rambut kecoklatanya yang segaja dijumput kuncir kuda,berterbangan kesana sini karena hembusan angin.
Setelah cukup menangis seharian kemarin,paginya Gla kembali menjadi seperti biasa.Pendiam dan tak banyak bicara.Orang rumah juga tidak ada yang mengetahui keberadaanya kini.Dia juga tidak sempat izin kepada Ayah dan papanya.
"Gla."
Panggil seseorang bersuara bass dari sampingnya tersebut.
Gadis itu menoleh,seperkian detik berikutnya ia sudah dihadiahi seorang pria yang duduk disampingnya dengan senyuman hangatnya.
"Dokter Alan?"
Sambutnya sambil bersikap senormal mungkin.
"Mau sandwich Gla?"
Tawarnya,sambil menyodorkan sebuah bungkus makanan kepada Gla.
"Ah tidak,aku-"
"Menangis seharian tanpa makan dan minum itu bukanya tak menyenangkan,tetapi tidak baik bagi kesehatanmu."
Selanya.
Lanjutnya sambil menyodorkan sandwich dan sebotol yougert original kepada Gla.
"Terimakasih dokter Alan."
Pasrah Gla sambil menerima kedua makanan tersebut.
Walaupun Gla tidak mau makan sesuappun,tetapi perutnya tentu tidak mudah dibohongi begitu saja.Karena semenjak kemarin,perut langsingnya itu tak diisi apa apa kecuali segelas air putih.
"Anda sedang apa berada disini dokter Alan?" Tanya Gla disela sela acara makan sandwichnya.
"Hatiku membawa diriku kesini.Dia bilang,seorang pasien penting tengah menunggu pertolonganku.Jadi kuputuskan untuk segera menyusul pasienku ini."
Ucapnya jenaka.
"Tidak mungkin alasanmu sesepele ini dokter."
"Memang,tapi bagaimana lagi.Itu yang membawaku kesini."
Ucapnya sambil tersenyum kecil.
Gadis cantik itu menyunggingkan senyuman tipisnya tanpa sadar.Setidaknya keberadaan pria ini bosa menghibur dirinya saat ini.
"Yes,akhirnya kau bisa tersenyum lagi."
Ucapnya bangga,sambil menepuk dadanya bangga.
"Dasar."
Kekeh Gla,sambil menatap tingkah konyol pria dihadapanya.
Demi melihatnya tersenyum,Alan sampai rela berbuat konyol.Pria satu ini memang punya berbagai cara untuk menghiburnya jika tengah sakit seperti saat ini.
"Gla."
Panggil suara bariton berat tersebut.
Deg
Gadis itu enggan menoleh,tubuhnya saja seakan akan membeku seketika.Namun hatinya,entah mengapa memburu dengan hebatnya.Aliran darah dalam tubuhnya seakan akan berhenti bergerak seketika.Sebegitu besarnya kah efek seorang Algafriel Hazka Dwiarga bagi hidupnya kini.
"Gla,apa kamu mendengarkan aku?"
Tanya suara itu kembali.
__ADS_1
Gadis pemilik manik hazel itu mengerjap.Membuyarkan segala lamunan keterkejutanya.
"Gla,aku-"
"Stop it.Jangan mendekat!"
Titah Gla ankat bicara.
Gadis itu beranjak dari duduknya.Menatap pria tampan dihadapanya dengan penuh amarah.
"Gla,ada apa ini? Aku cemas mencari keberadaanmu."
Lirih Al-pria yang kini menjadi lawan bicara Gla.
"Gla."
Pria itu mendekat,siapa sangka gadis itu malah melangkah mundur selangkah.
"Jangan mendekat,menjauhlah dariku."
Kata Gla penuh penekanan.
"Gla,ada apa denganmu?"
Al tak tinggal diam,ia kembali mendekat namun lagi lagi Gla memundurkan langkahnya.
"Cukup.Aku membencimu,dengar?"
Deg
"Aku membencimu Algafriel Hazka Dwiarga."
Ucapnya penuh keyakinan,padahal hatinya remuk tak bersisa.
"Gla,a-apa maksudmu ini?"
Tanya Al memastikan pendengeranya.
"Aku membencimu Al,mulai detik ini juga menjauhlah dariku."
Ucapnya final sebelum berlari dari sana.
Meninggalkan Al dengan segala keterkejutan dan tusukan tajam dihatinya,juga Alan yang hanya menjadi penyimak disana.
"Glaa"
Panggil Al namun tak dihiraukan sedikitpun oleh siempunya nama.
"Arrrg"
'Ada apa ini?'
Batin Al menerka nerka.
**
"Aku membencimu......aku membencimu sampai rasanya akan mati saking sakitnya hatiku."
Celoteh gadis cantik tersebut disela sela isakanya.
"Aku....membencimu,saking sakitnya hati ini hiks."
Lirihnya lagi kembali berujar.
"Aku membencimu."
Ucapnya nyalang sambil menatap fhoto fhoto yang berserakan dikakinya.
"Aku membencimu."
Lirihnya berulang ulang sambil menitihkan air matanya diatas fhoto seorang pemuda berseragam putih abu yang tengah membonceng seorang gadis.
Didalam fhoto lainya,pemuda itu terlihat tengah menangis diatas keburan seorang Geasya Genandra Putri.
"Aku benci karena mencintaimu sebesar ini hiks."
**
TBC
yoooo...Triple updatee🖑🖑
Gimana hayooo,makin pesaran gak?
cuss....comen dan jangan lupa vote ya🖑🖑
Sukabumi 07 April 202p
17.48
__ADS_1